
Erna tidak menyangka apa yang dia dengar dari mulut Andre. Kata-kata Andre begitu kasar hingga membuat hati Erna ciut.
Bukan hanya Erna yang kaget tetapi Rika pun juga.
Kecewa hati Rika saat mendengar penjelasan dari Andre, bahwa pernikahannya nanti tidak akan ada pesta.
Mereka hanya terdiam, dia tidak menunjukkan kekecewaannya di depan Andre. Karena dari awal Andre datang pun Rika sudah memperhatikan raut wajah Andre yang tidak seperti biasanya.
“ Nanti juga kalian bakal tahu apa yang sedang terjadi di rumah gue, Tapi saat ini gue nggak bisa cerita,” kata Andre menerangkan.
Keceriaan wajah Andre menghilang, dan Rika dapat menangkap itu semua.
“ Ya udah terserah kamu Ndre. Kamu atur aja, aku cuma ikutin rencana kamu,” sahut Rika.
“ Kenapa lo nggak marah Rik? Atas usaha kita selama ini, jalan sana jalan sini, nyari info sana sini, lu nerima begitu aja keputusan Andre?” tanya Erna dengan gemas.
Rika berusaha menenangkan keadaan. Lalu ia berkata,
“ Kan semua itu ada alasannya, kita belum tahu apa yang lagi terjadi di rumah Andre.”
“ Terus langkah selanjutnya apa? Jadi kita bisa lebih santai ya Ndre,” kata Erna yang mulai cengengesan.
Walau hati Erna sebenarnya kesal, tapi ia berusaha untuk bersikap santai di depan Andre.
Andre meneguk kopi yang Rika buatkan, lalu meneruskan pembicaraannya.
“Mama bilang, bikin sederhana aja, yang penting kan akadnya. Tapi saat ini mama lagi enggak bisa di ganggu,” Andre pun menundukkan kepalanya.
Lalu Rika dan Erna saling menatap, tatapan mereka penuh tanda tanya, tapi tak terucap.
Hanya ke dua bahu Rika yang bicara, dia mengangkat kedua bahunya bersamaan.
Andre mengangkat wajahnya dan menoleh ke arah Rika.
“Nanti kamu yang bilang ya sama keluarga kamu, kita enggak bikin pesta,” kata Andre.
Ia menghembuskan nafasnya. Lalu melanjutkan perkataannya,
“Sebenarnya aku malu sama keluargamu, di awal repot banget akunya, mau begini, mau begitu, eh akhirnya zonk.
“Kata siapa zonk? Kalo zonk, berarti kita enggak jadi nikah, ini kan enggak. Kita jadi nikah, cuman enggak ada pesta aja, lalu apa yang di pusingin? Enak lah enggak cape, he he he,” sahut Rika menghibur.
__ADS_1
‘Melihat Rika yang seperti itu, seolah olah ia tidak terluka, membuat hati Andre bangga memiliki dirinya sebagai kekasih.
“Maafin aku Rika, aku enggak bisa bikin kamu seneng,” bisiknya dalam hati.
“Ya udah, nanti kita beresin satu satu. Lagian kita enggak rugi kok, kan kita belum ngasih depe Ndre, cuman sovenirnya uda kebeli setengah, eh dikit deh, kan Awalnya beli cuman buat sample aja, ya udah santai aja lah,” aahut Rika dengan riang.
Erna pun menimpali,
“Nanti kan gue bantu juga Ndre, lo semangat dong. Kalo emang lagi ada tauble di rumah lo, yanlo beresin aja dulu, urusan nikahan lo di sambi aja, kan gue juga bantuin. Nanti soal penghulu biar bang Iyan urusannya.”
Mendengar nama Iyan di sebut, hayo Andre bertambah ciut. Kakak Tika yang satu itu terlalu baik terhadapnya, sampai sampai Andre ada rasa segan di hatinya.
“Aku juga mau ketemu bang Iyan dulu nanti, tapi tanpa kalian ketemunya, males cewek cewek mah ribet,” kata Andre sambil tertawa.
Rika dan Erna pun saling menatap. Erna mengangkat kedua alisnya. Dan Rika pun paham apa maksudnya.
Tiba-tiba Iyan datang. Kedatangan Iyan memecahkan keadaan yang menegangkan. Tetapi tidak bagi Andre.
Andre malah bertambah tegang bertemu Iyan. Karena Andre ada niat untuk membicarakan semua ini pada Iyan, tapi karena menurut Andre waktunya kurang tepat, maka hati Andre menjadi gundah.
“Nah, pas banget nih ada bang Iyan, katanya Andre mau ngomong Bang,” celoteh Erna.
“Ngomong apa Ndre?” tanya Iyan sambil tersenyum.
