
Waktu pun berjalan, sudah 3 hari keadaan Andre tidak membaik, bahkan semakin buruk. Suhu badannya tidak juga turun, sementara Andre selalu mengigau ketika di malam hari.
“Makan ya Bang, ayo gue suapin,”
Kata putri sambil menyuapkan nasi ke arah mulut Andre, Andre pun menanggapi suapan nasi dari Putri, yang tak lain adalah adiknya.
Selang beberapa menit Andre mengunyah, Andre pun memuntahkan makanan tadi, dan berkata,
“Udeh ah, gue mual Put, lo aja deh yang abisin, kalo ketauan Mama nanti dia marah gue gak makan, perut gue rasanya nolak Put.”
“Gimana lo mau sembuh Bang, panas lo gak turun-turun, makan susah, muka lo da pucat banget, emang lo mau cepet mati Bang? Kan Lo belom kawin, emang lo gak rugi bang, ha ha ha,”
kata Putri sambil tertawa.
Andre pun tertawa mendengar ocehan adiknya dan berkata,
“Sialan Lo Put, mau lah gue kawin, mangkanya gue pusing ni, Mama gak suka ma cewek gue.”
Putri pun bertanya,
“Lah, kapan lo ajak cewek lo ke sini Bang, kok gue gak tau? Jadi Mama udah kenal Bang?”
Andre menjawab pertanyaan Putri dan berkata,
“Udah, gue udah ajak dia kemaren. Eh, sikap Mama gitu deh. Gue akuin sih, cewek gue mang gak cantik, tapi dia baik banget dan orangnya supel, terutama dia itu gak pelit, ha ha ha. Oh iya, respon Om Faisal sih oke, dia kayanya suka, dan dia ngedukung gue loh.”
“Eh, Bang, tapi gaya ngomong Lo kaya bukan orang sakit dah, lo sakit beneran gak sih, ha ha ha,”
“ kata Putri sambil tertawa.
“Njiiiiiir, Lo pikir gue sakit bo'ongan? Udah kaya gini masih dibilang bo'ongan? Sialan Lo, ehm, sakit gak nih?! “
Kata Andre sambil menarik ujung rambut Putri yang panjang dan ikal.
“Aduh!!! Sakit Bang?!!Rese Lo!!!
Ma! Bang Andre ni jahatin aku Ma, tolong Ma! “
Kata Putri sambil berteriak kesakitan.
Andre pun melepaskan tarikannya.
Mendengar teriakan Putri, mama Lina pun menampakkan dirinya dari atas. Langkahnya yang terburu-buru membuat pikirannya menjadi kacau, terutama memikirkan keadaan Andre yang tak kunjung reda suhu tubuhnya.
Mama Lina pun mendekati mereka, yang tak lain adalah Andre dan Putri, seraya berkata,
“Kalian kenapa sih ribut mulu, uda pada gede masih aja ribut, cepet Dre, abisin nasinya, nanti malam atau sore kita ke dokter. Oh ya, kamu da hubungin tempat kerjamu?”
“Belom Ma,” jawab Andre.
Mama Lina pun marah, dan berkata dengan nada tinggi,
“Ya ampun Dre, emang kamu mau di pecat, cepat sana telpon tempat kerjamu, Put, ambilin ponsel abangmu!”
Putri pun mengambil ponsel Andre yang terletak di meja makan, sambil berkata,
“Ni Bang, cepet telpon, da 3 hari kan lo gak ngasih kabar.”
“Mama gak mau ya kerjaan kamu kenapa-napa,” saut mama Lina pada Andre.
Andre pun menjawab dengan santai,
“Paling kena SP Ma.”
Mendengar jawaban Andre yang menyepelekan pekerjaannya, mama Lina pun semakin marah dan berkata,
“Kamu begini gara-gara perempuan itu Dre, kamu terlalu mikirin dia, Mama gak suka sama dia, dia gak layak buat kamu!”
“Ma! Mama gak pantes ngomong kaya gitu, Rika gak salah Ma! Asal Mama tau, Rika sudah berkorban buar Andre Ma, gara-gara Andre, dia di pecat Ma! Sekarang mama tega ya ngomong kaya gitu!”
Jawab Andre dengan nada kesal dan berlalu meninggalkan mama Lina dan Putri.
######
Di dalam kamar, Andre termenung, dia memikirkan nasib Rika yang sudah berkorban untuk dirinya.
Dia pun semakin yakin bahwa Rika adalah sosok yang baik untuk kehidupannya kelak.
“Gimana pun, Rika harus jadi istri gue, muda-mudahan hati mama melunak,”
Gumamnya dalam hati.
