Mertua Yang Jahat

Mertua Yang Jahat
Mencari pekerjaan.


__ADS_3

Malam itu menunjukkan pukul 8.00 malam, kala Rika membereskan berkas-berkas data diri untuk di persiapkan persyaratan melamar pekerjaan.


Saat itu Rika masih bingung, bagaimana cara untuk mendapatkan pekerjaan, jika tidak ada petunjuk.


Satu persatu Rika menghubungi teman-teman lamanya, berharap mendapatkan arahan untuk mendapatkan pekerjaan.


Ada beberapa tempat yang bisa dia datangi dan ada peluang di sana, tapi sayang, jenis pekerjaannya adalah jenis yang bukan dia harapkan.


Jenis pekerjaan yang dia harapkan itu bukan jenis pekerjaan yang menggunakan gengsi, Rika bukan tipe wanita seperti itu, Rika adalah wanita pekerja keras tanpa memilah jenis pekerjaan, selagi pekerjaan itu halal.


Di saat lelahnya berpikir, di rebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Tiba-tiba ingatannya mengarah pada ancaman mama Lina.


Ada rasa takut menyelimuti hati dan pikirannya, jika mengingat kejadian itu.


Ingin rasanya dia membuka matanya lebar-lebar, agar terbangun dari mimpi buruk. Dan dia sangat berharap semua itu hanya mimpi.


Untuk menenangkan hatinya, Rika menghubungi Ando, yang tak lain adalah adik kandungnya untuk menemaninya malam ini.


Rika mengambil ponselnya yang terletak di atas meja rias, sementara dia saat itu masih berbaring, terasa enggan untuk bangkit.


Dengan sedikit tenaga, Rika beranjak dan meraih ponselnya, dan mulai menekan nomor-nomor yang ada.


Ponsel Rika pun tersambung ke arah nomor Ando, Ando pun menerimanya dan berkata,


“Ya, kenapa Rik, ganggu gua aja!”


“Eh, ade songong, ke rumah gue sekarang, penting!” kata Rika.


“Iya tar dulu, gue lagi nyuci baju dulu, tar kalo udah selesai, gue bakal ke sana,” kata Ando.


“Aduuuuh, lo nyucinya di rumah gue aja kenapa sih, ribet lo! Fasilitas udah ada, tinggal puter-puter doang, tangan lo juga gak rusak, sabun udah gue siapin, udeh, cepetlah ke sini! “


kata Rika dengan sedikit berteriak.


Mendengar suara Rika yang tidak seperti biasanya, Ando pun segera menyelesaikan pekerjaannya.


Sebagian pakaian yang belum dia cuci, di bawanya ke rumah Rika untuk di kerjakan di sana.


Setelah itu Ando pun berangkat ke rumah kakaknya, yang lain adalah Rika.


“Assalamualaikum, Ka, lo di mana?” tanya Ando.


“Masuk Do, gue di kamar,” kata Rika.


Ando pun melangkah menuju ke arah kamar Rika, dan duduk di bibir tempat tidur Rika.


Sebagian berkas-berkas masih berserakan, membuat Ando berpikir, dan bertanya,


“Ini buat apa Rik, lo mau ngelamar kerja? Lo pindah dari kerjaan lo?” tanya Ando bertubi-rubi.


Rika bingung, dengan pertanyaan Ando, tapi dia pun tak sanggup untuk berbohong.


“Gue mao jawab, tapi lo diem ya, pokoknya lo diem, jangan pernah ngomong apa pun tentang pekerjaan gue, kalo lo sampe ngomong, gue bacok loh!”


kata Rika.


Mendengar ancaman kakaknya membuat Ando tertawa terbahak-bahak.


“Sejak kapan lo jadi penjahat, ah gaya kau Rik, kaya penjahat yang kesiangan aja, ha ha ha!”


Rika pun kesal di buatnya. Tangan Rika menjambak rambut Ando yang cepak.


“Ah, rese’ lo Ndo, gak bisa di ajak kerja sama lo, gak asik lo ah, males gue jadinya. Oh ya, malam ini lo tidur di sini ya, hati gue lagi gak enak nih, please?!


Kata Rika memohon.


Ando pun mengangguk tanda setuju.


Malam pun semakin larut, suasana di luar sana semakin dingin, dan hujan pun sudah mulai turun.


Di lihatnya Ando sudah tertidur pulas di ruang depan beralaskan karpet, dan Rika pun mematikan TV.


