
“Apa ini?”
Belum sempat mbok Yem melihat benda itu, seketika itu juga mbok Yem menendang sesuatu yang jatuh dari dalam tas Putri ke kolong tempat tidur tatkala Putri keluar dari kamar mandi.
Spontan Putri pun kaget dengan kehadiran mbok Yem di kamarnya. Lalu Putri pun bertanya,
“Mbok ngapain? “
“Ehm, anu Non, mbok lagi bersihin kamar Non. Berantakan banget sih Non. Nanti kalo nyonya liat begini, kan bakal marah ama Non Putri, “
jawab mbok Yem.
“Tadi Putri nyari baju yang mau Putri pake besok, tapi nngak ketemu juga. Udahannya keburu cape buat rapihin lagi,”
kilah Putri.
Mbok Yem pun menimpali,
“Kenapa nngak panggil Mbok Yem buat nyariin? Atau buat rapihin lagi kamarnya, ampe sembraut begini, tas berserakan, alat dandanan juga berantakan, baju berserakan, kaya orang lagi ngamuk aja begini.”
“Ehm, minta bantuan buat ngerapiin kamar ama mbok Yem trus mamah tau, bisa kena tabok lah, mbok. Bakaln marah besar kalo Putri nyuruh mbok,”
kata Putri.
“He he, jangan nyuruh Non, nngak sopan, pastilah nyonya marah. Tapi kalo minta tolong ya nggak apa- apa Non. Kan Non Putri cape,”
Kilah mbok Yem.
Akhirnya mbok Yem mengajak Putri untuk merapikan kamarnya yang sangat berantakan itu.
“Yok kita rapihin sama-sama aja. Biar letak dan tatanannya sesuai maunya kamu. “
Sontak Putri menolak ajakan mbok Yem.
“Nggak usah mbok, Putri aja yang rapihin nanti. Mbok keluar aja, “
Sahut Putri sambil menggiring tubuh mbok Yem keluar dari kamarnya.
Mbok Yem pun terheran-heran dengan sikap Putri. Wajah mbok Yem pun melongo.
“Iiih mbok Yem, mukanya kok gitu sih, jelek banget, Putri males ah liatnya, “
Kata Putri, sambil menutup matanya dengan telapak tangan sebelah kiri, sedangkan tangan kanannya menggiring tubuh mbok Yem keluar kamar.
Setelah itu Putri langsung menutup pintu kamarnya, bahkan menguncinya dari dalam.
“Wah, kayanya ancaman sudah mulai ada nih, gaswat! Lagian ngapain sih mbok Yem masuk-masuk kamar? Eh, salah gue juga sih, kenapa gue nngak konci pintu kamarnya dari tadi, goblok banget sih gue!
Makinya dalam hati.
Putri pun mulai merapikan dalam kamarnya. Dari pakaian yang berserakan di lantai sampai atas tempat tidurnya yang kusut sepreinya.
Putri juga merapikan meja riasnya, sambil mencari sesuatu.
“Loh, ke mana ya? Waduh, parah nih kalo sampe ilang di sini!”
Putri pun mencari di setiap sudut. Sampai isi tasnya pun di keluarkan.
“Aduuuh, ke mana ya? Bisa di gantung nih kalo ada yang nemuin, bakal di introgasi deh gue! “
Putri terus mencari dan mencari. Belum juga ia temukan.
Kepanikan pun melanda otaknya. Si tariknya seprei yang baru saja ia rapikan, bahkan di gesernya tempat tidurnya. Tetap ia tidak menemukan apa yang sedang ia cari.
Saking lemas dan lelahnya, Putri pun duduk di lantai dan bersandar ke dinding.
Sesaat ia termenung. Kemudian matanya tertuju pada satu titik benda yang tergeletak di lantai.
“Alhamdulillah, ketemu juga! “
Teriaknya.
Tidak lama kemudian pintu di ketuk dari luar. Putri pun terkejut mendengarnya. Tanpa sadar, dia menepuk mulutnya dengan keras.
“Ih, ni mulut teriaknya kegedean sih, pasti kedengeran ke luar! “
Sahutnya pada diri nya sendiri.
Pintu di ketuk kembali.
“Apaan? “
Teriak Putri dari dalam kamar.
“Kamu kenapa Put? “
Tanya suara itu dari balik pintu.
Ternyata yang mengetuk pintu kamar adalah om Faisal.
“Nggak papa Om,”
jawab Putri.
“Yakin kamu nngak apa- apa? “
__ADS_1
Tanyanya lagi.
