Mertua Yang Jahat

Mertua Yang Jahat
Rika menyesal.


__ADS_3

Pagi itu Iyan datang ke rumah Rika. Belum sampai Iyan di rumah Rika, dari kejauhan Iyan melihat ada sorang laki-laki berambut panjang yang di ikat, sedang duduk di teras rumah Rika.


Iyan pun mengernyitkan dahinya.


“Siapa cowok itu?”


gumamnya dalam hati.


Iyan pun melanjutkan langkahnya menuju rumah Rika.


Sesampainya di rumah Rika, Iyan pun memberi salam. Ricard pun menyambutnya dengan senyum dan jabat tangan tanpa membalas salam Iyan.


“selamat pagi,”


Sambut Ricard pada Iyan.


Iyan pun menjawab,


“Iya, pagi juga. Ehm, Rika mana ya? Oh ya, perkenalkan saya Iyan, abangnya Rika.”


Ricard pun memperkenalkan diri pada Iyan,


“Saya Ricard, kawan Rika. Rika sedang di dalam, sedang Shalat.”


“Owh, ya udah, saya ke dalam dulu ya,”


kata Iyan.


Iyan pun masuk ke dalam rumah Rika. Iyan melangkahkan kakinya menuju kamar Rika.


Iyan mendapati Rika sedang melipat kain Shalat, sementara Iyan masuk dan duduk di tepi tempat tidur.


“Nih, buat kamu, sarapan,”


kata Iyan.


Iyan pun kembali bicara,


“Cepet banget dapet gantinya, he he he.”


“Iiiiih, ngeledek deh, itu temen bang, baru kenal juga kok,”


kata Rika.


“Oh, temen, kirain penggantinya Andre,”


kata Iyan.


Iyan bertanya,


“Itu temen kamu kenapa wajahnya, kok berdarah?”


“Di tonjok Andre,” jawab Rika dengan singkat.


“Kok bisa?” tanya Iyan.


“Bisalah, Andre marah Rika gak mau pulang ama dia, di tonjok deh Ricardnya,” jawab Rika.


Iyan pun membenarkan duduknya dan kembali bertanya,


“Apa alasan kamu gak mau di jemput Andre, dia kan pacar kamu?”


“huhm, pacar! Pacar yang mengecewakan, pacar yang bikin Rika malu,” jawab Rika dengan nada kesal.


Karena ada Ricard, Iyan menghentikan pembicaraannya pada Rika, dan mengurungkan niatnya untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.


“Udah sana, temenin temen mu dulu, nanti kita ngobrol,”


kata Iyan.


Tanpa bicara lagi, Rika pun keluar kamar dan menemui Ricard.


Rika : “Gimana pelipis kamu, masih sakit?”


Ricard : “Masih, seidkit.”


Rika : “Mau di kompres lagi?”


Ricard : “Tidak, tidak usah, biar kan saja seperti ini, nanti juga sembuh sendiri. Oh ya, sebenarnya laki-laki yang tadi itu siapa kamu? Pacar kamu?”


Rika pun tersenyum, dan berkata,


“Sebenarnya, iya, dia pacarku. Tapi saat ini, semenjak malam itu, dia bukan lagi pacarku.”


Ricard : “Kenapa, ada apa dengan malam itu? Apakah dia selingkuh, dan kau melihatnya?”


Rika : “Tidak tidak, tidak seperti itu, bukan selingkuh, tapi,,,, sudahlah, aku gak mau ngebahas ini lagi.”


Ricard : “Sorry, saya tidak bermaksud menyinggung perasaan kamu. Maafkan saya, sudah membuat kamu sedih.”


Rika : “Gak masalah, tapi tolong, jangan pernah nanya soal dia lagi.”


Ricard : “Oke. Oh ya, matahari sudah mulai terang, lebih baik kamu istirahat sekarang. Saya pamit. Salam buat kakak kamu. Seperti kemarin, nanti saya antar kamu bekerja, ya.”


Rika : “Terserah kamu aja.”


Ricard pun berpamitan, dan keluar dari rumah Rika. Setelah itu Rika Masuk ke dalam rumah. Betapa terkejutnya Rika, ternyata Iyan ada di balik pintu.


“Ih, bang Iyan ngagetin aja sih!”


Kata Rika mengomel.


“Istirahat sana, kita ngobrolnya nanti aja, kamu tidur aja dulu, kamu cape,”


Kata Iyan.


Rika pun menuruti perintah Iyan. Dan bergegas masuk ke kamar. Rika akan segera tidur karena lelah semalaman bekerja.


Iyan tetap di ruang depan dan menyalakan TV, kemudian berbaring di lantai beralaskan karpet.


