
Waktu telah menunjukkan pukul 02.00 siang, saatnya Andre pergi ke rumah Rika.
Andre pun mempersiapkan diri. Setelah itu ia berpamitan pada Om Faisal.
Dari kejauhan Mbok Yem memperhatikan gerak-gerik Andre. Mbok yang berpura-pura seakan-akan tidak tahu apa yang akan Andre lakukan.
“ Om, Andre pergi dulu ya? “
Pamit Andre.
“ Wah sudah rapi aja, emang mau ke mana kamu? “
Tanya om Faisal.
“ Mau ke rumah Rika Om, mumpung libur. Lagian Andre udah lama juga sih nggak ketemuan, “
jawab Andre.
“ Ya udah hati-hati ya, kirim salam buat Rika, “
sahut Om Faisal.
Padahal Andre sudah berada di depan pintu, tapi karena kurangnya rasa percaya diri, ia kembali ke dalam untuk menatap cermin.
Melihat kelakuan Andre, Mbok Yem tersenyum dan berkata,
“ Oalah Den sudah ganteng, nggak perlu diapa-apain lagi. “
“ Iya Mbok, Andre kan ganteng dari lahir, cuma sedikit dirapiin doang kok nih rambutnya, “
sahut Andre.
Mendengar perkataan Andre Mbok yang pun terkekeh dan berkata,
“ Ya iyalah Den, kamu tuh ganteng dari lahir, wong kamu kan laki-laki. “
Andre pun tak mau kalah.
“ Emang Andre salah ngomong Mbok? “
“ Ya ndak, kamu ndak salah ngomong, cuma kamu kepedean aja, itu menurut mbok he he he, “
Kata mbok Yem sambil menepuk bahu Andre, lalu kemudian Mbok Yem pun berlalu.
Andre pun bergegas keluar dan menuju ke garasi. Andri segera memanaskan mesin mobil.
Saat Andre memanaskan mesin mobil, Om Faisal mengetahuinya. Saat itu om Faisal mengingat pesan istrinya, agar Andre tidak menggunakan mobil ketika ke rumah Rika.
Om Faisal pun meninggalkan ruang kerjanya. Ia bergerak melangkah menuju garasi.
Andre pun terkejut melihat kedatangan Om Faisal yang tiba-tiba.
“ Ih Om bikin kaget aja. Ada apa Om? “
Tanya Andre.
“ Tadi sebelum mama berangkat, mama pesan buat kamu, kalau kamu nggak boleh gunain mobil buat ke rumah Rika, “
jawab Om Faisal.
Mendengar jawaban Om Faisal, wajah Andre pun berubah menjadi kecut.
Om Faisal pun tersenyum lalu berkata,
“ Pakai motor aja mendingan. Enakan nggak macet. “
Dengan wajah yang masih cemberut, Andre pun mematikan mesin mobil dan berpindah ke arah sepeda motornya. Ia pun memanaskan mesin sepeda motornya, dan tak lama kemudian ia melajukan dan meninggalkan rumah.
Dengan perasaan gembira, Andre pun melajukan kendaraannya menuju rumah Rika.
Walau cuaca saat itu sangat terik, dan jalanan sangat padat merayap, kerena hati Andre sangat bahagia, Ia pun tidak terganggu dengan keadaan.
Sampailah Andre di depan rumah Rika. Andre pun memarkirkan kendaraannya di depan teras.
Saat itu pintu rumah Rika terbuka, dan di dalamnya terdengar suara-suara ribut.
Karena suara itu tidak jelas terdengar, Andre pun bergegas mendekat sambil menyimak segala yang didengarnya.
“ Tapi kan dia pacar lo kenapa harus gue yang nanggung? “
Kalimat itu itulah yang Andre dengar. Andre pun menjadi bingung apa yang ia dengar. Segera Andre mengernyitkan dahinya, dan bergegas menuju pintu masuk.
Ketika Andre berdiri di depan pintu, dia Memberi salam, dan dia melihat Rika dan Erna berada di sana.
“ Assalamualaikum. “
“Waalaikumsalam, “
Jawab Rika dan Erna bersamaan.
Melihat kehadiran Andre, Rika dan Erna pun saling bertatapan.
Rika pun menyambut kedatangan Andre dan berkata,
“Masuk sini Ndre. “
Andre pun masuk dan duduk di lantai yang beralaskan karpet.
“ Hai Er apa kabar? Udah lama lo di sini?”
Tanya Andre.
“ Udah dari tadi kok. Ya udah lu lanjut deh berdua, gua balik ya, “
jawab Erna.
“ Ya ampun Erna kenapa harus bohong sih, padahal dia kan baru dateng, kenapa dia bohong sama Andre ya? “
Rika bergumam dalam hati.
