
Mama Lina menghubungi Dian melalui ponselnya.
“ Halo Dian! Temui aku di gudang sekarang!”
“Maaf nyonya, Saya sedang sibuk saat ini. Saya sedang mempersiapkan pertemuan dengan klien yang berasal dari Singapura,” sahut Dian berbohong.
“ Lupakan pekerjaanmu! Saya minta kamu datang sekarang juga,” tegas mama Lina.
Setelah memerintahkan Dian, mama Lina langsung memutuskan saluran teleponnya.
Di seberang sana, Dian beranjak duduk dari tempat tidurnya. Dian berdiri dan berjalan menuju kamar mandi.
“ Hai sayang, mau ke mana?” tanya Herman yang baru saja terbangun.
“ Aku ingin menemui Bos besarmu. Barusan dia teleponku dan marah-marah padaku,” jawab Dian.
Tiba-tiba Herman tertawa terbahak-bahak. “ Ha Ha Ha, liat Lina, Nyonya Lina, sebentar lagi kamu tamat!”
“Sstt, Diam Herman! Aku mau siap-siap berangkat ke gudang. Ku mohon matikan ponselmu, agar dia tidak curiga,” perintah Dian pada Herman.
“Baik sayang,” sahutnya.
Herman mematikan ponselnya dan meletakkannya di atas meja kecil tepat di samping tempat tidurnya.
Herman dan Dian menjalin hubungan khusus yang takut diketahui oleh mama Lina dan juga anak buahnya.
Hubungan mereka di tutup rapat-rapat, sampai Paijo pun tidak mengetahuinya.
Dian pandai memikat hati Herman. Herman adalah anak tangganya menuju tujuannya.
Setelah bersiap-siap Dian pun pergi dengan mobilnya. Di gudang, mama Lina telah menunggunya dengan segudang emosi.
Dian pun datang. Lalu memarkirkan Mobilnya di pekarangan gudang, sementara yang membukakan pintu gerbang adalah Paijo.
“ mana Herman, Paijo?” tanya Dian berpura-pura.
Paijo hanya mengangkat kedua bahunya lalu menutup pintu gerbang.
Paijo memang tidak banyak bicara pada Dian. Sepertinya Dia menjaga jarak.
Dian pun masuk ke dalam dan menemui mama Lina di ruang kerjanya. Baru saja ia masuk, tiba-tiba mama Lina ingin menamparnya.
“ Brengsek kamu ya!”
Tapi sebelum telapak tangan mama Lina mendarat ke pipi Dian, Dian langsung menangkisnya. Lalu Dian memegang tangan mama Lina dengan erat.
“ Maaf nyonya, jangan Nyonya kotor kan tangan Nyonya dengan menampar saya!”
Mama Lina segera menarik tangannya dari genggaman tangan Dian. Terasa sakit yang mama Lina rasakan. Sungguh dia tidak menyangka bahwa Dian bisa bersikap seperti itu padanya.
“Brengsek kamu Dian! Kamu sungguh-sungguh brengsek! Kamu telah menjebak Andre!” maki mama Lina.
Di luar ruangan, Paijo menguping pembicaraan antara mama Lina dan Dian.
“ tunggu Nyonya, sabar! Harusnya kamu berterima kasih padaku. Dengan begini, Andre telah berada di tanganku. Dan mau atau tidak ia harus menikahiku,” tutur Dian.
__ADS_1
“ Hahaha, enak saja! Se gampang itu kamu menikah dengan anakku?!”
“Lihat saja, Andre akan bertekuk lutut padaku,” kata Dian.
Mama Lina berjalan menuju kursi kerjanya sambil memijit kepalanya. Dia tidak menyangka akan serumit ini.
Keesokan harinya, seperti biasa Andre datang ke gudang untuk bekerja. Di sana Dian sudah menunggunya di ruang kerja mama Lina.
Ketika Andre masuk ke dalam ruang kerja mama Lina, dia melihat Dian di sana. Sontak saja Andre geram dan marah.
Andre menarik baju Dian dan bertanya,
“Apa yang udah lo lakuin ama gue?”
Dian pun meringis, seolah-olah dia menahan sakit.
“Harusnya aku yang bertanya, apa kau ingat apa yang sudah kau perbuat padaku?”
Andre melepaskan genggamannya dari baju Dian dan sedikit mendorongnya. Hingga Dian tersungkur di kursi panjang.
Andre memijit keningnya, “Sumpah! Aku gak ingat apa-apa!”
“Kamu harus menikahi ku, Ndre!” gertak Dian pelan.