Mendengar percakapan Rika dan Ricard, Iyan jadi termenung, memikirkan hubungan mereka atas segala kesalahpahaman, jangan sampai berlarut-larut.


“Entar gue harus ngomong ke Rika, kasian Andre,”


gumamnya dalam hati.


Waktu terus berlalu, dan pagi pun berganti siang. Cuaca saat itu cerah sekali. Azan dzuhur berkumandang, Rika pun terbangun dari tidurnya.


Dengan rasa malas, Rika membuka matanya. Di tatapnya langit-langit kamar. Di sana ada wajah Andre.


“Oh Tuhan, kenapa ada dia sih? Selalu aja wajahnya ngeganggu banget,”


Gumamnya pelan.


Rika pun bangkit, dan duduk di tepi tempat tidur.

__ADS_1


“Ya ampun, kok rasanya males banget deh, aduuuh, badan pada sakit semua lagi, cape banget rasanya,”


Kata Rika yang berbicara dengan dirinya sendiri.


Rika membuka pintu kamar dan keluar dari kamarnya. Dia mendapati Iyan sedang tidur, sedangkan TV tetap menyala.


“Ehm, kebiasaan nih, abis dia nonton TV, sekarang giliran TV yang nonton dia,”


Kata Rika sambil menggerutu, dan mematikan TV.


Di raihnya handuk yang menggelantung di jemuran kecil, lalu Rika hendak beranjak ke kamar mandi.


Seketika saja Iyan terbangun dari tidurnya, dan melihat adiknya.


“Eh Rik, mau ke mana?”


Tanya Iyan.


“Mau mandi, mau ikut?”


Jawab Rika sambil mengejek.


“Ih, kamu ini, cepat ya, nanti bang Iyan mau ngobrol,”


Kata Iyan.


Rika pun berlalu, dan meninggalkan Iyan sendirian.


Di ruang depan, Iyan memikirkan tentang penjelasan Andre padanya. Tak terbayang oleh Iyan, apa yang akan terjadi jika Rika sudah mengetahuinya.


Iyan berharap, agar hubungan Rika dan Andre menjadi baik-baik saja, dan melanjutkan rencana mereka menuju pernikahan.


Rika pun selesai mandi, dan Rika melihat Iyan sedang melamun.


Rika merasa sungkan pada kakaknya, yang sepertinya ada hal penting yang akan dia bicarakan, hingga dia sampai rela menunggunya.


“Rika Shalat dulu ya bang, nanti kita ngobrol,”


Kata Rika pada Iyan yang tak lain adalah kakaknya.


“Iya, santai aja, Shalatnya jangan terburu-buru, bang Iyan juga santai kok, hari ini libur,”


Kata Iyan.


Rika pun kembali ke dalam kamar, dan melakukan Shalat zuhur.


Mata Iyan masih terasa berat, dan akhirnya dia memutuskan untuk beranjak ke kamar mandi, Iyan pun mengambil air wudhu, untuk melaksanakan Shalat zuhur.


Beberapa menit kemudian, mereka pun selesai melaksanakan Shalat. Dan Rika keluar dari kamarnya dan menemui Iyan.


Rika duduk dilantai yang beralaskan karpet sambil menyenderkan tubuhnya ke dinding. Kakinya pun di luruskan sambil di goyang-goyangkan.


Rika berusaha bersikap santai di depan Iyan, seolah-olah dia sudah tidak memikirkan Andre.


Iyan pun membuka pembicaraan.


“Rika, ada yang mau bang Iyan omongin, tapi jangan kamu potong ya, kamu cukup mendengarkan, dan menyimak, bisa kan?”


Tanya Iyan.


Dengan rasa canggung dan bingung, Rika pun mengangguk.


“ Begini Rika, setelah malam pertunangan kamu yang tertunda, 2 hari kemudian Andre datang ke rumah."


Rika : "Hah?!!! Mau apa dia datang bang?”


“Ehmmm, iyaaa, maap.”


Kata Rika sambil menggerutu.


Iyan pun mulai menceritakan apa yang sebenarnya terjadi malam itu, Iyan menguraikan cerita tentang Andre dan keluarganya satu persatu, hingga mereka tak kunjung sampai di rumah Rika.


Mendengar penjelasan Iyan, Rika pun histeris, dan Rika juga menangis.


Rika sungguh sangat merasa bersalah terhadap Andre serta sangat menyesal.


“Apa yang harus Rika lakukan sekarang bang? Rika jadi sedih, malu juga, udah berprasangka buruk tentang Andre?”


Tanya Rika.


“Ya, ada baiknya kamu ke sana, jenguk papanya, dan minta maaf sama Andre,”


Kata Iyan.


