Mertua Yang Jahat

Mertua Yang Jahat
Siasat Rika.


__ADS_3

Sampailah Andre dan keluarga di rumahnya. Andre membunyikan klakson mobilnya. Tapi mbok Yem tidak juga membukakannya.


Akhirnya Diki turun dari mobil dan membuka gerbang rumahnya. Andre pun segera melajukan mobilnya ke dalam pekarangan rumahnya.


Putri turun dari mobil, di susul oleh mama Lina, dan Andre.


Sebelum masuk rumah, Andre memastikan pintu gerbang telah di kunci oleh Diki.


Mereka pun masuk ke dalam rumah, melalui pintu samping, di mana ruangan itu di pakai untuk para pekerja om Faisal menjahit.


Diki masuk ke dalam kamar, sementara mama Lina dan Putri duduk di ruang tengah.


Andre hendak mandi, karena itu dia mengambil handuk terlebih dahulu.


Melihat Andre mengambil handuk, tiba-tiba Putri bertanya,


“Mau ngapain Bang?”


“Mau mandi,”


jawab Andre. Kemudian bertanya,


“Kenapa, lo mau ikut?”


“Idih, emang mandi itu tamasya!?”


Jawab Putri dengan jengkel.


Andre pun bergegas menuju kamar mandi, sementara Putri masih berada si ruang tengah bersama mama Lina.


Putri memperhatikan mama Lina yang sedang mengoperasikan ponselnya.


Putri mendekat, dan bertanya,


“Lagi ngerjain apaan sih Ma?”


Mama Lina menoleh ke arah Putri, dan menjawabnya,


“Ini loh Put, mama lagi periksa barang-barang mama di gudang. Stoknya sesuai gak sama yang satunya. Antara barang datang dan keluar. Kalo gak sinkron harus di cari ke mana?”


Putri kembali diam, dan memperhatikan mama Lina yang tengah sibuk.


########


Keesokan hari saat Rika bangun di pagi hari, di depan rumah sudah hadir Ricard.


Sengaja Ricard tidak mengetuk pintu, karena ingin memberikan kejutan untuk Rika.


Dan sialnya, yang membuka pintu rumah adalah Erna. Karena setelah acara pertunangan Rika dan Andre, Edna menginap di rumah Rika.


Betapa terkejutnya Erna saat membuka pintu, telah hadir Ricard.


“Hei, sedang apa kau di situ?”


Tanya Erna.


Ricard pun tersenyum melihat Erna. Kemudian dia bangkit dari duduknya dan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.


Erna pun mengulurkan tangannya. Dan mereka pun saling berjabat tangan.


“Apa kabar?”


Tanya Ricard.


“Baik,”


jawab Erna dengan singkat.


Ricard pun kembali duduk, begitu pun dengan Erna. Dia duduk di samping Ricard.


Sejenak mereka terdiam, ketika Rika keluar dan duduk bersama mereka di teras.


Ricard pun mengulurkan tangannya ke arah Rika untuk menyalaminya. Rika pun membalasnya.


“Kamu apa kabar?”


Tanya Ricard pada Rika.


“Kabar ku baik. Sangat baik. Bisa lebih baik lagi kalo kamu gak usah jadi sahabat kami lagi,”


Jawab Rika dengan ketus.


Mendengar jawaban dari Rika, Ricard mengernyit kan dahinya.


“Ada apa denganmu Rika? Apa ada yang salah?”


Tanya Ricard.


“Ya, ada. Ada yang yang sama kamu,”

__ADS_1


jawab Rika.


“Apa yang salah, dan salahnya di mana?”


Tanya Ricard terheran-heran.


Erna berdiri dan melangkah menjauh sedikit dari Ricard, kemudian Erna berkata,


“Salah kamu adalah kamu jadi sahabat kami, dan kamu bekerja dengan nyonya Lina.”


Ricard merasa heran, dan berkata,


“Apa saya salah jika saya bekerja dengan seseorang, dan bersahabat dengan kalian? Salahnya di mana? Sedangkan kalian juga bekerja dengannya?!”


Mendengar jawaban Ricard, Rika tertawa.


“Kamu gak salah bekerja dengannya, tapi kamu telah salah menjadi sahabat kami. Sahabat aku dan Erna,”


jawab Rika.


