
Mama Lina begitu gundah setelah tahu bahwa Andre kecelakaan korban tabrak lari.
Di dalam kamarnya mama Lina terlihat sangat marah dan risau.
Bagaimana tidak? Setelah tadi pagi dia dan Putri mendatangi rumah sakit, dia melihat keadaan Andre yang belum sadar kan diri, teriris hatinya.
Kemurkaannya tertuju pada Rika.
“Dasar ya kau Rika, jika anakku kenapa-napa, aku bersumpah, akan aku habisi kamu secara langsung,”
gumamnya dalam hati.
Tidak lama kemudian, pintu kamar di ketuk dari luar.
“Ya, siapa?”
Tanya mama Lina.
“Aku Ma,”
sahut om Faisal.
Mama Lina membukakan pintu kamarnya. Dan om Faisal pun masuk ke dalam kamar tanpa menutup kembali.
Mama Lina duduk di tepi tempat tidur, sementara om Faisal duduk di kursi kecil, di samping meja rias.
“Bagaimana keadaan Andre Ma?”
Tanya om Faisal.
“Belum sadar Pa,”
jawab mama Lina dengan singkat.
Mama Lina menepis pandangan om Faisal, segera ia bangkit dari duduknya dan beranjak ke kamar mandi.
“Aku mau mandi dulu Pa, kalo kamu udah ngantuk, tidur aja duluan,”
kata mama Lina.
Sengaja ia menghindar dari suaminya. Karena tatapan suaminya membuat dirinya tidak nyaman.
Mungkin karena mama Lina menyembunyikan sesuatu, karena itu dia cepat menghindar.
Ya, dia sangat menghindari tatapan langsung, khawatir diketahui apa yang dia sembunyikan.
Om Faisal pun menjawab,
“Iya, aku udah ngantuk, aku tidur duluan ya. Oh ya Ma, tolong liatin Lisa ya Ma, temani dulu dia sebentar. Kayanya Lisa kangen ama kamu.”
“Iya Pa, nantinya setelah mandi,”
jawab mama Lina sambil berlalu.
Setelah mandi, mama Lina melihat ke arah tempat tidur, di mana sang suami sudah terlelap.
Mama Lina pun bergegas keluar kamar menuju ruang tengah. Di sana Putri dan Lisa sedang menikmati acara TV.
Mama Lina duduk di sofa, sementara Lisa dan Putri duduk di lantai beralaskan karpet tebal berbulu.
Melihat mama Lina datang Lisa pun langsung merajuk.
“Ma, peluk Lisa dong, Lisa kangen Mama,”
kata Lisa.
Mama Lina segera memangku Lisa dan memeluknya.
“Apa ci ade Ica, lagi kolokan ya?”
Tanya mama Lina.
“Mama, Lisa mau susu, tapi Mama yang buatin ya, buatan mama enak, kalo buatan mbok Yem gak enak, gak manis,”
kata Lisa merajuk.
“Iya sayang, yu’ kita ke dapur, kita buat susu untuk Ica,”
kata mama Lina.
Ketika mama Lina dan Lisa beranjak ruang dapur, tidak lama kemudian ponsel mama Lina berbunyi. Tanda bahwa ada satu pesan yang masuk.
Tetapi mama Lina tidak menghiraukan. Dia tetap beranjak ke ruang dapur.
Kemudian di hati Putri ada rasa penasaran pada ponsel sang mama.
Putri pun mengambil dan membuka isi pesan tersebut.
Pesan tersebut tertulis,
Kancil tidak di temukan
Setelah membaca pesan tersebut, Putri meletakkan kembali ponsel sang mama di atas meja.
Karena saat itu Putri sangat fokus dengan acara TV, dia pun tidak menggubrisnya. Di melanjutkan menikmati acara TV sambil memakan makanan ringan.
Kemudian ponsel mama Lina kembali berbunyi, tetapi Putri tidak mengangkatnya.
Hanya kepalanya saja yang menjulur ke arah ponsel tersebut, untuk melihat notifikasi dari sana.
Kami menunggu perintah.
Setelah membaca notifikasi, sejenak Putri mengernyitkan dahinya, kemudian dia melahap makanan ringan yang berada di depannya.
