
“Hai, maaf ya, baru aku bales, aku ketiduran. Kayanya minggu deh aku liburnya,”
Membaca pesan dari kekasihnya, Andre tersenyum. Kemudian segera ia menekan tombol call.
Andre : “Hai,”
Rika : “Ehm,”
Andre : “Ih, bau acem,”
Rika : “Enak aja, wangilah walau baru bangun.”
Andre : “Eh sweety, beneran gak kamu liburnya hari minggu? Nanti rencananya kita pada mau ke rumah kamu, sambil bawa cincinnya, he he he."
Rika : "Iya, beneran kok, hari minggu libur. Terus kamu ama siapa aja? Nanti aku ngomong ma bang Iyan.”
Andre :“Kita cuma bertiga aja kok. Kata mama, karna kondisi om Faisal belum stabil, jadi bikinnya sederhana aja, gitu sayang.”
Rika : “Sesederhananya kan harus di omongin, trus aku ma orang tuaku gimana, apa mami dan papi harus dateng lagi ke sini, atau gimana, semua itu harus di omongin Dre.”
Andre : “Iya sih, kamu bener. Mungkin maksud mama ku tuh di bikin smple aja, yaaaa kita-kita aja kali, aku juga gak ngerti maunya mama gimana.”
Rika : “Iya, kita-kita aja. Tapi kan aku masih punya orang tua, sedangkan mereka enggak tinggal di satu kota ama aku, apa aku di lamar tanpa kehadiran mereka? Apa gak bikin mereka kecewa? Ingat loh Dre, mereka pernah kecewa, jangan sampe sekarang ini kecewa lagi.”
Andre : “Iya sweety, maaf, mungkin maksud mama ku gak mau ngerepotin kali, atau apa.”
Mereka pun terdiam untuk beberapa saat. Kemudian Andre pun berkata,
“Kamu jangan marah ya, maapin aku. Aku gak bermaksud bikin kamu marah.”
Rika : “Iya, gak apa-apa. Aku tau kok jika di posisi kamu. Apa menurut kamu, papi dan mami aku gak usah dateng, gitu? Nanti di kabarin aja, atau gimana?”
Andre : “Sebenarnya, aku juga bingung Rika, maunya mama gimana. Yang kemaren aja Cuma kita sekeluarga, gak ajak tante dan nenekku, padahal mereka masih ada dan tinggalnya deketan. Dan sekarang kondisi om Faisal masih kaya gini, eh malah tambah susut orangnya, ini mau ngelamar atau cuma bertamu aja sih!!! Lama-lama aku jadi muak sendiri!”
Rika : “Husss, jangan begitu ah. Ya udah, aku mandi dulu, santai aja Dre. Nanti aku minta pendapat bang Iyan, baiknya gimana.”
Andre : “Oke sweety, baaaaaayyyy.”
Rika pun menutup saluran ponselnya dan meletakkan di atas meja kecil di samping tempat tidurnya.
Ada rasa kecewa di hati Rika terhadap kekasihnya. Karena sikap Andre telah menunjukkan bahwa dia terlalu bergantung pada mamanya.
Sedangkan Rika tahu, bahwa mamanya telah mempermainkan dia.
“Apa yang harus aku lakukan Tuhan? Semakin hari semakin sakit hati ini,”
gumamnya dalam hati.
Rika bergegas ke kamar mandi. Tetapi langkahnya terhenti mana kala terdengar suara pintu depan di ketuk dari luar.
Dengan terburu-buru Rika melangkah ke ruang depan, dan melihat keluar melalui jendela.
Ternyata yang datang adalah Iyan, kakak Rika.
Rika membuka pintu, dan Iyan pun masuk ke dalam rumah dengan membawa sebungkus makanan untuk Rika.
“Rika mandi dulu ya bang,”
kata Rika.
“Iya,”
kata Iyan.
Iyan duduk di lantai beralaskan karpet, dan menyalakan TV.
Iyan membuka makanan yang di bawanya, serta menyantapnya.
Tiba-tiba saja pintu di ketuk dari luar. Iyan pun beranjak dari duduknya dan membukakan pintu yang terketuk.