“Rika takut bang, takut Andre gak mau maapin Rika,”


Kata Rika.


“Cobalah dulu, bang Iyan yakin kok, Andre pasti maapin kamu. Dia juga bilang, kalo sikapmu begini wajar,”


Kata Iyan.


Akhirnya Rika memutuskan untuk menjenguk om Faisal di rumah sakit.


###########


Rika menghubungi Vivi, yang tak lain adalah kasir seniornya, untuk meminta izin, bahwa hari ini Rika tidak dapat masuk kerja.


“Loh, hari ini kan bukan jadwal kamu libur, minggu ini kamu belum dapat libur, Rika,”


kata Vivi.


“Tapi kak, saat ini aku ada keperluan mendesak kak, tolong lah kak,?


Kata Rika.


“Ya udah, coba kamu hubungi pak manager, biar langsung di acc, jangan lewat aku, aku gak berhak ngasih kamu izin. “


Kata Vivi.


Vivi pun memberikan nomor ponsel manager mereka, dan Rika segera menghubungi manager.


Rika : “Halo pak selamat siang, ini Rika, kasir lantai dasar.”


Pak manager : “Iya, selamat siang, ada apa ya?”


Rika : “Maaf Pak, saya mohon izin untuk hari ini, karena ada masalah keluarga yang sangat mendesak, dan harus segera saya selesaikan hari ini juga.”


Pak manager : “apa benar-benar sangat mendesak?”


Rika : “Iya pak, sangat mendesak.”


Pak manager : “Sepertinya tidak bisa Rika, karena hari ini nona Eva akan datang dan mengurus penyewaan lantai dasar. Sedangkan di awal pembicaraan itu kamu yang menanganinya.”


Rika : “Nona Eva yang mana ya Pak?”

__ADS_1


Pak manager : “Loh, kok kamu malah nanya saya?! Tadi pagi ada yang nelpon saya, katanya sudah mengisi formulir. Dan formulirnya sudah di terima oleh kasir yang memakai pakaian hitam-hitam. Kasir itu kamu kan?


Rika pun teringat dengan nona muda dan pria setengah tua yang semalam datang ke meja kasir.


Rika : “Oh iya Pak, saya ingat sekarang. semalam saya melayani nona muda dan pria setengah tua yang ingin menyewa untuk pesta ulang tahun kan? Tenang pak, Vivi juga pernah melayani nona muda itu, karena sebelumnya dia pernah datang, dan nanya-nanya soal biaya dan dekor.”


Pak manager : “Ya sudah, kalau begitu, kamu hubungi Vivi, agar dia mempersiapkan diri melayani mereka.”


Rika : “Oke, baik pak, saya akan segera menghubungi Vivi. Terima kasih ya Pak.”


Rika segera menghubungi Vivi.


Rika : “Halo, kak Vivi, aku sudah mendapatkan izin dari manager.”


Vivi : “Owh, okelah.”


Rika : “Tapi kata pak manager nanti nona muda itu akan datang lagi.”


Vivi : “Ya udah, nanti aku akan yang mengurusnya.”


Rika : “Oke kak, terima kasih ya.”


Rika pun memutuskan saluran telepon, dan merasa lega.


Segera lah Rika menghubungi Erna, sahabatnya.


Ketika Rika menghubungi nomor Erna, ternyata nomor Erna sedang tidak aktif. Hati Rika pun merasa resah.


Rika mencoba mengulang kembali untuk menghubungi nomor Erna, tapi ternyata keadaan tidak berubah. Ponsel Erna tetap tidak dapat di hubungi.


Sungguh keadaan itu membuat Rika hampir putus asa.


Di hempaskan tubuhnya di atas tempat tidur. Rika memandang lagit-langit kamar, sambil berpikir keras. Apa yang harus di lakukannya?


Rika pun mencoba kembali menghubungi nomor Erna. Tapi tetap saja, tidak mengubah keadaan.


Tiba-tiba Rika terbersit di ingatannya sebuah nama, ya itu Ricard. Rika pun segera menghubungi nomor Ricard, tetapi niatnya di urungkan.


Rika merasa tidak pantas melakukannya, melihat hubungan Ricard dan Andre seperti air dan minyak, Rika takut jika menghubunginya hanya memperkeruh keadaan.


Sungguh keadaan ini membuat Rika bingung dan serba salah.


Tak lama kemudian terdengar suara pintu di keluk dari luar.


“Assalamualaikum Rika?”


Panggil seseorang dari balik pintu.


Rika pun bangkit, da bergegas melangkahkan kakinya meninggalkan ruang kamar tidur dan menuju ke arah ruang depan.