Mata Andre melotot. “Apa lo bilang, nikah???”
“Iya, kamu harus nikahi aku!” teriak Dian.
“Gue gak apa-apain lo, ngapain gue harus nikahin lo! Lagian gue punya keluarga! Gue punya istri dan anak. Mereka aja saat ini gue abaikan buat mama. Lo lagi, bikin gue pusing aja!” maki Andre.
Tiba-tiba Herman masuk ke ruangan itu dengan alasan meminta surat jalan.
Perkelahian asu mulut pun terhenti.
“Maaf, permisi. Saya mau minta aurat jalan, Bu Dian.”
Dian segera membuka laptopnya dan mengeprint surat tugas untuk Herman. Setelah selesai, Dian menutup laptopnya dan memberikan selembar kertas pada Herman sambil berkata,
“Aku ikut. Aku mau ke ruko untuk pengecekan. Antar aku ke sana ya Her.”
“Baik Bu, saya juga ingin ke arah sana.”
Mereka pun keluar ruangan meninggalkan Andre sendirian.
Mereka berjalan menuju mobil. Herman menyetir mobil perlahan dan keluar dari pekarangan gudang.
Di dalam mobil pun mereka berbincang-bincang.
“Bagus sekali aktingmu. Siapa sih yang mengajarkan?” tanya Herman pada Dian sambil menyetir.
“ hahaha. Bagaimana menurutmu, Apakah akting ku meyakinkan Andre?” jawab Dian dengan pertanyaan.
“Sepertinya saat ini belum, Tapi udah bikin dia pusing,” jawab Herman. Setelah itu ia tersenyum.
Sedangkan Andre di ruang kerja mamanya memikirkan apa yang telah terjadi. Iya berusaha mengingat satu persatu kejadian di kamar tidur mamanya bersama Dian.
__ADS_1
Tapi sayangnya satupun kejadian tidak bisa diingat oleh Andre.
Lalu ia mengingat perkataan Dian Barusan sebelum Dian pergi, “Kamu harus nikahi aku.”
Kalimat itulah yang selalu saja diingat oleh Andre sampai malam tiba.
Ketika malam pun di kamar tidurnya ia berusaha mengingat-ingat kembali. Tapi hanya kalimat ucapan Dian yang menyiang-ngiang di telinganya.
Keesokan harinya ketika Andre terbangun dari tidurnya, dia mendengar ribut-ribut dari lantai bawah.
Ternyata di bawah ada mama Lina dan Dian. Lalu Andre beranjak turun untuk bergabung pada mereka.
Mama Lina menoleh ke arah Andre dan berkata, “ duduk Ndre kita harus bicara!”
Andre pun duduk. Di ruangan itu hanya ada Dian dan mama Lina.
“Kalian harus menikah secepatnya sebelum perut Dian membesar!”
“Apa Mah menikah?! Nggak! Andre nggak mau menikahi Dian!”
Dian menoleh ke arah Andre, dia menatap tajam wajah Andre.
“Kalau kamu nggak mau nikahi aku, aku akan menuntut kamu ke pengadilan!” sahut Dian dengan nada mengancam.
“Kamu harus menikahi Dian Ndre! Mama nggak mau menanggung malu!”
Perintah mama Lina.
Lalu mama Lina bertanya pada Dian,
“Siapa wali nikah mu?”
Dian menjawab, “Sepertinya Pamanku bersedia.”
“Paman! Paman katamu? Emang kamu nggak punya orang tua? Apa Kamu terlahir dari batu?” teriak Andri kesal.
Lalu Dian menundukkan kepalanya. Sambil terisak-isak Ia menceritakan tentang keluarganya.
Mama Lina dan Andre pun terdiam mendengar kisah Dian.
Akhirnya Andre berkata, “Baiklah aku akan menikahimu.”
Dengan menahan senyum yang semringah Dian pun berkata,
“Memang sepatutnya kamu menikahiku ini adalah janinmu.”
Dan mereka pun memutuskan hari pernikahan untuk mereka berdua.
Mereka mengambil waktu 2 minggu kemudian. Dan Dian harus menghubungi pamannya di kota seberang.
Dengan liciknya, Dian membayar seseorang untuk menjadi pamannya, sebagai wali nikah nanti.
Welly pun bersedia untuk menjadi wali nikah untuk Dian asal bayarannya Sesuai dengan kesepakatan mereka.
Maka hari yang ditentukan pun tiba akhirnya Andre dan Dian pun menikah secara siri.
__ADS_1