
Perselisihan akhirnya tidak dapat di hindari oleh Rika terhadap Erna.
Erna tidak terima atas apa yang telah menimpanya. Rika pun di buat bingung olehnya. Berkali kali Rika menjelaskan, tetapi Erna tetap tidak mau mengerti.
Akhirnya Rika mengalah. Rika akan mengganti semua kerugian Erna. Tapi sayang, bukan itu yang Erna inginkan.
Rika bertambah bingung dengan sikap sahabatnya. Entah apa yang dia inginkan.
Erna memutuskan untuk tidak menemui Rika lagi, tapi Rika tidak menginginkan hal itu. Rika tidak ingin menjadi rusak persahabatannya.
“Gue nngak mau jadi lalat di antara lo berdua Rik, “
kata Erna suatu hari.
Betapa terkejutnya Rika mendengar perkataan Erna.
Rika sangat sayang pada Erna. Dan Rika pun yakin bahwa Erna pun demikian. Hubungan antara keduanya ibarat dua ruang tanpa dinding.
“Kenapa sikap lo sekarang kaya gitu? Lo tau arti lalat yang sesungguhnya? “
tanya Rika pada Erna.
Tapi pertanyaan Rika tidak di gubrisnya. Erna terus melangkah. Sampai-sampai Rika menarik tas yang di selempang kan di tubuhnya.
Rika menarik tas Erna sambil berkata,
“Lo tau enggak arti lalat yang sesungguhnya dalam suatu hubungan? “Dada Rika berdegup kencang. Perasaannya saat itu bercampur baur.
Rika tidak ingin hubungan persahabatan mereka putus.
Setelah Rika menarik tas Erna dan berkata kata, Saat itu pula ada angkutan umum yang lewat. Entah jurusan mana. Tiba-tiba Erna memberhentikan dan menaiki mobil angkutan umum itu.
Sengaja Rika tidak menahannya. Rika sengaja memberi ruang agar Erna merenungkan semuanya.
Rika pun berjalan sendirian saat itu. Yang di awal tidak sengaja ia bertemu dengan Erna di jalan. Saat itu Rika hendak menuju rumah Iyan. Tiba-tiba ia berpapasan dengan Erna, dan Erna pun terkejut bertemu Rika. Erna tidak dapat menghindar.
Sampailah Rika di depan pekarangan rumahnya. Tiba-tiba Ia teringat dengan pesan yang Hilal yang di kirim padanya pada saat Andre berada di rumahnya. Rika pun hendak membalas pesannya.
Rika mengirim pesan pada Hilal:
“ Maaf Bang baru dibales, Kabarku baik, bang Hilal gimana keadaannya di sana?”
Terkirim tapi masih centang satu. Rika pun segera bersiap-siap hendak berangkat kerja.
Tak lama kemudian ada suara pintu di ketuk.
Sontak Rika terkejut mendengarnya, karena dari tadi ia melamun.
Rika pun berdiri dan melangkah untuk membuka pintu. Ternyata Iyan yang datang.
Tanpa menunggu perintah Rika, Iyan pun masuk ke dalam. Karena Iyan dan saudara Rika yang lainnya sudah terbiasa datang silih berganti.
Iyan masuk dan langsung mengambil air minum. Di tuangnya air putih dari teko kecil ke dalam gelas, dan Iyan langsung meneguknya.
Rika langsung menegur Iyan tatkala Iyan meneguk minumannya dalam keadaan berdiri.
“Aduh bang Iyan, duduk dulu napa sih, nggak baik loh minum sambil berdiri,”
Perintah Rika.
Iyan pun langsung menghentikan tegukan airnya, kemudian ia mengambil posisi duduk. Setelah itu Iyan baru meminumnya.
“Aaaah, makasih ya udah ngingetin. Bang Iyan aus banget, maap deh,”
sahut Iyan.
Iyan pun kembali berkata,
“Bareng yuk? Bang Iyan lagi masuk sore nih. Kamu da siap belom? “
Rika pun tersenyum. Segera Rika membereskan apa yang hendak ia bawa, dan memasukkan ke dalam tas kerjanya.
Mereka pun berangkat bersama dengan mengendarai sepeda motor.
Saat mengemudi, Iyan bertanya,
“Entar pulang bareng lagi apa enggak nih? Kalo mau bareng entar bang Iyan jemput.”
Rika pun langsung menjawab,
“Bareng lagi ya Bang, entar Rika pulang sendirian.”
“Loh, emang Erna ke mana? “
Tanya Iyan.