Suara ketukan pintu terdengar lagi, Rika pun mengenali suara itu.


Rika segera membukakan pintu yang di ketuk, Rika membukakannya, ternyata yang datang adalah Ando.


Setelah Rika membukakan pintu, Rika melangkah mundur dan duduk di lantai yang beralaskan karpet.


Ando pun masuk ke dalam rumah tanpa menunggu perintah dari Rika, dan Ando pun duduk di lantai berhadapan dengan Rika.


Rika hanya terdiam. Kepalanya memikirkan sesuatu langkah apa yang akan di lakukan.


Melihat Rika hanya terdiam melihat kedatangannya, Ando pun membuka percakapan.


“Rika, kau sudah ketemu dengan bang Iyan?”


Tanya Ando.


“Sudah,” jawab Rika pelan sambil mengangguk.


“Gue minta maap ya, gue sempet ribut ama dia. Si Aben sih gak bisa jaga emosinya, gue jadi terpancing emosi deh,” kata Ando.


“Bukan lo doang yang kepancing emosi, gue juga. Aduuuuuh, gue malu Ndo, gue takut Andre gak maapin gue,”


Kata Rika.


“Gak mungkin lah dia gak maapin lo, dia kan tau ini semua salah paham,”


Kata Ando.


Ando terdiam sejenak, kemudian dia berbicara kembali.


“Trua sekarang, apa yang akan lo lakuin?” tanya Ando.


“Gue mau ketemu Andre, gue mau minta maap, tapi gue bingung di mulai dari mana? Ke rumahnya atau ke rumah sakit? Kalo ke rumah sakit, gue gak tau letaknya di mana om Faisal di rawat. Abis, tadi bang Iyan cerita cuma begitu doang. Dan begonya gue gak nanya,” kata Rika.


“Bentar, guecoba tanya bang Iyan,” Kata Ando.


“Halo bang, di mana kau? Kau tau gak di mana tempat papanya Andre di rawat? ................... oh oke bang, iya, ya sudahlah,”


Ando pun memutuskan sambungan ponselnya dengan Iyan.


Ando segera memberitahukan di mana papa tirinya Andre di rawat pada Rika.


“Trus gue bilang ke Ernanya gimana, tadi gue hubungi dia tapi ponselnya mati kayanya, gak nyambung-nyambung,” kata Rika.


Ando pun mengatur langkah strategi pada Rika, dan Rika mencoba memahaminya.


Setelah mendengar saran Ando, Rika pun bergegas ke dalam kamar, membereskan barang-barang yang akan di bawanya dan di masukkan ke dalam tas ranselnya.


Setelah selesai, Rika duduk di tepi tempat tidurnya, untuk memakai sepatu ketsnya.


Rika pun berdiri di depan kaca rias. Di perhatikannya penampilannya yang simple. setelah itu, Rika pun bergegas ke luar kamar menuju ruang depan, dan segera dia berpamitan dengan Ando.


“Jangan lupa, sebelum lo jalan, lo tunggu dulu temen gue datang, lo bilang aja gue ke rumah sakit jenguk papanya Andre. Oh ya Ndo, kalo Ricard dateng, lo bilang juga ya, gak usah nunggu gue, bilang aja gue lama pulangnya,”


jelas Rika.


Akhirnya Rika pun berangkat ke rumah sakit.


Waktu telah beranjak sore, jalanan pun sudah penuh dengan kendaraan yang lalu lalang. Rika menggunakan kendaraan umum, yang harus mengantri. Rika pun khawatir jika waktu besuk sudah habis. Kendaraan umum pun berhenti di tempat pemberhentian, dan Rika pun turun dari kendaraan umum itu.


Waktu semakin sore, Rika melebarkan langkahnya. Dan sampailah Rika di rumah sakit di mana tempat om Faisal di rawat.


Rika pun bertanya pada suster jaga. Setelah mendapatkan informasinya, Rika bergegas mencari di kamar mana om Faisal di rawat.


Rika menemukannya!


Di dalam kamar rawat, Rika melihat dari luar ada Putri dan Andre. Rika merasa enggan untuk masuk, tapi bagaimana juga, Rika harus masuk dan meminta maaf.


Rika pun mengetuk pintu dan memberi salam.


“Assalamualaikum.”


“Wa alaikumsalam,”


jawab Andre dan Putri.

__ADS_1


Putri bergegas membuka pintu.


Setelah Putri membuka pintu kamar rumah sakit, ternyata Andre pun ada rasa ingin tahu siapa yang datang, Andre pun bangkit dari tempat duduknya, dan ingin menyambut kedatangan seseorang yang mengetuk pintu dan memberi salam.


__ADS_2