“Yakin Om, Putri baik-baik aja,”
jawab Putri kembali.
Suara om Faisal pun menghilang.
Kembali Putri merapikan ruang kamarnya hingga selesai.
Setelah selesai, dia merebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk. Putri memandangi langit-langit kamar.
Ada sesuatu di sana. Lintasan sesuatu tiba di otaknya, mengingatkan sesuatu yang telah terjadi.
Di ketuknya kepalanya dengan keras.
“Aduh, bego bener sih gue! Kenapa bisa begini?! “
Makinya pelan.
Dan kembali ia memaki dirinya,
“Pokoknya orang rumah jangan sampe tau lah. Bisa di gorok leher gue!”
Diluar kamar ada Andre yang sedang mencatat sesuatu sambil mengingat-ingat ucapan mas Bram barusan.
Ya, Andre telah menemui mas Bram, suaminya Susi sang tetangga sebelah rumah. Apa yang barusan mas Bram. Katakan di catat oleh Andre.
Bahkan ia menambahkan catatannya yang menurutnya penting.
Andre pun mengirim catatan itu pada Rika lewat pesan singkatnya.
“Yesss, selesai,”
katanya dalam hati.
Tidak lama kemudian ponsel Andre berbunyi, dan Andre pun segera menerima panggilan ponselnya itu.
Andre : “Hai sweety,” (sambil senyum)
Rika : “Dre, kenapa catatan itu di kirim ke aku? “ (bingung)
Andre : “Biar kamu tau, Sweety. “ (masih senyum)
Rika : “Loh, itukan urusan calon mempelai laki-laki, ngapain kasih ke aku? “ (tambah bingung)
Andre : “Kan aku udah bilang, biar kamu tau. “ (senyumnya mulai kecut)
Rika : “Aku nngak ngerti maksud kamu. “ (mengernyitkan dahi)
Rika : “ He he, seneng lah. Tapi enggak minta budgetnya dari aku kan? “ (bibirnya tersenyum tipis sebentar)
Andre : “Yaaa, kalo kamu mau nambahin gak papa, aku nggak nolak. “ ( berharap)
Rika : “Ihhh, kebiasaan deh kamu! “ (tepok jidat)
Andre : “ Ha ha ha, tapi kamu sayangkan ama aku? “ (wajah mupeng)
Rika : “Males jawabnya. “ (cemberut)
Andre : “Tapi aku udah tau kok jawabannya. “ (senyum semringah)
Rika : “Udah tau malah nanya. Udah ah, aku mau tidur lagi, ampe sore. Biar entar kerja badan aku fresh. “ (males ngeladein)
Andre : “Oks sweety, bye. “
Telepon pun terputus.
“Ya ampun Dre, gitu banget sih jadi cowok, andai lo tau apa yang gue sama Erna alamin, apa lo masih bersikap kaya gini? “
Gumamnya pelan.
Rika pun merapikan kamarnya dan segera tidur. Sedang kan Andre di kamarnya sedang menghitung dan mencatat segala keperluan seserahan.
Tiba-tiba Andre berpikir tentang di mana akan dilaksanakan akad nikahnya. Andre pun mencari seseorang untuk tempat konsultasinya.
“Ehm, mbak Susi dan Mas Bram. Males ah ke mereka. Di ledekin terus sih. Emang gue masih kecil apa, di ledekin terus kalo mau kawin, enak aja,”
Gumamnya pelan.
Tangannya mengibaskan atas kepalanya, seakan akan ia menghapus memori ingatannya.
“Laporan ke mama nanti aja, kalo udah rampung, udah deal ama Rika, baru deh ajak ngomong mama. Ehm, bingung mau ngomong ama siapa? Udahlah ke om aja. Orang paling enak sedunia cuman om Faisal. “
Andre pun keluar dari kamarnya dan turun melalui anak tangga menuju lantai dasar.
Di dapati om Faisal masih sibuk dengan pekerjaannya. Sedangkan ruang kerjanya sudah kosong dan sepi. Para karyawan sudah pulang.
“Udah pada pulang ya Om? “
Tanya Andre.
“Udah, baru aja. Kenapa Dre? “
Sahut om Faisal.
__ADS_1
“Ehm, nngak, gak papa. Om terusin aja kerjanya. Andre cuman mau duduk sini aja,”
Kilah Andre, sambil memainkan ponselnya.
“Bentar ya, dikit lagi nih selesai. Biar entar besok tinggal di bawa,”
Kata om Faisal.