Tak lama setelah itu, Andre pun tertidur.
######
Waktu beranjak semakin sore, para pekerja om Faisal pun sudah selesai dan pulang.
Tinggal lah om Faisal seorang diri di ruangan itu.
Om Faisal melihat Lisa, yang tak lain adalah anak kandungnya sedang duduk di lantai sambil memainkan bonekanya.
Om Faisal pun mendekati Lsa dan berkata,
“Nak, coba liatin Bang Andre, lagi ngapain dia?
Lisa pun mengangguk dan beranjak ke dalam, dia melangkah ke ruang atas, di mana letak kamar Andre berada.
Lisa melihat Andre sedang tertidur tapi mengigau.
Kata-kata yang keluar membuat Lisa terkejut, dan memanggil om Faisal.
“Pa Papaaaaa, cepet Pa!”
Teriak Lisa dari lantai atas. Om Faisal pun segera beranjak.
Di ruang kamar tidur, dia mendapati Andre yang sedang tertidur sambil mengigau, kata-kata yang keluar pun jelas sekali.
“Mama jahat, Mama jahat, Mama gak sayang Andre!” igau Andre.
Mendengar igauan Andre, om Faisal pun merasa sedih.
######
__ADS_1
Mama Lina pun semakin panik melihat keadaan anaknya, yaitu Andre. Dan mama Lina pun memutuskan untuk membawa Andre ke dokter, di antar om Faisal.
Waktu menunjukkan pukul 8.00 malam saat mama Lina mengajak Andre ke dokter, dalam perjalanan pun keadaan sudah kurang mengenakkan, lantaran padatnya jalan ibu kota, membuat mama Lina semakin tidak nyaman.
Tibalah mereka di sebuah klinik, tempat di mana dokter itu buka praktek. Banyak pasien yang menunggu giliran. Satu persatu pasien dipanggil, tibalah giliran nama Andre yang di panggil perawat.
“Saudara Andre?” panggil perawat itu.
Mendengar nama Andre di panggil perawat, om Faisal dan mama Lina beranjak dari tempat duduknya secara berbarengan, dengan membopong Andre, yang kala itu terasa amat lemas.
Mereka pun masuk ke dalam ruang pemeriksaan.
Di dalam ruang pemeriksaan, Andre di periksa secara intensif oleh dokter.
Setelah selesai memeriksa keadaan Andre, dokter pun berkata,
“Adakah di antara bapak ibu yang bersedia mendengarkan penjelasan saya, hanya 4 mata?"
"Saya Dok, saya aja. Pa, ajak Andre ke luar ya," kata mama Lina.
Om Faisal pun menganggukkan kepalanya dan meninggalkan ruangan pemeriksaan bersama Andre.
“Ada Dok, ada apa dengan anak saya? Tanya mama Lina.
“begini Bu, sebenarnya anak ibu tidak sakit secara fisik,” jawab dokter.
“Loh, badannya panas, muntah terus kalo makan, apa dia terkena asam lambung Dok?” tanya mama Lina.
“Tidak Bu, “ jawab dokter.
Mama Lina pun bertambah bingung mendengar penjelasan sang dokter.
Dokter kembali menjelaskan,
“Begini Bu, anak ibu ini bukan sakit secara fisik, tapi mentalnya yang sakit, anak ibu merasa tertekan, yaaa bisa di bilang anak ibu ini stres, tapi dia pendam. Mungkin ibu tau apa penyebab dia stres?”
Mama Lina pun terdiam. Wajahnya tampak sedih.
Dokter pun kembali berkata,
“Maaf bu, jika penjelasan saya membuat ibu sedih, tapi itulah yang terjadi, itulah yang di rasakan anak ibu. Coba ibu buat pendekatan, bicara baik-baik. Dan sepertinya dia punya trauma di masa lalu, masa kecil yang terpendam hingga rasa takut terbawa ke masa remaja hingga dewasa.”
Mendengar penjelasan dokter membuat mama Lina menangis.
“Saya tau bu, setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik buat anaknya, baik menurut orang tua belum tentu baik buat anak, coba ibu pikirkan kembali kata-kata saya, dan coba jalin kedekatan dengan anak, serta turunkan ego,”
Kata dokter.
Dokter pun melanjutkan penjelasannya,
“Anak ibu sudah dewasa, sudah waktunya mandiri, sudah punya hak untuk memilih, apa pun itu. Baik pekerjaan, pergaulan, selagi itu semua tidak menyimpang, biar bu, tanpa mengurangi kasih sayang ibu padanya.”
Tangis mama Lina semakin menjadi mendengar penjelasan dokter, lalu mama Lina bertanya,
“Apakah semua ini sudah terlambat Dok, untuk membicarakannya?"