“Sungguh saya tidak mengerti apa maksud kalian, apakah salah jika menjalin persahabatan, dan mengapa kalian mengaitkan persahabatan ini dengan pekerjaan saya? Sedang kalian itu bekerja dengannya pula, sungguh tidak masuk akal saya, jika kalian ingin memutuskan persahabatan dengan alasan ini,”


Jawab Ricard dengan nada suara tinggi.


Erna memperhatikan gerak-gerik Ricard. Erna tidak terima dengan perlakuan Ricard terhadap Rika, karena Ricard telah sedikit memaki.


Erna berdiri menghadap Ricard, lalu berkata,


“Kamu mau tau, kenapa di mata kami perlakuan kamu itu tidak baik. Kamu itu modus!!! Kami udah tau, Ricard! Kamu sengaja mendekati kami, untuk memata-matai gerak gerik kami, terutama Rika, iya kan???!!! Sampe segitunya ya, kamu rusak persahabatan ini hanya karna urusan perut!!!! Bener deh Card, gue tuh marah bngettt sama kamu!!! Kami tuh kecewa.”


Ricard pun terdiam. Dia tidak dapat berkutik lagi. Tapi bagaimana pun, dia tetap berusaha mengelak.


“Tapi......... “


Ricard berkata, tetapi perkataannya segera di tepis oleh Rika,


“Tapi apa?!?! Udah kaya gini masih ngelak aja. Eh Ricard, dengar ya. Apa pun cara nyonya kamu berusaha memisahkan aku dan Andre, gak bakalan bisa! Tolong catat ya omonganku!”


Ricard pun menarik nafas panjang dan menghembuskannya. Dia mengeluarkan rokok lalu membakarnya. Di hisapnya rokok itu dalam-dalam kemudian di hembuskan asapnya.


Ricard berpikir, bahwa dirinya sudah tidak berguna berada di sana. Ricard memutuskan untuk pergi dari rumah Rika.


“Terserah kalian aja menilai saya. Kalau kalian sudah tidak memerlukan saya, lebih baik saya pamit, dan tolong maafkan saya,”


kata Ricard pada Erna dan Rika.


Ricard melangkah, meninggalkan Rika dan Erna yang masih duduk di teras dengan wajah memelas.


Sementara Rika dan Erna masih duduk di teras. Mereka terdiam melihat kepergian Ricard.


Tidak lama kemudian, Iyan datang. Tetapi sebelum sampai di depan rumah Rika, Iyan melihat mobil Ricard keluar dari rumah Rika.


Erna melihat kedatangan Iyan dan menyambutnya.


Iyan memberi salam,


“Assalamu’alaikum.”


“Wa alaikumsalam, masuk bang,”


jawab Erna.


Iyan pun masuk dan duduk di teras. Kemudian menyerahkan sebungkus makanan untuk Rika.


“Nih Ka, makanan buat kamu ama Erna,”


kata Iyan.


Rika mengambil bungkusan tersebut dari tangan Iyan, dan membukanya.


Rika mengajak Erna masuk ke dalam untuk menikmati makanan pemberian Iyan.


Iyan pun menyusul Rika dan Erna ikut ke dalam rumah.


Sambil menikmati makanan yang di berikan Iyan, mereka berbincang-bincang.


Iyan bertanya pada Rika dan Erna,


“Tadi bang Iyan liat mobil Ricard keluar dari sini. Apa kalian ada masalah dengan Ricard?”


Rika dan Erna saling memandang. Mereka pun saling mengernyitkan dahi mereka.


Akhirnya Rika yang menjawab pertanyaan Iyan.


“Rika gak mau di anter jemput lagi ama Ricard Bang.”


“Kenapa? Apa kalian berantem? Kayany Ricard sahabat yang baik buat kalian,”


kata Iyan.

__ADS_1


“Baik sih baik, tapi dia terlalu ikut campur ama hubungan aku sama Andre, Rika gak suka Bang,”


kata Rika.


“Ikut campur gimana?”


Tanya Iyan.


“Ya, ikut campur. Katanya dia, Andre itu cowok kasar lah, Rika di suruh jauhin Andre lah, pokoknya ada aja deh mulut dia yang ucapannya gak enak. Dia kan gak kenal Andre, gimana Andre, tapi udah bisa menilai,”


jawab Rika dengan manja.