Untuk menutupi keadaan yang sebenarnya hubungannya dengan Erna yang sedang berantakan, Rika pun menjawab dengan kebohongan,
“Erna libur Bang, enak dia udah senior bisa libur tanggal merah.”
“Owh, ya udah, entar Bang Iyan jemput, “
jawab Iyan.
Hati Rika pun senang mendengarnya. Dia tidak merasa kesepian tanpa Erna karena Iyan selalu ada waktu untuknya. Tapi bagaimanapun hati Rika merasakan kehilangan sosok sahabat.
__ADS_1
Akhirnya sampailah mereka di depan klub di mana Rika bekerja. Rika pun turun dari sepeda motor yang Iyan kendarai. Kamu Dian Ian pun berlalu dan meninggalkan Rika.
Rika pun masuk melalui lobi yang kemudian menembus pada loker karyawan.
Ternyata Rika datang lebih awal dari biasanya, sebab Keadaan jalan raya yang ia lewati bersama iyan tidak macet.
Hanya beberapa karyawan yang telah hadir di sana TK pun berganti baju dan mengganti sepatunya.
Di saat ia mengganti sepatu, Rika duduk di bangku kecil sambil menatap ke arah loker Erna.
Tidak ada Erna di sana. Rika pun tersenyum kecut. Di saat seperti itulah ia merasa kehilangan.
Tapi bagaimanapun juga Rika harus tegar. Ia berusaha untuk tidak bersandar pada siapapun.
Tanpa Rika sadari, dari kejauhan Vivi memperhatikan gerak-gerik Rika. Vivi pun menghampiri dan menyapanya.
“ Hei tumben datang awalan? “
Sapa Vivi.
Rika pun menoleh dan tersenyum. Rika membalas sapaan Vivi dan berkata,
“ Iya Kak, jalanan lagi nggak macet, dan kebetulan tadi aku bareng Bang Iyan, Abangku.”
“ Oh. Naik apa kamu?”
Tanya Vivi.
“ Aku naik motor kak sama Abangku, kebetulan dia masuk sore, jadi kita bisa bareng,”
jawab Rika.
“ Berarti entar pulangnya bareng juga dong? baguslah,”
tanya Vivi kembali.
“ Iya Kak bareng lagi, kan bang Iyan pulangnya lebih cepat dari kita, jadi dia bisa nyamper aku dulu baru pulang ke rumah bareng,”
tutur Rika.
Vivi pun mengangguk, kemudian ia mengajak Rika untuk masuk ke dalam.
“ Yuk kita masuk,”
ajak Vivi.
Mereka pun masuk bersama-sama diiringi dengan karyawan lainnya.
Hari itu keadaan klub tidak begitu ramai, terutama di bagian restoran hanya beberapa table yang silih berganti terisi.
Karena keadaan restoran tidak begitu ramai, Rika dan Vivi terlihat santai.
Walau santai, Rika tetap membantu para waiters untuk membersihkan dan merapikan kembali setiap meja setelah dipakai.
Di tengah-tengah kesantaian Vivi, tiba-tiba security depan masuk dan melangkah ke arah meja kasir. Sepertinya security itu memberikan kabar yang mengejutkan.
“ Vi siap-siap 10 menit lagi bos besar datang, tolong siapkan ruangan dan segala menu ya,”
kata security itu pada Vivi.
Vivi langsung menghubungi pihak kitchen dan ruang meeting agar mereka bersiap-siap.
Ternyata Vivi lupa memberitahukan pada Rika soal hal itu.
Hingga akhirnya 10 menit kemudian seorang wanita masuk ke dalam klub itu, sedangkan Rika masih berdiri di tengah-tengah ruangan.
Karena posisi Rika membelakangi wanita itu dan seragam Rika pun berbeda dengan waiters lain, maka wanita itu bertanya pada Vivi,
“ Hei kamu, kemari! Siapa dia? “
Vivi pun dengan gugup berjalan mendekati wanita itu. Vivi tidak berani menatap wajah wanita itu dan Vivi terus menundukkan kepalanya.
“ Maaf Nyonya, dia adalah kasir Junior,”
kawab Vivi tanpa memandang wajah wanita itu.
“ Bilang padanya, kalau saya ada di sini jangan membelakangi saya,”
kata wanita itu pada Vivi.
“ Baik nyonya, akan saya sampaikan,”
sahut Vivi yang masih menundukkan kepalanya.
Vivi pun mengalihkan perhatian wanita itu. Ia segera mengajak wanita itu ke ruang meeting yang sudah dipersiapkan.
“ Mari Nyonya kita ke ruang meeting, tempatnya sudah dirapikan. Nyonya Mau pesan apa saja?”
