
Acara pertunangan Rika dan Andre di mulai. Mereka saling memperkenalkan diri satu sama lain. Di awali dari keluarga Rika.
Iyan yang memimpin acara itu dengan penuh hitmat.
Kini giliran keluarga Andre. Mama Lina memperkenalkan dirinya, kemudian anggota keluarganya, yaitu Andre, Putri dan Diki.
“Saya, nyonya Lina, sebagai mamanya Andre, ini Andre anak saya, ini Putri, adiknya Andre dan Diki, adik Andre juga. Mohon maaf jika kedatangan kami hanya kami saja, tidak beserta papanya, karena kondisi suami saya belum sembuh total. Dan saya mewakili keluarga besar Andre meminta maaf atas kejadian sebelumnya.”
Kedua belah pihak mendengarkan ulasan yang di berikan oleh mama Lina.
Mama Lina pun memberikan dua buah parsel dan satu kotak cincin, yang akan di berikan untuk Rika.
Melihat yang di serahkan mama Lina hanya itu, Andre tertunduk malu. Ia memainkan jari jemarinya sambil menundukkan kepalanya.
Kemudian mama Lina berucap pada halayak,
“Maaf, hanya ini yang kami persembahkan untuk keluarga di sini, anggap saja ini semua hanya simbol. Oh ya, ini ada uang sembah, tolong di terima oleh calon mempelai wanita.”
Mama Lina berdiri sambil memegang kotak cincin dan amplop.
Kemudian bang Iyan menuntun Rika agar berdiri, Rika pun berdiri. Mereka berdiri berhadapan.
Mama Lina membuka kotak perhiasan dan mengambil cincin dari dalam kotak itu.
Kemudian Putri beranjak dari duduknya, dan mengambil alih kotak tersebut, kemudian duduk kembali.
Setelah itu, mama Lina meraih tangan Rika.
Saat mama Lina meraih tangannya, Rika pun gemetaran, dan telapak tangannya basah, karena berkeringat.
Dia tidak menyangka akan seperti itu. Begitu lembut sentuhan tangan mama Lina.
Kemudian mama Lina memakaikan cincin di jari manis Rika. Lalu Iyan memberikan aba-aba, agar Rika mencium tangan mama Lina.
Rika pun mengikuti aba-aba dari Iyan. Di ciumnya tangan mama Lina yang terasa lembut itu.
Mama Lina pun memberikan tangannya dengan pasrah. Dan yang tidak di sangka, setelah Rika mencium tangan mama Lina, mama Lina menggenggam tangan Rika dengan penuh kehangatan.
Semua anggota keluarga dari ke dua belah pihak menyaksikannya, dan berucap secara bersamaan,
“Alhamdulillah.”
Erna pun mulai beraksi. Erna mengambil kamera dan mengambil gambar.
Mama Lina tidak lepas dari senyumnya. Tangannya masih menggenggam tangan Rika. Kemudian mama Lina dengan perlahan memeluk Rika, di saksikan oleh seluruh anggota keluarga yang hadir di sana.
Di perlakukan bak ratu, Rika mengucapkan terima kasih pada mama Lina. Sebelum mama Lina melepaskan pelukannya dari tubuh Rika, dan mendengar apa yang Rika ucapkan, mama Lina pun berbisik di telinga Rika,
“Heh, jangan besar kepala ya. Ingat, permainan sedang di mulai, ini baru awal.”
Saat itu juga Erna segera mengambil gambar. Momen itu adalah momen yang tidak di sangka - angka.
Mama Lina melepaskan pelukannya dari tubuh Rika. Tidak lupa, senyumnya pun masih terukir manis di bibirnya.
Tapi tidak bisa di bohongi, wajah Rika lambat laun berubah. Nampak wajah ketakutan di sana. Wajah ketakutan dan kegelisahan yang terpancar di wajah Rika.
Erna pun merasakan perubahan sikap Rika. Agar tidak lebih kentara, saat mengambil gambar, Erna meminta Rika agar tersenyum.
