Mertua Yang Jahat

Mertua Yang Jahat
Dian dan Herman terlihat mesra.


__ADS_3

Setelah mbok Yem keluar dari ruang rawat Putri, beberapa menit kemudian mama Lina pun sampai.


“Putri gimana mbok keadaannya?”


Tanya mama Lina ketika sampai di sana.


“Alhamdulillah sudah membaik, nyonya. Oh ya, apa Nyonya sudah melihat keadaan Tuan?”


Tanya mbok Yem balik.


“Sudah, tapi belum bisa di temui. Sebenarnya ada apa mbok? Apa yang bikin Tuan begini?”


Tanya mama Lina penasaran.


“Duduk dulu Nya, kita ngobrolnya di situ aja,”


Ajak mbok Yem sambil menunjuk ke arah ruang tunggu.


Mbok Yem dan mama Lina pun berjalan menuju ke ruang tunggu. Mereka pun duduk dan akhirnya berbincang.


Mbok Yem mendahului pembicaraan dengan mama Lina.


“Begini nyonya, tadi tuh katanya ada tikus masuk ke kamar non Putri. Karna non Putri teriak-teriak akhirnya Tuan liatin. Tuan cari tikusnya. Nggak lama saya datang, eh Tuan udah pingsan dan non Putri lagi nangis,”


jawab mbok Yem menjelaskan.


Sebenarnya jawaban mbok Yem tidak semua benar. Ada yang mbok Yem tutupi penyebab om Faisal pingsan.


Mendengar penjelasan mbok Yem, mama Lina terdiam, wajahnya terlihat sedih. Lalu Koko datang dan membawa kabar.


“Nyonya, pak Faisal usah bisa di jenguk,”


Jelas Koko.


Mama Lina pun bangkit dari duduknya dan hendak menjenguk suaminya. Tapi sebelum meninggalkan ruang tunggu, mama Lina berpesan pada mbok Yem,


“Mbok, tunggu di sini ya, saya mau liatin suami saya dulu. Tolong jagain putri, takut kenapa napa.”


“Baik nyonya, saya di sini aja,” jawab mbok Yem sambil mengangguk.


Mama Lina dan Koko meninggalkan mbok Yem si ruang tunggu, sementara ia dan Koko berjalan menuju ruang UGD di mana om Faisal di tempatkan.


“Wah, bagaimana ini kalo Tuan cerita ke nyonya atas apa yang telah dia temukan? Oh Gusti, jangan sampe ada perang di rumah. Tolong jangan sekarang, kasian Den Andre yang mau nikah, bisa terganggu acaranya, belum lagi amarah nyonya pada non Putti, bisa-bisa jadi perkedel tuh anak. Duh, malahan Den Irfan nggak jelas pertanggung jawabannya, aduh pusing saya!”


Gerutunya dalam hati.


Mbok yem berharap akan ada keajaiban, agar semuanya tidak terbongkar. Bukan untuk menutupi keadaan Putti semata, tapi untuk kelangsungan acara Andre dan Rika.


Sementara mama Lina melihat keadaan suaminya, sedangkan Koko dan Ical menunggu di luar. Karena om Faisal. Masih di ruang UGD, hanya boleh 1 orang yang menjenguk.


Om Faisal sudah sadar dari pingsannya. Dokter menerangkan bahwa sementara om Faisal tidak dapat bicara, karena ada sumbatan darah ke otak yang mengakibatkan om Faisal struk.

__ADS_1


Mama Lina sangat terpukul setelah mengetahui keadaan suaminya, dia sangat sedih. “Oh Tuhan, mengapa jadi begini?” peliknya dalam hati.


Mama Lina duduk di samping tempat tidur om Faisal. Di pandangi wajah suaminya yang saat itu sedang tidak berdaya.


Hanya air mata dan kedipan mata yang terlihat. Seperti ada yang akan di sampaikan oleh om Faisal pada mama Lina.


Mama Lina mendekat, ia berusaha tidak menampakkan raut wajah kesedihan. Mama Lina tersenyum sambil memandang wajah suaminya yang terus berderai air mata.


Sambil tersenyum, mama Lina menyeka air mata om Faisal dan berkata,


“Lekas sembuh ya Pa, papa nggak usah banyak mikir, kan ada mama.”


Tapi air mata om Faisal semakin deras. Sampai beberapa lembar tisu telah habis terpakai.


Mama Lina pun kembali berkata,


“Udah Pa, Papa nggak usah ngomong apa-apa. Semua udah mama handle, papa tenang aja, semua baik-baik aja. Mama keluar dulu ya Pa, kata perawat, mama di sini nggak boleh lama-lama, biar papa istirahat aja.”


Lalu mama Lina mencium kening suaminya dan meninggalkan ruang UDG.