Setelah membuatkan susu panas untuk Lisa, mama Lina kembali ke ruang tengah.
Mama Lina menurunkan Lisa yang di gendongnya dan menyuruh Lisa untuk duduk di kursi.
__ADS_1
Mama Lina pun duduk di samping Lisa yang sedang menikmati susu panasnya.
Sambil menikmati acara di TV, mama Lina meraih ponselnya yang berada di atas meja.
Di buka ponselnya, dan di baca beberapa pesan yang masuk.
Setelah membacanya, mama Lina segera berdiri, meninggalkan Lisa dan Putri di ruang tengah, sementara dirinya melangkah ke arah pekarangan depan rumah.
Sengaja mama Lina keluar dari dalam rumah, agar tidak ada yang mendengarkan suaranya saat menghubungi seseorang.
Mama Lina menekan beberapa nomor ponselnya, dan terhubunglah pada ponsel Herman.
"Halo!"
"Ya Bu,"
"segera kamu bikin tim untuk mencari Ricard, bila perlu, geledah apartemennya.”
“Siap Bu.”
“Saya tidak mau tau apa pun alasannya, saya ingin mendapat kabar baik, selain itu, jangan hubungi saya.”
Segera mama Lina menutup ponselnya, kemudian beranjak masuk ke dalam rumah dan bergabung kembali dengan Putri dan Lisa.
Malam semakin larut, mama Lina mengajak anak-anaknya agar segera tidur.
“Yu’ kita tidur, udah malem,”
ajak mama Lina.
“Lisa mau tidur ama mama, Lisa gak mau tidur ama kak Putri,”
Lisa merajuk.
Putri pun tertawa sambil berkata,
“Bagoooooos, enak malam ini kak Putri tidur sendiri, lega kasurnya, gak ada yang gelendotin kak Putri.”
“Iiiih, Mama, kak Putri tuh,”
rengek Lisa.
“Ya udah, malam ini Ica bobo ama Mama, tapi besok pindah lagi ya, bobonya ama kak Putri,”
sahut mama Lina.
Mereka pun masuk ke dalam kamar masing-masing, sambil mama Lina menggendong Lisa yang terus merengek.
Sesampainya di dalam kamar, mama Lina meletakkan tubuh Lisa di samping tubuh suaminya yang sudah terlelap.
Lisa pun tertidur, sementara dirinya masih juga terjaga.
Pikirannya tertuju pada anaknya, Andre. Ada rasa takut menyelimuti hati dan pikirannya.
Dia khawatir jika keadaan Andre semakin parah.
“Goblok, dasar goblok! Kenapa jadi begini??!! Mudah-mudahan Andre baik-baik saja,”
gumamnya dalam hati.
Mama Lina pun merebahkan tubuhnya di samping Lisa yang sudah terlelap.
Beberapa saat kemudian mama Lina pun tertidur.
##########
Dokter menyatakan Erna dan Rika di perbolehkan pulang, sementara Andre masih harus di rawat inap.
Saat itu Andre sudah siuman. Ingatannya tertuju pada Rika, kekasihnya.
Saat tersadar, Rika sudah ada di sisinya. Karena saat itu Rika sudah di perbolehkan pulang, ia hendak berpamitan.
Tapi sayang, sepertinya Andre menahan dirinya untuk tidak meninggalkannya sendirian.
“Dre, aku pamit ya, aku mau pulang,”
kata Rika.
“Emmm, jangan dong, masa aku di tinggalin sih, tega ih kamu,”
kata Andre dengan manja.
“Makasih ya Dre, kamu udah bikin aku nyusruk ke aspal, ha ha ha,”
kata Rika, sambil tertawa.
“Eh, iya, jidat kamu luka ya, maaf ya sweety, aku terlalu keras dorong kamu, ya mending kamu nyusruk lah, ketimbang kamu di cium mobil,”
sahut Andre sambil tersenyum.
“Sekarang kamu gimana, apa yang kamu rasain sekarang? Pusing atau apa?”
Tanya Rika.
“Pusing sih, tapi gak terlalu. Ama mual, aku mau muntah Rik,”
jawab Andre.