“Rika, hadap sini Rik, senyum Rika,”
Kata Erna, yang terus mengambil gambar dari segala sisi ruang.
Untuk mengelabuhi keadaan, mama Lina menggandeng pinggang Rika. Semakin menempel tubuh mereka, Rika semakin gemetar.
Tubuhnya pun mulai mengeluarkan keringat jagung.
Tiba-riba mama Lina berbisik di telinga Rika dengan mendekatkan wajahnya pada wajah Rika,
“Nikmatilah malam ini, Rika! Bersenang-senanglah!”
Rika masih berusaha menahan rasa takutnya di hatinya. Sampai akhirnya dia merasa tidak kuat, dan akhirnya Rika meminta izin untuk ke kamar mandi.
__ADS_1
“Maaf ya, semua. Aku izin ke kamar mandi dulu,”
Kata Rika.
Dengan tergesa-gesa Rika memisahkan diri dari yang lainnya dan bergegas ke kamar mandi.
Tapi tidak seorang pun dari mereka yang mencurigainya. Mereka hanya mengira bahwa Rika ke kamar mandi hanya untuk buang air kecil.
Sesampainya di kamar mandi, segera Rika menutup pintunya. Rika duduk di atas closed.
Rika terdiam di sana, rasa takut menyelimuti hati dan pikirannya. Dan Rika pun tidak tahu apa yang akan dia lakukan.
Walau sebenarnya, Rika sudah memahami apa maunya mama Lina, tapi dia berusaha tetap bertahan.
Dia berusaha mempertahankan cintanya terhadap Andre, walau Andre pun tidak tahu sama sekali, seberapa beratnya pertaruhan itu.
Sama seperti saat ini, saat-saat yang sungguh menegangkan. Saat di mana dia berhadapan langsung dengan mama Lina, mamanya kekasihnya, walau terlihat baik tapi sesungguhnya tidak.
Sedangkan dirinya harus bersikap santai, ramah, seakan-akan tidak ada tekanan. Sungguh amat sulit bagi Rika.
Di ruangan lain, merek masih asyik berbincang-bincang dan foto bersama.
Kemudian Nadin mengalihkan mereka agar menyantap hidangan yang sudah di sajikan.
Iyan mempersilakan Andre untuk memulai menikmati hidangan. Di susul dengan mama Lina, Putri dan Diki.
Setelah semua keluarga Andre telah mengambil makanan, kemudian di susul oleh Beni, Ando dan yang lainnya.
Erna baru tersadar bahwa di ruangan itu tidak ada kehadiran Rika.
Erna memperhatikan ke sekelilingnya, untuk memastikan keberadaan Rika.
Setelah yakin bahwa Rika tidak berada di ruangan itu, Erna bertanya pada Iyan,
“Bang Iyan, Rika mana?”
“Tadi sih bilangnya mau ke kamar mandi,”
“Tapi kok lama banget bang ke kamar mandinya,”
Jelas Erna.
“Coba kamu liatin sana, masih di kamar mandi atau enggak?”
Perintah Iyan.
Segera Erna mengikuti perintah Iyan, Erna melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.
Ternyata, mama Lina memperhatikan gerak-gerik Erna.
Mama Lina mengingat siapa Erna. Tapi saat itu, sikap mama Lina biasa-biasa saja terhadap Erna.
Belum saatnya mama Lina memberikan tekanan terhadap Erna, pikirnya.
Erna masih mencari keberadaan Rika.
Erna mengetuk pintu kamar mandi. Ternyata pintu itu tidak tertutup rapat.
Erna membuka pintu kamar mandi, yang ternyata kosong. Rika tidak berada di sana.
Erna mencoba mencari Rika ke kamar tidur.
Erna membuka pintu kamar tidur Rika secara perlahan, ternyata Rika ada di dalamnya.
Erna membuka pintu kamar dengan perlahan, dan melangkah masuk.
Erna mendekati sahabatnya yang tengah duduk terdiam, memandangi cermin yang berada di hadapannya.
