Mertua Yang Jahat

Mertua Yang Jahat
Mata-mata.


__ADS_3

Andre sudah kembali dari masjid, dan Rika pun sudah sholat maghrib di rumah.


Rika hendak membeli sate yang sedang mangkal di depan rumahnya. Sedangkan Andre masih berdiri di teras.


“ Kamu tunggu ya aku mau beli sate dulu,”


kata Rika pada Andre.


Tanpa menunggu jawaban dari Andre, Rika pun melangkah keluar dan meninggalkan Andre sendirian di depan teras.


Di seberang sana tukang sate sudah melihat kedatangan Rika, dan Rika memperhatikan wajahnya.


Ya, wajahnya mirip dengan wajah yang Rika lihat pada malam itu bersama Hilal dan Erna.


Terlihat gugup tukang sate itu ketika Rika menghampirinya.


“ Ngapain pakai gugup kalau lu emang benar-benar tukang sate, harusnya senang dong kalau gue beli, “


gumamnya dalam hati.


Tukang sate itu tidak menjawab. Ia hanya melayani Rika. Dan pada saat ia melayani Rika, matanya setiap saat melirik ke wajah Rika.


Rika memperhatikan setiap gerakan tukang sate itu, dan tangan tukang sate itu gemetaran Ketika ia mengetahui bahwa Rika memperhatikannya.


Bukan hanya gerakannya saja yang Rika perhatikan, tetapi seluruh penampilan tukang sate itu dilihatnya dengan seksama.


Melihat gerakan tukang sate itu yang gemetaran, Rika pun tersenyum sinis.


Setelah selesai tukang sate itu pun menyerahkan sate buatannya yang sudah matang, sambil berkata,


“ Ini Mbak sudah selesai, pakai lontong kan? “


“ Iya Bang pakai lontong, oh iya sate ini nggak diracun kan? Karena yang makan sate ini bukan cuma saya, tapi sama pacar saya juga. Kamu tahu kan siapa pacar saya, “


Tanya Rika dengan sindiran.


Sambil mengambil uang pembayaran, tukang sate itu pun berkata,


“ Saya nggak ngerti maksud Mbak apa. “


Rika pun tertawa sambil mengibas rambutnya.


“ Ah kamu Bang. Sampai kapan kamu jadi budaknya nyonya besarmu? Hati-hati Bang, nanti suatu saat kamu bakal ditendang dia, ketika kamu sudah tidak ada manfaatnya baginya, “


Kata Rika, memperingati tukang sate itu.


Tukang sate itu pun hanya terdiam.


Rika menoleh ke arah Andre yang berdiri di depan teras. Rika menunjuk dengan jarinya sambil berkata pada tukang sate itu,


“ Kamu tahu dia siapa? Dia adalah pacarku. Dia adalah anak majikanmu, jika dia ikut memakan sate ini yang kalau memang beracun, dia akan mati dan bukan cuma aku. “


Setelah mendengar ucapan Rika, tukang sate pun segera bergegas, yang sebelumnya membereskan dagangannya. Tukang sate itu meninggalkan tempat itu.


Dengan hati bahagia Rika pun berlari kecil menuju rumahnya sambil bergumam,


“ mampus lo! Gue racunin pikiran lo hahaha. “


Andre merasa heran melihat Rika tersenyum senyum sendirian ketika ia masuk ke dalam rumah.


Tingkah Rika menimbulkan pertanyaan di dalam hati Andre. Lalu Andre memandang ke tempat di mana tukang sate itu berada, dan ternyata tukang sate itu sudah tidak berada di tempat.


Akhirnya Andre pun bertanya,


“ Kenapa kamu senyum-senyum sendiri, curiga deh aku? “


“ Nggak kok nggak ada apa-apa, “


jawab Rika.


“ Kalau nggak ada apa-apa, kenapa kamu senyum-senyum sendiri? “


Tanya Andre.


“ Hati aku senang aja kamu bisa main ke sini kan udah lama juga kan kita nggak ketemu, “


jawab Rika berbohong.


Untuk menghindari kecurigaan Andre, Rika pun dengan terburu-buru masuk ke dalam rumah menuju ruang dapur.


Sambil berlalu ia berkata pada Andre,


“ Aku ambil piring dulu ya. “


Andri pun mencibirkan bibirnya.


“ Sorry Andre gue bohongin elo, padahal gue puas habis ngeracunin otak orang nih, “


gumamnya pelan.