Dokter pun menjawab dengan tegas,
“Tidak ada kata terlambat, bu.”
Sampailah mereka di rumah. Andre segera meminum obatnya lalu beranjak tidur.
Sementara mama Lina dan om Faisal masih di ruang tengah, sedangkan waktu telah menunjukkan pukul 10.00 malam.
Mereka hanya terdiam. Om Faisal melihat wajah mama Lina yang begitu terlihat terpukul.
Untuk mencairkan suasana, om Faisal berusaha membuka pembicaraan.
“Mau teh Ma? Nanti papa bikinin,? Tanya om Faisal pada mama Lina.
Mama Lina pun menjawab dengan suara pelan, “Mau pa, jangn terlalu manis ya.”
Om Faisal segera beranjak ke ruang dapur, sementara mama Lina masih termenung, memikirkan apa yang harus dia perbuat.
Om Faisal telah selesai membuat teh untuk mama Lina dan dirinya, lalu menyuguhkannya pada mama Lina.
Suasana pun menjadi kaku. Om Faisal berharap mama Lina membuka pembicaraan, membahas apa yang telah dokter sampaikan tadi.
Dia enggan memulai, karena menghindari pertengkaran, karena dia tahu betul sifat istrinya.
Om Faisal tetap menunggu sambil membisu. Sementara mama Lina masih berpikir.
Akhirnya mama Lina memberanikan diri untuk bertanya pada suaminya, yang tak lain adalah om Faisal.
“Pa, baiknya mama gimana, apa yang harus aku lakuin? Sedangkan mama gak suka sama itu anak!” tanya mama Lina.
“Ma, coba deh kamu berusaha turunin egonya, pikirkan perasaan anakmu, dulu kamu pergi ninggalin kita, ninggalin dia, tapi kamu cuma mikirin diri sendiri, coba kamu belajar ngertiin perasaan orang, papa yakin kamu bisa ngalahin egomu,”
Jawab om Faisal.
“Tapi pa, anakku berhak mendapatkan perempuan cantik, cerdas dan mandiri aja gak cukup," bantah mama Lina.
“Tapi cinta itu butuh kenyamanan ma!” jawab om Faisal dengan sedikit meninggi suaranya.
Mendengar ucapan om Faisal mama Lina pun terdiam.
Karena om Faisal tidak mau kata-katanya menjadi kesedihan buat mama Lina, om Faisal pun mulai merendahkan nada suaranya sambil mendekati mama Lina.
Di geser kursi yang dia duduki mendekat dengan kursi mama Lina, dan memegang tangannya lalu berkata,
“Ma, dulu kalo papa hanya memikirkan kecantikan wanita, gak mungkin lah papa meminang mama, banyak loh dulu yang mendekati papa yang lebih cantik dari mama, dan mereka juga masih perawan, tapi papa gak tertarik, papa menikah niatnya ibadah ma, karna itu papa lebih memilih mama.”
Di rangkulnya istrinya dengan penuh kasih sayang.
Hati mama Lina pun akhirnya luluh.
Dipeluknya suaminya dengan penuh cinta, mama Lina pun meneteskan air mata.
Dari luar Putri mengetuk pintu dan memberi salam, tapi mereka tak mendengar.
Puti pun masuk dari luar rumah, dan mendapati mama dan papa tirinya sedang berpelukan.
Putri pun berkata,
__ADS_1
“Hehmm, pantes salam Putri gak kedengeran, ada yang lagi pacaran toh, he he he,” kata Putri sambil cengengesan.
Mereka pun melepaskan pelukan masing-masing. Mama Lina mengusap pipinya yang basah, dan Putri pun tercengang.
Putri pun mendekati mereka dan menyalami mereka satu -persatu.
Seperti biasa, sikap Putri yang manja pada papa tirinya, dia bergelayutan di bahu om Faisal, lalu bertanya,
“Gimana pa, ma, keadaan bang Andre, apa kata dokter?”
Om Faisal menjawab dengan mengalihkan pertanyaan Putri,
“Dah malem Put, tidur sana, oh iya, besok anter papa ya ke bank, papa mau ambil duit, kan kemaren kamu minta buat les kamu.”
Putri pun menjawab sambil berlalu meninggalkan mereka,
“Oh iya, lupa. Ya udah Putri tidur ya, lanjutin deh pacaranya, he he he.”
########
Pagi hari, ketika itu waktu menunjukkan pukul 8.00 pagi, mama Lina sibuk menyiapkan sarapan untuk anak-anak dan suaminya, ponselnya pun berdering.
Mama Lina menerima telepon dari seberang sana dan berkata,
“Halo, pagi, dengan siapa?”
