
Cahaya di luar sudah mulai terang. Matahari pun mulai bergeser.
Rika menggeliat tubuhnya saat terbangun. Di lihatnya jam yang tergantung di dinding, waktu sudah menunjukkan pukul 11 siang.
Rika mendengar suara pintu depan di ketuk, dia pun malas bergerak. Tak lama kemudian ponselnya pun berbunyi, ternyata Beni yang menghubunginya.
Rika pun meraih ponselnya dan menekan tanda terima, maka tersambung lah saluran ponselnya pada Beni.
“Ehm, napa Ben? “ tanya Rika.
Beni pun menjawab, “Yeeee, nenek lampir baru bangun, bukain Rik, gue di depan. “
“gue males Ben bangunnya, huuaaaahhhhmmm, “ jawab Rika sambil menguap.
Beni pun kesal dan berkata,
“Gue dobrak nih pintunya, cepetan Rik, gue cape nih. “
Dengan tergopoh-gopoh, Rika pun bangkit dari tidurnya, terasa melayang di kepalanya hingga dia harus berpegangan pada sepanjang dinding yang terhubung pintu.
Di ambilnya kunci pintu yang tergantung di dinding, tepatnya di samping pintu, lalu Rika membukanya.
Setelah membuka pintu, dia melihat Beni membawa sesuatu.
“Lama banget sih, nih buat lo, “ kata Beni.
“ini apaan Ben? “ tanya Rika
“Makanan, dari kantor gue semalam, enaknya jaga malam ntu banyak yang ngasih makanan, saking banyaknya temen-temen gue juga dapet dan mereka bisa bawa pulang, kan lumayan, “
kata Beni.
Mereka pun masuk ke dalam rumah dan menyantap makanan yang Beni bawa tadi.
Tidak lama kemudian Ando, Iyan dan Desi datang bersamaan.
“Wiiih, enak nih, bagi dong? “
Kata Ando.
“Masuk sini, kita makan bareng-bareng, “
Kata Rika.
Mereka yang tak lain adalah Ando, Iyan dan Desi masuk ke dalam rumah Rika, dan ikut menyantap makanan bersama.
Melihat anggota keluarganya berkumpul, Rika pun membicarakan tentang pertunangannya dengan Andre.
Rika : “Ni mumpung pada kumpul, gue mau ngomongin tentang lamaran gue sama Andre. Maksud gue, keluarganya Andre mau dateng ngelamar gue, baiknya kapan ya gue bilangin mami ma papi? “
Beni : “Emang kapan mereka mau dateng? “
Ando : “ enaknya secepatnya deh, biar gak lama-lama lo pacaran, ha ha ha. “
Rika : “Gue juga pengennya cepet, tapi gimana, gue kan belom gajian, belom bisa ngasih ongkos mami papi buat dateng ke Jakarta, dan ongkos mereka kan lumayan gede. “
Iyan : Lah, kok belom gajian? Bukannya udah lewat waktu gajian kamu Ka? “
Rika : “Gue kan udah pindah kerja, maap ye, gak ngasitau, abis kalo di kasih tau dari awal trus gue nganggur, lo pade bawel deh. Malah tambah pusing pala gue. “
Iyan : “Mang sekarang kamu da kerja di mana Ka? “
Rika : “Di club malam, tempat Erna kerja.”
Desi : “Kalo lo belom sanggup ongkosin mami ma papi, ya udah, kita patungan aja, gimana? “
Ando : “Lagu-laguan lo Des ngajak patungan, buat lo jajan aja masih minta ma gue ha ha ha.”
Desi : “Ah lo Ndo, perhitungan kali kau! “
Iyan : “ Baiknya mending kamu tanya dulu ke Andre, kapan kira-kira keluarganya mau datang, biar nanti kita patungan buat ongkos mami ma papi. “
Mendengar kekompakan kakak-kakak dan adik-adiknya hati Rika punsangat senang, dan berterima kasih pada mereka, Rika pun berkata,
“Makasih banyak ya atas perhatian kalian, gue jadi terharu. “
Rika pun menggandeng bahu Desi dan Ando, seketika mereka berkata,
“So sweeeeeettt, ha ha ha.”
