
Pagi itu mama Lina beserta mbok Yem pergi ke pasar. Mereka berbelanja segala macam kebutuhan rumah tangga, termasuk sayur mayur dan buah.
Tidak biasanya mama Lina ikut pergi ke pasar, karena biasanya yang pergi berbelanja hanya Mbok Yem, itu pun tidak di temani oleh sopir.
Biasanya mbok Yem pergi ke pasar dengan angkutan umum, seperti angkot.
Tapi hari ini sangat berbeda, mama Lina ikut serta, bahkan di dampingi oleh sopir, ya, yang mendampinginya adalah Herman.
Tak jarang mama Lina menyuruh anak buahnya untuk urusan rumah tangganya. Dan biasanya, mama Lina akan terus mengganti orang, agar orang rumah tidak menghafal anak buahnya.
Dan kali ini, mama Lina menyuruh Herman. Kini kedudukan Herman menggantikan Hilal.
Pagi itu keadaan pasar sangat ramai. Mama Lina memilih sayuran, ikan dan buah.
Ada beberapa buah kesukaan om Faisal yang di pilih mama Lina.
Dan tidak lupa, mama Lina membeli sayuran sop, kesukaan Lisa, Ricky dan Rizky.
Setelah berbelanja sayuran, ikan dan buah, mama Lina berpindah dari lorong sayuran ke lorong barang-barang.
Di lorong itu ada beberapa toko emas, dan mama Lina menghampiri beberapa toko, sambil melihat-lihat.
Mama Lina menanyakan beberapa buah cincin kawin, dari model yang satu ke model yang lain.
Tiba-tiba mama Lina tertuju pada satu model cincin emas muda, yang kadar emasnya sangat rendah di banding emas-emas yang lain.
“Yang itu berapa mas? Ada ukurannya gak?”
tanya mama Lina pada pedagang emas.
“Kalau yang ini murah bu, cuma seratus lima puluh ribu, dan cuma dua ukuran aja,”
kata pedagang itu.
“Saya mau yang itu aja deh, tapi saya minta tolong di sepuh lagi ya, biar kinclong,”
perintah mama Lina pada pedagang emas itu.
Pedagang itu kembali bertanya,
“Di sepuh warna apa bu, ini kan udah kuning, ini emas muda bu, delapan belas karat, lebih baik kaya gini, gak usah di sepuh lagi.”
“Di sepuh warna kuning dua puluh empat karat ya, biar serupa,”
jawab mama Lina.
“Oke bu, siap. Tapi pengerjaannya gak sekarang ya bu, besok ibu bisa tinggal ambil,”
kata pedagang emas itu.
“Ya sudah, besok saya kembali lagi, tapi liat besok ya, kalo saya gak sempet, nanti pembatu saya yang ambil,”
kata mama Lina.
Sambil melihat-lihat sekitar, mbok Yem memperhatikan apa yang majikannya lakukan.
Dalam hati dia bertanya,
“Buat apa bu Lina membeli cincin murah kaya gitu, kalo buat lamaran, kenapa cincinnya kaya gitu, pake di sepuh segala.”
Dengan sikap keluguannya, mbok Yem berpura-pura seakan-akan dia tidak memperhatikan apa yang majikannya lakukan.
Mbok Yem melihat-lihat toko yang di sebelahnya, yaitu menjual baju dan daster.
Mama Lina juga tidak menyadari hal itu, bahwa mbok Yem memperhatikan dirinya.
Setelah transaksi selesai, mama Lina melihat ke kanan dan kirinya mencari mbok Yem, yang ternyata ada di sebelah toko emas itu.
Tiba-tiba mama Lina berkata dengan suara keras pada mbok Yem,
“Kamu mau baju yang mana Mbok? Tinggal pilih aja.”
Mendengar suara majikannya, mbok Yem langsung menghampiri, dan berkata,
“he he, ndak bu, saya hanya liat- liat aja.”
Mbok Yem langsung menghampiri majikannya dan mendekat.
“kalo kamu mau juga gak apa-apa, tapi potong gajimu untuk bulan depan!”
Kata mama Lina dengan nada berbisik. tapi ketus.
Mendengar jawaban mama Lina, mbok Yem hanya tertunduk. Mbok Yem tidak berani berkata apa-apa lagi.
