Mertua Yang Jahat

Mertua Yang Jahat
Curahan hati Andre.


__ADS_3

Di satu pagi yang cerah, Andre berbincang-bincang pada Om Faisal mengenai pernikahan. Andre menanyakan apa saja yang perlu disiapkan untuk menuju ke pernikahan.


Saat itu mereka sedang sarapan berdua. Sedangkan mama Lina dan Putri serta adik-adik Andre Yang lain sudah berangkat. Mama Lina berangkat ke gudang, Putri pergi ke tempat les, Sedangkan adik-adik Andre lainnya berangkat ke sekolah.


“ Om, apa aja sih persiapan pernikahan? Kira-kira berapa uang yang harus Andre siapkan? “


Tanya Andre di pagi itu.


Ternyata dari kejauhan, Mbok Yem memperhatikan percakapan mereka.


“Kalau soal dana, semua tergantung Dre.Tergantung kamu mau bikin pestanya gimana, sederhana sedang-sedang aja atau mewah, “


jawab Om Faisal.


“ Andre juga bingung Om, bingung benar-benar bingung, “


Kata Andre, sambil menggaruk-garukkan kepalanya walau tidak gatal.


“ Emang kapan kamu rencananya, apa semua ini sudah kamu omongin sama Rika? “


Tanya om Faisal sambil menyeruput kopinya.


“ Udah Om, udah diomongin ke Rika, tapi belum tuntas, kita juga berdua sama-sama bingung, “


jelas Andre sambil menggosok-gosokkan hidungnya.


Melihat karakter Andre, om Faisal tersenyum.


Mungkin kamu sungkan membicarakan ini nak, Om tahu, “


bisiknya dalam hati.


Mbok Yem melangkah ke arah merek. Sambil berpura-pura membersihkan ruang tengah.


Melihat kedatangan mbok Yem, Om Faisal tetap saja bicara tanpa ada rasa sungkan.


“Coba kamu bayangin pesta seperti apa yang kamu pengenin? Lalu catat, kemudian bikin konsepnya. Coba deh kamu jalanin kayak gitu mudah-mudahan sih ketemu apa yang kamu mau, “


Tutor om Faisal.


Melihat kelakuan Andre, Mbok Yem pun tersenyum, lalu berkata,


“ coba Den, Aden tanya tuh sama tetangga sebelah, mereka Minggu lalu kan mengadakan pesta perkawinan, coba kamu tanya-tanya mereka, nggak papa, nggak usah, malu bisa jadi jawaban mereka masukkan buat kamu. “


Andre pun tersenyum semringah, dan menyentikan jarinya.


“Aha ! Yes ! Andre punya ide, “


kata Andre.


##########


Hari itu mama Lina sibuk dengan pekerjaannya di gudang. Dia memandangi laptopnya dengan seksama satu persatu tulisan ia perhatikan.


Tiba-tiba ada email yang masuk. Mama Liana pun segera membuka dan membacanya.


Ternyata email tersebut pesan dari seseorang yang menawarkan sebuah kerjasama.


Mama Lina tidak langsung menjawabnya. Tapi ia mengalihkan kembali pada pekerjaan intinya.


Herman, Paijo dan karyawan-karyawan lainnya sibuk pada pekerjaan masing-masing.


Dan sebagian karyawan sedang mengemas barang-barang yang baru datang. Mereka memasukkan ke dalam dus dan memberi label. Satu persatu mereka kerjakan dengan penuh kehati-hatian.


Dari dalam ruang kerjanya Lina memanggil Herman.


“ Herman! Sini! “


Dengan cekatan, Herman pun bergegas menuju ruang kerja mama Lina.


“ Iya Bu ada apa? “


“ Nanti kamu ke mall Senen ya, terus naik ke atas ke depstore-nya, lalu di sana minta faktur bulan ini sama orang gudangnya, ngerti? “


Perintah mama Lina pada Herman.


Mendengar perintah dari mama Lina, Herman merasa kelimpungan. Dia banyak tidak mengerti persoalan seperti ini.


Melihat wajah Herman yang kebingungan, mama Lina pun bertanya,


“ Kamu kenapa Man? Kelihatannya kamu bingung, “


tanya mama Lina.


“Ehmm, Saya bingung Bu, karena di sana juga suka ditanya, kok nggak pakai ID card Mas, gitu Bu, “


Sahut Herman, sambil menggaruk-garukan kepalanya.


“Itu pertanyaan yang gak penting, yang penting kamu kerjain tugas kamu apa dari saya, ngerti kamu?! “


Tanya mama Lina dengan tegas.


“Me, me , mengerti Bu,”


jawab Herman dengan gugup.