“ Apa maksudnya, apa bukan lebih baik Dia berkata jujur sama Andre tentang keadaan ini semua, “
__ADS_1
hati Rika pun terus berkata-kata.
Seolah-olah tidak terjadi apa-apa, sikap Erna pun welcome ke Rika.
“ Ya udah Rik gue pulang dulu ya, lo happy-happy deh berdua, rencanain deh masa depan lo yang indah-indah, gue balik dulu ya, bentar lagi juga kan gue berangkat kerja, “
kata Erna berpamitan.
Rika pun tidak tinggal diam. Ia mengambil kesempatan saat itu, agar perselisihan ini tidak berlanjut.
“Ya udah, untuk minggu depan kita bikin waktu libur barengan yuk bertiga, mau ya Er? “
Tanya Rika.
Andre pun ikut memberi pendapatnya. Dan ia berkata,
“ Wah boleh juga tuh Rik, gimana Er mau ya? Seru nih kalau kita libur bertiga. “
Melihat Sikap kedua sahabatnya, Erna pun tersenyum, lalu menjawab,
“Hemm, lihat nanti ya gimana enaknya. “
Erna pun berlalu, meninggalkan Andre dan Rika di dalam rumah.
Rika pun menjadi bingung atas segala sikap Erna tadi, ketika di depan Andre. Sikap Erna berubah menjadi baik ketika Andre datang.
Berbeda dari sebelumnya. Tanpa rasa gatal Rika pun menggaruk-garukkan kepalanya.
Rika pun tersadar atas sikapnya, karena saat itu sudah ada Andre di rumahnya.
Alika pun menawarkan minum lalu ia berkata,
“ mau minum apa Ndre? “
“ Apa aja deh yang ada, yang penting buatan kamu, “
jawab Andre.
Rika pun tersenyum, kemudian ia melangkah menuju ruang dapur untuk membuat teh.
Ketika Rika sedang membuat teh di dapur, Andre mendengar suara ketukan yang lewat di depan rumah Rika.
Segera Andre beranjak dan melangkah keluar. Ia melihat tukang gorengan yang lewat.
Andre pun memanggilnya dan melangkah mendekati tukang gorengan itu.
“ Bang beli dong, goceng aja ya, “
kata Andre, sambil mengambil dompetnya di saku belakangnya.
Ketika ia membuka dompetnya hendak mengambil uang, ternyata Uang pecahan 5000-an tidak ada di dalamnya.
Maka ia pun berkata pada tukang gorengan itu,
“ Bentar ya Bang, saya ambil uang dulu ke dalam. “
Tukang gorengan itu pun mengangguk, sambil mengaduk-aduk masakannya.
Tanpa melangkah terus, Andre memanggil Rika dengan berteriak.
“ Sweety, sweety! Kamu punya gocengan nggak? “
Mendengar suara Andre yang memanggilnya, Rika pun segera bergegas ke ruang depan.
“ Kenapa sih teriak-teriak? “
Tanya Rika.
“ Ini aku beli gorengan, kamu punya 5 ribuan Nggak, aku nggak ada pecahan kecil nih, “
jawab Andre.
“ Bentar ya aku cariin, “
jawab Rika.
Rika pun masuk ke dalam kamarnya, dan mencari dompetnya untuk mengambil uang pecahan 5 ribuan.
Setelah ia mendapatkannya maka uang itu diberikan kepada Andre.
“Nih Ndre pakai aja, “
sahut Rika.
Tanpa rasa malu, Andre pun mengambilnya dan bergegas menuju ke depan untuk menghampiri tukang gorengan.
Andre pun membayarnya dan ia mengambil gorengan tersebut dan dibawa ke dalam rumah Rika.
Andre pun menyerahkan gorengan itu pada Rika. Kemudian ia berkata ,
“Nih Rika, buat kamu. “
Rika pun mengambilnya kemudian ia tersenyum lebar.
“ Ternyata Dari dulu kelakuannya tidak berubah ya, “
gumamnya dalam hati.
Rika pun mengambil piring untuk menaruh gorengan itu, untuk mereka nikmati.
Karena Suasananya yang canggung, Andre pun menyalakan tv.
Di celah-celah saat mereka berdua menikmati acara TV, Andre memulai percakapan.
“ sweety, kamu ingat nggak sih udah berapa bulan sih kita jalan bareng? “
Tanya Andre.
“ Sekitar 5 7 bulan mungkin ya, aku lupa Ndre, “
jawab Rika.
__ADS_1
“ Menurut kamu, kapan ya kita melangsungkan pernikahan, enaknya kapan ya? “
tanya Andre.
