Mertua Yang Jahat

Mertua Yang Jahat
Gaji yang mengecewakan.


__ADS_3

“Jadi, maksud Bapak, semua biaya perawatan selama kami sakit itu kami sendiri yang menanggungnya, gitu Pak?”


Tanya Erna.


Rika pun juga sangat terkejut mendengar penjelasan pak manager. Tapi karena sikap Erna yang emosi, membuat Rika bisa lebih menahan perasaannya.


“Iya Erna. Maafkan saya, saya tidak bisa berbuat apa-apa. Karena saya tidak punya wewenang mengenai kebijakan di sini. Tugas saya sebagai manager hanya sebatas mengenai pekerjaan saja, selebihnya semua pusat yang mengatur,”


jelas pak Manager.


Rika dan Erna hanya bisa menarik nafas panjang.


Mendengar penjelasan pak manager, membuat Rika dan Erna lemas tak berdaya.


Keadaan pun menjadi hening, dan mereka pun terdiam.


Lemas sekali badan Rika saat itu, begitu pula dengan Erna.


Tak terbayangkan akan seperti ini. Apa yang Erna pikir, tak seperti awal dia bekerja di tempat itu, semua ada jaminannya, dan pihak club pun sangat memperhatikan kesejahteraan bagi karyawannya.


Dengan berat hati, pak manager memecahkan keheningan sesaat tadi.


“Jika tidak ada pertanyaan lagi, kalian boleh kembali ke tempat masing-masing. Sekali lagi, saya minta maaf pada kalian berdua,”


kata pak Manager.


Tanpa berkata-kata lagi, Erna bangkit dari duduknya, dan keluar begitu saja tanpa pamit dengan pak Manager.


Sedangkan Rika, melihat sikap Erna yang kurang sopan pada atasannya, Rika pun langsung berpamitan,


“Saya pamit ya Pak, balik ke tempat kerja saya,”


kata Rika.


“Ya Rika, sekali lagi maafkan saya,”


sahut pak Manager.


“Iya Pak, gak apa-apa, saya ngerti kok posisi bapak gimana, saya turun dulu ya Pak, oh ya, saya terima ya Pak gaji pertama saya,”


kata Rika, sambil membawa sebuah amplop coklat yang Pak Manager berikan.


Pak manager menganggukkan kepala dan tersenyum kecut.


Rika pun bangkit dari duduknya, dan keluar dari ruangan pak Manager. Dia kembali ke tempat kerjanya.


Kakinya melangkah lemas menuju meja kasir. Seperti biasa, Rika melewati ruang biliyard, dia pun kembali menoleh ke sana.


Tapi kali ini senyum yang tersungging di bibirnya adalah senyum sinis. Senyum yang tak ingin ia tampakkan sebenarnya, tapi bagaimana pun, hati kecilnya merasakan kekecewaan.


Akal dan hatinya saat ini tidaklah imbang. Akalnya telah memaafkan Ricard. Tapi hatinya mulai menolak, karena mulai merasakan dampak ulah Ricard.


“Sialan lo Card, gaji gue jadi di potong, rese' lo!”


Gumamnya dalam hati.


Kakinya terus melangkah menuju meja kasir, dan masih ada Vivi di sana.

__ADS_1


“Ciiiieee, yang abis gajian, kok mukanya masam?”


Goda Vivi.


Rika pun tersenyum kecut dan kembali duduk.


“Gak apa-apa kak. Cuman bingung aja nanti ngaturnya. Kan belum full. Sedangkan aku harus ngirim buat orang tuaku, belum lagi bayar rumah, aduh pusing kak,”


Jawab Rika berbohong.


“Eh, gue gak bohong kok, emang benerkan gue harus ngirim buat mami papi di Lampung dan bayar kontrakan?!! Selamet deh, berarti gue bukan pembohong,”


Gumamnya dalam hati.


Rika duduk bertopang dagu, sementara Vivi sibuk melayani pembayaran pengunjung, walau terkadang matanya melirik ke arah Rika.


“Kalo kamu merasa gak cukup, kasbon aja ama pak manager, biasanya dia mau bantu kok,”


Kata Vivi menyarankan.


Rika menarik nafas dalam-dalam. Kemudian wajahnya menghadap Vivi.


“Emang bisa kasbon kalo anak treaning? Aku kan masih treaning kak,”


Sahut Rika.


“Eh iya ya, kamu masih treaning ya. Ehm, biasanya sih belom bisa kalo masih treaning, lepas tiga bulan kan langsung jadi karyawan tetap, ya udahlah, nunggu masa treaning selesai dulu, baru bisa kasbon,”


Jawab Vivi dengan senyum.


