Mertua Yang Jahat

Mertua Yang Jahat
Rumah tangga Rika dan Andre


__ADS_3

“Karna kondisi bayi sangat lemah, dan ia harus mendapatkan perawatan yang intensif dulu Bu, kini bayinya sudah masuk inkubator. Dan keadaan ibunya saat ini belum sadarkan diri, kemungkinan paling lambat 30 menit kemudian akan sadar, semoga saja bu,” Kata dokter menerangkan.


“Jadi saat ini belum sadar Dok? Apa ada sesuatu Dok?” Tanya mama Lina penasaran.


“Tidak Bu, saat ini masih batas wajar. Biasa kalo pasien setelah operasi tidak langsung sadar Bu,” Jelas dokter.


Iyan hanya dapat menelan ludah melihat keadaan yang sebenarnya.


******


4 tahun berlalu. Rika pun sudah memiliki seorang anak perempuan dari pernikahannya bersama Andre yang di beri nama Kanza.


Rika sangat menikmati perannya sebagai istri dan ibu, sampai satu hari ia ingin berhenti bekerja, tapi sayang, keinginannya sangat di tentang oleh mertuanya, ya itu mama Lina.


“Enak saja kamu mau berhenti kerja, lalu kamu dan anakmu akan merepotkan anakku? Owh tidak!” kata mama Lina memaki, yang terjadi satu hari saat Rika dan Andre berkunjung.


Mendengar perkataan mertuanya, Rika hanya diam. Sengaja ia menyibukkan diri mengurus Kanza.


Sedangkan Andre menoleh ke arah Rika, tapi tak ada balasan tatapan apapun dari Rika.


“Kita berdua kan agak repot juga Mah ngurus Kanza, kalo Rika berenti kerja, dia bisa fokus ngurus Kanza dan Andre,” sahut Andre menerangkan.


Mama Lina menyeruput kopinya. “Halaaah, gak usah nyari alasan buat berenti, mama aja bisa ngurus kalian, kenapa kamu enggak suruh aja adikmu tinggal sama kamu, biar Kanza dia yang urus, kamu bisa fokus kerja, jangan bisanya ngandelin Andre aja,” kata mama Lina dengan pedasnya.


Seperti biasa, kalau ucapan mertuanya sudah tidak dapat di tampungnya, Rika selalu pindah tempat. Dia menggendong Kanza untuk di ajak main ke taman belakang.


Rika mengajak Kanza bermain ayunan, dan di sana Kanza sangat senang.


“Sabar ya Non Rika, ibu emang suka begitu, jangan di ambil hati ya,” ucap mbok Yem.


Rika pun tersenyum, ternyata masih ada orang yang baik memperhatikannya.


“Bagaimana pekerjaanmu? Apa kamu masih jadi waiters?” tanya mama Lina.


“Kerjaan Andre baik, sekarang Andre megang kepala kasir. Jadi dua shif itu Andre yang tanggung jawab,” jawab Andre.


“Baguslah kalau begitu,” sahut mama Lina.


“Putri gimana Mah? Dede Satria masih kontrol?” tanya Andre.


“Putri baik-baik saja, Satria harus selalu kontrol tiap bulannya. Malahan si Irfan enggak selalu ngasih tiap bulannya, jadi mama yang harus ngebiayain perawatan Satria,” jawab mama Lina.


“Mungkin ada baiknya Putri nikah sama Irfan Mah,” sahut Andre.

__ADS_1


“Enak saja! Dengan ikatan pernikahan, adikmu harus melayani dia! Belum lagi dia bakal numpang hidup di sini, aduuuuh, enggak deh!!! Belum lagi soal istrinya, Irfan itu punya istri, Ndre! Mereka bakal jadi kanker di rumah kita!!! Udah cukup! Mama enggak mau bicarain soal Irfan! Laki-laki sialan!”


Andre terdiam saja, dia tidak mau meneruskan pertanyaannya yang lain.


“Kasian lo Put, napa idup lo jadi begini sih?” gumamnya dalam hati.


Karena jam telah menunjukkan pukul 4 sore, Andre izin pamit untuk pulang.


“Mah, udah sore, Andre pulang dulu ya,”


Kata Andre, seraya menyalami mama Lina.


Semenjak menikah dengan Rika, Andre tinggal di kontrakan milik Rika. Karena kontrakan Rika yang di tinggalinya tampak kecil, akhirnya merek berdua mencari rumah kontrakan yang lebih besar.


Mama Lina mengamati Andre, ingin rasanya menyuruhnya untuk tetap tinggal. Tapi ketika melihat Rika, buru-buru ia hapus keinginannya itu.


Setelah menyalami mamanya, Andre berjalan menuju taman belakang, di mana Rika sedang mengajak Kanza bermain.