Rika pun menjawab sambil tersenyum,
“Ya enaknya sih nggak mendadak, dan enaknya itu kita masing-masing lagi punya uang. “
Andre pun kembali bertanya,
“Emang menurut kamu, kira-kira persiapan pernikahan itu berapa sih? “
“M aku sih tergantung, tergantung pestanya, kamu mau bikin biasa atau mewah, “
jawab Rika dengan singkat.
Andre pun membetulkan duduknya, sambil menghadap ke Rika.
“ Emang kamu maunya gimana, mau sederhana atau mewah? Kalau aku sendiri sih pengennya biasa-biasa aja, terus kalau masih ada dananya, buat kita bulan madu deh, “
Kata Andre, sambil melirik ke atas.
“ Ah kamu Ndre, menghayal melulu,”
sahut Rika sambil memukul bahu Andre dengan bantal kecil.
“ habis aku pengen buru-buru sweety, Umur aku aja udah segini, kemudian kita punya anak, terus umur aku udah nambah lagi, Aku kan nggak mau kalau aku punya anak terus akunya udah tua, nanti dibilang, Eh kamu jalan sama kakeknya ya, “
kata Andre dengan candanya.
Melihat raut wajah Andre yang bahagia, Rika pun tersenyum, dan berkata dalam hati,
“ Ya ampun Ndre, Andaikan lo tahu apa yang gue rasain, Gue nggak tahu deh lo akan sebahagia ini atau enggak. “
Andre menatap wajah Rika. Andre menangkap pandangan Rika sangat kosong saat itu.
Andre melambai-lambaikan tangannya tepat di depan wajah Rika, tetapi Rika tidak menggubrisnya.
Dan tanpa sadar Rika meneteskan air mata, hingga akhirnya Andre pun melihat jatuhnya air mata Rika ke pipinya.
Andre pun mengguncang-guncangkan bahu Rika, hingga akhirnya Rika pun tersadar dari lamunannya.
“ kamu Kenapa sweety? Sweety kamu kenapa, Hei Ngomong dong Ngomong? “
Sahut Andre dengan berteriak, sambil mengguncang-guncang bahu Rika.
Rika pun tersadar, kemudian ia segera mengusap air mata yang jatuh di pipinya.
“ Kamu Kenapa Siti? Apa yang kamu pikirin? “
Tanya Andre.
“ Nggak, nggak apa-apa, nggak ada kok yang aku pikirin, Aku senang aja kamu datang, “
jawab Rika berbohong.
“ Kalau senang kenapa kamu nangis?” tanya Andre
“ Nangis Seneng Ndre, udahlah gak usah dibahas lagi, mending kita ngomongin persiapan kita nikah, “
jawab Rika mengalihkan.
Dalam hati Rika, ingin rasanya mengeluarkan unek-unek yang selama ini di rasakannya, ingin sekali dia mengadukan perihal di potongnya gajinya, ingin sekali dia bercerita tentang sikap mama Lina pada Andre, ingin rasanya dia mengadu kalau saat ini dia sedang bertengkar dengan Erna.
Tapi semua niatnya itu di urungkan. Tersebab betapa ia mencintai Andre, cinta Andre sudah lama ia tunggu.
Pernah ia berpikir untuk mengatakan semuanya pada Andre, tapi dia tidak mempunyai kekuatan untuk itu.
“Oh Tuhan, kuatkan aku, “
gumamnya dalam hati.
Rika pun berdiri, dan meninggalkan Andre di ruang depan.
“Kamu mau ke mana sweety? “
Tanya Andre.
“Mau cuci muka dulu, “
Jawabnya singkat.
Andre pun mengernyitkan dahinya, merasa sedikit heran atas sikap Rika. Dan Andre pun menghempaskan nafasnya.
Waktu pun sudah menjelang sore, langit berubah menjadi jingga.
Andre keluar dan duduk di teras.
Tidak. Lama kemudian, suara azan magrib pun berkumandang.
“Ya Alloh, udah azan aja, cepet banget rasanya, baru bentaran rasanya gue di sini, udah maghrib aja. Balik gak ya? “
Kata Andre pada dirinya sendiri.
Rika pun muncul dari dalam, dan menyuruh Andre untuk ke masjid.
“Dre, ke mesjid gih, aku di rumah aja, “
perintah Rika.
Andre menganggukkan kepalanya. Segera ia beranjak, dan berbaur pada orang-orang yang menuju ke masjid.
Rika pun masuk ke dalam, dan tidak lupa ia menutup pintu. Di sela waktu ia menutup pintu, Rika menoleh keluar, dia melihat tukang sate sudah mangkal di depan rumahnya.
Rika pun tersenyum dan menutup pintu. Tak lama kemudian dia melihat keluar melalui jendelanya.
Rika memperhatikan tukang sate itu. Ya, dia mengenali sosok itu.
“Yarin, tar gue kerjain tuh orang, “
gumamnya dalam hati.
__ADS_1