Sedikit demi sedikit, mbok Yem belajar memahami karakter majikannya. Dia pun sudah mulai hafal dengan sifat mama Lina.
Bagaimana tidak, lima tahun lebih adalah waktu yang cukup untuk mempelajari sifat seseorang.
ya, mbok Yem bekerja dengan mama Lina sudah lima tahun lebih lamanya, semenjak majikannya tengah hamil Lisa.
jadi, waktu lima tahun itu, mbok Yem berusaha mengimbangi watak dan karakter majikannya, hingga mama Lina pun merasa nyaman dengannya.
Pernah suatu hari, saat hari raya tiba, mbok Yem hendak pulang ke kampung halamannya, tapi mama Lina tidak mengizinkan.
Karena jika hari raya tiba, dan para pembantu rumah tangga pulang kampung, yakinkan bahwa para majikan akan kerepotan dengan pekerjaan rumah.
Maka, saat mbok Yem mengajukan permintaannya pada mama Lina, dia tidak mengizinkan.
Sebagai gantinya, mbok Yem diberi uang dua kali lipat dari gaji yang biasa dia terima.
Awalnya mbok Yem menolak, karena sudah satu tahun dia tidak pulang. Tapi melihat Lisa yang masih kecil, mbok Yem merasa tidak tega. Dan akhirnya mbok Yem menerima kebijakan mama Lina.
Setelah mama Lina membayar separuh harga dari cincin itu, mama Lina dan mbok Yem meninggalkan toko emas tersebut.
Mereka masih saja berkeliling, sedangkan waktu telah menunjukkan pukul 9 pagi. Hingga akhirnya om Faisal menghubungi mama Lina agar segera pulang.
Tiba-tiba ponsel mama Lina berbunyi. Dia pun mengambilnya dari dalam tas. Dan kemudian jarinya menekan tombol terima.
“Ya, halo Pa, kenapa? Iya, tunggu bentar ya, mama masih mau keliling dulu, mau liat-liat.”
Tanpa menunggu jawaban dari suaminya, mama Lina langsung memutuskan saluran ponselnya.
Mbok Yem membuntutinya dari belakang.
Sedangkan Herman menunggu di area parkir. Karena merasa sudah terlalu lama menunggu, Herman menyusul ke dalam pasar, dan mencari mama Lina.
Di kejauhan, Herman melihat mama Lina sedang memilih ikan. Herman pun menghampirinya. Setelah mendekat, Herman sedikit berbisik pada mama Lina.
“Bu, udah jam 9, apa gak kelamaan di sini? Ibu udah 3 jam loh di pasar,”
kata Herman.
“Iya, tunggu sebentar, abis ini deh kita langsung pulang,”
kata mama Lina pada Herman.
Ya, benar saja. Setelah mama Lina memilih ikan dan membayarnya, mereka pun segera pulang.
Di dalam mobil, mama Lina mengingatkan mbok Yem,
“Mbok, nanti langsung masak ya, saya mau pergi. Jangan lupa nanti urus anak-anak ya, kalo Lisa pulang sekolah langsung bikinin susu.”
“Iya bu,”
jawab mbok Yem, sambil menganggukkan kepalanya.
“Dan kau Herman, nanti pas sampe rumah gak usah ikut masuk ya, nanti kita langsung jalan,”
__ADS_1
kata mama Lina pada Herman yang sedang menyetir mobil.
“Baik Bu, saya tunggu depan, “
kata Herman sambil mengangguk.
Mobil yang mereka tumpangi terus berjalan dengan perlahan, karena situasi jalan sangat padat merayap.
“Ya ampun, macet banget ya, kapan sampenya ini? Apa gak ada jalan tikus Man? “
tanya mama Lina sambil menggerutu.
“Maaf Bu, saya gak tau kalo jalan daerah sini, saya juga baru pertama kali ke daerah ini,”
jawab Herman.
Melihat majikannya yang menggerutu, mbok Yem sempat berniat untuk menenangkan, tapi mbok Yem mengurungkan niatnya, agar apa yang dia lakukan tidak salah di mata majikannya.
Mbok Yem pun memutuskan cukup berdiam saja.
Maka, tidak lama kemudian, mereka pun sampai di rumah.