“Yuk Rik, kita pulang. Ayo Kanza, pamit dulu sama Oma,” ajak Andre.


Putri memandangi mereka dari balik jendela dapur.


“Alangkah bahagianya hidup lo Bang, keluarga lo lengkap,” lirihnya dalam hati.


Rika dan Kanza pun masuk ke dalam rumah dan berpamitan pada mama Lina.


“Salam Oma sana,” perintah Rika pada Kanza.


Kanza pun menyalami mama Lina. Walau agak segan, tapi mama Lina masih menyambut tangan Kanza dengan senyuman. Tapi tidak untuk Rika. Mama Lina memasang wajah cemberut saat Rika menyalaminya.


“Put, gue pulang dulu,” teriak Andre memanggil adiknya.


Putri pun menghampirinya dan menyalaminya, kemudian Putri mengalami Rika.


“Enak banget lo bang, sempurna idup lo,” bisiknya dalam hati.


Rika, Andre dan Kanza pun pulang, dengan menggunakan sepeda motor, yang baru saja Andre ambil dari leasing.


Putri mengantar mereka sampai pintu gerbang. Di lihatnya motor Andre masih belum ada plat nomornya.


“Wah, motor baru nih,” celoteh Putri.


“Baru dong, keren gak?” tanya Andre.

__ADS_1


“Keren Bang,” sahut Putri dengan senyuman.


“Tapi utang,” balas Andre sambil tertawa.


“Idih, utang, ogah banget gue punya utang, mending nabung dulu, baru beli,” sahut Putri.


“Udah aku bilangin Put, tapi abangmu enggak mau denger,” sambung Rika.


“Sentil aja Kak, ha ha ha,” sahut Putri.


“Ya udah Put, abang pulang dulu ya, jaga Satria baik-baik, jangan lupa kontrolnya rutin,” pamit Andre.


Andre, Rika dan Kanza pun berlalu, sambil Putri melambaikan tangannya.


Sepeninggal mereka, Putri pun masuk ke dalam rumah, tapi tidak berselang lama, gerbang di gedor dari luar. Karena bentuk gerbang yang di tutup faiber, jadi tidak kelihatan ke arah jalanan. Putri pun harus membukanya dulu agar mengetahui siapa tamu yang datang.


Putri terkejut melihat siapa yang datang. “Ngapain Mas ke sini?” tanya putri pada Irfan.


“Put, aku mau ketemu dengan Satria,” jawab Putri.


Putri langsung menutup gerbang dan menguncinya. Ia tidak ingin kedatangan Irfan di ketahui mamanya. Lalu ia bergegas masuk ke dalam dan menutup pintu.


Sementara Irfan masih menunggu di luar, ia menghubungi mbok Yem dari ponselnya.


Tapi sayang, ponsel Putri yang di pegang mbok Yem dalam keadaan tidak aktif. Akhirnya Irfan hanya dapat menunggu di luar tanpa kepastian.


Di dalam, suasana kembali kening setelah Andre dan keluarga kecilnya pulang. Sempat ada rasa hampa di hati mama Lina, tapi ia berusaha menepisnya, otaknya segera di alihkan pada pekerjaannya.


Sudah lama ia tidak ke gudang untuk mengontrol pekerjaannya, karena semenjak om Faisal sudah tidak aktif bekerja, mama Lina melimpahkan semua pekerjaannya pada Dian dan Herman. Sedangkan mereka hanya memberikan laporan setiap minggunya, bahkan dalam waktu sebulan lamanya.


Tiba-tiba om Faisal keluar dari kamarnya dengan menggunakan kursi roda. Perlahan ia memutar kursi rodanya keluar kamar hendak menuju ruang kerjanya.


“Aduh, Papa mau ngapain sih, sempit Pa, nanti mentok-mentok, ada yang pecah deh keramik Mama,” omel mama Lina.


Om Faisal hanya terdiam. Karena semenjak dulu ia di rawat, om Faisal sudah tidak dapat bicara, hanya dengan kedipan mata atau mengangkat alis, dia memberi kode.


Mama Lina keluar dan duduk di teras. Ia menghubungi Herman melalui ponselnya,


“Halo Man, kumpulkan yang lainnya, saya ingin bicara.”


{................ }


“Di tempat biasa, malam ya jam 8.00.”

__ADS_1


Saluran telepon pun terputus. Tiba-tiba mama Lina mendengar ketukan dari luar gerbang, dan ia pun menoleh.


Suara ketukan itu awalnya terdengar samar, tapi lama kelamaan terdengar dengan jelas. Enggan rasanya mama Lina beranjak dari duduknya, tapi bagaimana pun ia harus mengetahui siapa yang mengetuknya dari luar.


__ADS_2