
Pagi itu seperti biasa Mbok Yem melayani semua majikannya yang berada di rumah itu. Mbak Yem Membuat sarapan. Kemudian menaruhnya di atas meja dan menatanya dengan rapi. Setelah menatanya dengan rapi, lalu ia meninggalkan meja makan dan kembali ke ruang dapur.
Dari ruang dapur Mbok Yem memperhatikan ke arah meja makan. Di sana ada mama Lina, Om Faisal dan Andre sedang menikmati sarapan mereka.
Ya Andre baru saja tiba dari Lampung. Mbok Yem mengatur strategi agar kepergiannya ke pasar tidak ada yang mencurigainya. Sedangkan ponsel Putri masih Mbok Yem yang memegangnya.
Tiba-tiba ponsel Putri berdering ada satu pesan yang masuk di dalamnya dan Mbok ayem pun melihatnya. Isi pesannya,
“ Aku tunggu di pasar pukul 07.30 ya Mbok.”
Setelah membaca pesan dari Irfan, Mbok Yem menutup kembali ponsel Putri, kemudian menaruhnya di saku dasternya.
Perasaan Mbok Yem saat itu sangat tegang. Dia harus membuat strategi pertemuannya dengan Irfan, Lalu bagaimana menutupi kehamilan Putri terhadap keluarganya, dan juga bagaimana cara merawat putri dengan mental yang sedang jatuh.
Dengan besarnya rasa sayang dan cinta Mbok Yem terhadap keluarga itu, Mbok Yem harus mampu melakukan semuanya.
Tiba-tiba Mbok Yem teringat akan aduan Lisa tentang sebuah permen. Mbok Yem berpikir, ia harus menemukan dan melihat benda apa itu, apakah benda itu ada hubungannya dengan Irfan?
Saat mbok Yem melamun,tiba-tiba Mbok Yem tersadar dengan teriakan suara mama Lina yang memanggilnya.
“ Mbok, kamu ke mana sih, dipanggil nggak nyaut-nyaut!”
“ Maaf Nyonya, Saya lagi di dapur, suara air menutupi suara nyonya,” sahut Mbok Yem.
“ Ah kamu Mbok, alasan saja. Ini uang untuk belanja hari ini, jangan lupa bikin sayur dan beli buah. Tolong perhatiin makannya anak-anak ya Mbok. Lisa dan Ricky dia masih harus disuruh untuk makan Mbok, jadi tolong ya jangan abay,” perintah mama Lina.
Mbok Yem mengangguk. Lalu membereskan piring-piring kotor yang berada di atas meja makan. Kemudian mama Lina dan Om Faisal meninggalkan meja makan, disusul dengan Andre.
“ Mah, kira-kira kapan nih kelanjutannya?” tanya Andre pada mama Lina.
“ ya terserah kamu gimana baiknya, Mama ikutin aja apa mau kamu,” jawab mama Lina.
“ Ih Mama gimana sih, Andre kan nanya gimana baiknya, langkah selanjutnya apa, masa malah disuruh terserah, Mama gimana sih!” kata Andre dengan nada kesal.
“ Ya udahlah dibicarainnya nanti aja, Mama mau ke gudang,” sahut mama Lina.
Andre pun kesal mendengar jawaban mamanya. Iya berharap ketika ia pulang mamanya banyak bertanya mengenai hal di sana, tapi kenyataannya malah sebaliknya.
“Egois banget!” gumamnya dalam hati.
Akhirnya Andre memutuskan untuk kembali ke kamar. Saat itu Andre melewati ruang dapur menuju anak tangga.
__ADS_1
Mbok Yem pun melihatnya ketika Andre menaiki anak tangga, dan memastikan ia tidak turun kembali.
Mbok Yem sedikit terburu-buru merapikan ruang dapur. Setelah itu ia mengamati situasi.
Mama Lina yang sudah berangkat bekerja, dan Om Faisal yang kembali ke ruang kerjanya, dan tidak lama kemudian para karyawan Om Faisal pun berdatangan satu persatu.
Setelah terasa aman, Mbok Yem dengan perlahan membuka pintu kamar Putri. Dilihatnya Putri masih tertidur nyenyak.
Mungkin karena obat yang semalam diminum Putri, hingga pagi itu Putri belum terbangun.
Memang ada beberapa obat dari dokter yang harus Putri minum, dan obat itu disimpannya baik-baik oleh Mbok Iyem, agar mama Lina dan yang lainnya tidak mengetahuinya.
Setelah itu Mbok Yem berpamitan pada Om Faisal.
“ Tuan, Saya berangkat ke pasar dulu ya,” pamit Mbok Yem.
Om Faisal pun mengangguk.
Lalu Mbok Yem bergegas mencari sendalnya dan melangkah menuju gerbang.
