Mertua Yang Jahat

Mertua Yang Jahat
Imbas dari kesalahan Putri


__ADS_3

Bab. 86.


“Gue harus ngomong ama Rika! Tapi ngomongnya gimana ya, malu banget gue nih, ehm,” pikir Andre.


Malam itu Andre susah untuk tidur. Matanya di pejamkan, tapi tetap saja otak berjalan-jalan.


Hari itu dari pagi hingga malam keadaan rumah sangat rancu, membuat Andre tidak betah, dan pikirannya pun tidak menentu.


Bagaimana tidak? Kesalahan yang Putri lakukan berimbas pada rencananya yang akan menikah dengan Rika. Rencana yang sudah di rampungnya dengan rapi, sesaat di porak-poranda kan oleh kelakuan adiknya yang di luar nalar.


Sesungguhnya Andre pun tidak menyangka Putri bisa seliar itu. Pokoknya hari itu membuat kepala Andre ingin pecah.


Karena tidak dapat nyenyak juga, akhirnya Andre berniat menghubungi Rika. Di ambilnya ponsel yang terletak di meja kecil di samping tempat tidurnya, lalu menekan beberapa tombol yang mengarah pada ponsel Rika.


Tidak lama kemudian, tersambunglah saluran telepon ke arah seberang sana.


“Halo Sweety,” sapa Andre.


“Ih, kebiasaan deh nelpon saat aku kerja, entar aku telpon balik, aku cari tempat aman dulu,” sahut Rika.


Kemudian saluran teleponnya terputus.


“Ih, ribet ya Andre, udah tau gue lagi kerja, pake nelpon segala, kenapa enggak kirim pesan aja sih! Lagian kan gue enggak enak kalo izin ke toilet mulu,” gerutu Rika.


Sikapnya tertangkap oleh seniornya, Vivi.


“Ya elaaaah, yang mau kawin, bentar-bentar telponan, sabar napa, ha ha ha,” ledek Vivi.


Rika pun tersipu malu mendengar ledekan dari seniornya. Tapi ia berharap agar Vivi mengizinkannya ke toilet untuk menghubungi Andre tanpa ia memintanya.


“Udah sana, ke toilet dulu, biar puas ngobrolnya, tapi jangan kelamaan ya, enggak enak nanti ada pengawas nyariin kamu, malah aku nanti yang kena marah,” kata Vivi.


“Siap Kak Vi, makasih ya,” sambut Rika dengan senyuman yang semerbak.


Bagaimana tidak? Tanpa ia meminta, Vivi langsung menyuruhnya pergi untuk segera menghubungi Andre, beruntung sekali Rika saat itu.


Rika langsung bergegas ke toilet dan menghubungi Andre lewat ponselnya.


“Halo Ndre, ada apa? Kebiasaan deh aku lagi kerja di ganggu,” sahut Rika.


“Maaf sweety, ada yang harus aku omongin ke kamu soal kita, soal pernikahan kita,” kata Andre panik. Nafasnya pun tidak beraturan.


“Maksud kamu apa?” kan semua udah beres, tinggal bayar aja, apa ada kendala uangnya?” tanya Rika penasaran.


“Bukan, bukan soal itu, tapi gimana pun kita kita harus ngerubah pola semuanya. Nanti deh pas kamu libur kita ketemuan ya, keadaan genting nih,” kata Andre masih dalam keadaan panik.


“Ya udah, nanti ya kita bicara, tapi kamu jangan panik gini dong,” celetuk Rika.


“Iya, ya udah, baaay,” sahut Andre.


Dengan lemas Rika memutuskan saluran ponselnya.


“ Ada apa ya, kenapa Andre begitu panik? Ehm, ulah mamanya lagi nih kayanya. Atau ada kendala yang lain? Aduh, pusing gue jadinya. Jangan sampe gagal kawin deh, gila aja kalo sampe batal,” makinya dalam hati.


Rika pun kembali ke tempat kerjanya.


“Udah? Tumben cepet,” tanya Vivi.


“Udah kak,” jawab Rika.


Vivi memperhatikan wajah Rika yang mulai terlihat semrawut.


“Kok muka kamu mupeng gitu? Apa ada yang enggak beres?” tanya Vivi merasa ikut khawatir.

__ADS_1


“Enggak tau kak, Andre belom jelasin, nanti aja katanya,” jelas Rika.


“Sabar ya Rik, orang kalo mau menuju halal itu ada aja cobaannya, tapi kamu harus kuat dan yakin, jadi enggak goyah,” kata Vivi yang berusaha menenangkan.


“Iya kak, makasih ya perhatiannya, Insya Alloh aku kuat,” balas Rika.


Dan mereka pun kembali bekerja di tengah-tengah lantunan musik yang terus mengalun.


Sedangkan Andre di kamarnya masih terjaga. Dia bingung untuk memulai apa yang harus di sampaikan pada Rika, sedangkan yang terjadi adalah aib dari adiknya. Ia pun tak mau jika Rika mengetahuinya.


Karena lelah berpikir, akhirnya Andre pun terlelap juga dalam tidurnya.


****


Keesokan harinya Andre bangun dari tidurnya karena kaget mendengar teriakan Lisa.


Lisa berteriak karena melihat Putri sedang muntah-muntah. Lisa panik dan dan mencari mbok Yem. Tapi mbok Yem tidak berada di rumah.


Andre segera turun dan bertanya pada Lisa,


“Kenap Ica, kenapa teriak?”


