Mertua Yang Jahat

Mertua Yang Jahat
pengakuan Irfan


__ADS_3

Putri tergeletak di tengah jalan. Banyak orang-orang di sekeliling pasar menggerubunginya. Mbok Yem pun panik, kemudian berlari menuju ke tengah jalan menghampiri Putri.


Putri dalam keadaan pingsan. Di kepalanya banyak mengeluarkan darah, kemudian ada juga darah yang keluar dan menempel di celananya.


Mbok yang benar-benar panik saat itu ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan.


Akhirnya beberapa orang security pasar mengangkat tubuh Putri menepi di pinggir jalan, kemudian Mbok Yem pun menyusulnya.


Lalu mereka membawa Putri masuk ke dalam pos. Mbok Yem masih mengikutinya. Salah satu dari mereka menanyakan sesuatu pada Mbok Yem.


“ Ibu siapanya perempuan ini?”


“ saya pembantunya Pak,” jawab Mbok Iyem dengan gemetaran.


Kemudian salah satu dari mereka mengambilkan air minum untuk Mbok Yem. Mereka pun berusaha menenangkan hati Mbok Yem.


Setelah merasa lebih baik Mbok yang mencari ponsel Putri. Mbok Yem meraba saku celana Putri. Setelah mengambil ponsel putri dari sakunya tangan Mbok Yem terkena darah dari celana Putri.


Melihat darah banyak keluar Mbok Yem termenung. Dia sedikit ragu untuk menghubungi orang rumah.


Lalu ponsel Putri pun berdering. Mbok yem tidak berani untuk menerimanya. Tapi ponsel itu terus berdering. Mbok Yem melihat layar ponsel Putri, dari Yayang, nama itu lah yang tertulis di layar.


Dengan ragu-ragu mbok Yem mengangkat panggilan ponsel itu.


“ Ya halo ini siapa?” tanya Mbok Yem.


“ Saya Mbok, temannya Putri,” sahut pria itu dari Saluran telepon.


Mbok Yem pun mengatakan apa yang telah terjadi pada pria itu yang mengaku temannya Putri.


Pria itu pun meminta Sherlock. Karena Mbok Yem tidak paham, lalu mbok Yem meminta Security untuk membantunya.


########


Andre sudah siap untuk berangkat ke rumah Rika. Dia sengaja mengendarai angkutan umum. Rika pun telah menunggunya bersama Iyan dan Beni.


“ Om, Andre berangkat dulu ya, doain ya biar selamat berangkat dan pulangnya,” pamit Andre pada Om Faisal.


“ hati-hati ya di jalan jangan lupa kirim salam untuk mami dan Papinya Rika di sana serta abang-abangnya. Oh ya, ini Om tambahin untuk ongkos kamu di jalan,”


Sahut Om Faisal sambil memberikan selembar amplop coklat.


Andre pun mengambilnya dari tangan Om Faisal sambil tersenyum. “ Makasih ya Om,” kata Andre.


Andre pun bersalaman lalu pergi meninggalkan Om Faisal.


Saat itu cuaca sangat terik. Saking triknya, tubuh Andre tidak dapat membedakan mana cuaca panas, mana rasa grogi.


Ya, ada sedikit rasa khawatir di hati Andre untuk menghadapi keluarga besar Rika. Bagaimana tidak, ia harus menghadapi secara langsung bertemu pada Mami dan Papinya Rika di Lampung. Sedangkan ia hanya seorang diri.


“ Gue harus berani , gua harus tunjukin kalau gue bisa dan gue berani,” bisiknya dalam hati sambil mengepalkan tangannya.


Kemudian Andre pun sampai di Gang depan rumah Rika. Setelah turun dari angkutan umum dan membayarnya, Andre pun melangkah menuju rumah Rika.


Dari kejauhan Andre melihat Rika Iyan dan Beni Tengah duduk di atas teras. Hatinya pun berdegup kencang.

__ADS_1


Langkah Andre semakin dekat dengan rumah Rika maka semakin kencanglah dada Andre.


“ Assalamualaikum,” sapa Andre.


Rika Iyan dan Beni pun menjawab bersamaan, “ Waalaikumsalam.”


Rika melihat Andre yang basah kuyup karena keringat, Rika pun membuatkan air es.


Andre pun duduk di teras kemudian meminum air es buatan Rika seteguk demi seteguk. Lalu 30 menit kemudian mobil travel pun datang.


Rika Iyan dan Andre pun menaiki mobil itu, terkecuali Beni. Karena Beni tidak ikut dengan mereka, Beni yang akan menjaga rumah Rika.


Di dalam mobil travel, Andre mengeluarkan ponselnya, lalu kemudian menonaktifkan. Begitu juga Rika dan Iyan.


Andre memandangi setiap sudut jalan yang dilewatinya. Ia membayangkan bagaimana perasaannya saat ia bertemu dengan orang tua kekasihnya. Andre berharap kebahagiaan yang akan ia dapatkan di sana.


Karena merasa lelah Andre pun tertidur.


Melihat Andre tertidur Rika pun merasa risih. Rika hendak membangunkan Andre tetapi dicegah oleh Iyan.


