
“ Mbok, bisa kita bicara? ada yang mau Andre bicarain sama Mbok, gimana kalau kita duduk di taman belakang?” ajak Andre.
Mbok Yem pun bertanya , “Ada apa Den Andre?”
Andre menarik nafas panjang. Mau tidak mau dia harus membicarakan hal ini pada Mbok Yem.
“ begini mbok, keadaan rumah ini sudah porak-poranda. Mama pun sudah bangkrut. Jadi sepertinya kami sudah tidak mampu membayar Mbok di sini.”
Mendengar kata-kata Andre mata Mbok Yem mulai berair. Semakin banyak kata-kata Andre yang dilontarkan semakin Mbok Yem tidak dapat menahan air matanya.
“ Andre juga tidak punya pekerjaan mbok, keadaan Mama sudah bangkrut dan rumah ini sudah disegel Bank. Sedangkan harta Mama tinggal sedikit mbok. Andre juga tidak tahu harus ngapain. Sekarang semua terserah Mbok Iyem kalau Mbok Yem masih ingin tinggal di sini nggak apa-apa silakan Anti ngizinin kok Mbok Yem tetap tinggal di sini. Jika Mbok yang ingin pulang kampung juga silakan Andre nggak ngelarang Boim untuk pulang.”
Andre memegang tangan Mbok Yem yang duduk di sampingnya.
“ maafin Andre Ya Mbok, kalau selama ini Andre sudah sering menyusahkan Mbok Yem. Andre akan nyari rumah kontrakan untuk membawa mama dan adik-adik, dengan modal yang ada, dalam waktu dekat Andri harus mengosongkan rumah ini mbok.”
Mbok Yem tidak mampu berkata apa-apa. Hanya air matanya yang terus mengalir.
Andre sudah tidak kuat lagi untuk berkata-kata pada Mbok Yem. Setelah itu Andre melepaskan genggamannya pada tangan Boim lalu bangkit dan beranjak meninggalkan Mbok Yem.
Andre masuk ke dalam untuk mengurus mama Lina. Sekarang keadaan mama Lina hanya bisa duduk dan diam.
Tubuhnya tidak bergerak sama sekali dan pandangan matanya kosong. Andri menyuruh Putri untuk memandikan mama Lina.
“ Put mulai sekarang lo rutin ya mandiin mama, nanti gue bantu angkat badannya dia,” perintah Andre.
Putri hanya mengangguk.
“Dicky, tolong ajak adik-adik merapikan rumah ya. Ya sebisa lo lo pada lah. Terserah lo mau ngepel atau enggak yang penting tolong disapu ya,” perintah Andri pada Dicky.
Dicky pun hanya mengangguk.
Semenjak keadaan mama Lina yang seperti itu, anak-anak tidak banyak bicara dan tidak banyak keributan, apalagi membuat lelucon.
Mereka hanya bicara seperlunya. Begitu juga dengan Putri. Putri sering menangis secara diam-diam. Matanya sembab dan terdapat lingkaran hitam.
Suatu saat Putri berbicara pada Andre,
“ Bang, gue pengen kerja,” kata Putri.
__ADS_1
“Lo mau kerja apa? Terus kalau lo kerja Satria Siapa yang jagain?” tanya Andre.
“Gue bisa bawa Satria kok Bang,” Jawab Putri.
“Kerja apa yang bisa bawa anak? Ngaco aja Lo Put! Udah lo nggak usah ikut-ikutan mikir ini semua udah tanggung jawab gue,” kata Andre.
Besok kita packing barang ya. Bawa seperlu nya aja. Karena semua barang-barang juga usah di sita apa bank.
Putri dan Dicky hanya menunduk. Mereka tidak ribut seperti biasa.
Keesokan harinya Putri Diki dan adik-adiknya yang lain mempacking semua barang-barang yang bisa dibawa. Sedangkan andri berkeliling mencari rumah kontrakan.
Lelahnya Andre berkeliling mencari rumah kontrakan Andre pun berteduh di suatu warung kecil. Andre memesan minuman dan beristirahat di sana.
Lalu Andre bertanya pada penjaga warung, “ Maaf Bang numpang tanya di sini rumah kontrakan sebelah mana ya, Saya nyari untuk keluarga saya.”
