
Seperti biasa, ketika jam pulang kerja, Erna selalu menunggu Rika agar pulang berama-sama, karena mereka satu tujuan.
Dan tak lupa mereka pun berpisah di persimpangan jalan dekat rumah Erna, lalu Rika melanjutkan perjalanannya seorang diri.
Pagi itu udara sangatlah dingin, embun membasahi dedaunan. Andre menunggu kepulangan Rika di depan jalan rumah Rika.
Andre berangkat dari rumah sakit awalnya, bergantian dengan Putri, adiknya Andre untuk menemani papa tirinya yang kini sedang di rawat di rumah sakit karena pertikaian dengan beberapa orang yang tak di kenal di malam pertunangannya bersama kekasihnya, yaitu Rika.
Suasana jalan kompleks sangatlah sepi, dan Andre tetap menunggu kepulangan Rika.
Tidak lama kemudian Rika pun melewati jalan itu, sontak Andre pun memanggil kekasihnya.
“Sweety,” panggil Andre.
Rika mengenal panggilan itu, siapa lagi yang memanggilnya selain Andre?
Rika menoleh ke arah Andre, dan Rika pun terkejut.
Rika memasang wajah marah, dan memaki Andre.
“NGapain lo di sini?” tanya Rika.
“Rika, dengar dulu penjelasan ku. Kalo kamu udah denger, selanjutnya terserah kamu deh, aku siap di marahi, bahkan aku siap kamu tinggalin, asal kamu denger dulu penjelasanku,”
kata Andre.
“Ogah amat!!!”
jawab Rika dengan singkat.
“Ya udah, kalo kamu gak mau denger penjelasanku, tolong temuin bang Iyan. Biar dia yang ngejelasin semua,” kata Andre.
“Eh denger ya, cowok yang paling tampan! semua gak ada hubungannya dengan bang Iyan, abang gue. Ini urusan kita, semua ini urusan kita, jangan bawa-bawa orang lain, lo udah bikin gue malu Dre, gue malu sama keluarga besar gue, mami dan papi gue datang jauh-jauh buat apa? Buat nyambut keluarga lo, buat acara pertunangan kita!” jelas Rika.
Andre pun menarik tangan Rika, dengan niat menggenggamnya. Tapi sayang, karena kondisi Rika yang saat itu sudah emosi, sudah marah besar, maka tangan Andre di tepisnya, dan Rika menjauh.
Andre pun mengejar Rika.
Kala itu ada sebuah mobil melintas, pengemudi itu sudah melihat pertengkaran mereka dari jarak jauh.
Lantaran khawatir ada kekerasan, sang pengemudi pun turun dari mobilnya, dan berusaha meleraikan keributan mereka berdua, yang tak lain adalah Rika dan Andre.
Karena Andre tak terima orang lain ikut campur dengan masalahnya, Andre pun tidak terima. Karena Andre salah sangka, dia pikir pengemudi itu ingin memukulnya, Andre langsung mendorongnya, hingga pengemudi itu terjatuh.
Rika pun memperhatikan pengemudi itu, ternyata Rika mengenalinya.
“Kamu? Kamu yang di club itu kan?” tanya Rika.
Ya, seorang pria yang pernah menabrak Rika dengan tidak sengaja di depan lorong menuju loker karyawan, pria kurus berambut panjang yang di ikat.
Pengemudi itu pun bertanya, “Are you oke?”
“Ya, aku baik-baik saja,” jawab Rika.
Pengemudi itu pun bangkit berdiri sambil membersihkan celananya bagian bokong yang kotor, seraya berkata,
“Ayo, aku antar kamu pulang, jangan biarkan diri kamu bersama dengan laki-laki kasar seperti dia,”
kata pengemudi itu.
Pengemudi itu pun menarik tangan Rika, sambil membuka pintu mobil yang di kendarainya. Rika di persilahkan masuk ke dalam mobil. Dan Rika pun menuruti perintahnya.
Andre pun tidak tinggal diam, di tariknya baju pengemudi itu, hingga robek.
Reaksi pengemudi itu hanya tersenyum, sambil memandang wajah Andre, lalu berkata pada Rika,
“Lihat, laki-laki seperti inikah yang kau pertahankan?”
Pengemudi itu pun masuk ke dalam mobilnya dan melajukan mobilnya meninggalkan Andre sendirian.
