Mertua Yang Jahat

Mertua Yang Jahat
Menjemput om Faisal.


__ADS_3

Keadaan om Faisal sudah membaik. Dokter pun sudah memberikan izin bahwa om Faisal susah boleh pulang.


Karena saat itu masa cuti Andre sudah habis, Andre pun sudah mulai masuk kerja.


Begitu pun dengan Putri, adik Andre. Putri yang sudah meminta izin pada tempat les salonnya sebanyak satu minggu, hari itu sudah mulai masuk.


Sedangkan mama Lina masih sibuk dengan urusan bisnisnya dan para karyawan suaminya, yaitu om Faisal.


Untuk menutupi kebusukannya, mama Lina meminta Andre agar suaminya di jemput Rika.


Sedangkan Andre juga lupa memberitahukan pada Rika, bahwa itu adalah permintaan mamanya, bukan dirinya.


Rika pun senang, saat itu kekasihnya meminta tolong, agar dirinya menjemput papa tiri kekasihnya.


Saat itu, Rika masih berada di rumah. Dia sedang mempersiapkan diri untuk menjemput om Faisal.


Tidak lama kemudian, suara pintu di ketuk dari luar.


Rika bergegas melangkahkan kakinya menuju ruang depan, dan membuka pintu. Ternyata, yang datang adalah Ricard.


“Hai, apa kabar?”


Tanya Ricard pada Rika.


“Sebenarnya kabarku sedang tidak baik-baik saja. Oh ya, ada apa kamu datang ke sini? Hari ini kan aku libur,”


Kata Rika.


“Oh ya, kenapa kamu tidak memberi tahu saya sebelumnya?”


Tanya Ricard.


“Ayo masuk, aku lagi beres-beres mau pergi,”


Kata Rika sambil mempersilakan Ricard masuk ke dalam rumah.


“Maaf, tidak usah, saya tunggu kamu di luar saja, saya merasa sungkan, jika hanya kamu yang berada di rumah sendirian,”


Kata Ricard.


“Owh, ya udah, kamu di teras aja deh, nanti aku bikinin minum dulu,”


Kata Rika sambil berlalu meninggalkan Ricard sendirian di luar.


“Mau ke mana dia? Lalu, apa yang harus aku lakukan terhadapnya?"


Gumamnya dalam hati.


Dengan terburu-buru, Ricard mengambil ponselnya dari saku celananya, dan menghubungi seseorang.


Tapi sayang, ponsel yang di hubungi Ricard sedang tidak aktif.


Segera Ricard menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku celananya, manakala Rika sudah datang dengan membawa segelas minuman dingin.


“Di minum dulu nih, biar seger,”


Kata Rika, sambil meletakkan minuman itu di samping Ricard.


Ricard pun meminumnya, sedangkan Rika duduk di hadapannya.


Rika pun menanyakan tentang perihal Ricard yang datang ke rumahnya, jikalau dirinya saat itu libur kerja.


“Sekarang aku libur, maap ya,gak nagsih kabar sebelumnya. Tapi sekarang ini aku mau jemput seseorang, apa kamu mau ikut?”


Tanya Rika.


Alangkah bingungnya Ricard, saat Rika bertanya, dia merasa terjebak dengan situasi sulit.


“Kamu hendak menjemput siapa?”


Tanya Ricard.


“Aku mau menjemput papanya Andre, om Faisal, saat ini dia di rawat, dan sudah di perbolehkan pulang oleh dokter. Karena semuanya pada mulai sibuk, Andre minta tolong ma aku, agar menjemput papanya, sedangkan aku saat ini kan libur, kenapa gak aku lakukan?”


Jelas Rika menerangkan.


Bertambahlah kegelisahan di hati Ricard, serba salah.


Jika dia membantu Rika ikut serta dalam penjemputan om Faisal, Ricard takut dirinya di kenali.


Tapi jika Ricard tidak ikut serta dengan Rika, Ricard merasa, Rika akan menaruh curiga.


Ricard mengambil nafas dalam-dalam. Rika pun memperhatikan tingkah Ricard.


“Kenapa kamu gak jemput Erna aja, anter dia, mungkin sekarang dia lagi nunggu kamu,”


Kata Rika.


Menurut Ricard, Rika telah menjawab teka-teki yang telah membingungkannya saat itu.


Tapi rasa takut jika di curigai lebih tinggi, rasa bingung masih saja berada dalam hati Ricard.


Ricard hanya terdiam mendengar ide Rika saat itu.


“Ya udah, terserah lo aja deh, tapi gue kasian aja ama temen gue, takut dia nungguin,”


Kata Rika kemudian.


Untuk menghilangkan rasa curiga, Ricard berusaha mengambil jalan tengah.


“Bagaimana jika kamu denganku menjemput Erna, lalu ku antar kau ke rumah sakit, kemudian aku antar Erna bekerja, bagaimana menurutmu?”


Tanya Ricard pada Rika.


“Ide yang bagus,”


Kata Rika.