Karena saat itu jam telah menunjukkan pukul 07.20 takut Irfan telah menunggu lama, untuk menuju ke pasar akhirnya Mbok Yem memanggil tukang ojek pangkalan.
“ Bang sini,” Panggil Mbok Yem pada tukang ojek.
“ Tumben Mbok manggil saya, Mau saya antar Mbok?” sahur tukang ojek.
“ Antar saya yuk Bang ke pasar, Udah siang nih,” perintah Mbok Yem pada tukang ojek.
“ Ayo Mbok, naik,” kata tukang ojek menyuruh mbok Yem naik di belakangnya.
Mbok Yem pun naik, kemudian tukang ojek itu pun berlalu dengan membonceng mbok Yem menuju pasar.
Sesampainya di depan pasar, dari kejauhan Mbok Yem sudah melihat kehadiran Irfan.
“ Sudah Bang,Stop di sini saja,” perintah Mbok Yem.
Lalu tukang ojek itu pun berhenti. Setelah itu Mbok Yem turun dari motor, kemudian membayar jasa tukang ojek itu.
Setelah membayar Mbok Yem pun menyeberang jalan dan Masuk ke pelataran pasar.
Mbok Yem pun langsung menemui Irfan yang tengah duduk di bawah pohon. Lalu Irfan berdiri ketika melihat kedatangan mbok Yem.
__ADS_1
“ Aden kita harus bicara,” kata mbok Yem.
Melihat wajah Mbok Yem yang penuh resah maka Irfan berinisiatif mengajak Mbok Yem ke Cafe yang letaknya di samping pasar.
“ Mbok, kita ngobrolnya di cafe samping pasar aja yuk, biar nggak kepanasan mbok,” ajak Irfan.
Irfan pun Tanpa Rasa sungkan, menuntun tangan mbok Yem berjalan menuju Cafe. Mbok Yem pun sangat terkejut, kemudian mbok Yem menepis tangan Irfan. Irfan pun tersenyum.
Lalu tanpa berkata-kata lagi, Irfan pun berjalan dengan Lenggang menuju arah Cafe. Begitu juga dengan mbok Yem, ia mengikuti langkah Irfan dari belakang.
Irfan mempersilahkan mbok Yem untuk duduk. Lalu Irfan memanggil pelayan untuk memesan makanan dan minuman.
“ Mbok Mau pesan apa?” tanya Irfan.
Dengan tegas Mbok Yem menjawab, “saya ke sini untuk menemui kamu, bukan untuk santai-santai. Saya ingin membicarakan soal Putri ke kamu, bagaimana kelanjutannya?”
Irfan pun menelan ludah ketika mendengar jawaban dari Mbok Yem.
“Mbak, saya pesan kopi hitam saja deh sama roti bakar, ya oh ya tolong buatkan jus jeruk buat Mbok Yem,” perintah Irfan pada pelayan Cafe.
Pelayan Cafe itu pun mengangguk lalu mencatat Semua pesanan Irfan. Kemudian ia beranjak dan meninggalkan meja.
“ Aden, Den Andre sudah balik dari Lampung, Tadinya saya pikir Den Andre itu lama di Lampung, ternyata cuma semalam aja. Tadi pagi dia udah pulang, Lalu bagaimana kalau dia lihat keadaan Putri sekarang? Bisa habis nonton Putri sama Den Andre,” kata mbok Yem.
Tidak lama kemudian pelayan pun datang membawakan Semua pesanan Irfan, lalu meletakkannya di atas meja. Setelah itu pelayan pun berlalu.
Sebelum menjawab pertanyaan Mbok Yem, Irfan menyeruput Kopi hitamnya terlebih dahulu.
“Mbok, saya akan menikahi Putri, tapi tidak sekarang,” kata Irfan.
“ Lalu kapan? Sampai perut non Putri itu besar? Atau jangan-jangan Den Irfan sudah punya istri?” tanya Mbok Yem dengan marah.
Mendengar pertanyaan mbok Yem, Irfan pun terkejut, sampai-sampai garpu yang ia sedang pegang untuk menusuk roti terjatuh ke lantai.
Melihat Irfan yang grogi, mbok Yem pun kembali berkata,
“ jawab Den Irfan! Apa benar kamu sudah memiliki istri, hingga kamu menunda-nunda pertanggungjawabanmu pada non Putri?”
Mendengar perkataan mbok Yem, Irfan pun menjadi marah, hingga akhirnya Irfan menggebrak meja cafe. Sikap Irfan itu mengundang pandangan orang-orang di sekeliling Cafe, yang sedang asyik menikmati sarapan mereka.
Akhirnya dua orang security mendatangi meja mereka. Salah satu security itu pun bertanya,
__ADS_1
“ Ada apa ya Pak? Ada yang bisa kami bantu?”