Erna duduk di belakang Rika, tetapnya di tepi tempat tidur.
“Lo kenapa Rik, yuk kita gabung lagi ke depan, masa calon pengantinnya malah kabur,”
__ADS_1
Ajak Erna.
Rika mengeringkan keringatnya di pelipis dengan tisu.
Setelah itu Rika mengikuti ajakan Erna. Maka mereka pun keluar dari kamar dan bergabung kembali dengan anggota keluarga yang lain.
Beni berbisik pada Ando,
“Mau-maunya Rika di bawain cuma dua parsel, kecil-kecil pula, parah!”
“Lah, emang napa bang, kan itu cuma simbol aja,”
Kata Ando.
“Simbol sih simbol, tapi kalo dua doang dan kecil-kecil, malu gue! Lo liat aja tuh, paling isinya lima atau enam buah. Apa gak kebangetan?”
Kata Beni.
Mendengar penjelasan Beni, Ando pun terdiam, timbul satu pertanyaan di benak Ando. Kemudian Ando mengutarakannya.
“Trus menurut lo harus gimana Bang?”
Tanya Ando.
“Kita bisa liat keluarga perempuannya, keluarga besar atau kecil? Trus kondisi ekonomi keluarga laki-laki nya gimana? Kalo di liat kan keluarga Andre itu kayanya dari kalangan berada, apa pantes Cuma kaya gini? Sedangkan sambutan dari Rika, lo bisa liat deh, ini termasuk mewah loh, gak sebanding banget ama bawaan mereka. Kayanya Rika di sepelein. Jadi ada kesan keluarga Andre itu kurang menghormati keluarga kita,”
Kata Beni.
Mendengar penjelasan Beni yang panjang lebar, Ando pun mengangguk-anggukan kepalanya.
“Gue jadi pengen tau, berapa besar uang sembah yang mamanya kasih ke Rika,”
Kata Beni.
“Udah lah Ben, jangan terlalu ikut campur ama urusan Rika. Kayanya kalo gitu, lo terlalu keppo, kita harus jaga perasaan Rika, jangan sampe dia sedih. Tugas kita Cuma bantu dia, itu aja,”
Kata Ando.
“Iya, tugas kita bantu dia, tapi kita nilai dong, gimana keluarga calonnya,”
Kata Beni mengelak.
Acara pun selesai. Segera keluarga Andre berpamitan.
Mama mulai berbicara,
“Terima kasih banyak pada tuan rumah, sudah menerima kehadiran kami. Untuk langkah selanjutnya, biar nanti saja bagaimana keputusan Andre dan Rika. Mereka sudah dewasa, biar lah langkah ke depannya mereka sendiri yang memutuskan kapan akan di selenggarakan pernikahannya. Salam hormat saya buat kedua orang tua Rika ya.”
Erna mendengarkan dan tetap menyimak acara di luar kamar. Erna segera mengajak Rika agar mau bergabung kembali.
“Ayo Rik, kita keluar bagi, keluarganya Andre udah mau pamit pulang,”
Ajak Erna.
Dengan menarik nafas panjang, kemudian Rika menghembuskannya secara perlahan. Setelah merasa siap, Rika beranjak dari duduknya, dan ikut mengiringi Erna dari belakang.
Mama Lina dan yang lainnya melihat Rika dan Erna yang baru saja kembali bergabung.
Lalu Iyan berkata,
“Sini Rika, keluarga Andre udah mau pamit pulang.”
Dengan tersenyum yang menyungging di bibirnya, Rika melangkah mendekati Iyan.
Rika menyalami mama Lina walau rasa takut masih menggelayut di hatinya.
Mama Lina pun menyambutnya, dan berkata,
“Ini calon mantu mama, he he he.”
Semua pun bersorak, menandakan sebuah kegembiraan. Walau sebenarnya tidak demikian bagi Rika.
__ADS_1
Hanya Erna yang mengetahui biduk kecaman yang Rika rasakan.