__ADS_1


Rika bergegas ke dalam untuk mengambil tas ranselnya, sementara Ricard beranjak dari duduknya dan melangkah masuk ke dalam mobilnya.


Tidak lupa Rika mengunci pintu rumahnya, dan menyusul Ricard masuk ke dalam mobil.


Kemudian mereka pun pergi meninggalkan rumah Rika.


Ricard mengemudikan mobilnya dengan perlahan. Di kala mobil Ricard mendekati jalan menuju rumah Erna, ternyata Erna sudah menunggunya.


“Itu Erna,”


Kata Rika pada Ricard.


Ricard pun membunyikan klakson mobilnya, hingga membuat Erna menoleh ke arah mobil yang mereka tumpangi, yang tak lain adalah Rika dan Ricard.


Erna melangkah mendekati mobil Ricard, dan Ricard pun berkata pada Erna,


“Masuk Er,”


Kata Ricard.


“oke,”


Jawab Erna.


Segera Erna masuk ke dalam mobil dengan membuka pintu belakang. Erna pun melihat Rika sudah ada di dalam mobil.


“Hai, ke mana aja lo? Sok sibuk deh lo!”


Sapa Erna pada sahabatnya, yaitu Rika.


“Iya, sori ya, gue lagi sibuk ma Andre, maklumlah, gue lagi gencetan senjata, ha ha ha,”


Kata Rika.


“Ya, mudah-mudahan hubungan lo baik-baik aja deh,”


Balas Erna.


Ricard tetap fokus dengan kemudinya, tetapi dia pun tetap menyimak segala obrolan Rika dan Erna.


Sampailah mereka di depan rumah sakit. Rika pun turun dari mobil Ricard dan berpamitan dengan Erna dan Ricad.


“Gue duluan ya Er, oh ya, makasih ya bang Ricard, udah mau nganter, maaf ya ngerepotin,”


Kata Rika pada mereka yang tak lain adalah Erna dan Ricard.


“Its oke,”


Kata Ricard.


Mereka pun berlalu, meninggalkan Rika sendiri di area rumah sakit.


Melihat mobil Ricard sudah menjauh, Rika pun masuk ke dalam gedung rumah sakit.


Rika berjalan melalui lorong-lorong rumah sakit, yang saat itu banyak pasien berkunjung.


Rika mengetuk pintu dan memberi salam. Ternyata di dalam masih ada dokter dan perawat dengan memeriksa om Faisal.


Rika berdiri di dekat pintu, sementara dokter masih memeriksa.


Dokter pun bertanya dengan Rika,


“Apa kamu yang akan menjemput bapak Faisal?”


“Iya, Dok,”


Jawab Rika dengan singkat.


“Iya, hari ini pak Faisal sudah bisa pulang, kondisinya sudah membaik, jadi masih bisa rawat jalan, walau sebenarnya belum pulih seratus persen,”


Kata dokter.


Om Faisal tidak menyangka jika yang menjemput dirinya adalah Rika.


Om Faisal berpikir, mungkin istrinya akan menyuruh anak buahnya untuk menjemput dirinya, ternyata bukan.


“Jadi, apa yang harus di lakukan di rumah dok? Maksudnya, dalam perawatannya?"


Tanya Rika pada dokter.


Dokter menerangkan detail apa yang harus di lakukan untuk menjaga dan merawat om Faisal kala berada di rumah, Rika mendengarkan dan menyimak setiap perkataan dokter dengan seksama.


Om Faisal pun ikut menyimak perkataan dokter.


Setelah menerangkan, dokter dan perawat pun meninggalkan om Faisal dan Rika.


Rika mencari kursi roda di luar kamar. Setelah mendapatkannya, Rika pun kembali ke dalam kamar.


Rika menuntun om Faisal agar duduk di kursi roda.


Sementara bahunya menggendong tas besar yang berisi pakaian om Faisal dan barang-barang lainnya.


Sebenarnya, om Faisal merasa tidak pantas jika saat itu Rikalah yang menjemput dirinya pulang dari rumah sakit.


Seperti tidak etis yang om Faisal rasakan. Bagaimana pun kedudukan Rika adalah orang lain.


Rika pun mendorong kursi roda yang di duduki om Faisal dengan perlahan, menuju teras rumah sakit.


Rika pun mencari taksi. Kemudian taksi pun berhenti di depan mereka.


Rika menuntun om Faisal untuk masuk ke dalam taksi di bantu perawat dan sopir taksi.


Tidak lupa Rika memasukkan tas besar ke dalam bagasi. Dan Rika pun duduk si samping om Faisal.


“Terima kasih ya, kamu udah mau jemput Om, oh ya, siapa yang menyuruhmu untuk menjemput? Andre atau mama Lina?”


Tanya om Faisal pada Rika.

__ADS_1


Rika menjawab,


“Andre Om, dia minta tolong untuk jemput Om, karna agak ada orang jadi dia minta tolong sama aku. Dan kebetulan hari ini aku libur, jadi kenapa enggak, ya kan?”