Setelah di luar, mama Lina menghubungi Andre melalui ponselnya.


“Halo Ma, kenapa?” sapa Andre di sambungan telepon seluler.


“Dre, lekas ke sini ya. Ke rumah sakit harapan kita semua, ke bagian UGD,” jawab mama Lina.


“UGD Ma, siapa yang sakit?” tanya Andre terkejut.


“Baik Ma, Andre segera ke sana,” balas Andre.


Andre pun meminta izin pada pak Narto, selaku manager setempat. Karena alasan yang Andre ajukan tepat, akhirnya mau tidak mau pak Narto memberi izin pada Andre untuk pulang lebih dulu.


Karena keadaan jalan yang saat itu sangat macet, sekitar satu jam Andre baru tiba di rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, Andre langsung menuju ruang UGD. Di dapatinya di ruang tunggu mamanya dan salah satu karyawan om Faisal yaitu Koko.


Sementara Ical sedang menebus obat untuk Putri.


Andre duduk si samping mamanya, dan berkata,


“Sabar ya Mah, kita doakan saja buat om Faisal, biar cepet sembuh.”


Mama Lina hanya mengangguk.


Di ruangan lain, Putri sudah di perbolehkan pulang. Tapi gerakan tubuhnya tidak boleh salah gerak, bisa mengakibatkan keram di perutnya. Akhirnya Ical mencari kursi roda agar dapat membawa Putri ke ruang UGD untuk bergabung dengan yang lainnya. Sedangkan mbok Yem masih terus mendampingi Putri.


Melihat Putri duduk di kursi roda, Andre terkejut, lalu berkata,


“Lo kenapa Put?”


Putri tidak menjawab. Tapi mbok Yem yang mewakilinya.

__ADS_1


“Ini Den, Non Putri sakit perut, kata dokter perutnya keram, mungkin karna tegang melihat Tuan yang pingsan,” jawab mbok Yem.


“Manja lo Put,” sahut Andre, sambil menendang kursi roda yang Putri duduki.


“Sudah-sudah, kalian ini masih aja ribut, keadaan lagi begini bukannya bikin mama tenang, malah ribut. Sudahlah, kalian pulang aja. Biar di sini mama ama Andre aja yang nunggu,”


Perintah mama Lina.


Mbok Yem pun mengangguk.


“Ya benar, ada baiknya kita pulang, biar non Putri bisa istirahat,” bisik mbok Yem dalam hatinya.


Akhirnya Koko, Ical, Putri dan mbok Yem bergegas pulang, sementara Andre mama Lina menunggu di rumah sakit, untuk mendapatkan perkembangan keadaan om Faisal.


Andre terus memegang tangan mamanya. Sementara air mata mama Lina terus mengalir.


Padahal mama Lina baru saja menyerahkan sebagian tugas bisnisnya pada Dian, agar di kelolanya. Sedangkan Herman dia tugaskan untuk mengelola bisnis klubnya, dengan niatan agar dia bisa lebih memperhatikan keluarganya dan banyak waktu berada di rumah.


Mama Lina menghela nafasnya dalam-dalam. Akhirnya mama Lina menghubungi Dian agar datang ke rumah sakit.


“Halo Dian, suamiku masuk rumah sakit,”


“Ya nyonya, astaga! Baik nyonya, saya akan datang ke sana.”


Beberapa menit kemudian, Dian dan Herman datang.


“Ya ampun Nyonya, kenapa bisa terjadi?” tanya Dian yang baru saja tiba.


“Saya juga nggak tau apa penyebabnya, yang jelas, suami saya nggak bisa bicara,” jawab mama Lina.


“Kenapa Dian datang bersama Herman, ngapain dia di ajak?” tanyanya dalam hati.


“Oh ya, perkenalkan ini anak saya,”


kata mama Lina, memperkenalkan Andre pada Dian.


Dian mengulurkan tangannya, dan Andre pun menyambutnya.


Setelah mereka berbincang-bincang, akhirnya Dian dan Herman pamit.


“Nyonya tenang saja, semua pekerjaan akan kami kerjakan sebaik-baiknya. Fokuslah pada keluarga nyonya, kami berdua pamit dulu, ” kata Dian.


“Terima kasih ya Dian, tanpa kamu pekerjaan saya akan terbengkalai,” sahut mama Lina.


Mendengar sahutan mama Lina, Dian pun tersenyum. Lalu matanya melihat ke arah Andre, kemudian Dian memberikan senyuman pada Andre. Dan meninggalkan mama Lina dan Andre.


Dian melangkah meninggalkan mereka dengan menggandeng mesra tangan Herman.


Mama Lina melihatnya dan terheran-heran.


“Mengapa Dian menggandeng tangan Herman begitu mesra?” gumamnya dalam hati, sambil mengernyitkan dahinya.

__ADS_1


__ADS_2