“ Biarin Ka, Biarin aja dia tidur. Mungkin dia capek,” kata Iyan.


Akhirnya Rika pun mengurungkan niatnya membangunkan Andre. Perjalanan jauh yang sangat melelahkan. Iyan sengaja membiarkan Andre tertidur.


########


Mama Lina Berencana untuk bertemu kembali dengan Dian. Mama Lina menyuruh Herman untuk mengambil semua laporan di akhir bulan di setiap ruko yang ada.


“ Jangan lupa ya kamu ambil ambilin tuh laporan, pokoknya nanti sore saya balik ke sini, semua laporan udah ada di meja kerja saya,” perintah mama Lina pada Herman.


“ termasuk yang di dept Store Bu?”


“ kan saya bilang semua, ya berarti semuanya kamu harus ambil, ngerti nggak sih? Bodoh banget sih kamu! “


Kata mama Lina dengan marah.


Mendengar perkataan mama Lina Herman pun langsung terdiam. Tanpa berkata apa-apa, Herman pun keluar meninggalkan ruang kerja mama Lina.


Sambil memandangi laptopnya, mama Lina menikmati secangkir kopi yang dibuatkan oleh Paijo. Saat itu Paijo sedang melakukan tugasnya yaitu memasukkan barang ke dalam dusnya kemudian ia menempel barcode.


Herman mendekatinya lalu bertanya,


“ Jo, mau ikut nggak?”


Paijo pun menggelengkan kepalanya tanpa menjawabnya.


“ Nelagu lu, Kenapa lu nggak mau ikut?” tanya Herman dengan kesal.


“ Kalau aku ikut sampeyan, pekerjaan aku terbengkalai, dan pekerjaanmu selesai. Enak di kamu dong!” jawab Paijo sambil membuang muka.


“ Tapi kan enak Jo, kita bisa jalan-jalan dulu,” kata Herman merayu.


“ Emoh aku!” jawab Paijo.


Mama Lina melihat ke arah luar ruang kerjanya. Ya melihat Herman sedang asyik berbincang-bincang dengan Paijo.

__ADS_1


Dengan marah mama Lina memanggil Herman,


“ Herman!!! Kamu Kapan berangkatnya???”


“ Iya Bu segera,” jawab Herman dengan singkat.


Herman pun berlari menuju keluar dan memanaskan mobil. Tidak lama kemudian Herman pun pergi melaksanakan perintah mama Lina.


######


Satu jam kemudian, pria yang mengaku temannya Putri pun tiba di pos satpam Pasar tradisional itu.


Ia memperkenalkan diri pada mbok Yem. Sambil mengulurkan tangannya pria itu berkata,


“ Saya Irfan Mbok, temennya Putri. Tepatnya, saya adalah calon suaminya Putri.”


Boim sangat terkejut mendengar pengakuan Irfan. Rasanya seperti ditampar atau tersambar petir. Bagaimana Mbok Yem tidak terkejut, Putri masih kecil, usianya masih 17 tahun.


Sedangkan pria yang berdiri di hadapannya mengatakan bahwa dirinya adalah calon suaminya Putri?!


Tubuh Mbok Yem pun bergetar. Butiran keringat seperti jagung membasahi seluruh tubuh Mbok Yem. Ada rasa takut dan bingung di benaknya.


Akhirnya Irfan membawa Putri ke rumah sakit, dan mbok Yem pun ikut serta.


Sesampainya di Rumah Sakit Putri langsung dibawa ke ruang UGD. Irfan dan mbok Yem menunggu di luar.


Lama mereka menunggu. Untuk mengisi kekosongan itu, Irfan berbincang-bincang dengan mbok Yem.


“ Mbak, apa Mbak sudah menghubungi orang rumah?” tanya Irfan.


“ Belum Den, belum sempat,” jawab Mbok Yem dengan gemetaran.


Kemudian mbok Yem melanjutkan,


“ Tadinya saya ingin menghubungi orang rumah lewat ponselnya non Putri, tetapi Aden udah keburu nelpon.”


Mendengar penjelasan Mbok Yem Irfan pun menarik nafas dalam-dalam. Ada rasa lega yang ia rasakan.


“ Mungkin ada baiknya mbok nggak usah kasih tahu orang rumah,” kata Irfan.


“ Lah kenapa Den? Kenapa orang rumah enggak perlu tahu?” tanya Mbok Yem penasaran.


Belum saja Irfan menjawab pertanyaan Mbok Yem, seorang suster keluar dari ruang rawat.


Suster memanggil keluarga Putri.


“Keluarga nyonya Putri!”


Mbok Yem terbelalak mendengar panggilan suster. Kemudian Irfan menarik tangan mbok Yem mendekati suster itu.


“Iya Sus, saya suaminya,” jawab Irfan.


Mbok Yem pun semakin tidak mengerti.


Suster itu berkata,

__ADS_1


“Sslamat ya Pak, kandungan nyonya Putri bisa terselamatkan.”


Mendengar penjelasan suster, mbok Yem jatuh pingsan.


__ADS_2