“Ih, si kakak mah, aku ngomongnya sekarang, malah di suruh nunggu tiga bulan, lama tau!”


“Sabar neng sabar, tiga bulan gak lama kok, gak berasa kalo kita kerjanya enjoy,”


Kata Vivi.


“Iya sih,”


Jawab Rika dengan singkat.


Malam semakin larut. Waktu lelah menunjukkan pukul 12.00 malam. Saatnya para karyawan beristirahat dengan cara bergantian.


“Rika, aku rehat duluan ya, gak apa-apa kan?”


Tanya Vivi.


“Iya kak, gak papa, kakak duluan aja,”


Jawab Rika.


“Eh, jangan lupa ya, semua nota di kumpulin,”


Perintah Vivi.


“Siap kak,”


Jawab Rika.

__ADS_1


Vivi pun berjalan meninggalkan Rika yang masih bertugas di meja kasir.


Seperti biasa, Rika bergantian dengan Vivi melayani para pengunjung dalam. Pembayaran. Ada yang cash ada pula yang kredit atau debit.


Rasanya malam itu sangat berat buat Rika untuk bekerja. Dia selalu memandangi jam yang bertengger di dinding. Ingin rasanya cepat pulang.


Tepat pukul satu. Ada satu gerombolan masuk ke dalam club. Ya, sekelompok pria tegap dan kelar. Mereka mulai memilih table, dan duduk di area VIP.


Seorang waiter datang menghampiri mereka, untuk melayani. Waiters pun mencatat segala pesanan mereka. Setelah mencatat, waiters pun meninggalkan mereka untuk menyiapkan apa yang mereka pesan.


Rika memperhatikan mereka yang tengah asyik berbincang-bincang. Tanpa sadar, pandangan Rika di ketahui oleh salah satu dari mereka.


Dan sesaat pandangan mereka menyatu, membuat Rika menjadi gugup.


Saat itu Rika masih melayani dan membantu beberapa teman waitersnya, sedangkan pandangan matanya terkadang masih ke arah ruang VIP.


Dan kembali terjadi pandangan mata Rika bertabrakan dengan salah satu dari mereka.


Karena beberapa kali pandangan mereka bertabrakan, pria itu pun tersenyum.


Ketika Rika menyadari bahwa pria itu tahu bawa dirinya tengah memperhatikannya, Rika pun merasa malu.


Setelah membantu para waiters, Rika kembali menuju meja kasir.


Dan tidak lama kemudian, Vvi pun kembali, dan kini giliran Rika yang beristirahat.


“Gantian ya kak Vi, aku rehat dulu, cape,”


Pinta Rika.


“Ya udah sana,”


Sahut Vivi.


Rika pun meninggalkan Vivi yang mulai bertugas kembali, sementara mata Rika kembali mengarah pada ruang VIP.


Rika melihat pria itu sedang berbincang-bincang dengan yang lainnya, dan Rika pun berlalu


Rika melewati lorong yang mengarah pada loker karyawan, di mana para karyawan terbiasa beristirahat di sana. Karena tempat itu adalah tempat peristirahatan para karyawan yang paling nyaman.


Ada sedikit kebebasan di sana. Para karyawan bisa makan dan minum, serta menyandarkan tubuh sesaat, untuk menghilangkan para lelah setelah bekerja.


Seperti biasa, Rika membuka sepatunya. Dia membuka bungkus nasi yang di bawanya, dan mulai menyantapnya.


Ada juga sebagian karyawan melakukan hal yang sama, beristirahat dan makan di sana.


Setelah selesai, Rika membuang bungkus makanannya di tempat sampah, dan kembali duduk di kursi panjang yang nyaman.


Tiba-tiba Rika terperanjat, mengingat gajinya yang telah di potong dari pihak pusat, dia pun bangkit dan duduk dengan tegap.


Di ambilnya amplop coklat yang baru saja ia terima dari pak manager sebagai gi pertamanya.


Tangannya mulai menyobek amplop coklat itu, dan mengintip isinya.


Ternyata ada selembar kertas di sana, dan Rika pun mengeluarkan selembar kertas itu dari amplop coklatnya.


Rika mulai melihat satu persatu tulisan di sana. Ternyata kertas itu adalah rincian dari gaji yang di terima Rika.

__ADS_1


Tiba-tiba mata Rika terbelalak ketika matanya melihat rincian akhir yang berada di lembar kertas itu.


“Apa!!! Gila ini mah!!! Ini bener-bener gila!”


__ADS_2