Mertua Yang Jahat

Mertua Yang Jahat
Tidak ada jawaban.


__ADS_3

“ Saya bingung Mbok, Apa yang harus saya lakukan. Saya ingin segera bertanggung jawab, tapi Putri melarang saya untuk datang ke rumah,”


kata Irfan sambil mengacak-ngacak rambutnya.


“ bukan itu yang saya tanyakan. Pertanyaan saya, Den Irfan belum menjawab, Apakah Den Irfan sudah memiliki istri?” tanya Mbok Yem dengan kesal.


Irfan pun menghela nafas dalam-dalam. Lalu ia menyandarkan tubuhnya di kursi Cafe.


Hati Mbok yang pun semakin panas melihat sikap Irfan yang berleha-leha di depannya. Akhirnya Mbok Yem kembali berkata,


“ cepat jawab Den pertanyaan saya, saya harus berbelanja untuk kebutuhan rumah.”


“ Maafkan saya mbok,”


kata Irfan sambil menundukkan kepalanya.


Akhirnya Mbok Yem menghempaskan nafasnya. Lalu Mbok Yem berdiri dan hendak meninggalkan Irfan.


Tapi tidak lama kemudian ponsel Putri yang berada di saku daster mbok Yem berbunyi. Mbak yam sengaja membiarkan ponsel itu terus berbunyi. Kala itu Mbok Yem masih menunggu jawaban dari Irfan.


Tapi ternyata,ponsel itu berbunyi kembali. Mau tidak mau Mbok Yem melihatnya dan mengecek siapa yang menghubunginya saat itu.


Mbok Yem mengeluarkan ponsel dari saku dasternya, lalu matanya melihat ke layar ponsel Putri, Ternyata Dicky yang menghubunginya saat itu.


“ Halo iya Den,” sapa mbok Yem.


“ Mbak ini Putri beliin Putri rujak bebek ya,” sahut Putri di Saluran telepon.


“ Oowh, non Putri, Baik non, saya kira Den Dicky, ada lagi yang non Putri inginkan?” tanya mbok Yem.


“ Nggak Mbok itu aja,” jawab Putri.


Saluran telepon pun terputus. Tanpa berkata apa-apa lagi, Mbok Yem meninggalkan Irfan di cafe.


“ Nggak usah dijawab juga saya udah tahu apa jawabannya,” gumam mbok Yem dalam hati.


Ketikan Mbok Yem meninggalkan Irfan di cafe, sikap Irfan pun diam saja. Tidak ada sedikitpun perlawanan dari Irfan, dan Irfan membiarkan mbok Yem meninggalkannya.


Sungguh kecewa hati mbok Yem kala itu. Wajah Irfan dan tampilan Irfan yang dewasa tidak menjamin kedewasaannya pada sikapnya.


Mbok Yem pun masuk ke dalam pasar, untuk membeli segala kebutuhan rumah.


Tidak lupa mbok Yem membeli sayur dan buah, terutama buah-buahan untuk Putri. Beberapa menit telah berlalu. Sedangkan Mbok Yem masih berada di dalam pasar.


Tiba-tiba Mbok Yem teringat pesanan Putri tadi di telepon, yaitu rujak bebek. Setelah selesai berbelanja, mbok Yem keluar dari pasar dan mencari tukang rujak bebek.


Setelah matanya berkeliling di sekitar pasar, lalu Mbok Yem menemukan tukang rujak bebek di samping pos security. Mbok Yem pun melangkah ke sana dan memesan dua porsi rujak bebek.


“ Bang, 2 porsi ya, yang satu pedas yang satu sedang,” perintah Mbok Yem pada tukang rujak.


“ Baik bu,” jawab tukang rujak.


Tukang rujak pun membuatkannya. Sambil menunggu dibuatkan, Mbok Yem duduk di bangku yang telah tersedia.


****

__ADS_1


Di rumah Andre sedang bersiap-siap ingin berangkat kerja. Dia turun dari lantai atas menuruni anak tangga sambil mengambil sepatunya di balik tangga.


Setelah mendapatkan sepatunya Andre duduk di anak tangga dan memakai sepatunya.


Sedangkan saat itu Putri sedang duduk di ruang meja makan sambil memakan roti bakar yang ia buat sendiri.


Sambil memakai sepatunya Andre bertanya pada Putri, “ Put Mbok Yem ke mana? Masa jam segini belum balik dari pasar ya?”


“ nggak tahu,” jawab Putri dengan singkat, sambil mengunyah roti bakarnya.


Setelah selesai memakai sepatunya, Andre pun berdiri, dan bergegas menuju kaca besar yang berada di ruang makan. Sambil merapikan rambut dan pakaiannya Andre bertanya kembali pada Putri,


“ Put lihat deh, gue ganteng gak?”


Mendengar pertanyaan Andre, Putri pun menoleh ke arahnya dan memperhatikan penampilan Andre.


Setelah mengamati dari atas sampai bawah, Putri pun memberi komentar tentang penampilan Andre.


“Ehm... lumayan daripada lumanyun,” jawab Putri Sambil tertawa.


“ Ye gue serius nih, Gue ganteng gak?” tanya Andre mempertegas.


“ Kalau boleh jujur sih, gantengan pacar gue Bang,” jawab Putri sambil masih mengunyah makanannya.