Andre duduk di tepi jalan sambil merenung. tak lama kemudian suara azan subuh pun berkumandang.
Sejenak termenung, akhirnya Andre memutuskan untuk pergi ke mesjid untuk melaksanakan Shalat subuh berjamaah.
__ADS_1
Selesai Shalat, Andre duduk di pelataran mesjid. Bingung, hendak ke mana kakinya melangkah. Mendatangi rumah Rika, atau pulang ke rumahnya?
Akhirnya Andre memutuskan untuk pulang ke rumah, karena matanya sudah sangat berat di karena kan menahan kantuk.
##########
Sampailah Rika di rumahnya bersama pengemudi itu. Rika pun mempersilahkan pria itu masuk, tapi hanya sebatas di depan teras rumah. Rika sadar, karena di rumahnya hanya dia seorang diri.
Pria itu pun mengerti, dan dia duduk di teras.
Karena sudah masuk waktu subuh, Rika pun izin pada pria itu untuk Shalat.
Rika : “aku tinggal dulu ya, aku mau Shalat dulu. Oh ya, apa kamu mau ikut Shalat juga?”
Tanya Rika.
Ricard : “Oh no, saya tidak melakukan Shalat,” kata pria itu.
“Ya udah, aku tinggal dulu ya,”
Kata Rika.
Pria itu pun menjawab, “Oke.”
Sambil menunggu Rika Shalat, pria itu melihat ke sekeliling rumah Rika. Dan tak lama kemudian pria itu mengeluarkan ponselnya dari saku celananya.
Pria itu mengirim pesan pada seseorang, yang isi pesan itu adalah,
“Kancil sudah masuk perangkap.”
Setelah mengirim pesan, pria itu memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku celananya, kemudian dia membakar rokoknya.
Selesai Shalat subuh Rika melangkah ke ruang dapur untuk membuat minuman. Sambil mengaduk teh yang dia buat, Rika merasa canggung. Karena baru kali pertama mengajak pria yang tidak dia kenal ke rumahnya. Apa lagi dia hanya seorang diri.
Membuat teh pun selesai. Rika bergegas melangkah ke depan teras, dan pria itu pun masih menunggunya.
Rika : “Maaf ya, lama. Ini tehnya, silakan di minum.”
Ricard : ”Maaf, jika saya merepotkan kamu, sampai membuatkan teh untuk saya.”
Ricard : “Memang siapa laki-laki itu? Oh ya, perkenalkan, saya Ricard. Maaf kalau saya baru memperkenalkan diri.”
Rika : “Iya, gak apa-apa.”
Ricard pun kembali bertanya,
“Maaf, pria tadi itu siapa? Apakah dia orang jahat? Sepertinya dia pria yang kasar.”
“Tidak, dia bukan laki-laki yang kasar, sebenarnya dia baik. Cuma saat ini saya sedang emosi sama dia,”
Kata Rika.
“Oh, seperti itu. Semarah itukah kamu padanya, sampai-sampai kamu menangis? Whats wrong? Kalau dia bukan pria yang jahat, mengapa kamu menangis?”
Ricard pun melanjutkan,
“Oh, maaf, sepertinya saya sudah terlalu jauh ikut campur urusan kalian, tapi kamu jangan segan menghubungi saya, jika dia menyakiti kamu, karena saya peduli sama kamu.”
Mendengar perkataan Ricard, Rika pun tersipu, menahan malu.
“Apa dia tertarik ama gue? Tapi masa sih, kayanya gue bukan level dia deh, tapi segitunya dia peduli ama gue,”
gumamnya dalam hati.
Ricard : “Jam berapa kamu berangkat kerja? Boleh saya jemput kamu?”
Rika : “Gak usah, kamu sudah banyak saya repotkan.”
Ricard : “Tidak apa-apa, saya senang melakukannya.”
“Aduuuh, gimana ya? Ah, tapi apa salahnya gue berteman?” gumam Rika dalam hati.
Rika : “Nanti jam 3 sore aku berangkat dari rumah. Tapi aku tidak sendiri, aku bersama temanku.”
__ADS_1
Ricard : “tidak masalah bagi saya, nanti saya jemput kamu, tunggu kedatangan saya. Saya pamit dulu, kamu hati-hati.”
########
Sore itu Andre hendak berangkat kembali ke rumah sakit, untuk menggantikan tugas menjaga papa tirinya yaitu om Faisal dengan Putri.