“Itu Bang, kak Putri lagi muntah di kamar mandi, Lisa takut,” jawab Putri sambil menangis.


Andre pun segera memeluk Lisa dan mencoba menenangkannya, dan akhirnya Lisa menghentikan tangisnya.


“Lisa enggak sekolah?” tanya Andre.


Andre membawa Lisa ke ruang tengah dan menyalakan TV agar Lisa terhibur.


Sambil mengusap air matanya Lisa menjawab,


“Enggak, Lisa libur, ini kan hari minggu.”


“Ya ampun, Bang Andre lupa! Kok bang Andre bisa lupa ya kalo Lisa libur?”


“Berarti Bang Andre enggak sayang ama Lisa,” sahut Lisa sambil tersenyum.


“Eh, kata siapa bang Andre enggak sayang Lisa? Oh ya, Lisa tunggu sini dulu ya, Abang mau liatin kak putri,” kata Andre.


Andre menurunkan Lisa dari gendongannya, San menyuruh duduk si karpet. Kemudian Andre berjalan menuju kamar Putri.


“Put, Lo baik-baik aja?” tanya Andre, setelah menggedor kamar Putri.


Sengaja Andre membuka pintu kamar Putri dengan kasar, agar Putri mengetahui kalau dia masuk ke dalam kamarnya.


Terlihat Putri keluar dari kamar mandi sambil memegangi perutnya.


“Bang, mbok Yem ke mana sih, dari tadi gue enggak liat,” tanya Putri.


“Mbok Yem ke pasar Put. Udah, lo istirahat aja, jangan banyak mikir yang enggak-enggak,” sahut Andre, sambil duduk di tempat tidur Putri.


Putri berjalan mendekati Andre dan duduk di sampingnya.


“Hari ini lo mau ke mana Bang?”


“Gue mao ke rumah Rika, gue mao ganti konsep,” jawab Andre.


“Bang, maapin gue ya, gue enggak tau deh bakal gimana acara lo nanti. Oh ya, emang kapan rencananya? Trus persiapannya gimana?” tanya Putri.


“Persiapan hampir matang, tinggal naro DP, bagusnya sovenir baru dikit belinya. Ya Alloh, susah banget menuju halal!” jawab Andre, sambil merebahkan tubuhnya ke kasur.


Kakinya masih menggelantung. Lisa pun masuk ke kamar Putri, dan menaiki kaki Andre yang menggantung.

__ADS_1


“Bang, goyang-goyangin dong,” pinta Lisa.


“Aduuuuh De, kamu tuh udah berat.


“Lisaaaa!” panggil mbok Yem.


“Eh, Lisa si panggil mbok Yem tuh, pasti bawa oleh-oleh buat Lisa,” pancing Andre, agar Lisa segera keluar dari kamar.


Lisa pun berlari menemui mbok Yem.


“Gue pergi dulu ya, ke rumah Rika. Pusing gue mao ngomong apa ke Rika,” kata Andre pada Putri.


Andre pun beranjak keluar dari kamar.


Putri hanya terdiam mendengar ocehan Andre.


“Mbok, Andre pergi dulu ya,” pakit Andre pada mbok Yem.


“Iya Den,” jawab mbok Yem.


******


Kedatangan Andre ternyata sudah di tunggu oleh Rika dan Erna. Sambil tersenyum Andre menyapa mereka berdua.


“Assalamu’alaikum.”


“Wa alaikumsalam,” jawab Rika dan Erna.


Andre pun masuk dan duduk di teras. Lalu Rika menawarkan minuman pada Andre, “ Mau minum apa Ndre?”


“Apa aja boleh, yang penting kamu yang buatin,” jawab Andre gombal.


“Trus emang siapa lagi yang buatin kalo bukan Rika? Gombal lo Ndre!” kata Erna mengomel.


“Iiiiiiih, yariiiin siiiiih,” sahut Andre meledek.


Mereka pun duduk di teras, sementara Tika masuk ke dalam rumah untuk membuatkan kopi.


Ada yang aneh nampak di wajah Andre, ya Rika melihat itu. Sambil membuatkan kopi, Tika menerka-nerka, ada apa ya, apa yang akan di sampaikan Andre pada Rika.


Setelah membuatkan kopi, Rika membawanya ke teras dan meletakkan di meja.


“Rik, undangan gimana, udah di pesan?”


Tanya Andre.


“Belum, baru ngedata nama temen dan keluarga yang akan di undang. Lagian aku sama Erna belum ada yang fix tempat cetaknya, karna harga,” jawab Rika menerangkan.


“Ooowh,” sahut Andre.


Rika memperhatikan gerak gerik Andre yang tak biasa. Di lihatnya Andre menarik nafas panjang, dan menghembuskannya perlahan, seolah-olah ada yang tertahan di dadanya.


“Gini sweety, kita bikin akad aja ya di rumah, jadi nggak usah bikin pesta. Kalau pun bikin, ya bikin syukuran aja, bukan pesta pernikahan,” kata Andre lemas.


Rika dan Erna saling bertatapan. Karena tak terima, Erna pun angkat bicara,


“Maksud lo nikah aja, di..... “


Kata-kata Erna kemudian di potong oleh Andre.


“Maaf ya Er, gue hargain bantuan lo, tapi lo enggak ada hak untuk ikut campur, jadi tolong, lo dengerin aja, karna gue enggak minta pendapat lo,” potong Andre dengan ketus.


Wajah Erna pun memerah seketika, Kata-kata Andre membuat Erna merasa di tampar.

__ADS_1


__ADS_2