“ eh Anjir lu punya pacar? Itu tuh yang pernah gue lihat lo berdua sama dia?” tanya Andre penasaran.


Lalu kemudian Andre pun duduk di samping Putri.


“ Lo kalau punya pacar Cerita dong ke gue, ntar gue lihat dulu, dia pantas nggak buat lo, pacar lo itu harus lulus seleksi dari gue dulu,” tutur Andre.


“ Oh iya dong! Dia harus lulus seleksi dulu! Yang jelas dia harus lebih ganteng dari gue,” kata Andre.


Tangan Andre pun mengambil potongan roti yang telah dipotong oleh Putri.


Andre pun kembali berkata, “ Di samping ganteng, dia belum punya istri! Awas lo ya kalau gue tahu pacar lo punya istri gua obrak-abrik lo.”


Putri pun tersedak oleh makanannya, ketika mendengar perkataan Andre barusan.


Melihat putri yang tersedak, Andre pun buru-buru mengambilkan air minum dan segera menyodorkan ke mulut Putri.


Putri pun menyambut gelas yang disodorkan oleh Andre ke mulutnya. Lalu Andre mengusap-usap tengkuk leher Putri.


“Lo sih, kalau makan dikunyah dulu, baru telan, jangan bulet-bulet lo telan,” kata Andre mengomel.


Wajah Putri pun memerah, dan juga matanya mengeluarkan air mata.


“ Lo nggak papa kan Put?” tanya Andre.


“ Iya gue nggak apa-apa,” jawab Putri dengan singkat.


Lalu Putri meninggalkan Andre di ruang makan, dan ia masuk ke dalam kamarnya, lalu menutup serta menguncinya dari dalam kamar.


Andre pun mengaryitkan dahinya serta mengangkat bahunya.


“ Apa yang salah dari gue ya?” bisiknya dalam hati.

__ADS_1


Tidak lama kemudian Mbok Yem pun sampai di rumah. Sambil membawa belanjaan ya mboknya masuk dengan tergopoh-gopoh.


Andre melihat kepulangan mbok Yem. lalu Andre membantu membawakan belanjaan mbok Yem, di bawanya ke dapur.


Setelah itu Andre pun hendak berangkat kerja. “ Mbok, Andre berangkat dulu ya,”


Siapa Andre sambil menyalami Mbok Yem.


“ Iya Den hati-hati,” kata mbok Yem.


“ Oh ya Mbok, itu tadi Putri keselek, terus masuk ke kamar. Nggak tahu tuh kenapa dia, mukanya sampai merah,”


kata Andre, memberitahukan keadaan Putri.


“ Oh iya Den, nanti saya liatin,” sahut Mbok Yem.


Andre pun melangkah ke ruang samping untuk menemui Om Faisal.


Sementara Mbok Yem mendekati kamar Putri. Mbok Yem mengetuk pelan-pelan pintu kamar. Tidak lama kemudian Putri pun membukakannya.


Setelah Putri membukakan pintu, Mbok Yem pun segera masuk dan menutup pintu kamar kembali.


Dilihatnya Putri duduk termenung di pinggir tempat tidurnya. Lalu Mbok Yem menghampiri dan duduk di sampingnya.


Sambil membelai rambut panjang Putri mbok Yem bertanya,


“ Non, kenapa Non ngelarang Mas Irfan datang ke sini?”


Tiba-tiba saja Putri menangis. Karena takut Isakan tangis Putri terdengar keluar kamar, Mbok Yem pun memeluknya.


“Kenapa Non, jawab non?! Lebih baik lebih cepat jika Mas Irfan bertanggung jawab sama keadaan non sekarang,” bisik Mbok Yem di telinga Putri.


Putri bukannya menjawab, tetapi ia malah menangis menjadi-jadi. Melihat keadaan Putri, Mbok Yem pun hanya bisa terdiam.


Setelah tangisan Putri mereda, Mbok Yem pun tidak melanjutkan pertanyaannya kembali.


Bahkan Mbok Yem pun mengurungkan niatnya untuk bercerita bahwa ia telah bertemu dengan Irfan.


“ Sekarang mandilah dulu, ini Mbok Yem bawain rujak bebek pesanan kamu tadi,” kata mbok Yem, sambil memberikan rujak bebek.


Putri pun mengambilnya dari tangan Mbok Yem, lalu segera ia membukanya. Tetapi dilarang oleh Mbok Yem.


“ Non, lebih baik mandi dulu, baru makan rujaknya,” perintah Mbok Yem.


Putri pun mengangguk, lalu ia menaruh rujaknya di atas meja kecil di samping tempat tidurnya.


Kemudian mbok Yem mengambilkan handuk yang terjemur di jemuran kecil, lalu memberikannya pada putri, dan Putri menerimanya.


Mbok Yem menuntun Putri masuk ke dalam kamar mandi. Setelah itu mbok Yem menutup pintu kamar mandi dan meninggalkan Putri.


Mbak Yem keluar dari kamar tidur Putri, lalu menutupnya kembali, dan bergegas menuju ruang dapur.


Waktu telah menunjukkan pukul 10.30. Mbok Yem segera memasak untuk makan siang keluarga.


Sedang asyik ya Mbok Yem memasak, tiba-tiba Putri memanggilnya dari dalam kamar.

__ADS_1


__ADS_2