Dia melihat mama Lina yang tak lain adalah mama kandungnya sedang menelepon seseorang. Suaranya meninggi tapi ucapannya tidak jelas karena tertutup dengan suara mesin jahit para karyawan om Faisal di ruang sebelah.
Andre membereskan barang-barang yang akan di bawanya dan memasukkannya ke dalam tas besar.
Setelah membereskan barang-barang bawaannya, Andre melangkah ke ruang depan, di mana mama Lina sedang menelepon seseorang.
Seketika itu mama Lina segera memutuskan saluran telepon tersebut.
Melihat tindakan mama Lina, Andre berpikir, mungkin mama Lina sedang mengurus bisnisnya.
“Ma, Andre berangkat dulu ya, Andre gantiin Putri sekarang,”
Kata Andre pada mama Lina.
“Oh, i... iya sayang, ati-ati ya, bilang ke papa, cepet sembuh.”
Kata mama Lina dengan gugup.
Melihat gelagat mamanya, Andre merasa heran, ada apa? Tapi Andre berusaha berprasangka baik pada mamanya, mungkin mamanya sedikit stres lantaran berbisnis dan mengurus rumah tangga, apa lagi sekarang om Faisal sedang di rawat karena insiden malam itu.
Andre pun berangkat dan sebelumnya mencium tangan mama Lina.
Mama Lina mengantar Andre sampai depan rumah, dan segera masuk ke dalam rumah, dan tak lupa mama Lina menutup pintu gerbangnya.
Mama Lina kembali menghubungi seseorang. Setelah tersambung saluran ponselnya, suara mama Lina pun kembali meninggi.
“Bodoh kalian! Masa kerja aja gak becus. Saya gak akan tinggal diam, akan saya proses semuanya. Kumpulkan yang lain, kita ketemu d tempat biasa.”
Mama Lina pun kembali menutup saluran teleponnya, dan kembali menghubungi seseorang.
“Halo, bagaimana kerjamu hari ini?......... pancing terus kancil itu sampai terus masuk ke perangkapmu, paham?!”
Mama Lina pun kembali menutup saluran teleponnya, dan menghempaskan tubuhnya di atas kursi panjang.
Lisa mendekati mama Lina dan berkata,
“Ma, Lisa mau susu panas dong, Lisa mau mama yang bikin.”
“Aduh Lisa, minta sama mbok Yem sana, mama lagi sibuk, bisa kan?”
Kata mama Lina pada Lisa, yang tak lain adalah anak dari om Faisal.
Lisa pun berlalu pergi meninggalkan mama Lina menuju ke ruang dapur menemui mbok Yem.
“Aduuuuuh pa, sial banget sih nasib kamu, kenapa kamu pake ngelawan sih, gak punya bela diri malah so’ so’an ikut berantem segala, begini deh jadinya. Awas aja kalo suamiku kenapa-napa, bakal ku habisi kalian satu persatu,”
gumamnya dalam hati.
#######
Di rumah sakit, Putri menunggu kedatangan Andre, yaitu kakaknya untuk bergantian menjaga om Faisal, papa tiri mereka.
putri memandang wajah om Faisal dengan seksama yang sedang tertidur karena obat bius yang baru saja di berikan oleh perawat.
Kemudian Putri membereskan baju-baju kotor yang hendak dia bawa pulang ke rumah, dan memasukkannya ke dalam tas besar.
Di seberang sana,
Andre mengemudi mobilnya melewati area club di mana Rika bekerja.
Dengan perlahan Andre mengemudi tepat di depan club itu.
Dalam hati Andre, ingin sekali singgah dan berharap bertemu dengan Rika, kekasihnya, dan menjelaskan semuanya. Tapi sepertinya bukan waktu yang tepat.
Merasa takut Putri menunggunya terlalu lama, akhirnya Andre menambah kecepatan mobilnya.
Seketika matanya tertuju ke depan club itu, Andre melihat Rika dan temannya turun dari mobil yang semalam melerai keributannya dengan Rika, darah Andre pun mulai mendidih, emosinya memuncak.
__ADS_1
Tapi otaknya berpikir tentang Putri, maka Andre pun berusaha mengabaikan perasan kesalnya saat itu. Di urungkan niatnya menemui Rika yang baru saja dia lihat dengan mata kepalanya sendiri, dan terus melajukan mobilnya dengan menambah kecepatan.