
Rika dan keluarga tengah sibuk mempersiapkan sajian untuk menyambut kedatangan keluarga Andre.
Banyak makanan yang tertata rapi di atas meja panjang.
Karpet pun tengah di gelar Ando, di bantu oleh Beni.
Sengaja Beni, Ando dan Iyan menyempatkan waktu di tengah kesibukannya untuk membantu Rika.
Beni dan Ando mengambil waktu kerja saat jam pagi, hingga mereka dapat pulang waktu siang.
Sementara Iyan, dia mengambil waktu cuti hari itu.
Begitu juga dengan Nadin, kakak perempuan Rika. Saat itu dia mengambil cuti, sama dengan Iyan.
Dengan senang hati, ia ingin ikut membantu Rika.
Sedangkan Desi, saat ini belum mendapatkan pekerjaan. Jadi dia memiliki waktu senggang lebih banyak ketimbang yang lain.
Dan Erna, sengaja dia meminta libur pada kepala waiters, di mana dia bekerja.
Hari itu adalah hari bahagia bagi Rika dan yang lainnya.
Setiap wajah yang berada di sana di poles dengan senyum. Ya, senyum bahagia di hari pertunangan Rika dengan Andre.
Walau papi dan mami Rika tidak dapat hadir, tapi mereka telah merestui dan mendoakan Rika.
Erna memilihkan pakaian untuk Rika yang akan di kenakannya nanti.
Sedangkan Desi sedang menata rambut Rika yang panjang sebahu. Desi pun akan memoleskan wajah Rika dengan riasan.
Wajah Rika pun berseri-seri manakala dia melihat kekompakan keluarga dan temannya untuk membantu acaranya.
Saat itu Rika melihat jam yang menempel di dinding. Waktu telah menunjukkan pukul 6.30 sore. Masuknya waktu Maghrib saat itu.
Rika berkata pada Desi,
“Des, mukanya entar dulu aja deh, abis gue selesai Shalat, baru deh lo poles-poles lagi.”
“Ya udah, Desi mah ngikut aja apa kata ratu,”
jawab Desi.
“Ratu apaan, ratu sesaat? Nantilah, bukan sekarang,”
kata Erna yang ikut menimpali.
Mereka pun tertawa bersamaan.
Di luar kamar, Iyan mengerjakan sambungan penerangan di ruangan itu. Menggantinya dengan lampu yang lain, yang lebih terang.
Sebagian dari mereka mengerjakan Shalat lebih dulu, karena tempat yang terbatas. Sebagiannya menunggu. Dan mereka pun Shalat bergantian.
Rika duduk di tepi tempat tidur, sedangkan Desi baru saja selesai Shalat.
Rika berkata pada Desi,
“Des, cepet deh poles-poles muka gue.”
“Iya bentar, Desi lipetin kain dulu,”
jawab Desi.
Desi segera melipat kain dan mukena serta sajadah. Setelah melipatnya, Desi meletakkannya di dalam lemari.
Kemudian Desi mulai memoles wajah Rika.
Sebisa mungkin Desi berusaha mendandani kakaknya. Karena jerawat Rika besar-besar, Desi sedikit kewalahan, dan harus di akali agar hasilnya memuaskan.
Erna memperhatikan keahlian Desi dalam memoles wajah. Tatanannya, paduan warna, semua di sesuaikan.
__ADS_1
Sedangkan di seberang sana, tepatnya di rumah Andre.
Keluarga Andre pun sedang bersiap-siap. Putri dan Diki sedang menunggu Andre yang sedang memanaskan mesin mobil.
Mbok Yem memasukkan 2 parsel buah ke dalam mobil.
Ya, hanya 2 keranjang parsel yang akan mereka bawa. Itu pun hanya parsel kecil, bukan parsel yang besar.
Semua itu di luar dugaan Andre. Mama Lina melarang membawa banyak parsel dengan alasan merepotkan.
Putri pun merasa sia-sia atas apa yang sudah dia buat untuk merangkai parsel.
Suasana pun menjadi kurang mengenakkan. Tapi om Faisal tidak tinggal diam. Dia berusaha menenangkan hati Andre dan Putri.
“Semangat dong bang Andre, om do’ain biar lancar acaranya,”
kata om Faisal.
Andre duduk di samping om Faisal. Kemudian om Faisal pun kembali berkata,
“Dre, parsel itu hanya simbol. Kamu paham kan maksud Om?”
“Iya Om, Andre paham,”
jawab Andre.
Kemudian mama Lina bertanya pada Andre,
“Oh ya Dre, kamu udah siapin uang sembah? Masukin uang berapa aja ke amplop, nanti mama kasih ke Rika, sebagai uang sembah.”
Andre pun menjadi bingung.
“Kenapa hal kaya gini baru sekarang di omongin sih, mama nyari gara-gara aja deh,”
gumamnya dalam hati.
Andre mencari Amplop kosong, tapi dia tidak menemukannya.
“Mbok, liat amplop gak?”
