
Rika mengintip apa yang sedang Beni kerjakan, kemudian Beni menoleh ke arah Rika.
“Ih lo ngapain sih Rik, ngintip-ngintip aja,”
kata Beni.
“Ye gue kan pengen tahu apa sih yang lo bawa, itu buat gue kan?”
Tanya Rika.
Benny pun memberikan makanan yang telah Ia buka di atas piring pada Rika.
Kemudian Beni berkata pada Rika,
“ Nih buat lo, makan habisin ya, awas lo kalau nggak dihabisin mubazir tahu.”
“Asik, kayaknya enak nih ayam bakarnya. Makasih ya Ben,”
sahut Rika.
“Iya sama-sama,”
kata Beni.
Rika pun melangkah ke ruang depan. Ia duduk di sana sambil menikmati ayam bakar yang diberikan Beni.
Beni pun mengikuti Rika dari belakang setelah itu Beni memandangi Rika yang sedang menikmati ayam bakar.
“Senang liat dia kalo lagi makan,”
gumam Beni dalam hati.
Itulah gaya Beni, terlihat kasar tetapi sebenarnya dia penyayang.
Bukan cuma pada Rika sikapnya seperti itu, tetapi kepada saudara-saudaranya yang lain pun seperti itu.
“Kenapa lo liat-liat, ngeliatinnya gitu banget? Kenapa lo mau juga?”
Tanya Rika.
Rika merasa heran, saat Beni memandangnya seperti ada sesuatu.
“Sebenarnya ada apaan sih Ben? Kok lo ngeliatin gue kayak gitu banget sih, Sebenarnya ada apaan sih?”
Tanya Rika.
Tetapi yang ditanya bukannya menjawab, malah Beni tersenyum-senyum saja.
“Kalau nggak ada apa-apa, kenapa lo ngeliatin gue kayak gitu, senyum-senyum sendiri lagi, sebenarnya ada apaan sih?”
Tanya Rika dengan penasaran.
“Gue senang aja ngeliat lo makan, itu kan buatan Ratu, “
Kata Beni, sambil duduk di samping Rika.
“Wah si Ratu jago juga ya masak. Tapi sumpah loh ini enak banget, “
sahut Rika.
Rika pun telah selesai memakan nasi dan ayam bakarnya, setelah itu ia membersihkan bungkusannya dan membuangnya ke tempat sampah.
Tiba-tiba saja Rika teringat kembali pada sahabatnya Erna.
Kemudian, Rika mencoba untuk menghubungi Erna kembali. Rika melangkah masuk ke kamarnya dan mencari ponselnya.
Kemudian ia mulai menekan beberapa tombol, dan tersambung lah pada ponsel Erna.
Di seberang sana, ponsel Erna pun berdering. Tapi saat itu Erna masih mengabaikannya.
“Udah ah, biarin aja, biar Rika capek nyari-nyari gue, besok aja gue nemuin dia pas bareng berangkat kerja,”
Keluhnya dalam hati.
Rika pun menarik nafas panjang dan menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidurnya.
Tanpa sengaja ia melempar ponselnya ke luar kamar, hingga membuat Beni terkejut.
Sedangkan Beni masih berada di ruang depan.
Ketika Beni melihat ponsel Rika terlempar dari dalam kamar, Beni beranjak dan berusaha untuk mengambilnya.
Setelah Beni mengambil ponsel Rika, Beni pun berkata,
“ Kenapa sih, ada apaan, kenapa lo lempar handphone lo?”
“Nggak nggak ada apa-apa,”
jawab Rika.
“Kalau nggak ada apa-apa, trus ngapain lo lempar-lempar handphone lo, Emang lo udah bosen sama handphone lo?”
Tanya Beni.
Beni pun kembali berkata,
“ Rik kalau ada apa-apa, cerita jangan diem aja, jangan sampai kalau sudah terjadi sesuatu lo baru cerita.”
“ bener Ben, bener kok nggak ada apa-apa, cuma agak susah aja nih ngehubungin Erna, tahu tuh Erna ke mana susah banget dihubungin,”
Jelas Rika.
Tapi sebelumnya, lo nggak ada masalah kan sama Erna? “
Tanya Beni.
“Nggak sih, nggak ada, di antara kita baik-baik aja kok, gue cuma mau tanya, hari ini dia libur atau enggak, Gue lupa jadwalnya dia, gue wa dia nggak bales , gue telepon nggak diangkat, taulah dia ke mana,”
jawab Rika.
“Terus ntar lo berangkat sama siapa?”
Tanya Beni.