##########
Suasana di tempat kerja Rika yang baru yaitu club malam sangatlah ramai. Di lantai dasar pun yang berfungsi sebagai restoran penuh dengan pengunjung. Mereka banyak memesan menu favorit di resto itu.
Rika dan Vivi sibuk ikut melayani para tamu, kadang bergantian dengan waiters di sana. Jam istirahat pun tiba, sang manager memberi jadwal istirahat bergantian satu dengan yang lain.
Rika mendapat giliran istirahat pertama. Waktu istirahat dia gunakan sebaik-baiknya agar kondisi tubuhnya tidak mudah sakit, lantaran jam kerjanya tidak seperti umumnya.
Rika memasuki lorong arah basmen, dan beristirahat di sana. Dia pun duduk di kursi panjang yang telah ada di sana. Rika membuka sepatu dan kaus kakinya agar terkena udara.
Rika pun menarik nafas panjang, seketika dia mengingat perkataan pria itu, yang tak lain adalah Hilal.
Sontak pikirannya menuju pria itu dan Rika berpikir, ada apa dengan dia? Mengapa dia berkata demikian padanya? Sungguh semua ini adalah teka-teki.
“Ah, sudahlah, gak usah mikirin Hilal, apa pun tujuan dia, gak penting buat gue, yang terpenting sekarang gue harus fokus sama pertunangan gue, gue harus bisa, gue harus kuat ngadepin mamanya Andre,”
gumamnya dalam hati.
Rika pun mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celananya, dia hendak menghubungi Andre.
Waktu sudah menunjukkan pukul 12.30 malam, sebentar lagi waktu istirahatnya selesai, sedangkan dia belum menghubungi Andre.
Rika pun mulai menekan tombol angka yang tertera di sana, tak lama kemudian tersambunglah pada ponsel Andre.
“Halo, Dre, lo da sampe rumah?”
tanya Rika.
“Udah, baru aja, kenapa sayang, aku udah di kamar nih.”
jawab Andre.
“Gini, gue da bilang sama kakak-kakak gue kalo keluarga lo mau dateng buat ngelamar gue, nah mereka nanya, kapan datengnya, biar mami ma papi segera ke Jakarta, jangan kelamaan kata mereka, biar pas mami ma papi dateng jedanya gak terlalu lama.”
tutur Rika.
Andre pun berpikir keras, kemudian dia berkata,
“Nanti aku tanya mama dulu deh, tepatnya kapan ke sana, sekarang kan mama da tidur, jadi besok deh aku tanya dan langsung aku kabarin kamu ya.”
“Tapi jangan nelpon ya, takutnya gue masih tidur, kirim pesan aja, okay?”
perintah Rika.
“Siap sweety,” kata Andre.
Rika pun memutuskan sambungan teleponnya, dan memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.
Rika pun bangkit dari duduknya dan bergegas kembali ke tempat di mana dia di tugaskan.
Rika kembali melewati lorong dan tiba di luar basmen, dan tak sengaja dia tertabrak oleh laki-laki bertubuh kurus berambut panjang dan di ikat.
“Eh, sorry, are you oke?” tanya laki-laki itu.
Rika hanya mengangguk, padahal sebenarnya dia tidak baik-baik saja saat itu. karena ujung sepatunya baru saja terinjak oleh kaki laki-laki itu. Dan karena dia tidak mau berurusan dengan orang asing, responnya hanya mengangguk.
Rika pun segera meninggalkan laki-laki itu, tapi dengan spontan laki-laki itu menarik tangan Rika dan bertanya,
“Are you a servant here?”
Rika menatap laki-laki itu dengan pekat mendengar pertanyaan darinya, tanpa menjawab pertanyaannya, Rika segera menarik tangannya dari genggaman laki-laki itu dan berlari kecil meninggalkan laki-laki itu sendirian.
Rika kembali ke meja kasir di mana dia di tugaskan sambil mengatur nafasnya yang terengah-engah. Rika pun meminum air mineral yang tersedia di sana.
Melihat kondisi Rika yang terengah-engah, Vivi mengerutkan dahinya dan bertanya,
“Kamu kenapa Rika, kok ngos-ngosan gitu kaya abis ngeliat hantu?”
Rika pun mengatur nafasnya terlebih dahulu, kemudian baru menjawab pertanyaan kasir seniornya yaitu Vivi.
