
Hari minggu pun tiba, dan di mana hari itu Rika libur. Saatnya rencana keluarga Andre datang untuk meminang Rika.
Mereka tengah sibuk mempersiapkan apa yang harus di bawa.
Sementara, Rika dan keluarganya pun mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyambut kedatangan keluarga Andre.
Walau papi dan mami Rika tidak turut hadir karena keadaan Nyai sedang tidak baik, tetapi mereka telah mengizinkan dan mendoakan Rika.
Rika di bantu oleh kakak-kakak dan adik-adiknya mempersiapkan segala sesuatunya.
Termasuk Erna, ya, Erna pun ikut hadir dan membantu mempersiapkan segala sesuatunya.
Saat itu Erna membawa salad buah yang di buatnya sendiri di rumahnya.
“Rik, nih gue bikin salad, mayankan buat nambahin menu lo,”
kata Erna, sambil memberikan buah tangan yang dia bawa pada Rika.
“Ya ampun Nek, lo repot-repot segala. Lo dateng aja gue da senang bnget. Sering-sering ya kaya gini, ha ha ha,”
kata Rika dengan tertawa, sambil mengambil buah tangan yang Erna bawa.
“Ah, elo Rik, itu namanya tuman, he he he. Kalo sering-sering bisa kedodoran kantong gue njir,”
kata Erna.
“Sialan lo, pake ngatain gue njir segala,”
kata Rika dengan tawanya sambil memukul ringan bahu Erna.
Di seberang sana, tepatnya di rumah Andre, Putri sibuk mengurus adik-adiknya, di bantu mbok Yem.
Putri memilihkan baju yang akan di pakai Lisa, begitu pun Ricky dan Rizky. Semua Putri yang memilihkan.
Selesai membantu Putri, mbok Yem membantu Andre membuat beberapa parsel sebagai hantaran untuk acara nanti malam.
Sedangkan tidak banyak yang dapat di lakukan om Faisal. Ia hanya duduk dan memperhatikan kesibukan masing-masing anak-anaknya, sambil mengawasi para pekerja di ruang samping.
Karena nanti malam akan ada acara, om Faisal mempercepat waktu kerja bagi karyawannya. Agar suara mesin jahit tidak terlalu mengganggu anak-anaknya yang tengah sibuk untuk acara nanti malam.
Ketika tepat pukul 2.00 siang, para karyawan om Faisal bergegas pulang.
Sebelum pulang, mereka membereskan terlebih dahulu bahan-bahan hasil potongan yang sudah tidak terpakai.
Beberapa karyawan mengumpulkannya dan memasukkan ke dalam kantong plastik besar.
Setlah di kumpulkan dan di masukkan ke kantong plastik besar, mereka akan menyimpannya di samping pojok lemari bahan yang berada di ruangan itu.
Biasanya mama Lina akan menggunakan sisa potongan bahan yang sudah tidak terpakai itu untuk di jualnya pada seorang tengkulak.
Suara ruangan menjadi hening, mana kala para pekerja sudah selesai bekerja. Satu persatu mereka meninggalkan ruangan itu dan kembali ke rumah masing-masing.
Mama Lina masih di dalam kamarnya. Dia tengah sibuk membereskan berkas-berkas bisnisnya yang di jalani.
Ada sebagian berkas di kelompokkan satu dengan yang lain serta di pisah dengan yang lainnya, lalu di masukkan ke dalam file. Hampir sebagian tempat tidur tertutupi oleh kertas berkas.
Di dalam kesibukannya, tiba-tiba Lisa masuk ke dalam kamar untuk menemui mama Lina.
Pintu kamar pun di buka oleh Lisa. Dan Lisa pun bertanya,
“”Ma, bagus gak kalo Lisa pake baju ini? Lisa cantik gak Ma?
Mama Lina tetap sibuk dengan kertas-kertas yang berserakan tanpa menoleh sedikit pun ke arah Lisa.
“Mama, liatin Lisa dong,”
pinta Lisa.
Mama Lina masih saja sibuk dengan kertas-kertas itu.
“Ehm, ada apa Lisa? “
Tanya mama Lina tanpa menoleh ke arah Lisa.