“ Lihat aja ntar, kalau seandainya jam 03.30 Erna nggak dateng berarti gue berangkat sendiri,”
__ADS_1
jawab Rika.
“Ya udah, lo bisa bareng Iyan tuh, Iyan kan lagi masuk sore pulang besok pagi kalau nggak salah,”
usul Beni.
“Ya udah kalau kayak gitu, ntar deh gue telepon Bang Iyan.”
kata Rika.
“Ngapain entar, sekarang aja. Coba lo lihat itu jam, udah jam berapa sekarang? Takutnya Iyan udah jalan duluan,”
kata Beni.
Rika pun segera menanggapi usul Beni, diraihnya ponselnya dari tangan Beni, kemudian ia segera menghubungi Iyan.
“ Halo bang Iyan,”
{................ }
“Bang Iyan ntar berangkat jam berapa, bareng ya Bang, Rika sendirian Bang, Rika nanti bareng Bang Iyan ya?”
{................ }
“ Oke Bang bye.”
Rika pun memutuskan saluran teleponnya, kemudian meletakkannya di atas meja kecil.
Rika pun bergegas ke kamar mandi, dan sebelumnya ia mengambil handuk yang tergantung di samping pintu kamarnya.
Sementara Beni sedang asyik menikmati acara TV.
########
Saat itu mama Lina sedang berada di gudang. Dia sibuk dengan pekerjaannya.
Kemudian Herman masuk ke dalam ruangannya dan berkata,
“ Maaf Bu, ada yang ingin ketemu sama ibu.”
“ Tolong tanyakan dirinya siapa, dan dari mana, serta apa keperluannya?”
Tanya mama Lina.
Herman pun keluar, dan menemui orang yang ingin bertemu dengan mama Lina.
“ Maaf bapak siapa ya, dan Bapak dari mana serta apa keperluan bapak?”
Tanya Herman.
Dengan pertanyaan Herman yang bertubi-tubi, membuat orang itu tersenyum, lalu berkata,
“ katakan saja sama Nyonya mu, bilang orang pusat ingin ketemu.”
“ Baik Pak. Sebentar ya. Silakan Bapak Duduk dulu, “
kata Herman.
Herman pun Kembali menuju ruang kerja mama Lina.
“ Maaf bu, katanya orang itu dari pusat,”
“ Suruh dia masuk,”
perintah mama Lina.
Herman pun kembali menemui orang itu dan mengajaknya untuk masuk ke dalam ruang kerja mama Lina.
“ Halo Nyonya apa kabar? “
tanya orang itu.
“ Halo Pak Hengky, Silakan duduk Pak. Kabar saya baik Pak, ayo ayo duduk-duduk,”
Kata mama Lina, dengan sambutan yang hangatnya.
“ Herman sini, Tolong buatkan kopi 2 cangkir ya,”
perintah mama Lina pada Herman.
Herman pun segera keluar dari ruang kerja mama Lina, untuk membuatkan dua cangkir kopi.
Mama Lina pun kembali berbincang-bincang dengan tamunya.
“ Bagaimana Heng tentang urusan kita, Apakah tugas itu sudah kamu kerjakan?”
Tanya mama Lina pada tamunya.
“ Tenang Nyonya, semua sudah saya bereskan,”
jawab Hengky.
“ Soal anggaran yang satunya, apa sudah kamu masukkan ke dalam filenya dia?”
Tanya mama Lina.
“ sudah Nyonya, semua sudah beres. Termasuk anggaran yang satunya, pokoknya kedua-duanya kena, hahaha,”
jawab Hengky.
“ Harus kena dong dua-duanya. Mereka berdua akan saya bikin babak belur, dan mereka berdua akan saya adu domba, hahaha,”
jelas mama Lina dengan tawanya.
Tak lama kemudian, Herman pun masuk ke dalam ruang kerja mama Lina dengan membawa dua cangkir kopi.
Herman meletakkan kedua cangkir kopi itu di atas meja, kemudian Herman berkata,
“ Silakan diminum.”
Hengky pun meraih kopi itu dan segera meminumnya.
“ Wah nikmat sekali kopi, ini kalau boleh tahu ini kopi apa?”
Tanya Hengky pada Herman.
__ADS_1
“Kopi Hitam biasa yang tanpa bubuk, tetapi saya kasih krim,”
jawab Herman.
“ Apa jenis kopi ini udah ada di klub? “
Tanya Hengky pada mama Lina.
“Klub yang mana? “
Tanya mama Lina.
“Sombong kali kau, “
kata Hengky.