“Ada nih, mbok punya, tapi kecil, bukan yang besar,”
kata mbok Yem sambil menyodorkan selembar amplop kosong.
Andre meraihnya, seraya pun tersenyum dan berkata,
“Makasih ya Mbok.”
“Iya Den, semoga lancar ya acaranya. Den Andre senyum dong, masa mau melamar pacar wajahnya cemberut gitu,”
kata mbok Yem.
“Andre sebel mbok, ama mama,”
kata Andre.
“Husss, gak boleh begitu, hormati mamamu Den Andre,”
kata mbok Yem.
Andre pun kembali ke depan rumah dan minta beberapa lembar uang.
“Nih Ma amplopnya, mana uangnya? Biar Andre yang masukin,”
pinta Andre.
“Idiiiih, kok pake uang mama, pake uang kamulah,”
kata mama Lina sambil mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
“Ya ampun Ma, uang Andre tinggal dikit, buat persiapan kedepannya, Andre kan belom gajian lagi. Lagian heran deh, kenapa sih yang begini Andre gak di kasih tau dulu, jadikan Andre udah siap Ma,”
kata Andre dengan wajah cemberut.
Mama Lina pun tidak mau di salahkan. Dia berusaha mengelak dan menyalahkan Andre.
“Harusnya kamu dong yang tanya-tanya, apa yang harus di lakuin, jangan diem aja, kalo mama enggak bergerak, kamu bakal stak di tempat. Jalanin nalarnya, kamu laki-laki. Laki-laki itu pemimpin. Gak boleh di pimpin. Dan kamu harus tau apa tugas seorang pemimpin,”
kata mama Lina mengomel.
Andre pun terdiam.
Di ambilnya dompet dari saku belakangnya, dan mengambil beberapa lembar uang yang berwarna merah, lalu memasukkannya ke dalam amplop.
Melihat apa yang dilakukan Andre, mama Lina mendekat, dan menyambar beberapa lembar uang yang Andre miliki.
Mama Lina memasukkan selembar uang yang berwarna merah ke dalam amplop yang di pegang Andre.
Melihat apa yang di lakukan mamanya, Andre tidak berbuat apa-apa. Andre hanya bisa mematung.
Melihat keadaan yang serba kaku, akhirnya Putri mencoba mencairkan suasana.
Putri berkata pada Andre,
“Ayo Bang, masuk mobil, dah panas tuh mesinnya.”
Putri menarik tangan Andre. Andre pun menuruti panduan Putri.
Bergegas Andre masuk ke dalam mobil di tempat pengemudi.
Sementara Diki memegang sebuah parsel. Dan parsel yang kecil di bawa Putri. Mereka memegang parsel itu dengan hati-hati.
Sementara di rumah Rika, persiapan pun sudah selesai. Mereka duduk dengan santai sambil menunggu kehadiran keluarga Andre.
Beberapa saat kemudian, keluarga Andre pun tiba.
Iyan bangkit dari duduknya untuk menyambut kedatangan keluarga Andre.
Tercengang mereka melihat jumlah anggota keluarga Andre. Karena mereka berpikir akan ramai yang datang. Ternyata yang datang hanya empat orang.
Andre memberi salam pada Iyan. Iyan pun menjawab salam Andre.
“Assalamu’alaikum,”
“Wa alaikumsalam,”
jawab Iyan.
Iyan mempersilakan keluarga Andre masuk, begitu pula dengan Beni dan Ando. Mereka pun bangkit dan berdiri.
Maka masuklah keluarga Andre ke dalam rumah, termasuk mama Lina.
Dengan wajah dan senyum yang ramah, mama Lina memasuki rumah Andre.
Mereka yang tak lain adalah Andre, mama Lina, Putri dan Diki, duduk di lantai yang beralaskan karpet tebal.
Setelah semuanya duduk, Iyan memperkenalkan dirinya dan semua anggota keluarganya.
“perkenalkan, saya Iyan, abang Rika. Ini Beni, abang Rika juga. Kalo yang ini namanya Nadin, kakaknya Rika. Dan yang ini Ando dan Desi, adik-adik Rika. Oh ya, satu lagi, ini sahabatnya Rika, namanya Erna,”
kata Iyan.
Erna duduk bersimpuh di sebelah Desi. Betapa terkejutnya Erna ketika melihat mama Lina.
Ya, Erna mengenali mama Lina. Tiba-tiba Erna mengingat wajah wanita yang di tutupi syal dan kacamata hitam, saat berada di club tempatnya bekerja.
Wanita yang memimpin rapat di ruang meeting kala itu, yang sempat memaki dirinya.
Sungguh Erna tidak menyangka, bahwa wanita itu adalah mama dari kekasih sahabatnya, yaitu Rika.
__ADS_1
Mama Lina pun tersenyum pada Erna, tetapi tatapan matanya penuh dengan permusuhan.
Erna mampu mengartikan tatapan mama Lina, walau di poles dengan senyuman.