“Iiih, Mama, liat Lisa dong Ma, Lisa cantik enggak kalo pakai baju ini?”
tanya Lisa kembali.
Suara Lisa mulai serak. Layaknya seorang anak menahan tangis.
Ya, benar saja. Lisa menahan tangis. Matanya sudah mulai berkaca-kaca.
Tanpa berpikir panjang, Lisa menaiki tempat tidur untuk mendekati mama Lina, dengan menginjak sebagian berkas yang menghalangi langkahnya.
Melihat tingkah Lisa, mama Lina pun geram. Tidak lama kemudian mama Lina memanggil Putri sambil berteriak,
“Putriiiiiiii!!!!”
__ADS_1
Semua anggota keluarga yang berada di luar kamar mendengar suara teriakan mama Lina memanggil Putri.
Karena Putri tengah sibuk membuat parsel, Putri tidak dapat memenuhi panggilan mama Lina.
Maka, Andre segera bergegas mendatangi mama Lina di dalam kamar.
Melihat pemandangan yang kacau di dalam kamar mamanya, Andre pun terkejut.
Andre pun mendekat ke sisi tempat tidur, dan mengulurkan tangannya agar Lisa mau di gendong olehnya.
Dengan nada kesal mama Lina bertanya,
“Putri mana sih, emang gak tau mama lagi sibuk?”
Tanya mama Lina pada Andre.
Andre pun menjawab sambil meraih Lisa dan menggendongnya,
“Itu, lagi bikin parsel. Nanggung Ma, lagi ngelem.”
“Emang banyak bawa parselnya? Jangan banyak-banyaklah. Nanti siapa yang pegang? Kan kita cuma bertiga, Dre,”
kata mama Lina, dengan suara tinggi.
Mendengar pernyataan mamanya, Andre pun tidak menjawab. Dia sempat termenung. Lalu di gendongnya Lisa dan di bawanya ke luar dari kamar.
Andre kembali ke ruang tengah bersama Lisa yang di gendongnya.
Kemudian Lisa pun turun dari gendongan Andre. Lisa berjalan ke arah om Faisal dan duduk di pangkuannya.
Andre duduk di lantai bersama bahan-bahan parsel yang berserakan di lantai.
Sementara Putri masih berjuang membuat susunan parsel.
Putri menolehkan wajahnya ke arah Andre. Di lihatnya wajah kakaknya yang sedikit cemberut.
Udah nih Bang, udah selesai,”
kata Putri.
Putri pun kembali bicara,
“Lo kenapa Bang, muka lo kok di tekuk lapan? Jelek, tau.”
“Tau deh Put, gue bingung sama Mama. Masa kalo lamaran yang dateng cuma kita bertiga aja,”
kata Putri.
Andre pun menarik nafas panjang, lalu berkata,
“Kata mama enggak, cuma kita bertiga. Mangkanya mama bilang, gak usah bawa parsel banyak-banyak, ribet katanya.”
“Yaaaa, padahal curut-curut udah seneng banget bakal ikut, uda pada milih-milih baju, yach, bakal pada mewek deh,”
kata Putri.
“Gue juga bingung Put, padahal kita kan masih ada nenek, ada tante, om, kenapa mereka gak Di ikut sertain sih ama mama? Kayanya enteng banget deh acara gue ini,”
kata Andre dengan wajah sedih.
Mendengar keluh kesah Andre, Putri pun menggaruk-garukkan kepalanya, walau sebenarnya tidak terasa gatal.
“Udahlah Bang, sabar aja, ikutin aja apa kata mama. Kan mama semua yang ngurusin, kita tinggal tau beresnya aja. Gue pengennya lo juga bersikap pengertian dikitlah ke mama. Mungkin juga mama itu stres bang, ngurus ini, itu belom juga urusan kita dan rumah ini. Gue aja gak kebayang kalo gue ada di posisi mama, sanggup gak gue kaya gitu?”
jelas Putri.
Andre pun menghela napas panjang, dan meninggalkan Putri sendirian di ruang tengah.
Sementara, Andre melangkah ke lantai atas menuju kamarnya.
Segera mbok Yem membereskan sisa-sisa potongan kertas dan pita, serta plastik.
Mbok Yem memasukkan semua sampah ke dalam plastik dan segera membuang ke tempat sampah yang berada di luar rumah.