Terdengar suara dari seberang sana menjawab,
“Pagi bu, saya Anto dari cibaduyut, ingin mengantar barang pesenan ibu, ini ada dua alamat, saya harus mengantar ke alamat yang mana bu?”
Mama Lina pun menjawab,
“Antar ke alamat yang jalan mawar aja Pak, nanti ada orang gudang saya yang menerima, yang penting surat fakturnya bawakan? Jangan lupa ditanda tanganin ya Pak, minta juga tanda tangan orang gudang saya, jangan lupa, serah terimanya hitung bareng ya Pak.”
Suara dii seberang sana pun menjawab,
“Siap bu!”
Telepon pun di tutup.
Mama Lina pun segera menghubungi karyawannya yang berada di gudangnya, tempat penyimpanan barang-barang yang harus di pasarkan oleh mama Lina beserta pegawainya.
“Halo Lal?”
“Ya bu?” jawab Hilal, yang tak lain adalah pegawai mama Lina yang bertugas menjaga gudang.
Mama Lina berkata pada Hilal,
“Lal, bentar lagi orang dari Cibaduyut dateng, tolong di cek ya barangnya yang bener, jangan sampe selisih, awas ya kalo selisih, saya potong gaji kamu, jangan lupa tanda terimanya."
Hilal pun menjawab dengan tegas,
"Siap bu!"
Mama Lina melanjutkan pekerjaan dapurnya, tak lama Putri turun dari lantai atas, yaitu kamar Andre.
Melihat Putri dari arah ruang dapur, mama Lina pun memanggilnya,
“Put, sini, bantu mama nata makanan, abis itu panggil papa kamu dan adik-adikmu.”
Putri menjawab dengan segan,
“Iya Ma.”
Mama Lina memiliki anak kandung hasil perkawinannya dengan om Faisal terdiri dari Lisa 5 tahun, Rizki 7 tahun, dan Ricky 9 tahun.
Sedangkan anak hasil perkawinan sebelumnya adalah Andre, Putri dan Diki.
Putri memanggil adik-adiknya yang sedang asyik menonton TV,
“Heeeyyyy, ayo curut-curut, kita makan!”
Mendengar cara Putri memanggil adik-adiknya dengan sebutan curut, mama Lina pun marah, lalu berkata dengan suara meninggi,
“Kamu ni Put, mulutmu pengen mama cabein? Kasi contoh yang baik dong buat adik-adik kamu, mereka kan anak mama, kamu itu kakaknya juga. Sekali lagi Mama denger kaya tadi, beneran deh Mama kasi cabe mulut kamu!”
Putri menjawab dengan santai,
“ Ya elah Ma, Putri kan becanda, jangan baper napa sih, oh ya Ma, Bang Andre da enakkan tuh semalem abis minum obat.”
Mendengar penjelasan Putri, mama Lina pun merasa lega hatinya.
Mama Lina keluar dari ruang dapur, kakinya melangkah ke arah anak tangga, menuju lantai atas, di mana letak kamar Andre berada.
Di lihatnya Andre sedang berbaring setengah duduk di bibir tempat tidur. Mama Lina pun mendekat, dan masuk ke kamar Andre.
Andre melihat mamanya datang, merasa terkejut dan berkata,
“Eh Ma, masuk Ma.”
“Kamu da enakan?”
tanya mama Lina pada Andre.
“udah Ma, uda enakan, panasnya udah turun, tinggal pusingnya yang belum ilang, masih keliyengan,” jawab Andre.
Mama Lina mendekat dan duduk di bibir tempat tidur, lalau berkata dengan pelan,
“Dre, kamu sakit Rika tau gak? Paling enggak, dia tuh telpon, nanya kabar kamu, masa sebagai pacarnya gak peduli sih sama kamu? Jangan kan dateng, masa telpon aja enggak?”
Mendengar sederet pertanyaan dan pernyataan mama Lina, Andre merasa bingung, Andre pun bertanya,
“Maksud Mama apaan sih, Andre gak ngerti.”
Melihat sikap Andre, mama Lina pun tersenyum, lalu berkata,
“telepon Rika sana! Ajak Rika makan malem , besok malem.”
Mendengar perintah mamanya, Andre pun segera bangkit dari tempat tidur, lalu memeluk mama Lina dan berkata,
“Makasih ya Ma, udah mau nerima Rika.”
Mama Lina hanya menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Mereka pun turun dari lantai atas menuju lantai bawah, tepatnya arah ruang makan.
Om Faisal, Putri dan adik-adiknya sedang menyantap makanan, mereka pun ikut bergabung dan menikmati hidangan tersebut.