“Tadi aku ditabrak orang kak, itu, di depan lorong basmen, sakit nih kaki ku, ke injek tadi. Dia sih uda bilang maaf, trus pake nanya aku pake bahasa inggris, ya udah aku tinggal aja,”
__ADS_1
kata Rika.
Vivi pun terkejut mendengar cerita Rika dan kembali bertanya,
“Emang dia nanya apa, trus kenapa kamu gak jawab pertanyaannya, emang susah tinggal jawab aja.”
Rika pun berusaha menjelaskan,
“Kak, dia narik tangan aku kak, aku takut, dia nanya, apa aku pelayan di sini? Dan sebelumnya dia nanya juga, apa aku baik-baik saja, aku udah ngangguk kak, aku udah jawab, karna dia narik tangan aku, jadinya aku takut.”
“takut sih takut, tapi gak boleh sikap kamu kaya gitu pada tamu, mereka kan tamu kita, ya kita melayaninya dengan baikbaik dan sopan. Kecuali ada tamu yang mulai kurang ajar, manajemen sini pun melindungi kita, “Nona” aja dapet perlindungan, masa iya kita enggak?! Maaf ya Rika, kalo aku sedikit bawel sama kamu, kamu kan anak baru di sini, belajarlah beradaptasi, “
kata Vivi.
“Ya ampun kak, aku bener-bener takut, karna dia nanya yang kedua kali itu pake narik tangan aku, “
jelas Rika.
“Bisa jadi dia narik tangan kamu karna kamu jawabnya cuma ngangguk, mungkin dia khawatir sama kamu, jadi dia reflek narik tangan kamu,”
jelas Vivi.
Vivi kembali menjelaskan,
“Lain kali jangan begitu lagi ya. Kendaliin diri kamu, jangan selalu panik.”
“Iya kak, “ jawab Rika.
Kini giliran Vivi untuk segera beristirahat. Rika pun menggantikan pekerjaan Vivi, dan Vivi meninggalkan meja kasir.
Rika melayani pembayaran baik cash maupun memakai kartu kredit dan debit. Silih berganti para waiters mendatangi meja kasir untuk memberikan bill pada Rika, dan Rika menghitungnya.
Terkadang ada beberapa juga tamu yang langsung datang ke meja kasir, terutama pada saat mereka membayar dengan card mereka.
Seorang waiters mendatangi Rika dengan seorang pria berambut panjang yang sinikat ingin melakukan pembayaran melalui card, saat itu Rika sedang sibuk menghitung jumlah bill yang ada, sambil memasukkan data ke komputer, karena itu Rika tidak mengetahui kedatangan mereka berdua.
“Mbak Rika, Hello mbak Rika, ada yang mau bayar pake card nih, tolong dong,”
Kata seorang waiters.
Rika menoleh ke atas, dia mendongakkan kepalanya dan berkata,
“Ya udah, gesek aja, gak apa-apa kok, kamu bisa kan?”
Waiters itu pun berkata pada seorang tamu yang di temaninya saat itu menuju kasir, dan berkata,
"Silakan Tuan, Anda mau gesek pada mesin yang mana, kuning atau biru?”
Tamu itu pun bertanya,
“Yang Multi yang mana , kuning atau biru?”
Waiters pun menjelaskan,
“Yang biru Tuan.”
Karena mesin card yang berwarna biru itu terletak agak jauh dari jangkauan waiters, dia pun meminta tolong pada Rika untuk mengambilkan mesin card itu dan berkata,
“Mbak, tolong ambilin dong mesin cardnya, tangan aku gak nyampe nih.”
Karena Rika sibuk, dia hanya mengambilkan mesin card itu tanpa menoleh.
Sang tamu yang tak lain adalah pria berambut panjang yang di ikat itu mengamati Rika yang tengah sibuk, sempat mengenali Rika, dan berkata,
“Hai, apakah kamu wanita tadi yang tak sengaja aku tabrak?”
Mendengar suara itu, Rika pun dengan pelan-pelan menolehkan kepalanya ke atas, Rika pun terkejut melihat orang itu, ternyata orang itu adalah orang yang tadi yang telah menabrak dan menginjak ujung sepatunya.