“Jangan lupa nanti setelah makan siang kamu berangkat ke sana ya. Ajak Paijo juga tuh buat nemenin kamu di sana, “


kata mama Lina.

__ADS_1


Herman pun mengangguk, lalu ia keluar dari ruang kerja mama Lina dan melanjutkan pekerjaannya.


Mama Lina pun melanjutkan pekerjaannya. Dan beberapa saat kemudian makan Siang pun tiba.


Para karyawan melepaskan pekerjaannya dan mereka keluar untuk beristirahat.


Begitu juga mama Lina, mama Lina menelepon seseorang untuk memesan makanan.


Beberapa saat kemudian datanglah seseorang membawa pesanan mama Lina.


Mama Lina pun langsung menyantap makanan itu.


Tiba-tiba pintu diketuk dari luar, mama Lina pun berkata,


“ Ya, masuk. “


Herman pun masuk, dan duduk tanpa disuruh.


Mama Lina pun menghentikan makannya.


Kemudian berkata pada Herman,


“ Ada apa? “


“ saya pakai mobil yang mana Bu? Masa cuma ngambil faktur doang Pakai mobil box Bu? “


Tanya Herman.


Mama Lina menyisihkan makanannya. kemudian ia mengelak mulutnya dengan tisu.


“ Terserah kamu mau pakai apa, ya lebih baik kamu naik motor, lebih cepat, “


sahut mama Lina.


“ Naik motor Bu? Bolehlah saya pakai mobil ibu, “


pinta Herman.


Mendengar permintaan Herman, mama Lina pun menjadi marah, dan berkata,


“ Nggak sopan kamu ya! Kurang ajar kamu! Kamu pikir dirimu siapa? Beraninya kamu mau pakai mobilku! Pakai motor saja sana, atau Kamu naik angkutan umum! “


Mendengar jawaban mama Lina, Herman pun menggaruk-garukan kepalanya. Lalu meninggalkan ruang kerja mama Lina.


“Dia pikir, dia itu anak emasku apa?! Anak masku adalah Hilal, nggak ada yang bisa menggantikan dia,”


gumamnya pelan.


Herman dan Paijo pergi melaksanakan perintah mama Lina. Akhirnya mereka pun menggunakan sepeda motor. Karena mereka menggunakan sepeda motor, maka cepatlah mereka sampai pada tempat tujuan.


Setelah mendapatkan faktur, mereka pun Kembali Pulang.


Mama Lina keluar dari ruang kerjanya, dan menghampiri mereka yang masih berada di luar pelataran.


“ Cepat sekali kalian sampai, apa kalian ngebut-ngebut? “


Tanya Mama Lina yang sedikit heran.


Tanpa menunggu jawaban dari Herman, mama Lina langsung merampas kertas yang berada di tangan Herman, dan langsung kembali ke ruang kerjanya.


Karena terlalu lama memandang laptop, mama Lina merasa pegal di bagian leher dan kepalanya.


Akhirnya mama Lina merebahkan tubuhnya di kursi panjang yang ada di ruang kerjanya.


Di saat ia merebahkan tubuhnya, matanya memandang langit-langit. Tiba-tiba ia teringat pada email yang ia terima hari ini.


Segera ia bangkit, kemudian ia langsung membuka laptopnya dan mengarah pada email tadi.


Dengan penuh ketelitian, mama Lina membaca satu persatu isi email tersebut. Kemudian ia mengangguk-anggukkan kepalanya.


Akhirnya ia membalas email tersebut dengan mengirim beberapa kata. Tidak lama kemudian Ia pun merebahkan tubuhnya kembali di kursi panjang.


Tanpa mengetuk pintu, Paijo masuk ke ruang kerjanya. Paijo menawarkan secangkir kopi.


“ Bu maaf, mau aku bikinin kopi Bu? “


Melihat kehadiran Paijo yang tiba-tiba, mama Lina menghela nafas dalam-dalam. Dia tidak marah dengan Paijo, karena sudah tahu bagaimana tabiatnya.


“ Ya, saya mau. Bikinin saya kopi hitam ya, nggak usah pakai krim, “


jawab mama Lina.


Paijo pun langsung membalikan tubuhnya, dan melangkah keluar dari ruang kerja mama Lina.


Paijo melangkah menuju ruang dapur, sementara Herman memperhatikan gerak-gerik Paijo.


Herman menghampiri Paijo dan bertanya, “Lu ngapain nawar-nawarin Ibu Lina kopi? Lu cari muka ya? “


Dengan wajah takut, Paijo menjawab sambil mengangkat tangan,


“ Enggak bang, aku nggak cari muka. “


“Trus ngapain lu pake nanya-nanya, Mau kopi nggak Bu? “


Tanya Herman, sambil memperagakan gaya Paijo.


