Mertua Yang Jahat

Mertua Yang Jahat
Rika sakit.


__ADS_3

Putri masuk ke dalam kamarnya sambil membanting pintu.


Di dalam kamar, Putri duduk di depan meja riasnya, sambil memandangi cermin ia termenung. Entah apa yang dia pikirkan.


Putri melepaskan ikatan rambutnya. Ia mulai mengambil sisir dan menyisir rambutnya dengan perlahan. Tanpa ia sadari, Ia terus mengulang-ulang, sampai akhirnya ia menitikkan air mata.


Entah apa yang telah terjadi pada dirinya, tapi sepertinya ada sesuatu yang telah terjadi yang membuat Putri terasa berat.


Dengan rambut panjangnya yang tergerai, putri berpindah duduk beralih ke atas tempat tidur. Dia mengambil tas yang tadi ia pakai dan mengeluarkan semua isinya.


Ada satu barang yang ia lihat, kemudian ia pegang. Putri menyembunyikan benda itu di bawah tempat tidurnya. Walau kasurnya berat, ia berusaha mengangkatnya sedikit untuk menaruh benda tersebut.


Selesai menaruhnya, Ia pun kembali merapikan sprei kasurnya.


Putri pun terkaget ketika mendengar ketukan pintu, Lalu ada suara yang memanggilnya.


“ Non Putri, kita makan dulu yuk, “


panggil Mbok Yem.


Ternyata itu suara Mbok Yem yang memanggilnya, hati Putri pun lega.


Ada rasa khawatir di hati Putri, takut jikalau mamanya banyak bertanya atas sikapnya tadi.


Putri pun menjawab panggilan Mbok Yem dari balik pintu,


“ Ya mbok sebentar, putri mandi dulu ya.”


“ Ditunggu loh non sama mama dan papa,”


kata mbok Yem.


Tiba-tiba dada Putri terasa panas nafasnya pun tersenggal-senggal. Tiba-tiba Putri berkata dengan berteriak,


“ Kan Putri bilang, Entar Putri Mandi dulu! nggak usah nunggu Putri, makan aja duluan! “


Sontak saja Mbok Yum kaget mendengar suara Putri yang berteriak. Hati Mbok Yem semakin yakin, ada sesuatu yang terjadi pada putri.


Mama Lina dan Om Faisal pun kaget mendengar suara Putri. Mama Lina pun marah dan segera beranjak dari duduknya.


Tapi on Faisal segera mencegah Faisal menarik tangan mama Lina dengan pelan.


Agar emosi istrinya tidak memuncak, Om Faisal pun berkata dengan lembut,


“ Sudahlah Mah biarkan saja, mungkin Putri lagi pengen sendiri. “


“ Tapi nggak begitu Pah caranya. Mama nggak suka, itu sikap yang kurang ajar bagi Mama, “


sahut mama Lina dengan suara sedikit marah.


Wajah mama Lina pun cemberut. Untuk meredakan ketegangan, Om Faisal pun merayu istrinya.


“ Sudah lah Ma, sekali-sekali kan kita makan berdua, enak gitu romantis, nggak ada yang gangguin. “


Mbok Yem pun mengambil makanan dari ruang dapur dan meletakkannya di atas meja makan. Kemudian mbok ya menuangkan air untuk mereka minum.


Dengan perasaan gundah gulana, Mbok Yem tetap melayani mama Lina dan Om Faisal saat makan.


Setelah melayani mereka, Mbok Yem pun kembali ke ruang dapur. Ia pun makan malam sendiri di ruang dapur.


#######


Karena kurang enak badan hari itu Rika tidak bekerja. Jadi Erna berangkat kerja sendirian. Dan sebelum berangkat kerja Erna pun berkunjung ke rumah Rika terlebih dahulu.


“ Istirahat deh, jangan lupa minum obat, lekas sembuh ya,”


pesan Erna pada Rika.


Dari balik selimut, Rika pun mengangguk pelan. Sepertinya Erna enggan meninggalkan Rika sendirian, khawatir takut ada apa-apa.


“ Lo Yakin nggak perlu ditemenin? “


tanya Erna.


Rika tidak menjawab ia hanya mengangguk pelan.


“ Atau gue telepon Bang Iyan aja ya, atau Ando? “


tanya Erna kembali.


Akhirnya Rika membuka selimutnya Ia pun duduk. Dengan lemah, ia berkata,


“ Nggak usah Er, mereka juga lagi pada sibuk. “


“ Tapi gua khawatir, ninggalin lu sendirian dalam keadaan sakit kayak gini, “


sahut Erna.

__ADS_1


Akhirnya Rika meminta Erna untuk menghubungi Iyan.


“ Ya udah, lu telepon Bang Iyan aja deh.”