Ketika di dapur, Rika pun mengambil piring, lalu meletakkan sate di atas piring, kemudian membawanya ke ruang depan.


Di teras Andre masih setia menunggu Rika. Tidak lama kemudian Rika pun tiba.


Andri memandangi wajah Rika. Rika pun tersenyum tersipu malu.


Tapi wajah Andre bukan terlihat senang, melainkan Andre mencibirkan bibirnya.


Melihat perubahan wajah Andre, Rika pun marah, kemudian ia bertanya,


“ Ih kok kamu gitu sih, mandang aku malah jadi gitu? “


“ Aku sebel aja ngelihat kamu senyum-senyum sama tukang sate, masa Aku Harus bersaing sama tukang sate sih, “

__ADS_1


celoteh Andre.


“ Ya ampun segitunya, jangan norak ah! “ sahut Rika.


Beberapa saat Andre masih saja cemberut. Rika pun menyodorkan sate dan menyuruh Andre untuk makan.


“ Udah makan dulu. Emang kita ketemu buat main cemberut-cemberutan? “


Sahut Rika.


“ Ya enggak sih, “


jawab Andre.


“ Kalau nggak, terus kenapa kamu jadi cemberut kayak gini, cemberutnya juga nggak ada alasan, “


jelas Rika.


Rika pun memasang wajah cemberut.


“ Kann tadi aku udah bilang, aku nggak suka kalau kamu tuh senyum-senyum sama tukang sate, gondok aja aku ngelihatnya, “


Kata Andre, sambil bertopang dagu.


“ Ya ampun Ndre, emang salah kalau aku berusaha ramah sama orang? Menurut aku sih sah-sah aja. Lagian juga aku sama tukang sate itu nggak ada sentuhan kok! Emangnya kamu, digelendotin Santi kamu diem aja, “


Sahut Rika, yang masih memasang wajah cemberut.


“ Oh jadi kamu jealous? “


Tanya Andre.


“ hahaha ! Ngapain juga aku jealous, norak tahu! “


Jawab Rika sambil mengunyah makanannya.


Kini mata Andre beralih ke atas piring. Dilihatnya makanannya tersisa sedikit.


“ Ih sweety, tinggalin dong! Ih kamu banyak banget makannya, ntar tambah gendut loh! “


Kata Andre, sambil menggeser letak piring agar lebih dekat padanya.


“ Hahaha, emang enak tinggal dikit! Lagian dari tadi ngomel melulu sih, “


kata Rika, sambil beranjak dan melangkah ke arah dapur.


Rika mengisi teko kecilnya dengan air dan mengambil gelas 2 buah. Kemudian ia kembali ke ruang depan.


“ Nih minum dulu nih, biar nggak seret, “


Kata Rika, sambil menuangkan air ke dalam gelas.


Andre pun menyambutnya, dan segera meminumnya.


“ Oh ya sweety, tadi kok Erna cuma sebentar di sini? Terus tadi aku dengar suara kalian tuh kayak ribut-ribut gitu. Sebenarnya ada apa?


“ tadi Erna cuma mampir, terus dia nanyain soal gaji aku, “


jawab Rika berbohong.


“Emang gaji kamu kenapa? Terus apa hubungannya sama dia? “


Tanya Andre.


“ Dia nanya, gaji aku tuh udah full atau belum, karena aku masih training jadi gajiku kan belum full, gitu, “


jawab Rika.


“ Gimana kerja di sana ? Kamu betah? enak mana, dulu atau sekarang? “


Tanya Andre, sambil memandangi wajah Rika.


Untuk menyimpan rasa malunya karena dipandangi Andre, Rika menyibukkan diri dengan memotong kuku.


Rika pun malah balik bertanya,


“ Kamu mau jawaban jujur atau bohong nih?”


“ Ih kamu ada-ada aja. Masa aku mau dibohongin sih? Ya aku maunya jujur lah,”


jawab Andre sambil nyolek hidung Rika.


Rika pun bertambah malu. Kemudian ia berusaha mengalihkan perhatian Andre.


“ Eh bentar ya Andre, aku mau nelpon Ando dulu biar dia ke sini nemenin aku, biar dia nginep maksudnya,”


kata Rika, sambil beranjak meninggalkan Andre, untuk mencari ponselnya.


Rika masuk ke dalam kamar dan mengambil ponselnya, tapi tiba-tiba ia teringat dengan Erna.


Bukan menelepon Ando, tetapi ia menelepon Erna. Tersambung, tapi tidak di terima.