Melihat gaya Herman, Paijo pun menjadi tertawa.


“ Ah kamu bang, bisa aja. Aku menawarinya karena aku pun juga mau bikin kopi. Abang mau? Kalau mau, aku bikinin juga, “

__ADS_1


kata Paijo, yang berusaha menjelaskan.


“ Enggak! Gue bikin sendiri aja! Enakan juga buatan gue daripada buatan lu! “


Sahut Herman sambil cemberut.


Paijo pun meninggalkan Herman, dengan membawa dua cangkir ke arah ruang kerja mama Lina.


Paijo memasuki ruang kerja mama Lina, kemudian meletakkan satu cangkir di atas meja kerjanya, sambil mengamati mama Lina bekerja.


Paijo mangarnyitkan dahinya, entah apa maksud sikapnya.


Menyadari dirinya diperhatikan Paijo, mama Lina menoleh ke arah Paijo berdiri.


“Ngapain kamu masih di sini? Sotoy Lagi ngeliatin saya kerja, emangnya kamu ngerti? “


Tanya mama Lina sambil menggertak.


Sontak saja Paijo melompat. Ia kaget setelah mama Lina menggertaknya.


“ Ah Ibu bikin saya kaget aja, untung kopi ini nggak tumpah,”


sahut Paijo sambil mengelus-elus dadanya.


“Sudah, sana! Jangan ganggu saya,”


kata mama Lina.


Paijo terus saja memandang ke arah layar laptop milik mama Lina. Ia memperhatikan dan mengamati segala tulisan di sana.


Kemudian Paijo bertanya,


“Ibu sudah membalas email itu? “


“Kenapa emang? Bukan urusanmu! “


Jawab mama Lina dengan ketus.


Paijo menggaruk garukan kepalanya. Kemudian berkata sambil berlalu,


“Yach, hati-hati aja Bu, takut investasi bodong.”


Karena Paijo telah berlalu, dan telah meninggalkan ruangannya, mama Lina berbisik pelan,


“Tau apa kamu tentang investasi? Sotoy!”


Herman memperhatikan apa yang telah di lakukan Paijo. Kelihatan Herman tidak suka atas kelakuan temannya itu.


Kemudian Herman bicara pada Paijo,


“Terus aja lu cari muka, gak bakal lu dapet apa-apa.”


“He he he, yang cari muka tuh siapa? Lawong aku cuman liatin laptopnya aja kok. Malah aku di omelin. Di sini juga di omelin. Salah mulu aku,”


balas Paijo.


Kemudian mereka melihat nyonya besar keluar dari ruang kerjanya. Sepertinya ia hendak keluar.


Ya, tanpa basa basi ia keluar menggunakan mobilnya.


Tapi sesampainya ia di luar, ia berteriak memanggil Paijo.


“PAIJO! CEPAT SINI! “


Mendengar namanya di panggil, segera Paijo meninggalkan pekerjaannya dan beranjak keluar.


Dengan langkah terburu-buru, Paijo mendekati mama Lina.


“Ada apa Bu? “


Tanya Paijo.


“ Tolong buka pintunya. Saya mau keluar,”


perintah mama Lina.


Paijo segera membuka gerbang, kemudian berdiri di samping gerbang itu.


Mama Lina pun melintas dengan mengendarai mobilnya dan menghilang dari pandangan mata Paijo.


Paijo menutup gerbang kembali, lalu masuk ke dalam gudang dan meneruskan pekerjaannya.


Di jalan, mama Lina mengendarai mobilnya dengan perlahan. Ternyata mama Lina menuju sebuah Cafe.


Kemudian ponselnya berdering. Di angkatnya ponselnya lalu ia berbicara,


“Ya, maaf, sebentar lagi saya sampai, mohon di tunggu ya.”


Kemudian Iya memutuskan saluran ponselnya, Dan meletakkan kembali ponselnya ke dalam tasnya.


Tidak lama kemudian Ia pun sampai di sebuah Cafe, yang letaknya berada di tengah kota.


Setelah sampai di pelataran, mama Lina pun memarkirkan kendaraannya.


Tidak lupa mama Lina memperhatikan ke sekelilingnya. Ada rasa memperbandingkan Cafe tersebut dengan Klub miliknya. Iya pun tersenyum lirih.


Baru saja ia memasuki lantai depan Cafe itu, ternyata ada seseorang yang menyambutnya.


Dengan sikapnya yang canggung, mama Lina pun berbisik dalam hatinya,

__ADS_1


“ Siapa orang ini?”


__ADS_2