Mbok Yem dengan sigap, membuka gerbang pintu rumah, kemudian Herman mengemudikan mobil masuk ke pekarangan.
Mama Lina dengan gerakan terburu-buru masuk ke dalam rumah, begitu juga mbok Yem, mengikuti mama Lina dari belakang dengan membawa segala macam belanjaan.
Sedangkan Herman menunggu di pelataran rumah.
Om Faisal melihat istrinya pulang dari pasar, segera menghampiri dan berkata,
“Beli apa aja Ma?”
tanya om Faisal pada mama Lina.
“Beli ikan, buah dan sayur Pa. Eh Pa, tadi aku sekalian beli cincin buat Rika, aku masih pesen, belum jadi. Besok katanya. Biar besok mbok Yem aja yang ambil,”
kata mama Lina.
“Oh ya, bagus gak? Kamu beli yang berapa karat?”
tanya om Faisal.
“Yang bagus lah, pokoknya aku beli yang paling bagus Pa, desainnya juga bagus kok. Besok aja liat,”
kata mama Lina.
Mendengar penjelasan mama Lina, mbok Yem hanya terdiam, dan berlalu meninggalkan mereka berdua.
Mbok Yem membereskan belanjaan sambil termenung, mengingat perkataan mama Lina pada suaminya.
Saat itu mama Lina bilang pada suaminya, bahwa dia membeli cincin untuk Rika yang bagus, sedangkan mbok Yem tahu, bahwa cincin yang mama Lina beli, adalah cincin yang paling murah dan kadar emasnya pun rendah.
Mbok Yem hanya mampu mengelus dada, dan mbok Yem segera menyiangkan sayuran, ikan dan buah yang sudah di belinya.
“Pa, mama berangkat dulu ya, doain ya Pa, mama lagi nyoba kontrak di dep store, mudah-mudahan sih barang mama masuk nominasi,”
kata mama Lina.
“Aaah, Papa gak ngerti gitu-gituan Ma, pokoknya papa doain biar bisnis mama lancar, sukses dan mama sehat terus,”
kata om Faisal.
Mama Lina pun mencium tangan suaminya, dan berangkat bersama Herman.
Om Faisal mengantar mama Lina sampai di pekarangan depan, hingga melihat istrinya menaiki kendaraannya bersama sopirnya.
Herman masih berdiri mematung di samping mobil, segera Herman membukakan pintu bagian belakang untuk majikannya, dan segera menutup kembali setelah mama Lina masuk ke dalam mobil.
Herman pun berjalan menuju bagian depan mobil, walau sempat pandangannya melirik ke arah om Faisal.
Om Faisal pun menyapa Herman,
Kata om Faisal pada Herman sambil tersenyum.
Walau kata-kata om Faisal tidak ada maksud apa-apa, Herman tetap merasa salah tingkah.
Terbayang kembali, kejadian malam itu, di mana om Faisal terkapar di pinggir jalan karena ulahnya, dan tiada satu pun yang mengetahui siapa dibalik terkaparnya om Faisal.
Walau di dalam mobil AC tetap menyala, tetapi yang Herman rasakan saat itu tubuhnya terasa panas, hingga wajahnya basah dengan keringat.
Setelah berada di dalam Mobil, dan sebelum Herman mengemudikan kendaraannya, Herman menyempatkan mengeringkan wajahnya yang basah karena keringat dengan sapu tangan yang dia ambil dari saku celana bagian belakang.
Dengan perlahan Herman mengemudikan mobilnya menuju gudang.
Seorang pekerja om Faisal menutup gerbang rumah. Dan tak lama kemudian om Faisal masuk ke dalam rumah dan mengawasi kembali para pekerjanya.
#########
Suasana Singgasana club siang itu tidak begitu ramai. Banyak table yang kosong, dan sebagian karyawan tidak berada di area. Mereka berada di ruang kichen.
Andre duduk di samping Tomi, sambil memainkan korek api yang berada di tangannya.
Sedangkan Santi dan Ema tengah melayani sebagian tamu yang datang.
Tidak lama kemudian ponsel Andre bergetar. Tanda sebagai ada pesan yang masuk.
Andre pun mengeluarkan ponselnya dari saku celananya, dan membaca isi pesan itu.