Mendengar jawaban Andre pada Rika, dengan spontan Erna mengambil kantong plastik yang ada di bawah kursi, entah milik siapa plastik itu.
Segera di berikannya pada Rika, kemudian Rika mengangkat tubuh Andre agar berposisi duduk.
Rika membuka plastik itu dan mendekatkan pada wajah Andre. Seketika Andre mengeluarkan sesuatu dari mulutnya.
“Uuuaaachhh,”
Dengan sigap Erna memberikan tisu pada Rika. Rika segera mengeringkan area mulut Andre.
__ADS_1
Karena merasa sungkan, Andre mengambil plastik yang di pegang Rika. Di ikatnya plastik itu agar aroma muntahannya tidak menyebar.
“Iiih, sini, biar aku aku aja,”
kata Rika.
“Gak ah, bau tau!”
Kata Andre.
“Dre, cepet sembuh dong, kasian Rika,”
kata Erna.
“Iya, gue juga kasian ama emak gue yang ngebiayain gue hotel ini,”
kata Andre sambil menggaruk-garukkan kepalanya.
Rika menoleh ke arah Erna, mereka saling bertatapan.
Erna pun berkata,
“Kalo gue, gak tau nih siapa yang bayar pengobatan gue, tapi gue udah di suruh pulang.”
Tiba-tiba seorang perawat datang, untuk memeriksa keadaan Andre.
Sontak saja Erna bertanya pada perawat itu,
“Sus, saya kan udah di suruh pulang, emang siapa yang bayar pengobatan saya?”
Perawat itu pun menjawab,
“Oh maaf, saya tidak tau Mbak, coba tanyakan bagian administrasi, dia pasti tau.”
Kemudian Rika berkata pada Erna,
“Entar aja Er kita nanyanya, pas pulang aja.”
“Pulang??? Jangan!!! Kamu gak boleh pulang sendirian, aku khawatir, Rika!”
Kata Andre dengan cemas.
Rika pun menghela nafas. Lalu Erna memberikan ponselnya pada Rika, lalu berkata,
“Telepon bang Iyan, minta dia jemput kita sekarang.”
“Tapi bang Iyan..... “
Perkataan Rika terputus manakala mama Lina dan om Faisal tiba.
Rika dan Erna pun terkejut.
Mama Lina memberi salam,
“Assalamu’alaikum.”
“Wa alaikumsalam,”
jawab Andre, Rika dan Erna secara serempak.
Mama Lina dan om Faisal masuk ke dalam ruang rawat inap itu.
Rika dan Erna bersalaman pada mama Lina dan om Faisal. Mereka menyambut kedatangan mama Lina dan om Faisal dengan hangat.
Begitu juga dengan sebaliknya, mama Lina dan om Faisal pun menerima sambutan itu dengan hangat.
Mama Lina menanyakan keadaan Rika dan Erna.
“Keadaan kamu gimana Rika?”
Tanya mama Lina.
“Alhamdulillah, udah baik Ma, sekarang juga udah boleh pulang,”
jawab Rika.
“Wah, syukurlah. Kamu Er, udah enakan nafasnya?”
Tanya mama Lina pada Erna.
“Su... Sudah Bu, sudah baikan,”
jawab Erna dengan gugup.
“Keliatannya kalian sudah rapi, apa kalian sudah di perbolehkan untuk pulang?”
Tanya om Faisal.
“Sudah Om, tadi Pagi sudah di suruh pulang, tapi gak boleh pulang ama Andre,”
jawab Erna.
“Iya, Andre ngelarang mereka pulang Ma, mereka harus ada yang dampingin,”
kata Andre.
“Kamu udah nelpon orang rumah Ka?”
Tanya mama Lina pada Rika.
“Ehm, tadi niatnya mau nelpon bang Iyan, biar jemput ke sini, eh keburu Mama dateng,”
jawab Rika.
“Gimana kalo kita pulangnya bareng aja? Nanti kalian om Anter sampe rumah,”
kata om Faisal.
__ADS_1
Rika dan Erna saling berpandangan. Mereka takut salah saat mengambil keputusan.