Di tutupnya semua jendela yang ada di rumah itu, sambil menguncinya, dan tak lupa Rika mengunci pintu depannya.


Rika mengintip dari balik gorden, pemandangan di luar amatlah sepi, dan membuat bulu kuduk Rika berdiri.


Tapi tidak di sangka, Rika melihat sosok laki-laki yang pernah mendatanginya bersama mama Lina dan menyekapnya kemarin.

__ADS_1


Rika pun terkejut, ternyata mama Lina menyuruh laki-laki itu untuk memantaunya.


Rika segera menutup jendela rapat-rapat. Dadanya berdegup kencang, sementara tubuhnya gemetar.


“Ya Tuhan, mau apa lagi sih orang itu, haruskah hidupku dalam belenggu seperti ini?”


Gumamnya dalam hati.


Rika pun segera bergegas melangkah menuju kamar tidurnya, dan menutup pintunya rapat-rapat tanpa menguncinya.


Dalam keadaan takut, dia pun tetap memikirkan bagaimana cara mendapatkan pekerjaan.


Ada satu nama terbersit, yaitu Erna. Segera dia menghubungi Erna, berharap sahabatnya belum tidur malam itu.


Rika pun meraih ponselnya, dan segera menghubungi nomor ponsel Erna.


Saluran ponselnya mulai tersambung, dan Erna menerimanya, lalu berkata,


“Ya Rika, kenapa, lo baik-baik aja kan?”


“Ya, gue baik-baik aja. Sorry ya gue malem-malem gini ganggu lo, gue mau nanya, di tempat kerja lo ada lowongan gak, kalo ada masukin gue dong,”


Kata Rika memohon.


Erna pun menjawab,


“Besok ya gue cek, tapi kayanya ada deh di bagian kichen, emang lo mau di bagian itu?”


Mendengar jawaban sahabatnya Rika pun menyambutnya dengan senang hati, lalu berkata,


“Iya, gue mau. Apa aja deh gue mau, asal jangan jadi “nona” aja, ha ha ha.”


Mendengar reaksi Rika yang semangat Erna pun senang, dan berkata,


“Ya udah, besok ya gue cek, muda-mudahan masih ada yang kosong. Gila lo! Masa gue tega naro lo jadi “nona” ?”


Sebenarnya Rika enggan untuk menanyakan pekerjaan di tempat Erna bekerja, karena Rika merasa risih.


Ya, Rika merasa risih, lantaran sahabatnya itu bekerja di club malam, bukan di restoran, seperti tempat Rika awal bekerja. Tapi saat itu dia sangat membutuhkan pekerjaan untuk membiayai hidupnya, dan membantu meringankan kehidupan mami dan papinya di kota Lampung.


Dulu, kedua orang tua Rika memiliki rumah yang cukup besar, tetapi sudah mereka jual untuk membiayai hutang-hutang papinya.


Mengingat mereka, Rika merasa sedih, karena saat ini dia belum mampu mengirim uang lagi, dan mereka pun tidak mengetahui keadaan Rika sekarang, yang belum mendapatkan pekerjaan.


“Ya udah, sekarang lo istirahat, besok gue hubungin lo. Pokoknya lo siap-siap aja, kalo emang ada, kita bisa langsung berangkat sore itu juga, okehhh!”


Kata Erna di seberang sana.


“Wokeh, baaayyy,”


jawab Rika.


Rika pun menutup saluran telepon genggamnya dan meletakkannya di atas meja rias.


Di rebahkan tubuhnya, dan tanpa sadar dia pun tertidur.


############


Tiba lah waktu pagi, alarm ponsel Rika berbunyi, waktu menunjukkan pukul 5.00 pagi.


Rika tersadar dari tidurnya, di buka matanya perlahan.


Dengan malas dia bangkit dari tidurnya, dan bergegas melangkah.


Di bukanya pintu kamar, ternyata Ando sudah bangun lebih dulu. Rika melihat Ando sedang melakukan Shalat subuh.


Rika segera mengambil handuk, dan melangkah ke kamar mandi.


Ando yang sedang berada di ruang depan, selesai Shalat subuh dia membuka pintu rumah.


Udara segar masuk ke dalam rumah Rika, sampai-sampai Ando merasakan merinding di seluruh bulu-bulu tangan dan kakinya.


Di hirupnya udara segar itu sambil berucap,


“Alhamdulillah ya Alloh, nikmat Mu tiada tara.”