Andre terdiam. Dia memperhatikan bagaimana cara om Faisal bekerja. Maka timbullah pertanyaan,
“Om, kenapa di kelompok kelompokin? Bukannya sama aja? “
“ Nngak lah Ndre. Ini di kelompokkan sesuai ama artikelnya atau model dan harus di urutin ama sizenya. Jadi kalo ada pembeli, karyawan nyarinya lebih gampang, “
Tutur om Faisal.
Sambil mendengarkan penjelasan dari om Faisal, Andre memperhatikan cara kerjanya juga. Maka timbul satu inisiatif.
“Ooooh gitu. Sini Andre bantuin Om, biar cepet kelar, Andre juga kan bisa belajar baca tukang baju nyimpen barang, ha ha ha,”
Sahut Andre. Dan mereka pun tertawa.
Tiba-tiba Putri menampakkan diri untuk berpamitan pada papa tirinya.
“Om, Putri berangkat ya. “
Putri mendekat dan bersalaman dengan om Faisal.
Kemudian Putri pun menyalami Andre. Andre memperhatikan penampilan Putri yang tidak biasa.
“Lo mau ke mana Put? Baju lo kok beda? Biasanya pake kaos ama jins aja. Tumben tumbenan lo pake blus, “
tanya Andre keheranan.
“Mau les lah. Hari ini ada jadwal 2. Les salon ama bahasa Inggris barengan. Jadi jangan nanya-nanya kalo gue pulangnya lama, “
jawab Putri.
“ Lu mau les atau mau pacaran sih? wangi banget. Terus pakai dandan segala lagi, Sejak kapan lo dandan menor kayak gitu?”
Tanya Andre.
Raut wajahnya penuh rasa penasaran.
“ Kenapa sih Bang, curigaan aja, nggak usah ribet deh, gue nggak suka,”
jawab Putri dengan ketus.
Setelah bersalaman, Putri keluar sambil menenteng sepatunya. Di depan, dia duduk di teras dan memakai sepatunya dengan terburu-buru. Saking terburu-buru, sampai Ia lupa mengikat tali sepatunya.
Karena ia salah melangkah, dan memijak tali sepatu di kaki kanannya, Putri pun terjatuh. Seketika itu Putri berteriak,
“ Aw sakit! “
Andre dan Om Faisal mendengar suara seperti sesuatu yang jatuh ke lantai dan mendengar teriakan Putri.
Mereka pun keluar dan mendapati Putri tergeletak di pelataran depan gerbang.
“Astaghfirullahaladzim, Putri kamu kenapa? “
Tanya om Faisal sambil berlari mendekati Putri.
Andre pun menyusulnya.
“ Aduh sakit Om, ini Putri kesandung, “
jawab Putri sambil menahan sakitnya.
Dengan cara Putri pergi yang terburu-buru, membuat hati Andre semakin curiga.
Untuk menutupi kecurigaannya, Andre pun ikut membopong tubuh Putri ke dalam rumah bersama Om Faisal.
Mata Andre menatap nanar ke arah pintu gerbang. Rasa ingin tahunya begitu besar hingga membuatnya kalut.
“ Lagian sih jadi perempuan gerabak- gerubuk, bukannya pelan-pelan. Lagian masih pagi kok, kalau emang bener lo Les, ngapain lu buru-buru? Masuknya juga kan jam 11.00. Gue aja masuk jam 10.00 jam segini masih santai kok, “
Kata Andre, sambil bertelak pinggang.
Putri pun berdiri. Dia mencoba melangkahkan kakinya 1 sampai 3 langkah. Ternyata rasa sakit di kakinya sudah mulai berkurang.
“ Eh udah nggak sakit Om,”
kata Putri pada Om Faisal, tanpa menghiraukan perkataan Andre barusan.
Putri pun berlari meninggalkan Andre dan Om Faisal menuju ke pintu gerbang. Kemudian pintu gerbang ditutup kembali.
Tidak lama kemudian, terdengar deruan sepeda motor dari balik gerbang rumah. Andre pun segera berlari menuju pintu gerbang. Ia menjinjitkan telapak kakinya agar dapat melihat ke arah luar gerbang.
Tapi sayang, Andre tidak melihat sosok yang dicurigainya. Ia pun kembali masuk ke dalam rumah dengan langkah yang lunglai.
Tiba-tiba saja Om Faisal bertanya,
“Kamu nyari apa Ndre? “
Ternyata Andre lupa, bahwa saat itu ia sedang bersama Om Faisal Papa tirinya.
__ADS_1