Erna pun segera menghubungi Ian dari ponselnya. Saluran telepon pun tersambung tetapi Ian tidak mengangkatnya.


Kembali Erna menghubungi, lalu Iyan pun baru mengangkatnya.


Dari seberang sana terdengar suara,


“Ada apa Er? “


“ Bang, Erna Ada di rumah Rika nih, mau berangkat kerja. Tapi Rikanya sakit, Erna nggak bisa ninggalin Rika sendirian. Bisa nggak bang Iyan ke sini nemenin Rika? “


“ 1 jam lagi deh nanti bang Iyan ke situ. bang Iyan masih ada kerjaan. Erna kalau mau berangkat ya berangkat aja , 1 jam juga nggak lama kok. “


“Lama lah bang, dalam kondisi sakit terasa lama bang. “


“ coba Er tanya Rika, dia mau makan apa, nanti abang bawain. “


“Nek, lu mau makan apa, nih bang Iyan nanyain nih. “


“ Gue mau bubur. “


“ Bubur Apa, kacang ijo atau bubur ayam?”


“ bubur ayam, nggak usah pakai sambel ya. “


“ Bang kata Rika, dia minta bubur ayam, nggak usah pakai sambal katanya. “


“Ya udah tunggu ya, kamu berangkat aja nggak papa sana, nanti kamu terlambat. “


“ Iya Bang. “


Saluran telepon pun terputus.


“Nek, gue berangkat dulu ya, tar gue bilangin Vivi, leka sembuh ya, “


kata Erna.


Rika pun mengangguk. Kemudian Erna keluar dari kamar menuju ke depan. Tidak lupa Erna menutup pintu rumah Rika.


Dan akhirnya Erna pun berangkat kerja sendirian.


Hari semakin sore, matahari sudah mulai berwarna jingga. Saat itulah Iyan datang. Sedangkan di depan rumah sudah mangkal tukang sate.


Sampai Iyan masuk ke dalam kamar Rika pun, tukang sate itu melihatnya melalui kamera.


Sepertinya tukang sate itu sedang mencari informasi.


Kemudian Iyan kembali keluar dari kamar Rika, dan menutup pintu depan. Akhirnya tukang sate pun tak mampu lagi melihat ke arah dalam rumah Rika.


“Udah di tutup Bang pintunya? “


tanya Rika.


“Udah, bang Iyan udah tutup, udah di konci juga. Ya udah malam ini Bang Iyan tidur sini ya,”


sahut Iyan.


“Mau ke dokter Ka? Abang anter yuk? “


ajak Iyan.


“Gak usah Bang, minum obat warung aja, bentaran juga sembuh, “


kata Rika.


“Abisin buburnya,”


Perintah Iyan.


Rika pun mengangguk. Sedangkan Iyan duduk di pinggir tempat tidur Rika.


Setelah menghabiskan bubur Rika pun terlihat lebih segar. Iyan berkata setelah ia memperhatikan wajah Rika,


“ Sebenarnya kamu ini sakit atau lapar? “


“ Ih bang Iyan, Ika tuh Sakit beneran, tapi mudah-mudahan sih nggak lama, “


sahut Rika.


Iyan pun keluar dari kamar untuk mengambil minum dan obat. Setelah mendapatkannya, Iyan pun kembali ke dalam kamar.


“ minum obat dulu nih, “


perintah Iyan.

__ADS_1


Rika mengangguk. Segera Rika meminumnya. Iyan membantunya menaruh gelas di atas meja kecil yang berada di dekatnya.


Melihat kondisi adiknya sudah mulai membaik, mengajaknya berbincang-bincang.


“Gimana hubunganmu sama Andre?” tanya Iyan.


Sebenarnya pertanyaan itu bukan pertanyaan basa basi. Iyan memang ingin tahu kelanjutannya setelah adiknya di lamar kekasihnya.


“Baik, Andre udah ngomongin nikah Bang. Dia nanya mau di bawain apaan? Akh Rika nnggak ngerti. Harusnya dia ngomongin ke mamanya, bener nnggak Bang? “


jawab Rika.


Iyan tersenyum.


“ Terus kelanjutannya gimana? “


tanya Iyan.


“ Kata Andre, dia mau ngomong sama Mamanya dulu, rinciannya udah dia catet. Terus kalau udah ngomong ke mamanya, dan mamanya udah kasih saran, baru dia ngomong lagi ke Rika. Terus kapan dia mau nemuin keluarga kita lagi, gitu Bang,”


jawab Rika.


“ Baguslah kalau begitu. Pokoknya intinya segala sesuatu harus dibicarain, jangan diam, dan jangan pakai sungkan. Karena pernikahan itu sakral loh. Kalau nggak dibicarain ada sesuatu dan keperluan apa-apanya, bisa berantakan nantinya, “


kata Iyan.


