Mertua Yang Jahat

Mertua Yang Jahat
Andre berpamitan.


__ADS_3

Malam itu suasana ramai di rumah Nyai. Mereka berkumpul untuk membicarakan pernikahan Rika dengan Andre.


Selama ini keluarga besar Rika yang berada di Lampung hanya mendengar cerita tentang kisah cinta Rika bersama Andre melalui cerita dari Nyai.


Dan Hari itu, malam itu, Andre hadir di tengah-tengah mereka. Hampir semua saudara-saudara Nyai dan Papi mengagumi ketampanan Andre.


Dan tidak lupa, Iyan pun mengabadikan momen-momen malam itu dengan kamera digitalnya. Hati Iyan bahagia melihat adiknya tersenyum.


Pertemuan pun selesai, satu persatu keluarga besar Rika kembali ke rumah masing-masing. Untuk menghindar dari kemacetan, seperti rencana di awal, Iyan pun mengingatkan Rika agar bersiap-siap kembali ke Jakarta.


“ Emangnya kalian nggak capek, tunda lah dulu kepulangan kalian,” kata Nyai.


“ Mi, kalau pulangnya besok, tambah capek kitanya, capek macet, capek duduk, nggak apa-apa ya Mi,” sahut Rika.


Sambil tergopoh-gopoh, Nyai mendekati Rika. Kemudian Rika memeluknya dan membelai rambut putihnya.


“ Ika tahu kok kalau Mami masih kangen sama Ika, sama, Ika pun juga masih kangen sama Mami, tapi gimana lagi, Ika kan di Jakarta juga kerja Mi, Andre juga kerja, Mami nggak marah ya,”


Kata Rika, yang berusaha untuk menenangkan Nyai.


Iyan pun ikut berbicara,


“ Mami tenang aja, kita semua baik-baik aja, yang penting Mami Doain biar kita selamat, biar cepet sampai, biar kita semua sehat walafiat, dan lancar nanti acara Rika. Oh ya tapi Mami bakal ke Jakarta kan nanti?”


Sambil menyeka air matanya, Mami menjawab,


“ Pokoknya, kasih kabar aja, kapan acaranya, nanti kalau udah mendekati harinya, baru Mami dan Papi serta yang lainnya ke Jakarta.”


Melihat mami sudah merasa tenang, Rika pun melepaskan pelukannya dari tubuh mami. Kemudian dia bergegas menuju kamar dan mempersiapkan kembali barang-barang yang akan ia bawa pulang.


Satu jam kemudian,


Papi dan Iyan berdiri di depan rumah. Beberapa menit kemudian mobil travel pun tiba. Iyan pun memanggil Rika dan Andre.


“ ka, Ndre! Ayo cepetan mobilnya udah datang nih.”


“ Iya bentar 2 menit lagi ya,” sahut Rika dari dalam rumah.


Tidak lama kemudian, Rika Andre dan Nyai pun keluar dari rumah dan menghampiri Papi dan Iyan.


Mereka pun berpamitan tidak lupa Rika dan Iyan memeluk Papi dan Mami mereka. Dan Andre pun menyalami Papi dan mami Rika.

__ADS_1


“ Oh ya Ndre, jangan lupa, panggil saya Papi aja, jangan om ya, hehehe,”


pesan Papi pada Andre.


Mereka yang mendengarnya pun tertawa bersama.


Rika Iyan dan Andre masuk ke dalam mobil travel. Setelah siap sopir pun melajukan kendaraannya secara perlahan.


Rika memandang Mami dan Papinya dari kejauhan. Dan Mami pun Melambaikan tangannya.


Dari kejauhan Rika masih bisa melihat Mami dan Papinya. Kemudian Papi menggandeng bahu Nyai dan mengajaknya masuk ke dalam rumah. Tidak lama kemudian sopir pun membelokkan mobilnya ke arah kanan.


Saat itu juga Rika pun tidak dapat melihat lagi kedua orang tuanya dari kejauhan.


Iyan duduk di sebelah Rika dan mengusap bahu Rika untuk menenangkannya. Sedangkan Andre hanya bisa terdiam membisu. Tidak banyak yang Anda dapat lakukan untuk Rika saat itu.


Karena ada rasa sungkan ketika Iyan berada di tengah-tengah mereka.


Seperti pada saat keberangkatan, saat saat pulang pun akhirnya Anda tertidur. Ketika Iyan melihat Andre tertidur, Iyan menoleh ke arah Rika, lalu keduanya pun saling tersenyum melihat kelakuan Andre.


