Mertua Yang Jahat

Mertua Yang Jahat
Perayaan yang tertunda.


__ADS_3

Malam semakin larut, udara dingin pun mulai menusuk tulang. Rintik-rintik tetesan hujan mulai turun satu persatu.


Waktu menunjukkan pukul 2.00 pagi, saatnya manusia masih terlelap dalam tidur mereka. Tapi tidak bagi mama Lina dan Andre, mereka tengah sibuk menghadapi musibah yang sedang terjadi di gudang, tempat penyimpanan barang-barang bisnis mama Lina.


Ada beberapa mobil polisi terparkir di pelataran gudang. Pita garis kuning pun sudah di bentangkan.


Kesedihan tampak di wajah Andre, yang melihat dengan mata kepalanya sendiri gudang milik mamanya di bobol orang.


Andre mengetahui bisnis mamanya hanya jual beli barang yang terbuat dari kulit. Ya, hanya itu, tidak yang lain.


Mama Lina dengan tenang menghadapi wawancara dengan polisi.


Penyelidikan terus berlanjut, sedangkan mata Andre sudah mulai lelah.


Melihat wajah Andre, mama Lina pun mengajak Andre untuk pulang. Mama Lina menyerahkan semua penyelidikan sepenuhnya pada polisi.


Mereka pun pulang di antar oleh salah satu petugas polisi yang menyelidiki kasus pembobolan gudang.


Ternyata om Faisal dan Putri telah bangun dari tidur mereka.


Mereka pun menyambut kepulangan mama Lina dan Andre.


Om Faisal memeluk istrinya sambil berbisik,


“Ma, yang sabar ya.”


“Iya Pa, insya Alloh mama sabar,” jawab mama Lina.


Putri pun ikut memeluk mamanya, serta Andre, dan Putri pun menangis.


“Ma, mama yang sabar ya, ini musibah ma,”


kata Putri ikut menguatkan hati mama Lina.


“Ma, papa bikinin teh ya, atau mama mau susu panas?”


Tanya Om Faisal.


“Gak Pa, mama gak mau apa-apa,” jawab mama Lina.


Om Faisal pun terus membujuk istrinya, dengan niat agar istrinya bisa merasa lebih tenang.


Tanpa berpikir panjang, Putri pun berinisiatif membuat susu panas untuk mamanya dan Andre.


Mama Lina hanya duduk bertopang dagu, pandangannya terlihat kosong, sedang Andre merebahkan tubuhnya di kursi panjang.


Selesai membuat susu panas, Putri membawanya ke ruang tamu.


Di letakkan dua gelas susu panas di atas meja, dan Putri mengambil satu gelas untuk di serahkan pada Andre.


“Minum dulu nih bang, biar enakan, mumpung masih panas nih,” kata Putri sambil menyodorkan gelas yang berisi susu panas.


Andre pun enggan bangkit dia hanya menjawab, “Ehmm.”


“Ih, lo bang, gue kan cape bikinnya, minum gak? Enak lo bang, mumpung masih panas,”


kata Putri sambil merajuk manja.


Dengan rasa malas, Andre pun bangkit dan duduk di sebelah Putri.

__ADS_1


“Gimana bang, enakkan? Eh bang, tadi gimana ceritanya, kira-kira kerugian mama banyak gak?”


Tanya Putri.


“Gue gak tau Put,”


Kata Andre dengan singkat.


Andre mendekatkan kepalanya ke arah telinga Putri, lalu berkata,


“Tuh maling pinter banget deh, gak pake di bobol, malah lewat genteng. Yang gue heran, pager depan gak rusak, padahal kalo lompat kan susah, gimana mao lompat, kawat durinya rapet-rapet, begitu aja masih bisa tuh maling masuk.”


Azan subuh pun mulai berkumandang, waktu telah menunjukkan pukul 4.30 pagi.


Andre mulai menguap, tanda mengantuk. mama Lina tertidur di kursi panjang. Dan Putri pun mengambil sehelai selimut, di tutupi tubuh mamanya dengan rapat.


Andre bangkit dari tempat duduknya dan beranjak menuju kamar mandi.


Di lihatnya om Faisal duduk termenung di ruang tengah. Om Faisal sangat sedih dengan musibah ini. Dia memperkirakan kerugian yang besar pada bisnis istrinya.


Melihat om Faisal termenung, Andre pun menyapanya.


“Om, do’ain mamanya biar mama kuat, sedih banget om liat mama,” kata Andre.


“Om yakin kok mamamu kuat, mamamu tuh wanita yang gak gampang nangis, karna om tau betul jatuh bangunnya bisnis mamamu. Sebenarnya kejadian ini dalam dunia bisnis itu hal yang biasa, walau nyakitin. Bisnis itu kadang gak tau mana kawan dan mana lawan. Yang penting kita tetep baik sama orang,”


Kata om Faisal menjelaskan.


“Ya om, Andre Shalat subuh dulu ya, eh Put, jangan tidur lo, nanggung tau! Lo Shalat dulu sana, abis tu terserah lo deh,” kata Andre.


“Trus kalo gue tidur, curut-curut siapa yang ngurusin?”


Tanya Putri.


“Biar entar mbok Yem yang ngurus mereka Put.”


Mendengar yang menjawab pertanyaan Putri untuk Adre adalah om Faisal, Putri pun tersipu, dan berkata,


“He he he, maaf ya om.”