Rika hanya terdiam mendengar ucapan Iyan. Kemudian Ian pun kembali berkata,


“ kita ini kan dari pihak perempuan, apapun caranya, apapun dan bagaimanapun serahin semuanya ke pihak laki-laki. Jangan terlalu banyak menuntut, nggak baik. “


“ Iya Bang, Rika nggak nuntut apa-apa kok sama Andre, “


jawab Rika dengan lemah.


“ Ya udah, kamu istirahat aja, bang Iyan tetap di sini Kok, kamu tidur lagi aja biar cepet sembuh, biar bisa kerja lagi, “


Perintah Iyan.


Rika pun langsung merebahkan tubuhnya dan menyelimutinya. Iyan keluar dari kamar dan menutup pintunya. Setelah itu Iyan ke ruang depan dan menyalakan tv.


Di dalam kamar, Rika masih terjaga, walau kantuknya sudah mulai datang. Si pandanginya langit-langit kamar. Terbayang saat-saat awal dekatnya dirinya pada sang kekasih.


Rika tersenyum lirih. Tapi tiba-tiba wajah mama Lina terlintas di sana. Wajah keibuan yang bertaring dan bertanduk. Dan semua itu hanya dirinya yang dapat melihat, seolah-olah dia seorang indigo.


Rika mulai membalikkan tubuh miring ke kanan. Di peluk guling dan boneka kesayangannya.


Ingin rasanya dia melepaskan ikatan yang membelenggunya saat ini. Tapi apa daya, seolah dia tidak mampu melakukannya. Seolah ia tidak memiliki tenaga.


Terbayang kembali wajah Andre dengan senyumnya yang khas, dan ucapan “sweety “ yang melekat untuk dirinya. Cinta yang selama ini dia tunggu, kini hadir. Tapi cinta itu berduri, duri yang hanya dirinya yang mampu melihat.


Rika menghela napasnya dalam-dalam.


“Aku sayang kamu, Andre, “


Ucapnya lirih. Tak lama kemudian, Rika pun tertidur.


Sedang Iyan masih berada di ruang depan, sedang menikmati acara TV. Aaat sedang asyiknya, Tiba-tiba di mendengar suar teriakan dari dalam kamar.


Iyan tidak langsung bergegas, melainkan memasang telinganya lekat-lekat. Kembali suara teriakan itu terdengar. Barulah ia bergegas dan meyakinkan dirinya bahwa suara teriakan itu adalah suaranya adiknya.


Iyan sedikit berlari menuju kamar. Di dapati Rika sedang tertidur. Iyan memperhatikan Rika yang sedang tidur. Tak. Lama kemudian dalam tidurnya Rika berteriak.


Melihat Rika seperti itu segera Iyan mengoyakkan tubuh Rika agar tersadar. Tapi mata Rika masih terpejam. Berkali-kali Iyan mengoyakkan tubuh adiknya agar tersadar. Tapi masih saja seperti itu, terpejam, tapi sesekali berteriak.


Akhirnya Iyan mengambil air dari dalam kulkas. Segera Iyan membasahi wajah Tika dengan air dingin. Tetiba Rika tersadar.


Saat tersadar Rika menangis tersedu sedu di pelukan Iyan. Iyan hanya diam. Di. Peluknya adiknya agar bisa lebih tenang.


“Nangis lah Rika, tumpahkan emosimu sekarang, “


Bisik Iyan.


Rika masih menangis sesegukan. Tapi lama kelamaan tangisnya mulai mereda. Dan Rika pun melepaskan pelukan Iyan.


Sengaja Iyan tidak bertanya apa- apa perihal igauannya. Ia hanya mengambilkan tisu dan air minum. Setelah itu Iyan beranjak keluar kamar.


Tapi sebelum Iyan meninggalkan kamar, Rika berkata,


“Bang Iyan, temenin Ika tidur ya, kalo Ika udah nyenyak, baru bang Iyan boleh keluar. “


Iyan tidak menjawab, ia hanya mengangguk pelan.


Iyan pun duduk di tepi tempat tidur. Kemudian Rika pun kembali tidur. Sesaat kemudian suara nafas Rika terdengar. Tanda bahwa Rika sudah tertidur dengan nyenyak.


Melihat keadaan adiknya seperti itu, batinnya bertanya,


“Ada apa dengan Rika? Sepertinya dia sedang menghadapi sesuatu yang sangat berat. Apakah hubungannya dengan Andre yang membuatnya seperti ini? “

__ADS_1


Iyan pun membelai rambut Rika perlahan, kemudian meninggalkannya menuju ruang depan.


__ADS_2