******


Malam itu Putri duduk di taman belakang. Sedangkan Om Faisal masih sibuk dengan pekerjaannya di ruang sebelah.


Sedangkan mbok Yem masih sibuk di dapur. ia membenahi cucian piring yang kotor sambil memperhatikan Putri yang duduk di taman belakang di atas ayunan.


Seperti malam-malam sebelumnya, Putri sering duduk di ayunan dan memainkannya sampai sekencang-kencangnya.


Kali ini Mbak Yem mencegahnya. Ia segera melepaskan pekerjaannya dan mencuci tangan. Segera Mbok Iya melangkah keluar ke arah taman belakang.


Berbeda dengan malam-malam sebelumnya Mbok Yem hanya memperhatikan tapi tidak pernah mencegahnya.


Karena saat ini mbok Yem sudah mengetahui keadaan Putri yang sebenarnya, maka dengan Sigap Mbok Yem mencegahnya dan menegurnya.


“ Non berhenti non, Non Putri tolong non, tolong hentikan Non! “ perintah Mbok Yem.


Tanpa mendengarkan perintah dari mbok Yem, Putri masih saja terus mengayunkan ayunannya dengan kencang.


Pelan-pelan Mbok Yem mengingatkan Putri, dan akhirnya Putri pun mau mendengarkan perintah Mbok Yem.


“ Tolong Non Putri, sayangi diri kamu. Jangan sampe kamu melakukan kesalahan lagi,” kata mbok Yem.

__ADS_1


Putri hanya terdiam seribu bahasa. Pandangannya kosong menatap ke depan. Padahal di depannya hanya taman kosong saja.


Mbok Yem mengajak Putri ke kamar untuk tidur. Sebelumnya, mbok Yem melihat terlebih dahulu. Saat aman barulah mbok Yem menarik tangan Putri untuk bergegas ke kamar.


Sesampainya di kamar, mbok Yem menyuruh Putri untuk segera tidur. Dan katakan apa yang ia inginkan, agar mbok Yem memberikan atau mencari apa yang Putri mau.


“Tidurlah, jaga dirimu baik baik Non, jangan sampai Non Putri sakit,” kata mbok Yem.


Putri pun merebahkan tubuhnya di atas kasur. Lalu Mbok Yem menyelimutinya dengan selimut tebal.


Putri memejamkan matanya. Entah sudah tertidur atau belum. Yang jelas saat itu Putri mau menuruti perintah mbok Yem, yaitu untuk segera tidur.


Ternyata mbok sekarang paham, mengapa sikap Putri belakangan ini berbeda, bahkan lebih agresif. Mengapa semua ini terjadi.


Entah Putri mengenal Irfan di mana. Entah apa yang terjadi besok jika Andre sudah pulang dari Lampung. Entah seperti apa mama Lina dan om Faisal saat mengetahui ini semua.


Penat! Ya, mbok Yem merasa penat malam itu. Mbok Yem terlanjur menyayangi anak anak mama Lina.


Mbok Yem membelai rambut Putri. Setelah yakin bahwa Putri tertidur nyenyak, mbok Yem mematikan lampu dan keluar dari kamar Putri, meninggalkan Putri sendirian.


Kini ada pertanyaan di kepala mbok Yem, apa yang harus di lakukannya? Mbok Yem berpikir keras agar tidak salah langkah.


Setelah keluar dari kamar Putri, mbok Yem melangkah ke ruang tengah. Ternyata, keadaan sudah sepi.


Mama Lina sudah masuk ke dalam kamarnya, begitu juga dengan om Faisal.


Anak anak yang lainnya pun sudah masuk ke dalam kamar masing-masing.


Mbok Yem mengunci pintu depan. Lalu bergegas ke belakang menuju ruang dapur. Mbok Yem mengeluarkan ponsel milik Putri yang ia simpan di sakunya.


Kemudian mbok Yem menghubungi Irfan lewat ponsel Putri.


“Halo, Put?” terdengar suara Irfan di saluran telepon.


“Halo, Den, ini mbok Yem,” sahut mbok Yem pada Irfan.


“Ada apa mbok?” tanya Irfan.


“ Ada yang ingin saya tanyakan Den, tapi tidak di telepon,”


jawab mbok Yem.

__ADS_1


Mbok Yem kembali berkata, “ Besok saya ingin ketemu Aden, bisa kan?”


Irfan tidak langsung menjawabnya. Sedangkan mbok Yem membutuhkan jawaban Irfan dengan segera.


__ADS_2