Ternyata yang datang adalah Beni, adik Iyan.
“Oh, ada lo Yan, makan apa lo?”
Tanya Beni, sambil tangannya mencicipi makanan Iyan.
“Gado-gado lontong, ambil sendok sana, kita makan bareng,”
kata Iyan.
“Enggak ah, gue udah makan, bini gue masak. Gue cuma pengen gerecokin lo aja,”
kata Beni.
Iyan pun tersenyum, dan melanjutkan menyantap makanannya.
Beni memandang wajah abangnya, yaitu Iyan, dengan mengerutkan dahinya.
“Senyum lo gak enak banget Yan,”
kata Beni.
“Ah, perasaan lo aja,”
__ADS_1
kata Iyan.
“Lo gak tersinggung kan sama omongan gue?”
Tanya Beni.
“He he he, enggak lah, masa gue tersinggung. Lagian kata-kata yang mana yang gue harus tersinggung?”
Kata Iyan dengan santai menjawabnya.
“Gak enak aja gue kalo ngomong yang nyerempet ke bini, gak enak ama lo,”
kata Beni.
“Ha ha haaaa, Ben, Ben. Yang baperan sebenarnya gue apa elo sih? Gue sih biasa-biasa aja, emang udah begini nasib gue, harus gimana lagi, mau gak mau gue terima lah, masa gue harus iri sama nasib lo, kalo lo prihatin, kenalin sini temen lo yang masih jomblo,”
kata Iyan.
Di ruangan lain, Rika baru saja selesai mandi, dan mendengar percakapan kakak-kakaknya yang terdengar seru.
Keseruan mereka membuat Rika penasaran, apa sih yang mereka bicarakan.
Rika segera ke kamarnya dan memakai baju santai. Kemudian menjemur handuknya yang basah di samping kamarnya.
Rika bergegas ke ruang depan, di mana Beni dan Iyan bercengkerama.
“Lagi ngomongin apaan sih, seru banget nih?”
Tanya Rika pada Iyan dan Beni.
“Biasalah, masalah pasangan hidup,”
kata Iyan.
Mendengar jawaban Iyan, Beni langsung menunjuk wajah Iyan, lalu berkata sambil tertawa,
“Nah kan bener, lo nih yang baperan, ha ha ha, udah lah, cepetan cari lagi, cewek tuh banyak Yan, jangan kelamaan ah ngejomblonya.”
“gue juga pengennya gitu, pengennya cepet, tapi gimana dong, belum di takdirin,”
kata Iyan sambil mengunyah makanannya.
“Tau lo Ben, bang Iyan juga pengennya cepet, tapi kan gak segampang itu nyari bini, apa lagi yang mau di ajak susah, bener gak bang?”
kata Rika sambil tertawa, dengan niat memperkeruh keadaan.
“Ya udah, lo cari aja anak pramuka, anak pramuka kan di didik hidup susah tuh, jangan lo cari anak kampus Yan,”
kata Beni menimpati.
kata Rika sambil memukul bahu Beni.
“Eh, pada mau minum gak, gue bikin kopi ya, pada mau gak?”
Tanya Rika pada Iyan dan Beni.
“Ya udah, bikin aja sana, tar juga bocor tuh gelas lo,”
kata Beni.
“Di makan dulu tuh makanan yang bang Iyan bawa, kamu belom makan kan?”
Tanya bang Iyan pada Rika.
“Iya, belom bang, tar deh makannya, Rika bikinin kopi dulu ya, bang Iyan mau kopi item atau pake krim?”
Tanya Rika pada Iyan.
Bukan Iyan yang menjawab, melainkan Beni.
“Pake susu dia Rika, dia butuh susu, ha ha ha.”
Mendengar ledekan Beni, Iyan hanya tersenyum, sambil menendang ringan kaki Beni.
Rika pun bergegas ke dapur untuk membuat dua cangkir kopi.
Setelah selesai membuat kopi, Rika kembali ke ruang depan dan bergabung bersama Iyan dan Beni kembali.
Rika meletakkan dua cangkir kopi yang di buatnya di atas meja kecil.
Mereka pun meminum kopi yang Rika buat.