Rika menghela napas. Kemudian dia baru menghubungi Ando, adiknya.


“Ndo, halo, tar lo nginep sini ya, “


{.................. }


“Iya gak papa, gak sekarang, nih lagi ada Andre.


{.................. }


“Ya udah, pokoknya jam berapa aja lo kke sini ya, bye. “

__ADS_1


Telepon pun terputus. Tak sadar kakinya telah melangkah ke ruang depan.


Tak lama kemudian, ponselnya berdering sekali, tanda satu pesan telah masuk.


Ternyata ada pesan dari Hilal. Hilal menanyakan kabar Rika.


Isi pesannya adalah : { Hai Rika apa kabarmu apa, kamu baik-baik saja? }


Rika membaca pesan dari Hilal, tapi dia tidak langsung membalasnya, melainkan hanya meletakkannya di atas meja.


Tiba-tiba Andre bertanya,


“Pesan dari siapa? “


Tanpa menunggu jawaban dari Rika, Andre langsung mengambil ponsel dan membuka serta membaca isi pesan tersebut.


Wajah Rika terlihat kalang kabut. Dan dia pun pasrah melihat tingkah Andre.


“ Hilal itu siapa, sweety? “


Tanya Andre dengan rasa penuh curiga.


Pesan dari siapa sih? Oh itu Hilal. Hilal itu saudara aku yang tinggal di Lampung, “


jawab Rika sambil tersenyum getir.


“ Oh saudara kamu, aku pikir..... “


Belum saja Andre menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba Rika menyelak,


“ kamu pikir apa? Siapa? Pacar baru aku gitu? “


Rika tersenyum sambil menepuk bahu Andre.


“ Kamu Ndre, ada-ada aja. Buanglah pikiran yang nggak-nggak, kalau cuma ngerusak pikiran kamu sendiri, “


sahut Rika.


Selang beberapa waktu Ando pun datang. Ando datang bersama Beni dan Iyan.


“ Assalamualaikum, “


Sapa Ando memberi salam.


“ Waalaikumsalam. “


jawab Andre dan Rika bersamaan.


Mereka pun masuk ke dalam rumah Rika, dan membuka bingkisan apa yang mereka bawa.


Rika pun menyambutnya dengan senang. Lalu ia berkata,


“Wih apaan nih bang Iyan? “


Tanpa menunggu jawaban dari Iyan, Rika langsung merebut bikisan tersebut sambil membukanya.


Mereka pun menyapa Andre.


Iyan bertanya,


“ gimana Andre, kabarnya? “


“ baik bang Iyan,”


jawab Andre.


Beni Kembali keluar, dan duduk di teras sambil membakar rokoknya. Ando pun menyusulnya. Sedangkan bang Iyan masih di dalam, bersama Rika dan Andre.


Iyan pun memulai perbincangan.


“ Apa nih rencana kalian ke depannya, mau disegerakan apa nanti-nanti dulu? “


Mendengar pertanyaan Iyan, Andre dan Rika saling bertatapan. Kemudian mereka pun tersenyum.


Melihat gelagat keduanya, Iyan pun ikut tersenyum, juga lalu berkata,


“ Ye ditanya malah senyum-senyum berdua. Jawablah. Kenapa malu? “


Andre pun memberanikan diri untuk menjawabnya.


“ Pengennya sih secepatnya Bang Iyan, tapi nggak tahu nih Rikanya gimana. “


“ Ih kok aku? aku mah ayo aja kapan aja aku mau, hahaha, “


jawab Rika dengan bahagia.


“ Ya udah Ndre, sikat! Kapan lagi, jangan ditunda-tunda lah, “


sahut Iyan.


“ tapi Andre masih bingung Bang, langkah awalnya apa, harus Apa dan gimana, kalau mau ngomong sama Mama, Andre malu Bang, “


kata Andre.


Mendengar kata mama wajah Rika tiba-tiba berubah menjadi kecut.


Kepala Rika mulai pusing, dan tidak lama kemudian ponselnya pun berbunyi.


Rika segera beranjak ke dalam, sambil membawa ponselnya. Ia melihat-lihat layar ponselnya dan ternyata yang menghubunginya saat itu adalah Erna.


Sengaja ia tidak langsung mengangkatnya khawatir ada yang mendengar percakapannya.


Tidak lama kemudian Erna pun menghubunginya kembali, lalu Rika pun mengangkatnya dan mulai bicara.

__ADS_1


__ADS_2