Tanya Vivi.
“ Nanti saja saya pesannya, anak buah saya pada belum hadir,”
jelasnya.
Vivi pun melangkah menuju ruang meeting bersama wanita itu.
__ADS_1
Tatkala mereka berjalan beriringan, Rika pun menoleh. Rika melihat wanita itu dari samping.
Rika mengernyitkan dahinya.
Rika pun menghampiri salah satu waiters di sana, dan ia bertanya,
“ Mbak, siapa wanita itu yang berjalan sama Vivi? “
“ Oh itu bos besar. Mungkin ia akan mengadakan meeting nanti, “
jawab waiters itu.
Rika pun merasa bingung, karena baginya tidak ada pemberitahuan sebelumnya.
Untuk menghindari hal-hal yang tidak mengenakkan, Rika pun kembali ke meja kasir.
Tidak beberapa lama kemudian, datanglah beberapa orang pria masuk ke dalam klub dan menuju ke arah ruang meeting.
Rika memperhatikan wajah-wajah pria itu yang lewat di depannya.
Dan Rika berhenti pada satu titik wajah. Ya, wajah pria itu adalah wajah tukang sate.
“ Ya tidak salah lagi, dia adalah tukang sate, “
bisiknya dalam hati.
Pandangan para pria itu pun meluas ke seluruh penjuru, seolah-olah mereka mencari sesuatu.
Dan mereka pun terus melangkah menaiki anak tangga. Sepertinya mereka menuju lantai 3 di mana ruang meeting berada.
Rika pun merasa sedikit tenang setelah para pria itu berlalu.
Tidak lama kemudian ponselnya pun bergetar tanpa bunyi. Sengaja Rika hanya menggetarkan agar tidak mengganggu pekerjaannya.
Ternyata ada satu pesan yang masuk. Secara sembunyi-sembunyi Rika pun memeriksa ponselnya yang ternyata pesan tersebut dari Andre.
“ Hai Sweety, soal rencana pernikahan kita, aku bakal omongin ke Om Faisal ya. Doakan ya semoga Om Faisal mau mendukung kita. “
Setelah membacanya Rika pun memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku celananya.
Vivi pun kembali dari lantai atas. Ia pun meminta bantuan Rika untuk mempersiapkan segala menu yang dipesan dari ruang meeting.
“ Rik, ikut aku yuk ke kitchen, bantuin aku ya. Aku mau nyiapin menu nih buat orang-orang yang di ruang meeting, “
kata Vivi.
“ Oh, ada orang yang lagi makai ruang meeting Kak? “
Tanya Rika.
“ Iya, lagi Ada Bos Besar. Aku lupa ngasih tahu kamu lagi tadi, dia ngelihat kamu tuh, kamu lagi ngebelakangin dia, “
jawab Vivi.
“ Hah ! Masa sih Kak? Loh biasanya mereka kalau mau ke sini ngasih kabar dulu, kenapa ini nggak? “
Tanya Rika penasaran.
Sebelum menjawab, Vivi pun menarik tangan Rika dan mereka melangkah ke arah kitchen.
Vivi pun berkata,
“ Tadi aku lupa bilangin kamu, aku langsung ke ruang kitchen. Eh pas ingat kamu, malah Nyonya itu udah datang. Habislah aku diomel-omelin. “
“Ya ampun Kak, kamu kena omelan? Kok aku benar-benar nggak tahu ya kalau ada nyonya besar mau datang, “
Kilah Rika.
Sambil menyiapkan menu, Vivi pun menjawab,
“ Tadi pas dia masuk tuh kamu lagi ngadep belakang, berarti kamu ngebelakangin dia lewat, maka dari itu aku ditegur, dia marah ke aku. “
Mendengar penjelasan Vivi, Rika pun merasa bersalah.
“ Ya ampun Kak Vivi, maafin aku ya. Aku bener-bener nggak tahu deh, “
sahut Rika.
Vivi pun tersenyum, dan berkata,
“ Ih kamu tuh Rika lugu banget sih, yang salah tuh aku, ini semua kecerobohanku, bukan salah kamu. “
Rika pun ikut tersenyum.
Kemudian Rika meminta izin pada Vivi untuk ke toilet.
“Kak Vi, aku ke toilet dulu ya, bentar. “
“Ya udah sana, tapi jangan lama ya, lagi tegang nih suasana, “
sahut Vivi.
“Siap kak, “
kata Rika.
__ADS_1
Rika pun segera bergegas. Tak lama kemudian ponselnya pun kembali bergetar.