Dengan senyum yang kecut, Rika berusaha tetap bersikap baik pada orang itu, mengingat Vivi kasir seniornya telah memperingatinya akan sikapnya.
“Ehm, iya Tuan, itu saya, maaf jika sikap saya tadi tidak sopan, saya hanya panik ketika Tuan menarik tangan saya,”
kata Rika.
“No problem, its oke. But, apakah kamu baik-baik saja? Saya menanyakan itu karena saya merasakan sesuatu,”
kata Pria itu.
Dengan rasa canggung Rika menjawab pertanyaan pria itu,
Mendengar penjelasan Rika, pria itu pun kaget di buatnya, dia pun segera meminta maaf,
“Oh my God, i’am sorry, saya sungguh tidak sengaja, apakah kamu perlu saya ajak kamu ke dokter?”
Rika pun segera menjawab pertanyaan pria itu,
“Oh gak usah, keadaan saya sekarang sudah bak-baik saja. Ini mesinnya, silakan Anda menggesek card Anda.”
Mendengar jawaban Rika yang singkat, dan melihat sikap Rika yang canggung, Pria itu pun memakluminya. Dia segera menggesek card nya. Transaksi pun selesai.
Pria itu pun kembali berkata sambil matanya memandang ke arah nama Rika yang tertempel di bagian dada Rika,
“Terima kasih ya, Rika.”
Rika pun terkejut namanya di sebut pria itu.
Melihat perubahan wajah Rika yang panik, pria itu pun menjelaskan,
“No, its oke, saya tahu nama kamu, karna nama kamu tertempel di seragam kamu.”
Waiters yang mengantar pria itu pun tertawa, dan berkata,
“Ya elah mbak, segitu paniknya, he he he.”
Rika pun tersenyum dan berkata,
“Maaf ya, maafkan saya, Tuan.”
“Ya, gak apa-apa, saya memakluminya. Terima kasih ya, dan sampai bertemu lagi,”
Kata Pria itu.
“Terima kasih kembali, Tuan,” kata Rika.
Pria itu pun pergi dan meninggalkan meja kasir.
“Hah? Sampai bertemu lagi??? Oh Tuhan, jangan pertemukan aku dengan pria aneh lagi dong,” gumam Rika dalam hati.
Waiters yang mengantar pria tadi pun berkata dengan menggoda Rika,
“Ciiieee Mbak Rikka, uhuy! Kenapa gak sekalian minta nomer telponnya?”
“Ih rese’ ya kamu, udah sana kerja lagi,” kata Rika.
“Selloooow dong mbak selloooowww, mbak tuh kalo kerja tegang banget keliatannya, di bawa santai aja mbak, ikutin detak musik, jadi ngalir gitu aja, gak tegang mbak,”
kata waiters itu.
“Gimana gue gak mau tegang, ternyata mamanya Andre punya saham di sini, ya wajarlah gue tegang,”
gumamnya dalam hati.
“Iya, iya, iya selloooooow, ha ha ha,” kata Rika kemudian.
Malam semakin larut bahkan menjelang pagi, waktunya para karyawan pun untuk pulang.
Rika dan Erna pulang bersama, mereka tidak ikut dengan mobil antaran karyawan, karena bagi mereka terlalu lama sampai di rumah, sang sopir harus mengantar para karyawan satu persatu, bergiliran.
Dalam perjalanan, mereka berbincang-bincang, kadang bercanda sambil melihat keadaan sekeliling.
Maka tibalah mereka di jalan menuju arah rumah Erna, dan mereka pun berpisah di di sana.
Sebelum Erna memasuki jalan yang mengarah ke arah rumahnya, terlintaslah sebuah mobil sedan dengan kecepatan sedang, dan melewati genangan air yang terdapat di tengah jalan.
Maka Rika dan Erna terkena air cipratan genangan itu.
“Sialan tuh orang, bukannya pelan-pelan, kotor deh celana gue, lo kena juga Rik?”
Tanya Erna.
“Kena lah, tuh, malahan banyak kenanya, rese’ tuh orang, gak punya mata kali,”
__ADS_1
Kata Rika.
“Ya udah, gue masuk dulu ya, lo hati-hati ya Rik,” kata Erna.