Erna pun ikut menimpali dan berkata,


“Sebagai sahabat, harusnya Ricard itu kasih semangat, kasih suport, bukan malah ingin ngancurin, itu sih bukan sahabat, tapi penyusup.”


Mendengar penjelasan Rika dan Erna, Iyan mengangguk-anggukan kepalanya.


Sepertinya Iyan mulia menilai, persahabatan macam apa yang mereka jalani.


Rika pun kembali berkata,


“Kayanya lebih baik Rika ama Erna enggak berteman ama dia deh Bang. Tiap kali Rika lagi berantem ama Andre, eh tiba-tiba aja dia tuh nongol. Selalu begitu. Gak di mana mana dan kapan aja, pasti dia nongol. Ya karna Rika saat itu lagi sebel ama Andre, wajarlah Rika manfaatin dia untuk menghindar dari Andre.”


“Ehmmm, mungkin salah kamu di situ Ka. Jadi mungkin pemikiran si Ricard itu, kamu ingin ngejauhin Andre, mangkanya dia bantu,”


kata Iyan.


“Aduuuuh, kalo begitu pemikiran dia, kaku amat sih otaknya, Bang. Orang menjalin hubungan itu gak selamanya baik-baikan, pastilah ada berantemnya. Nah ini, setiap kali Rika berantem ama Andre, eh dia selalu nongol,”


jelas Rika, dengan berusaha meyakinkan kakaknya, yaitu Iyan.


“Trus selanjutnya, persahabatan kalian dengan dia sekarang selesai, gitu?”


Tanya Iyan.


“Yaaaa, muda-mudahan aja dia gak menampakkan mukanya lagi Bang,”


sahut Erna.


“Ya udah, kalian urus aja masalah kalian sendiri. Tapi kalo kalian butuh Abang, ngomong ya, kali aja Bang Iyan bisa bantu kalian. Dan kalo Bang Iyan liat Ricard, kayanya dia itu golongan orang kaya,”


kata Iyan.


“Kaya apa? Kaya monyet? Ha ha ha,”


sahut Rika sambil tertawa.


Iyan pun tersenyum sambil berdiri dan hendak meninggalkan Rika dan Erna.


Sebelum meninggalkan mereka, Iyan bertanya,


“Hari ini kalian kerja?”


“Iya Bang, kerja. Entar jam 3 kurang udah jalan,”


jawab Rika.


“Biasanya jam setengah empat berangkatnya, kenapa sekarang lebih cepat?”


Tanya Iyan.


“Kan kalo naik angkot banyak berentinya Bang, jadi jalannya lebih awal. Maren-marenkan ama Ricard. Kalian kalo lebih awal kan kali aja gak ketemu dia, he he he,”


kata Erna.


“Ya udah, nanti hati-hati ya berangkatnya. Bang Iyan pulang dulu, mau siap-siap kerja,”


kata Iyan.


Iyan pun melangkah keluar, dan meninggalkan Rika dan Erna yang masih menyantap makanan yang di bawanya.


###########


Di lain tempat, tepatnya di jalan raya. Saat itu suasana jalan padat merayap. Ricard masih mengemudikan mobilnya. Sambil mendengar kan musik yang dia putar.


Saat berhenti di depan lampu merah, Ricard mengeluarkan ponselnya. Dia hendak mengirim pesan pada seseorang.


Ricard menekan beberapa huruf dan mengirim pesan tersebut pada seseorang, yang berbunyi,


“Kancil terlepas dari perangkap.”


Setelah mengirim pesan tersebut, Ricard meletakkan ponselnya di atas kemudi.


Rambu lalu lintas pun berubah hijau. Ricard pun kembali melajukan mobilnya ke arah apartemen di mana dia tinggal.


Sebelum sampai di apartemen, ponselnya berbunyi, tanda satu pesan yang masuk. Ricard pun mengambil dan membuka isi pesan tersebut.


Isi pesan tersebut adalah:

__ADS_1


Betapa tololnya kamu, Ricard! Cepat, tangkap kembali kancil itu, sebelum kepalamu ku ledakkan.”


Seketika itu juga wajah Ricard memerah. Hatinya bergetar, dan rasa takut menyelimutinya.


__ADS_2