“Lo sih Put, mang gak ada panggilan lain apa buat mereka,”


kata Andre sambil menarik rambut Putri.


“Gak apa-apa Dre, itu tandanya Putri sayang ma adik-adiknya, oh iya, om bangunin mama dulu,”


kata om Faisal.


Om Faisal pun melangkah menuju ruang tamu. Di lihat istrinya yang sedang tertidur dengan nyenyaknya seraya merasa tak tega untuk membangunkannya, tapi kewajiban dalam ibadah sedang menunggunya.


Om Faisal memegang bahu mama Lina sambil berkata,


“Mah, bangun, Shalat subuh dulu.”


Mama Lina pun menggeliat. Di buka matanya perlahan. Mama Lina melihat sosok pria setengah tua itu berada di sampingnya, dan mama Lina pun berkata,


“Ya, bentar ya Pa, ni mata masih berat banget.”


“Iya, nanti tidur aja lagi setelah Sholat,” kata om Faisal.

__ADS_1


Mama Lina pun bangkit dan segera beranjak.


###########


Di dalam kamar Andre termenung, memikirkan nasib bisnis mamanya. Sebenarnya bukan cuma rasa khawatir yang Andre rasakan, tetapi juga rasa takut jika jiwanya terancam saat itu.


Di lihatnya jam yang menempel di dinding, waktu telah menunjukkan pukul 10.00 pagi.


Karena perasan tegang, membuat mata Andre susah terpejam.


Andre teringat pada Rika, segera dia menghubungi Rika untuk membatalkan janji perayaan untuknya, karena sudah mendapatkan pekerjaan yang ingin di adakan oleh mamanya, yaitu mama Lina.


Di raih ponselnya yang terletak di atas meja kecil, lalu memencet tombol-tombol angka yang berada di sana, dan tersambunglah pada ponsel Rika.


Rika di seberang sana sedang beres-beres membersihkan rumahnya, di bantu Ando. Semenjak Rika mendapatkan ancaman, Rika merasa tidak aman walau di rumahnya sendiri.


Karena itu, Ando sering menemaninya, walau sesungguhnya Ando tidak mengetahui apa yang sebenarnya sudah terjadi. Ando beranggapan bahwa semua baik-baik saja.


Rika : “Halo, ya Dre,”


Andre : “Sweety, maafin yach, hari ini mama gak jadi bikinin perayaan buat kamu.”


Rika : “Oh, ya gak apa-apa,. Lagian lo nya aja yang terlalu membesar-besarkan, dapet kerja itu hal yang biasa kok, jadi gak perlu pake perayaan."


Andre : “ Iya, tapi kan sebagai bentuk rasa syukur kita, jadi bikin perayaan.”


Rika : “Iya Dre, gak apa-apa.”


Andre : Kok kamu gak nanya ada apa atau kenapa sih?”


Rika : “Loh, ngapain gue nanya, perayaan itu kan bukan gue yang pengen, atau gue yang minta, jadi kayanya gue gak pantas deh nanya-nanya ampe dalem.”


Andre : “Ya harusnya kamu nanya dong, itu kan bentuk kepedulian kamu ama keluarga aku.”


Rika : “Hellooooo, lo kenapa Dre, lo abis makan kecoak ya, kok tiba-tiba kaya gini, ada apa sih?”


Andre : “Mama ku abis dapet musibah Rik, semalem setelah aku pulang dari rumah kamu tuh, kan aku langsung ke gudang mama, ternyata gudang mama di bobol maling Rik, gak tau deh berapa banyak kerugiannya.”


Rika : “Astaghfirulloh, ya Alloh Dre, ngenes gue dengernya. Terus lo gak kenapa-napakan?”


Andre :”Alhamdulillah gue baik-baik aja. Jujur ya Rik, gue sempet takut, takut nyawa gue terancam. Dan kayanya banyak deh kerugian yang mama alami.”


Rika : “Alhamdulillah deh kalo lo baik-baik aja. Dan semoga mama lo dapet gantinya lagi, amiin.”


Andre : “Iya Rik, makasih ya. Ya udah, aku mo tidur dulu, udah sepet banget nih mata. Tapi tenang aja, semua udah di serahin pada polisi, biar mereka yang tanganin.”


Rik : “Alhamdulillah deh, semoga cepet kelar, ya dah tidur sana, baayyy.”


Rika memutuskan saluran telepon genggamnya, lalu melanjutkan pekerjaan rumahnya.


Ketika hendak menyapu lantai teras depan, Rika melihat ke sekeliling rumahnya, ada sebagian orang yang lewat lalu-lalang.


Rika pun merasa lega, tidak ada sesuatu hal yang mencurigakan.


Setelah menyapu dan mengepel lantai teras depan, Rika duduk di teras itu sambil menikmati sorotan sinar matahari yang terpancar ke arah tubuhnya.


Rika baru tersadar, dan matanya menuju seseorang yang sedang berjualan sayur.


Rika sangat mengenal tukang sayur yang biasa berjualan, tapi tidak kali ini. Orang yang berjualan sayur kali ini berbeda dari biasanya, kali ini tukang sayurnya lebih bersih, lebih tegap, dan anehnya, matanya selalu memandang ke arah rumah Rika.

__ADS_1


__ADS_2