“Iya, baaaayyy,” Kata Rika.
Mereka pun berpisah di persimpangan jalan yang menuju ke arah rumah Erna.
Rika pun melanjutkan perjalanan pulang.
Sesampainya Rika di rumah, Ando sedang menunggu kepulangannya.
Rika : "Assalamualaikum,"
Ando : "Wa alaikumsalam,”
Rika : “Lo belum tidur atau baru bangun?”
Ando : “Gue baru bangun, eh ternyata lo belom sampe juga.”
Rika : “Sorry ya, abis gimana lagi, emang pulangnya jam segini,oh iya, udah subuh belom sih?”
Ando : “Belom, bentar lagi, bersih-bersih dulu aja sono, bau lo.”
Rika : “Enak aja bau, lo tuh yang bau, lo kan baru bangun tidur, lahar lo aja masih nempel tuh di pipi lo, ha ha ha.”
Di ejek Rika, Ando pun merasa kesal, di lemparnya Rika dengan sendal jepit yang berada di teras depan.
Belum sampai sendal jepit itu mendarat, Rika pun dengan sigap berlari menuju kamar mandi.
############
Siang itu Rika masih tertidur, sedangkan Ando akan berangkat bekerja.
Melihat kakaknya masih tertidur nyenyak, Ando pun tidak tega untuk membangunkan.
Ando pun berinisiatif untuk menulis pesan di selembar kertas dan di tempelnya di dinding kaca meja rias Rika.
Dan tak lupa Ando mengunci pintu rumah Rika dengan kunci cadangan yang Rika berikan ada Ando.
Tak lama setelah Ando berangkat, Rika pun terjaga dari tidurnya.
Rika merasakan lelah di sekujur tubuhnya, dia pun malas untuk beranjak.
Di tatapnya langit-langit kamarnya, pikirannya pun tertuju pada kekasihnya, yaitu Andre.
Ada rasa serba salah di hati Rika, antara hati dan kenyataan berbeda jauh keadaannya.
Di sisi lain, dia sangat mencintai Andre, suatu anugerah baginya mendapatkan cinta Andre. Sudah jauh perjuangannya mempertahankan hubungannya dengan Andre.
Dulu, kendala ada pada orang luar, masih bisa Rika tangani, tapi sekarang, kendala itu ada dalam tubuh hubungan ini yaitu mamanya Andre. Dan kendala itu bukan main-main, sampai Rika merasa hidupnya terancam.
Rika pun duduk di pembaringan sambil memeluk boneka kesayangannya.
Dia teringat soal Andre semalam, maka di raihnya telepon genggamnya yang terletak di atas meja rias, dengan rasa berat dan malas, Rika pun mulai beranjak.
Di periksanya semua pesan yang ada.
Di antara pesan-pesan yang ada, terdapat pesan dari Andre, kekasihnya.
Setelah membacanya, Rika menghela nafas dalam-dalam, membayangkan sikap mamanya Andre yang berubah-ubah.
Dalam pesannya, keluarga Andre akan datang malam minggu besok, sedangkan hari itu sudah masuk hari rabu, Rika pun berpikir, dapatkah mami dan papinya datang sebelum malam minggu?
Segera Rika menghubungi kakaknya, yaitu Iyan.
Rika : “Hallo, bang, lo lagi apa?”
Iyan : “Lagi kerja, Rika, ada apa? Apa keluarga Andre udah ngasitau?”
Rika : “udah Bang, katanya malam minggu mereka mau dateng.”
Iyan : “Ya udah, kamu ga usah panik, biar nanti bang Iyan yang ngurus semua, biar nanti Bang Iyan yang nyampein ke yang lain, santai ya Rika.”
Rika : “Oke bang, makasih ya Bang Iyan.”
Hati Rika pun merasa tenang, memang Iyan berbeda dengan kakak Rika yang lain. Sikapnya lebih menyejukkan ketimbang Beni dan kakak-kakak lainnya yang sikapnya lebih temperamen.
############
Tibalah saatnya di mana acara pertunangannya dengan kekasihnya yaitu Andre.
Siang itu tepatnya hari Sabtu, semua keluarga besar Rika telah berkumpul. Mereka telah menyiapkan segala keperluan acara tersebut berlangsung, seperti makanan dan minuman telah siap di saji untuk di sediakan nanti malam menyambut kedatangan keluarga Andre.