Ternyata pesan tersebut berasal dari mama Lina, mama kandungnya.
Setelah membaca pesan tersebut, Andre pun tersenyum, dan menunjukkan pesan itu pada Tomi.
“Tom, niii liat, nyokap gue barusan nge wa, lo baca nih,”
kata Andre pada Tomi.
Tomi pun membaca isi pesan tersebut. Setelah membacanya, Tomi pun berteriak sambil berkata,
“Eh sunyetttt, enak bangettt?! Jadi yang tadinya emak lo gak setuju, sekarang malah dia yang ngurusin ***** bengeknya? Luar binasa lo Dre, ha ha ha.”
“Malah pernah beberapa kali nyokap ngundang makan, pernah makan di rumah ama makan di sirkuit, ”
kata Andre.
“Aiiih, ajigile, sumpe lo? Keren banget emak lo maennya di “sirkuit!”
kata Tomi.
Andre pun berkata,
“Ah, biasa aja sih, nyokap gue emang gitu, kalo lagi suka ama seseorang, dia gak mau ngcewain orang itu, dia pengen ngasih yang terbaik yang dia punya. Mungkin nyokap gue udah sayang beneran ama Rika, keliatannya sih begitu, yach, muda-mudahan aja, doain yaTom, biar lancar.”
Mendengar jawaban Andre yang begitu antusias, Tomi langsung mengangkat ke dua tangannya layaknya orang yang sedang berdoa,
“Amiiin ya robbal aalamin.”
Andre pun bertanya pada Tomi tentang keadaan dirinya, sambil bersikap waspada, karena Andre paham apa yang akan Tomi lakukan padanya setelah mendengar pertanyaannya,
“Lo sendiri, gimana hubungan lo sama Santi?”
Mendengar pertanyaan dari Andre, mata Tomi pun terbelalak, Tomi langsung berdiri, dan mendorong serta menendang tubuh Andre yang masih duduk di sampingnya.
Tomi pun berkata dengan suara keras,
“Eh, sialan lo, bangsat! Masa lo kasih gue lepehan lo? Malahan udah di kunyah, gila lo Dre, sarap lo!”
Di perlakukan seperti itu, dan mendengar amarah Tomi, Andre pun langsung bangkit dari duduknya. Andre pun lari menjauh sambil tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
Kemudian, waktu split pun tiba. Seperti biasa, resto sementara di tutup. Dan para karyawan pun beristirahat.
Andre dan karyawan lainnya melaksanakan Shalat asar berjamaah, yang di imami oleh bak Bambang.
Begitu pun dengan karyawati, yang sebagian ikut berjamaah juga.
Setelah melaksanakan Shalat asar berjamaah, Andre segera memisahkan diri dari teman-temannya.
Andre ingin memberi kabar pada Rika tentang rencana yang dia dan mamanya buat.
Andre menuju tangga yang mengarah pada lantai tiga.
Di area itu memang sepi, karena itu adalah tempat pendingin. Tidak setiap karyawan melaluinya.
Andre mengeluarkan ponselnya dari saku celananya, dan menekan beberapa nomor yang ada.
Tidak lama kemudian, tersambunglah pada ponsel Rika.
“Halo sweety, sedang apa kamu?”
Rika pun menjawab pertanyaan Andre di saluran ponselnya.
“Lagi mau berangkat kerja Dre, ada apa?”
“Gini sweety,aku mau kasih kabar baik buat kamu, mama udah beli cincin buat kamu, barusan dia WA aku. Cincin itu bakal aku kasih ke kamu nanti, kita juga udah buat rencana mau ke rumah kamu. Pesen mama sih, bikin sederhana aja, kan keadaan om Faisal belum pulih, jadi yang ke sana paling kita bertiga aja, mama ,Putri ama aku,”
Jelas Andre pada Rika.
Rika pun menyimak setiap perkataan Andre.
Rika pun bertanya kembali,
“Kira-kira emang kapan? Biar aku siap-siap.”
Mendengar kata-kata Rika, spontan Andre berkata,
“Nah, gitu dong, ilangin cuek bebeknya ke aku, ih jadi gemes.”