Beni menyeruput kopinya sambil berkata,
“Mantaaaap.”
Iyan pun tak kalah dengan Beni saat menyeruput kopi , dia pun berkata,
“Aakhh.”
“Eh bang, Rika mau ngomong nih,”
kata Rika pada Iyan.
__ADS_1
“Ngomong apa kau, ya ngomong aja,”
kata Beni.
“Gue mau ngomongnya ama bang Iyan, ngomong ama lo yang ada malah tambah runyem,”
kata Rika pada Beni.
“Ya udah, ngomong aja Ka, kamu mau ngomong apa? “
Tanya Iyan.
“Eehm, gini. Minggu kan Rika libur, nah kata Andre, keluarganya mau dateng. Tapi Cuma bertiga aja mereka tuh. Karna kan papanya masih sakit. Trus menurut kalian, gimana ama papi mami? Si bilangin gak, atau gimana? “
Tanya Rika.
“Waaaahhh, mendadak kali dia. Kenapa tak dari jau-jau hari dia bilang? “
kata Beni.
“Bener kan, tambah runyem kalo lo ikut nimbrung. Dah, lo diem aja deh Ben, pala gue tambah pusing, “
kata Rika.
“He he he, gitu aja kau pusing, gimana abang kau yang satu itu, apa gak lebih pusing dari kau? “
Kata Beni sambil meledek Iyan.
“Gimana bang Iyan, enaknya gimana? Masa papi mami gak ada di sini? Tapi kalo di suruh kesini, mereka kan butuh ongkos, kita juga gak tau kan kondisi mereka sehat apa enggak, “
kata Rika.
Sejenak Iyan terdiam mendengar penjelasan Rika.
Sambil memegang dagu dan mengangguk-angguk, akhirnya Iyan noun bicara.
“Ya udah, nanti bang Iyan nelpon papi deh, tanya, enaknya gimana, “
kata Iyan.
“Sekarang aja bang Nelpon nya, gimana? Biar cepet Rika kasih tau Andre,”
kata Rika.
Rika pun bergegas ke dalam kamarnya untuk mengambil ponselnya.
Rika memberikan ponselnya pada Iyan.
“Nih, pake HP Rika aja, pulsanya banyak kok, “
kata Rika.
Iyan pun menekan beberapa tombol yang menghubungkan pada ponsel papinya di seberang sana.
“Halo Pi, assalamu’alaikum, pa kabar? Ini Iyan Pi, Iyan lagi di rumah Rika, ada Beni juga nih. “
{ ............. ...... }
“Kata Rika, hari minggu keluarganya Andre mau dateng, tapi katanya gak komplet datengnya, Cuma bertiga. Nah Papi mau kesini gak, atau denger kabarnya aja, enaknya Papi aja, biar Papi gak kecapean.”
{ ................... }
“Ooooh, ya udah Pi, gak apa-apa. Kan ada Iyan di sini, santai aja Pi. Salam buat mami ya. Assalamu’alaikum.”
Telepon pun di putus oleh Iyan, dan langsung di berikan pada Rika.
“Papi kenapa Bang? Papi sehatkan? “
tanya Rika.
“Alhamdulillah, papi sehat, tapi mami yang lagi enggak enak badan, mungkin kecapean, kata papi tadi,”
jawab Iyan.
“Terus gimana, apa kita-kita aja?”
tanya Rika.
“Iya, gak apa-apa, kita-kita aja. Nanti bilangin Nadin ya, biar dia dateng juga, “
kata Iyan.
“Ya udah, nanti Rika bilangin Andre,”
Kata Rika pada Iyan.
Rika pun segera mengirim pesan untuk Andre.
Rika masuk ke dalam kamarnya, dan menutup pintunya rapat-rapat. Rika hendak menghubungi Andre.
Tatkala Rika menekan nomor milik Andre, tiba -tiba ada telepon masuk pada ponsel Rika.
Rika hanya memandang ponselnya yang berdering, karena dia enggan menerima telepon tersebut.
__ADS_1
Sudah dua kali nomor itu menghubungi Rika, tapi rasa enggan dan malas lebih besar dari pada rasa ingin tahunya, ada keperluan apa orang itu menghubunginya.