“ Semua klub kopinya sama, cuma tergantung yang buat saja, bagaimana dia meraciknya. Kalau Herman pandai meracik kopi. Apa kamu nggak tahu, dia kan pesuruh ku yang paling jitu,”
kata mama Lina.
“ Pesuruh katamu? “
Tanya Hengky dengan wajah terkejut.
“ Ya, Harman itu bagaikan anjing Bulldog bagiku, “
jawab mama Lina dengan senyuman.
Mendengar perkataan mama Lina, Herman pun terdiam. Tanpa berkata apa-apa, Herman pun meninggalkan ruang kerja mama Lina.
Mama Lina pun tidak peduli atas sikap Herman. Dia pun mengacuhkan dan terus berbincang-bincang pada Hengky.
“ Apa rencanamu selanjutnya? “
Tanya Hengky.
“ Untuk sementara, hanya sampai di sini. Tapi saya akan membuat dia tidak kerasan berhubungan dengan anak saya. Saya tidak akan tinggal diam, saya akan terus mengganggunya, “
sahut mama Lina.
Hengky pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian dia kembali berkata,
“ Apa caramu itu tidak terlalu berat untuknya? Dan sampai kapan kamu mengganggunya? “
“ Sampai wanita itu menyerah dan meninggalkan anak saya, “
jawab Mama Rina.
“ tapi Apakah tindakanmu itu tidak terlalu bahaya dengan bisnismu? “
Tanya Hengky.
Hengky pun kembali berkata,
“ Jika terjadi apa-apa, tolong Jangan libatkan saya. Saya masih punya keluarga yang harus saya tanggung. Apalagi sampai berurusan dengan Polisi, bisa berantakan keluarga saya, juga karir saya. “
“ Kan semuanya Saya sudah serahkan ke Kamu, harusnya Kamulah yang lebih mengerti dan kamu atur semuanya sebaik mungkin, “
jawab mama Lina dengan nada kecewa.
Mama Lina pun berdiri dan menggebrak meja. Mama Lina menarik kerah baju Hengky dan berkata,
“ Laksanakan perintah saya, dan Jangan kecewakan saya. Bekerjalah sebaik mungkin! “
Dengan wajah pucat Hengky pun menjawab,
“ baik nyonya Saya tidak akan mengecewakan anda. “
Mama Lina pun melepaskan kerah baju Hengky dan mendorong tubuh Hengky hingga Hengky jatuh terduduk di kursinya.
Di luar ruangan, Herman memperhatikan mereka. Herman pun tersenyum sinis.
Tidak lama kemudian Hengky pun pamit. Dia keluar dari ruang kerja mama Lina dan meninggalkan mama Lina seorang diri.
Herman pun mengikuti langkah Hengky dari belakang. Herman mengantar Hengky ke pelataran gudang.
Di depan gerbang sudah ada Paijo untuk membukakan pintu gerbang gudang.
Hengky pun melintas dengan mobilnya dan meninggalkan gudang.
Tiba-tiba saja Herman tertawa terbahak-bahak, sikap Herman seperti itu membuat Paijo bingung dan bertanya,
“ Apa ada yang lucu? Kenapa kamu tertawa seperti itu? “
“Tidak, tidak ada apa-apa,”
jawab Herman.
Dan Herman pun kembali masuk ke dalam gudang untuk melakukan semua pekerjaannya hari itu.
Karena Paijo penasaran maka Paijo mengikuti langkah Herman dari belakang.
Mengetahui Paijo mengikuti dirinya Herman pun bertanya,
“ Ngapain kamu ngikutin aku, kerja sana Jaga pintu gerbang gudang, jangan sampai Nyonya besar marah sama kamu.”
Paijo pun menuruti perintah Herman, dia pun kembali ke pelataran gudang.
Sedangkan mama Lina di ruang kerjanya sedang bersiap-siap, untuk bergegas ke klub, di mana akan ada meeting besar di sana.
Akan hadir Para pemilik saham di meeting besar yang akan diselenggarakan di klub.
Mama Lina memanggil Herman,
“ Herman cepat ke sini! “
“ Iya Bu ada apa? “
Tanya Herman.
“ Cepat rapikan meja ini, dan siapkan mobil, kita akan berangkat ke klub, “
perintah mama Lina pada Herman.
Herman pun segera merapikan meja kerja mama Lina, mengangkat dua cangkir tadi dan membawanya ke dapur.
__ADS_1
Tidak lupa ia menyiapkan dan memanaskan mobil serta merapikannya.
Tidak lama kemudian, mereka pun pergi meninggalkan gudang menuju ke arah Club.