Om Faisal terdiam seketika. Jawaban Rika berbeda dengan ucapan istrinya.


Mama Lina bilang, dia yang akan meminta tolong pada Rika, bukan menyuruh Andre minta tolong sama Rika, ada selisih ucapan di sini.


Om Faisal mengalihkan pembicaraan, dengan menanyakan sesuatu yang lain pada Rika.


Rika, apa tujuanmu selanjutnya dengan Andre? Kalo bisa, jangan lama-lama deh,”


Kata om Faisal.


“He he he, bisa aja Om. Aku sih terserah Andre. Gimana maunya dia aja. Kalo mau cepet, ayooo, kalo santai juga ayooo,”


Jawab Rika.


“Iya, tapi kamu harus punya prinsip. Runtun Andre, agar gak selalu bergantung sama mamanya,”


Kata om Faisal.


Tibalah mereka sampai di depan rumah Andre. Sopir taksi membantu membopong om Faisal, sementara Rika membawa barang-barang.


Tidak ada orang di sana. Hanya mbok Yem, Lisa dan Dicky yang sedang menikmati acara si TV.


Mereka menyambut kedatangan kami ke rumah. Setelah mbok Yem membantu sopir memapah om Faisal masuk ke dalam kamar, mbok Yem bergegas ke dapur.


Rika duduk di ruang tamu sambil ikut menikmati acara TV.


Tak lama kemudian mbok Yem datang dengan membawa minuman segar.


Rika dipersilakan untuk meminumnya.


“Silakan non, di minum,”


Kata mbok Yem.


“Iya mbok, makasih,”


Jawab Rika.


Rika pun meminumnya dan menaruh kembali di atas meja.


Rika bertanya pada mbok Yem,


“Mbok, yang lain ke mana?”


“Bang Andre udah mulai masuk kerja, Putri juga sudah mulai masuk les. Karna mereka kan sudah satu minggu enggak aktivitas,”


Jawab mbok Yem.


“Mamanya ke mana mbok?”


Tanya Rika kembali.


“Waduh, ibu mah super sibuk non, kalo pagi jadi pengawas di sini, itu non, pengawas buat pegawainya bapak. Trus malem dia urus bisnisnya, ya, pulangnya nanti tengah malam, kalo sekarang bang Andre udah mulai masuk kerja, berarti mereka berdua juga pulangnya malem non,”


Jelas mbok Yem.


Waktu sudah berganti, dari sore menjadi malam. Waktu telah menunjukkan pukul 8 malam. Rika pun hendak meminta izin pada mbok Yem untuk segera pulang.


Rika melangkah ke arah dapur dan mendekati mbok Yem.


Rika berkata,


“Mbok, aku pamit ya, salam buat semua. Gak usah bilang om Faisal, biar aja, biar dia istirahat aja, kasian.”


“Kenapa gak makan malam dulu non? Ini saya lagi siapin makan malam buat kita semua?”


Tanya mbok Yem.


“Gak usah mbok, saya masih kenyang, saya pamit sekarang ya,”


Kata Rika.


“Bang Dicky, ade Lisa, kak Rika pulang dulu ya,”


Sapa Rika pada mereka.


Dicky pun mengantar Rika sampai pintu gerbang. Dan Rika meninggalkan rumah Andre.


Dalam perjalanannya pulangnya, Rika termenung, memikirkan kekasihnya Andre, dan segala perbincangan tadi dengan om Faisal.


Rika merasa ada suatu kejanggalan. Tapi entah di mana, Rika pun menepis semua itu. Tapi bagaimana pun juga, bayang-bayang mama Lina selalu menghantui Rika. Serta segala ancaman mama Lina, selalu terngiang di telinganya.


Rika pun sampai di rumahnya. Segera ia masuk dan mengunci pintunya.


Rika melihat ke luar rumah melalui jendela rumahnya. Ternyata ada seorang laki-laki berdiri persis di bawah pohon besar yang tumbuh tepat di depan rumahnya.


Sepertinya pria itu orang suruhan mama Lina. Lagaknya seperti Hilal yang dulu pernah di perintahkan mama Lina untuk mengawasi gerak geriknya. Sampai-sampai siapa pun yang datang ke rumahnya, wajib di laporkan.


Rika mengambil ponselnya yang berada di saku celananya. Kemudian dia menekan tombol yang ada di sana.


Dan tersambunglah pada ponsel Ando, adik laki-laki Rika.


“Halo, Ndo, lo bisa gak ke rumah gue sekarang? Temanin gue malam ini, perasaan gue gak enak nih,”


Kata Rika.


Di seberang sana, Ando menjawab telepon dari kakaknya, yaitu Rika.


“Oke, siap. Tunggu ya,”


Kata Ando.


Bergegas Ando akan ke rumah kakaknya yang tidak jauh dari tempat tinggalnya.

__ADS_1


__ADS_2