“ Oh di sebelah sana Bang Dari sini lurus terus lalu belok kanan kemudian belok kiri nah di situ banyak kontrakan berjejer,” jawab pemilik warung.
“ Abang tahu nggak harganya berapa kira-kira?” tanya Andre kembali.
“ Wah Saya kurang tahu soal itu,” jawab pemilik warung.
Pikiran Andre tertuju pada mama Lina. “Apa yang harus gue lakuin ke mama ya? Gue mau bawa Mama ke dokter tapi gimana, pasti mahal harganya, sedangkan sisa uang mama tinggal sedikit. Eh tapi mama punya simpanan di Bank nggak ya? tapi apa Iya Mama nggak punya sama sekali? paling enggak buat bekal gue ke depannya, buat bayar rumah nanti dan biaya hidup lainnya.”
Andre pun melajukan motornya ke arah jalan yang telah diberitahukan oleh penjaga warung tadi.
Sesampainya di sana, Andre melihat lingkungan di sana. Ada beberapa rumah petak berjejer di sana. Lalu Andre mendekati seorang ibu yang sedang menyapu.
“Siang bu, numpang tanya bu, ada kontrakan kosong gak?”
“Oh, ini ada dua rumah yang kosong. Yang ini dalamnya hanya ada satu kamar. Yang itu dalamnya ada dua kamar. Terserah mau yang mana,” jawab ibu tadi.
“Harganya berapa bu?” tanya Andre lagi.
“Soal harga, om bisa tanya langsung sama yang punya,” kata ibu tadi.
“Sialan, gue di panggil om, emang tampang gue udah keliatan tua apa ya?” gumam Andre dalam hati sambil melihat wajahnya di kaca spion.
“Mau di anterin gak ke pemiliknya?” tanya ibu tadi.
__ADS_1
Dan akhirnya Andre diantar oleh ibu tadi ke pemilik kontrakan rumah itu.
Setelah melakukan negosiasi maka mereka pun menemukan titik temu. Dan mereka sepakat dua hari kemudian Andre dapat menempatkan rumah itu.
Setelah itu Andre kembali pulang dan membicarakannya pada putri dan Dicky.
Lalu Andri menemui mama Lina di taman belakang. Andre melihat mama Lina sedang disuapin makan oleh Mbok Yem.
“Mah besok kita pindah dari sini ya Andre udah nemuin rumah kontrakan yang lumayan besar cukuplah buat kita bernaung,” kata Andre.
Mama Lina mendengar kata-kata Andre. Lalu mama Lina mengedipkan matanya lebih lama tidak lama kemudian air matanya mengalir.
Lalu Mbok Yem memberikan isyarat pada Andre. Andre pun mengerti maksud Mbok Yem lalu Andre melangkah mundur beberapa langkah.
“ Aden tadi Mbok Yem menemukan sesuatu di kamar nyonya, mungkin berguna buat Aden,” kata Mbok Yem.
Mbok Yem masuk ke dalam kamarnya dan mengambil suatu berkas.
“ ini Den, mbok Yem tadi menemukan ini di kamar Nyonya saat bersih-bersih,” kata Mbok Yem.
Andre pun mengambilnya dan melihatnya.
“ ini apa Mbok? ini saham mbok!” teriak Andre.
Andre kembali berkata, “ Berarti mama masih punya aset lainnya ya mbok.”
Mbok Yem mengangguk.
Lalu Andre hendak masuk kembali ke dalam. Sebelumnya dia berkata pada Mbok Yem, “Tolong jaga mama ya Mbok, Andre mau buka leptop mama.”
“Baik Den,” sahut Mbok Yem.
Andre pun masuk ke dalam, lalu membuka pintu kamar mama Lina.
Di ruang tengah ada Dicky sedang mempacking barang-barang. Lalu Andre sedikit berteriak,
“Bawa yang penting aja Dik, karna rumah kita nanti kecil, Cuma ada dua kamar.”
Kemudian Andre masuk dan mengunci kamar. Sementara Dicky hanya diam saja mendengar ocehan abangnya.
__ADS_1
Di dalam kamar, Andre mulai menyalakan leptop kerja mama Lina. Satu persatu dia pelajari. Betapa terkejutnya dia melihat layar leptop mama Lina, matanya terbelalak, otaknya pun membeku, karena dia tidak menyangka atas apa yang telah dia temukan.