Tak sabar hati Rika, sampai-sampai hati Rika berdegup kencang.
Mami dan papi Rika sudah sampai di Jakarta jum’at siang, dan mereka pun sangat bahagia menyambut tamu agung Rika.
Tidak sedikit uang yang Rika keluarkan untuk acara pertunangan itu, dan siang pun berganti sore serta sore pun berganti malam.
Rika semakin galau menanti kedatangan keluarga Andre. Waktu telah menunjukkan pukul 7.00 malam.
Desi , Ando dan yang lainnya pun sibuk menata makanan, sampai-sampai kakak-kakak Rika mengambil waktu cuti kerja mereka, lantaran ingin menyambut kedatangan keluarga Andre.
Waktu tetap berjalan, jam telah menunjukkan pukul 8.00 malam, tapi keluarga Andre belum juga tiba.
Rika pun mulai gelisah, sengaja Rika tidak menghubungi Andre untuk menanyakannya, khawatir mengganggu persiapan mereka untuk menuju ke rumahnya.
Waktu terus berjalan. Jam telah menunjukkan pukul 9.00 malam. Keluarga Rika pun sudah mulai gelisah, tapi mereka berusaha tidak menampakkan kegelisahan mereka di depan Rika, untuk menjaga perasaan Rika.
Kini, waktu telah menunjukkan pukul 10.00 malam. Semakin malam perasaan Rika semakin bercampur aduk antara khawatir pada keluarga Andre dan malu pada semua keluarga yang telah hadir.
Rika masuk ke dalam kamar, di tutupnya pintu kamar rapat-rapat tapi tidak menguncinya.
Di ruang tamu, Beni berjalan mondar-mandir, membuat Ando semakin pusing.
“Bang, duduk napa sih, pusing gue liat lo begitu,”
Kata Ando.
“Emang lo doang yang pusing, gue juga pusing Ndo,”
Kata Beni menjelaskan perasaannya.
Nyai yang tak lain adalah mami dari Rika pun pusing dengan keadaan yang seperti itu. Tapi sebagai orang tua, dia berusaha menenangkan suasana yang mulai keruh, karena itu dia tidak menampakkan kegelisahannya.
Akhirnya sang papi bicara,
“Yang mau makan, makanlah dulu, papi juga udah laper nih. Desi, tolong sendokin nasi buat papi, sekalian sendokin buat mami deh, mami mau makan juga kan?”
Mami pun menjawab dengan senyuman,
“Iya, mami mau, pake sayur dan ayam goreng ya Des.”
Desi pun menjawab dengan senyuman,
“Iya Mi, siap.”
Desi pun beranjak dari tempat duduknya, dan mulai menyiapkan makanan untuk papi dan mami.
Di susul Ando juga ikut mengambil makanan, karena perutnya sudah mulai keroncongan.
Kemudian Iyan juga bangkit dari tempat duduknya, dan mengambil makanan juga.
“Kamu gak makan Ben?”
Tanya Iyan pada Beni, adiknya.
Beni pun menjawabnya dengan ketus,
“Gimana gue mau nafsu makan, kesal hati gue, kalo Rika di giniin.”
Rika yang masih di dalam kamar, sedang menangis. Di peluknya boneka kesayangannya sampai boneka itu basah dengan air matanya.
Rika pun mencoba menghubungi Ande, ada kekhawatiran di dalam hati Rika.
Rika pun mengambil ponselnya yang terletak di atas meja rias. Dan dia pun mulai menekan nomor yang dapat menghubungi ponsel Andre.
Ponselnya pun mulai tersambung, tapi sayang, nomor Andre sedang tidak aktif.
Sungguh kecewanya hati Rika saat itu, bercampur dengan rasa khawatir, kalau-kalau ada apa-apa.
__ADS_1
Lima menit kemudian Rika mencoba lagi untuk menghubungi ponsel Andre, tapi tetap saja hasilnya nihil.
Pecah sudah tangis Rika malam itu, karena hatinya sangat kecewa pada keluarga Andre dan menahan malu pada keluarga besarnya yang sudah mengorbankan waktu untuk acaranya.