Mertua Yang Jahat

Mertua Yang Jahat
Putri telah hamil.


__ADS_3

Kala itu Mbok Yem pingsan. Beberapa perawat mengangkat Mbok Yem dan menggiring ke ruang perawatan.


Lalu suster yang memanggil keluarga Putri pun mengajak Irfan, untuk masuk ke dalam untuk menemui dokter.


Irfan duduk berhadapan dengan seorang dokter. Dokter itu menerangkan keadaan Putri yang sebenarnya.


“ Apakah anda suaminya?” tanya Dokter.


“ Iya dok, saya suaminya,”


jawab Irfan berbohong.


“ Begini Pak Irfan, kondisi Nyonya Putri awalnya sangat mengkhawatirkan, hampir saja ia keguguran karena terlalu banyak mengeluarkan darah dari rahimnya. Dan juga sepertinya kondisi mental Nyonya Putri saat ini sepertinya tertekan. Mungkin ada faktor itu juga membuat pendarahan semakin deras. Dan juga benturan yang ia dapatkan tadi di jalan. Nyonya Putri harus istirahat total ya pak,”


kata dokter, menerangkan pada Irfan.


Irfan menyeka wajahnya dengan sapu tangan. Lalu memasukkan kembali ke dalam sakunya.


“ Apakah bisa istri saya dirawat di rumah dok?” tanya Irfan.


“ bisa Pak. Asal bapak memperhatikan dengan seksama ya,” jawab dokter.


Kemudian Irfan menemui Putri di balik gorden ruang perawatan dokter. Saat itu Putri sudah tersadar.


“ ngapain lo ke sini, gue nggak mau lihat lo lagi, pergi sana!” perintah Putri pada Irfan.


Irfan hanya diam saja. Ia pun duduk di samping Putri.


“ Kan gua udah bilang, gue nggak mau lihat lo lagi, ngapain lo Kemari! Pergi sana! Malah duduk dekat gue! gue jijik sama lo Tahu!” maki Putri.


Irfan tetap terdiam. Dia tidak ingin memperkeruh suasana. Apalagi Irfan sudah diberitahu oleh dokter, bahwa mental Putri saat ini sedang tertekan.


Setelah menemui Putri, Irfan pun keluar tanpa berbicara apa-apa. Lalu Putri Pun Menangis. Tapi Irfan tetap meninggalkan Putri di ruangan itu.


Irfan keluar dari ruang perawatan kamar Putri untuk menemui Mbok Yem.


Kala itu Mbok Yem sudah tersadar. Tapi sayangnya keadaan mbok Yem masih syok.


“ Bisakah saya menemuinya dok?” tanya Irfan pada seorang dokter yang menangani Mbok Yem.


“ Tunggu sebentar ya Pak sekitar 30 menit, biarkan dia sendirian dulu,” jawab dokter.


Akhirnya Irfan duduk di bangku pasien untuk menunggunya di luar.


Beberapa menit kemudian seorang suster memanggilnya.


“ Silakan masuk Pak, pasien sudah bisa ditemui,” sahut suster.

__ADS_1


Irfan pun masuk ke ruang perawatan Mbok Yem. Mbok yang menatap Irfan dengan pandangan aneh. Irfan menarik kursi dan duduk di sebelah tempat tidur Mbok Yem.


“ Mbok, Maafkan saya. Tapi saat ini saya sangat membutuhkan bantuan Mbok Yem. Tolong bantu saya Mbok, demi Putri,” kata Irfan.


Mbok Yem hanya terdiam, air matanya terus mengalir dan membasahi pipinya.


Kemudian Irfan pun kembali bicara.


“ Saya tahu Mbok tidak kenal saya. Tapi saya yakin Mbok sering melihat saya bersama putri, Ketika saya mengantarnya pulang. Saya mohon Mbok, saya butuh bantuan mbok Yem untuk merawat Putri. Saat ini Putri sedang mengandung anak saya. Jadi tolong Mbok, tolong Rawat dia baik-baik. Saya akan bertanggung jawab, tapi tidak sekarang. Saya belum bisa menikahinya. Lagian Putri juga mencegah saya untuk menemui keluarganya mbok.”


Mendengar penjelasan Irfan, air mata mbok Yem semakin deras. Dia tidak menyangka atas apa yang telah terjadi.


Irfan juga menerangkan keadaan Putri saat ini pada Mbok Yem.


“ Mbok, keadaan Putri sekarang sudah baik-baik saja. Kandungannya terselamatkan, hampir saja dia keguguran karena kecelakaan tadi. Tapi saat ini mentalnya sangat tertekan Oleh karena itu saya mohon rawat Putri baik-baik. Nanti saya akan datang ke sana. Saya akan menemui mama dan Papanya Putri mbok. Tapi semua itu tergantung permintaan Putri, kapan waktunya.”


Mbok yang tetap terdiam. Tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut Mbok Yem.


“Mbok tunggu sini dulu ya. Saya akan membeli pakaian untuk Putri, karena pakaiannya saat ini banyak darah mbok.”


Irfan pun keluar ruangan, kakinya melangkah keluar rumah sakit untuk membeli pakaian.


Setelah mendapatkannya pakaian yang dibeli Irfan itu diserahkan pada Mbok Yem. Bagusnya saat itu keadaan Mbok yang sudah membaik.