Ando pun mengepel lantai teras rumah Rika yang basah karena di guyur hujan semalam.

__ADS_1


Setelah itu dia berolahraga ringan.


Setelah selesai mandi, Rika pun melakukan Shalat subuh, dan berdoa setelah selesai Shalat.


Lama Rika berdoa, dan tanpa sadar air matanya pun turun dari kelopak matanya.


Tak ada satu pun keluarganya tahu apa yang sudah terjadi.


Rika pun merasa dilema terhadap hubungannya bersama Andre, lanjutkan atau di sudahi.


Matahari pun sudah mulai bergerak, suasana sudah mulai terang, waktu telah menunjukkan pukul 7.30 pagi.


Ando mengajak Rika untuk membeli makanan, Rika pun bergegas, tapi tak lama kemudian ponselnya pun berbunyi.


Ternyata Beni yang menghubungi Rika.


Suara Beni terdengar dengan keras dari seberang sana,


“Rika, lo da beli sarapan belom, kalo belom gak usah beli ya, nanti gue bawain. Gue banyak makanan nih dari kantor, tunggu ya.”


“Eh Ben, bawa dua ya, gue lagi sama Ando,” kata Rika.


Beni pun menjawab sambil tertawa,


“Oh, kecoak lagi sama lo, ha ha ha.”


Beni pun langsung menutup saluran telepon. Dan Rika menyampaikan pada Ando, agar tidak keluar rumah.


Kemudian ponsel Rika pun berbunyi kembali, ternyata yang menghubunginya saat itu adalah sahabatnya, yang tak lain adalah Erna.


“Halo Rik, ada nih lowongan buat lo, ada dua penempatan, terserah lo deh pilih yang mana. Jangan lupa tar sore sekitar jam 4 lo siap-siap ya, kita berangkat, nanti gue jemput lo,”


Kata Erna, yang langsung menutup saluran teleponnya.


Mendengar kabar dari Erna, raut wajah Rika bertambah semringah, tanda Rika bahagia.


Di peluknya tubuh Ando yang kekar, sambil berkata,


“Alhamdulillah Ndo, gue dapet tawaran kerja dari Erna, temen gue.”


Ando pun berkata dan bertanya,


“Alhamdulillah, di mana, jadi apa lo di sana?”


“Katanya sih ada dua tempat yang kosong, tapi belom di jelasin bagian apa,” jawab Rika.


Rika pun melepaskan pelukannya dari tubuh Ando.


“Gue doain deh biar lancar, biar lo betah di sana, biar gaji lo gede dan bisa beliin gue rokok, ha ha ha,” kata Ando.


Mendengar perkataan Ando, Rika pun menendang bokong Ando dengan pelan sambil tertawa.


########


Sore pun tiba, Rika bergegas merapikan penampilannya, menggunakan kemeja tangan panjang warna putih, dan celana panjang bahan berwarna hitam.


Erna pun datang tepat waktu, dan mereka berangkat bersama-sama menggunakan angkutan umum.


Sampailah mereka di tempat, di mana Erna bekerja. Rika pun melongo melihat tempat itu dengan desain yang mewah.


Tempat itu menggambarkan begitu gemerlapnya ibu kota. Banyak tamu yang lalu-lalang.


Rika pun di arahkan Erna menuju ruang atas, di mana seorang manager telah menunggu Rika untuk wawancara.


Wawancara pun selesai. Rika di perintahkan oleh sang manager untuk mempelajari yang menyangkut pekerjaannya, dan menghafalkan setiap ruangan.


Kabar bagusnya, Rika di tempatkan sebagai kasir. Untuk sementara hanya memegang pembayaran saja selama traning.


Tapi sayang, kebahagiaan Rika saat itu terganggu dengan pemandangan yang membuat Rika menjadi tegang.


Ketika Rika berdiri di pinggir tangga lantai 2, Rika melihat beberapa pria bertubuh tegap masuk ke dalam club malam tersebut.


Dan yang lebih menegangkan lagi, Rika melihat sosok wanita setengah tua dengan penampilan yang elegan, yang di dampingi oleh para pria bertubuh tegap.


Melihat mereka, Rika pun segera berpaling di balik tiang besar yang berada di pinggir tangga.


Tubuh Rika pun memberi respon, rasa gemetar dan keringat dingin pun keluar.

__ADS_1


__ADS_2