“Yeeee, lebay deh. Iya kira-kira kapan, kan mami ma papi di Lampung, mereka juga harus dikasih tau. Trus mereka mau ke Jakarta lagi atau enggak, liat keadaan mereka. Oh ya, udah dulu ya, temen ku udah nyamper nih, aku berangkat kerja dulu ya,”
kata Rika.
Andre langsung bertanya,
“Siapa temen kamu yang nyamperin? Erna?”
“Bukan, yang nyamper itu Ricard, cowok yang kamu tonjok itu, baru deh jemput Erna,”
kata Rika.
Mendengar nama Ricard, Andre pun geram, dan mengepalkan tangannya dengan kuat.
“Kenapa kamu masih jalan ama dia? Aku gak suka, kalo kamu masih dekat dengan dia,”
kata Andre.
Mendengar ucapan Andre yang mulai kurang mengenakkan, Rika pun segera berpamitan, tanpa menunggu jawaban dari Andre.
“Ya udah, iya, aku berangkat dulu ya, dadaaaa,”
kata Rika, sambil memutuskan saluran telepon genggamnya.
Ya, benar. Ternyata Ricard sudah menunggu Rika sedari tadi Rika menerima telepon dari Andre. Dan Ricard pun mendengar segala pembicaraan Rika dengan Andre melalui telepon.
Dengan sikap berpura-pura, Ricard mempersilakan Rika masuk ke dalam mobilnya.
Kemudian Ricard pun masuk ke dalam mobilnya dan mengemudinya dengan perlahan.
“Seperti biasa kan, kita jemput Erna dulu,”
kata Ricard.
“Iyalah, jemput Erna dulu, masa langsung. Kalo langsung mending gak usah kamu anter aku, he he he,”
kata Rika.
Mendengar jawaban Rika, Ricard memandang Rika dari kaca depan mobilnya.
“Andai ini semua bukan karna perintah, gak bakal aku mau kaya gini,”
gumamnya dalam hati.
Ricard pun tersenyum, sambil memandang Rika kembali melalui kaca mobil bagian depan.
Melihat gelagat aneh Ricard, Rika pun salah tingkah di buatnya. Rika memegang ujung rambutnya sambil di putar-putar dan melirik ke arah Ricard. Ricard pun kembali tersenyum.
“Apa sih lo liat-liat gue kaya gitu, senyum-senyum segala pula,”
kata Rika tersipu malu, sambil tangannya memukul bahu Ricard.
“apa salahnya saya memandang wajah kamu? Apakah ada larangan?”
Tanya Ricard.
“Adalah, kamu udah mandangin pacar orang,”
kata Rika.
Ricard pun tersenyum. Tangan masih memegang kemudi.
“Selagi pacarnya tidak tau, kenapa tidak?”
Jawab Ricard, sambil tersenyum.
Akhirnya mereka pun sampai di perempatan jalan menuju rumah Erna.
Tidak lama kemudian, Erna pun muncul.
Segera Ricard menepikan kendaraannya di tepi jalan. Dan Erna pun masuk ke dalam mobil di bagian belakang.
“Hai, kalian apa kabar? Kemarin lo ke mana Tik? Kok libur gak bilang-bilang?”
tanya Erna.
“Gue jemput papanya Andre, sorry ya gue gak bilang dulu,”
jawab Rika.
Ricard pun kembali mengendarai mobilnya perlahan, dan tidak lama kemudian dia menambah kecepatannya.
Saat itu jalanan mulai padat merayap. Ada ke khawatiran di hati Rika dan Erna, jika akan telat. Erna pun meminta pada Ricard agar lebih mempercepat laju kendaraannya.
Erna berkata pada Ricard,
“Ricard, ngebut dong, kita biss telat nih.”
“Iya iya, ini aku sedikit ngebut,”
jawab Ricard.
Da benar saja, mereka telat sampai di tempat kerja.
Mereka pun harus siap mendapatkan panggilan dari pak manager. ke duanya di panggil ke ruangan pak manager.
"Kalian ini gimana sih, kenapa telat?"
Tanya pak manager pada Rika dan Erna.
__ADS_1
Mereka pun hanya terdiam membisu. Tapi beberapa saat kemudian pintu ruangan pak manager di ketuk dari luar.
Tak di sangka, ternyata Ricard yang mengetuknya. Ricard pun masuk ke ruangan itu dengan memberikan keterangan palsu.