Mbok Yem pun keluar dari ruang rawatnya, kemudian ia menemui Putri untuk menyuruhnya mengganti pakaiannya.


Tapi mulut Mbok yang seakan-akan terkunci ya tak mampu berkata apa-apa.


Setelah terasa tenang, Mbok Yem menyerahkan pakaian itu pada putri dan menyuruhnya untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian yang baru.


Kemudian Mbok yem keluar dari kamar rawat Putri. Di situ masih ada Irfan menunggu.


Akhirnya Mbok Yem pun berbicara.


“ Apa rencana Aden selanjutnya?”


“ saya akan datang menemui papa dan Mamanya Putri mbok. Tapi belum tahu kapan, karena dari kemarin, Putri selalu mencegah saya. Alasannya karena orang tuanya sedang mengurus kakaknya yang akan menikah. Apa benar mbok?” tanya Irfan kembali.


“Iya, Den Andre akan menikah,” jawab Mbok Yem.


Lalu Mbok Yem pun kembali bertanya pada Irfan, “ Apa Aden yang sudah memiliki istri?”


Irfan kaget mendengar pertanyaan dari Mbok Yem.


“ Apa saya sudah kelihatan tua? Mengapa Mbok Yem bertanya seperti itu?” gumamnya dalam hati.


“ Maaf Den, saya menanyakan hal ini.Nggak ada maksud Mbok untuk ikut campur masalah kalian,” jelas mbok Yem.

__ADS_1


#######


Om Faisal melihat jam yang menempel di dinding. Waktu telah menunjukkan pukul 11.00 siang. Tetapi Mbok Yem dan Putri belum saja pulang.


Lalu Om Faisal menghubungi Putri lewat ponselnya tapi sayang ponsel Putri sedang non aktif.


Karena bosan menunggu Mbok Yem dan Putri pulan, Om Faisal melanjutkan pekerjaannya. Ia kembali ke ruang kerjanya bergabung pada para karyawannya.


Pukul 12.00 siang tiba. Saatnya Om Faisal dan beberapa karyawannya pergi ke ruko yang berada di Tanah Abang. Sebagian jumlah karyawannya tetap tinggal.


“ Ko, tolong jaga rumah ya, karena Mbok Yem dan Putri belum pulang,” perintah Om Faisal, pada salah satu karyawannya.


“ Baik Pak,” jawab Koko.


Koko pun membukakan pintu gerbang. Kemudian Om Faisal dan 3 orang karyawan lainnya yang berada di dalam mobil, Mereka pun pergi dan meninggalkan rumah.


Selang kemudian, ada sebuah mobil mengarah ke rumah Itu. Koko pun melihatnya, kemudian tangannya menahan pintu gerbangnya. Ternyata mobil itu memberi tanda agar pintu gerbang segera dibuka.


Koko pun kembali membukakan pintu gerbang. Sebuah mobil sedan masuk. Kemudian mbok Yem dan Putri keluar dari mobil itu.


Koko membantu Mbok Yem membawakan semua belanjaannya dan membawanya ke dapur. Sementara Mbok yang menggandeng lengan Putri.


Bagusnya saat itu para karyawan Om Faisal sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing, jadi mereka tidak memperhatikan kehadiran mbok Yem dan Putri.


Mbok Yem menuntun Putri menuju Kamar tidurnya. Mbok Yem merapikan sedikit sprei tempat tidur Putri. Lalu Mbok Yem menyuruh Putri untuk berbaring.


“ Nah sekarang non Putri istirahat aja ya, jangan terlalu banyak gerak, pokoknya tiduran terus. Serahkan semuanya pada Mbok Yem. mudah-mudahan tidak ada yang ada yang tahu ya Non. Bagusnya Den Andre nggak ada di rumah,”


kata mbok Yem.


“ Putri pun mengangguk mendengar perintah dari Mbok Yem. Putri merebahkan tubuhnya dan memeluk boneka kesayangannya. Akhirnya Putri pun tertidur.


Mbok Yem menyembunyikan beberapa obat yang diberikan oleh dokter di kamar tidurnya. Ia memutuskan menyembunyikan di kamar tidurnya karena khawatir Jika disimpan di kamar tidur Putri ada yang mengetahuinya.


Melihat putri tertidur Mbok yang pun meninggalkannya dan melangkah menuju kamarnya. Lalu Mbok ia menyembunyikan obat-obat milik Putri di bawah kasurnya.


Setelah itu Mbok yang bergegas menuju dapur untuk segera memasak.


Dia teringat dengan ponsel Putri, kemudian ia mencari ponsel Putri dan segera menchargernya. Lalu Mbok yang meneruskan pekerjaannya.


Di sela-sela saat ia memasak, ia terbayang wajah Irfan. Irfan adalah laki-laki yang menurut Mbok Yem usianya ya terlampau jauh dengan Putri.


Hingga akhirnya Mbok Yem menanyakan hal itu pada Irfan. Apakah Den Irfan sudah memiliki istri?


Mbok Yem terus memasak hingga selesai. Tapi pertanyaan itu masih menari-nari di otaknya, karena tadi ketika Mbok Yem bertanya pada Irfan, Irfan tidak langsung menjawabnya.


“ sungguh membingungkan, semoga saja belum,” bisik Mbok Yem dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2