“Hampir rampung Bang, masih banyak yang harus di ubah dari rencana,” jawab Rika.
“Ya, mudah mudahan semua lancar ya, oh ya, kita ngobrol di dalem aja Ndre,” ajak Iyan pada Andre.
Iyan melihat ada sesuatu yang berat di wajah Andre. Karena itu Iyan mengajak bicara jauh dari Tika dan Erna. Mungkin dengan begitu, ada keluasan Andre untuk bicara.
Mendengar Iyan mengajak Andre untuk ke dalam, Rika malah mencelaknya.
“Eh, kita aja deh yang ke dalem, Bang Iyan ama Andre ngobrolnya di depan aja, kan enak bisa sambil ngerokok, trus cuci mata ama tukang sayur yang lewat, ha ha ha,” kata Rika menggoda.
“Kaki tukang sayurnya cantik dan baik hati kenapa enggak,”
Kata Iyan tertawa.
Rika dan Erna pun masuk ke dalam. Di luar tinggal Andre dan Iyan.
Andre memulai pembicaraan. “Sebenarnya sekarang Andre belum siap Bang buat bicara ama Bang Iyan, tapi karena sekarang ketemunya, ya udah deh sekarang aja.”
__ADS_1
Iyan menyodorkan bungkus rokoknya pada Andre. “Rokok nih Ndre, biar enak ngobrolnya,” kata Iyan.
Andre pun tersenyum, dan meraih bungkus rokok yang Iyan sodorkan padanya, dan mengeluarkan satu batang lalu membakarnya.
Andre menghisap dalam dalam rokoknya, hingga kelakuannya tambah dapat di tangkap oleh Iyan. Sikap yang grogi yang dapat di tangkapnya.
“Kalo kamu belum siap untuk bicara, kita tunda aja, gak papa Ndre, mungkin sifatnya terlalu pribadi, enggak perlu kamu ceritain,” kata Iyan.
“Papa tiriku di rawat Bang, sepertinya kena stroke, jadi enggak bisa bicara,” Andre mulai bercerita.
Mendengar konflik awalnya saja Iyan mulai menarik nafas panjang. Ia memutar mutar batang rokoknya yang menempel di selah jemarinya.
Lalu Andre meneruskan, “Semua ada sebabnya hingga papa sampe kaya gini. Dan saat ini, mama keliatan shok banget, hingga tadi pagi mama enggak mau di ganggu. Sedangkan waktu acara Andre ama Rika tinggal dua bulan lagi. Enggak tau keadaan papa ke depannya gimana. Andre enggak cerita soal papa ke Rika Bang, biar aja dia enggak usah tau, kasian, takut kepikiran. Jadi tadi Andre bilang ke Rika, kalo nanti kita enggak usah bikin pesta, yang penting akadnya aja. Tapi alhamdulillah Rika mau ngerti.”
Andre menghentikan ceritanya. Ia membakar rokok yang ia ambil dari bungkus rokok yang Iyan beri. Di hisapnya dalam dalam, hingga kepulan axapnya lebih tebal.
“Andre minta maap ya Bang, Andre malu sebenarnya ama Bang Iyan dan keluarga, tapi gimana lagi, Andre cuman anak yang enggak mau ngecewain mama,” sahut Andre.
Iyan pun tersenyum, dan menepuk bahu Andre, dan berkata,
“Santai aja Ndre, keluarga kami pun bakal memakluminya. Yang penting sekarang, kesiapan mental kalian dalam mengarungi bahtera rumah tangga ke depannya, bisa jadi, bakal lebih rumit dari ini. Ingat, rumah tangga adalah ibadah terpanjang, jadi kamu harus banyak belajar ya.”
Sungguh sikap Iyan di luar dugaan Andre. Iyan lebih tenang menanggapi kisahnya, semua benar-benar Xi luar dugaan Andre.
Tanpa sadar, Andre menangis, dan Iyan melihat air mata Andre jatuh di pipinya.
Sontak saja Iyan tertawa dan menukul pelan bahu Andre, dan berkata,
“Yang gagah Bro, cengeng kali kau, ha ha ha.”
Dengan cepat Andre mengeringkan air matanya yang jatuh di pipinya, sebelum Rika dan Erna melihatnya.
Mendengar suara Iyan tertawa, Rika dan Erna menjadi penasaran.
“Sebenarnya apa sih yang mereka bicarakan?” tanya Erna pada Rika.
Bukannya menjawab, Rika pun malah balik bertanya,
“Menurut lo, semua ini ulah siapa?”
Sontak saja mereka berdua berkata bersamaan sambil menunjuk ke arah wajah lawannya masing-masing,
__ADS_1
“EMAKNYA!”