Putri pun mengambil sapu untuk membersihkan lantai, dan mengelap meja.
Sesampainya Putri menyapu lantai ke arah om Faisal, Putri membungkukkan tubuhnya dan berbisik ke telinga om Faisal.
“Cuma bertiga aja yang nanti ikut pergi, om, aku, abang ama mama doang,”
bisik Putri.
Om Faisal pun hanya terdiam. Lalu dia berkata pada Lisa,
“Ica temenin papa aja ya di rumah. Kalo Ica pergi, papa ama siapa? Kan papa jadi sedih.”
Putri pun menimpali perkataan om Faisal.
__ADS_1
“Iya Lisa, kamu temenin papa aja di rumah, kasian papa di tinggal sendirian.”
“Iya deh, Lisa temenin papa aja,”
kata Lisa sambil memeluk om Faisal.
Putri pun tak mau kalah. Dia pun ikut memeluk om Faisal.
Dengan rasa terharu, om Faisal tersenyum dan membelai rambut Lisa dan Putri.
Hari semakin sore, Andre keluar dari kamarnya dan berdiri di atas balkon rumahnya.
Andre termenung sambil memandangi jalanan yang hiruk pikuk oleh orang-orang yang melaluinya.
Pikirannya melayang ke arah Rika. Sedang apa kekasihnya saat ini.
Di lain sisi, Andre memikirkan sikap mamanya yang terlalu menganggap enteng urusannya.
Tapi bagaimana pun, dia tidak sanggup melawan. Tanpa bantuan mamanya, tidak mungkin dia berada di titik ini.
Di lantai bawah, mama Lina keluar dari kamarnya dengan membawa beberapa berkas, dan di letakkan di atas bupet.
Mama Lina berjalan menuju ruang tengah, di mana om Faisal, Lisa dan Putri berada.
Ketika mama Lina melihat Putri, mama Lina pun berkata,
“Put, jam 7 kita berangkat ya, bilang ke abangmu sana!”
“Iya Ma,”
jawabnya dengan singkat.
Putri pun bangkit dari duduknya dan bergegas menuju kamar Andre.
“Bang, Baaaaang!!! Lo di mana sih?”
Panggil Putri dengan berteriak.
“Apaan, gue di sini,”
Andre pun menjawab panggilan Putri dengan berteriak.
“Kata mama, Siap-siap, jam 7 kita berangkat,”
kata Putri.
Andre mendengarkan perkataan Putri, tetapi tetap saja, dia tidak menolehkan kepalanya.
Putri pun melangkah mendekat, di mana Andre berdiri.
Putri juga ikut berdiri di balkon, dan juga menikmati pemandangan di luar.
“Kenapa lo bang, kok lo bengong? Mending lo siaip-siap, mandi kek atau apa kek,”
kata Putri.
Andre menelan ludahnya. Tatapannya saat itu kosong.
Melihat sikap kakaknya yang terasa aneh di matanya, Putri memberi saran pada Andre,
“Eh bang, gue pilihin ya baju yang bakal lo pake entar, gimana?”
Andre menarik napas panjang, dan menjawab dengan singkat,
“Terserah lo aja.”
Putri pun berjalan menuju kamar Andre dan masuk ke dalamnya.
Di bukanya lemari pakaian Andre, dan memilihkan baju yang akan Andre pakai.
Setelah menemukannya, Putri pun keluar dari kamar Andre dan membawa beberapa potong kemeja.
Putri memberikannya pada Andre dan berkata,
“Coba deh bang, lo lebih milih yang mana? Yang putih, coklat atau hitam?”
Andre pun semakin geram. Andre menarik napas dalam-dalam.
Di dorongnya Putri ke dinding dan Andre memukul dinding di atas kepala Putri sambil berkata dengan berbisik,
“GUE BILANG TERSERAH ELO, NGERTI!!!
Melihat sikap Andre yang mulai arogan, mata Putri mulai berkaca-kaca.
Andre pun tersadar melihat mata Putri yang mulai basah. Segera ia lepaskan genggamannya dari bahu Putri.
Dan Putri pun berlari meninggalkan Andre yang masih berdiri di atas balkon.
__ADS_1