
Dicky berlari ke dalam setelah mengunci gerbang. Sedangkan mama Lina keluar dari mobil lebih dahulu kemudian memanggil mbok Yem.
“ Mbok....!!! Mbok....!!!” teriak mama Lina.
Dengan ntar gua opo-gopoh Mbok Iyam keluar dari kamar mama Lina menuju keluar.
“ Ada apa sih Mbok, rancu banget?” tanya mama Lina.
Mbok Yem tidak mampu menjawabnya. Dia hanya diam saja. Melihat kelagat Mbok Yem, mama Lina mengertikan dahinya. Dengan sedikit menggertak, mama Lina kembali bertanya pada mbok Yem, “ Mbok, ada apa?”
Mama Lina sampai mengguncang-guncang tumbuh Mbok Yem tetapi Mbok Yem hanya diam saja dan menunduk.
Akhirnya mama Lina masuk ke dalam Dia pun terheran-heran melihat pintu kamar tidurnya terbuka.
Dan mama Lina pun masuk ke dalam kamarnya disusul oleh Dicky. Mama Lina mendapati Putri yang sedang bertengkar dengan Dian.
Putri sambil menggendong Satria yang sedang menangis sedangkan Dian berada di atas kasurnya bersama Andre yang sedang terlelap.
“Sedang apa kamu?” tanya mama Lina dengan marah.
Dia mendekati Dian dan menjambak rambutnya. Sedangkan Dian tak mampu melawan karena dia memegang erat selimutnya.
“Bangsat kamu, Dian! Bukan begini caranya! Kamu telah menjebak anakku!” maki mama Lina.
Dian pun berteriak kesakitan akibat jambakan dari mama Lina. Rambutnya di tarik kencang, lalu di dorong hingga kepala Dian terbentur kepala tempat tidur yang terbuat dari kayu jati.
BUGH!!!
Hingga akhirnya kepala Dian pun berdarah.
Putri menyaksikan semua itu. Dia tidak menyangka akan tindakan mamanya terhadap karyawannya yang di percaya itu. Sungguh ironi memang.
“ Sudah Mah, Sudah! Hentikan! Mama bisa membunuh dia,” perintah Putri.
Mama Lina pun menghentikan aksinya.
Dia kecewa, dia marah pada Dian. Dia tidak menyangka apa yang telah Dian lakukan terhadap Andre.
Sedangkan Andre baru terdasar. Matanya mulai terbuka, pendengarannya pun mulai jelas ketika mama Lina berteriak memaki Dian.
“Ehm, Mah, Put, ada apa ini?” tanya Andre, sambil mengucek matanya. Andre pun menoleh ke samping yang ternyata ada Dian di sampingnya.
“Loh, kok ada kamu di sini? Loh, ini kan kamar mama, aku ngapain di sini?” Andre merasa heran.
Kepalanya masih terasa pusing, sementara tubuhnya memakai selimut.
“Cepat pakai bajumu, Dian! Dan pergi dari sini!” mama Lina mengusir Dian.
Mama Lina keluar dari kamarnya dan duduk di sofa. Dia tidak menyangka apa yang telah terjadi.
“Mungkinkah Dian telah menjebak Andre?” tanyanya dalam hati.
Mama Lina menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan perlahan.
Dian pun segera memakai bajunya dan pergi. Andre merasa heran mengapa Dian ada di sampingnya.
__ADS_1
“Pala Andre pusing Ma,” jelas Andre.
“Pakai bajumu, kita bicara nanti,” mama Lina melempar baju Andre dan mengajak Putri keluar dari kamar.
Saat itu Satria masih menangis. Putri meminta izin pada mamanya untuk mengajak Satria ke kamarnya.
“Ma, Putri diemin Satria dulu ya, mungkin dia ngantuk,” kata Putri.
Tanpa menunggu jawaban mama Lina, Putri segera mengajak Satria masuk ke dalam kamar.
Kemudian mama Lina beranjak ke luar kamar dan duduk di ruang tengah. Kepalanya terasa sakit. “Bukan seperti ini yang aku mau, brengsek kau Dian!” makinya.
Mbok Yem selalu mengamati semua gerak gerik orang yang berada di sana.
“Sepertinya banyak kejadian yang tidak enak semenjak tuan gak ada,” lirihnya pelan.
Mbok Yem membuatkan minuman untuk mama Lina agar bis lebih tenang.
“Di minum dulu Nya minumannya,” sapa mbok Yem.
Lalu mbok Yem duduk di lantai bersimpuh.
Mama Lina meneguk minuman hangatnya dan bertanya,
“Apa yang kamu ketahui Mbok? Kenapa mereka bisa ada di kamarku?”
“ Maafkan saya Nyonya, saya gak mampu jaga rumah,” kata mbok Yem sedih.
“Jawab aja Mbok pertanyaan saya, kenapa mereka bisa masuk ke dalam kamar saya???” bentakan mama Lina mengagetkan mbok yem.
“Tadi mereka udah mau berangkat. Den Andre juga bilang ke non Dian agar buru-buru. Tapi Den Andre katanya kebelet mau pipis. Awalnya non Dian nunggu di rung ini. Karna Den Andre lama keluarnya, dia masuk ke dalam, Nya.”
Mama Lina mendengarkan dengan seksama.
“Apa Andre di kasih sesuatu sebelumnya Mbok?” tanya mama Lina penuh selidik.
“Setahu Mbok, non Dian kasih minum air putih dari galon itu Nya. Mbok liat sendiri kok dia ngambil air dari galon. Dan Den Andre bilang, kok agak getir ya airnya? Mungkin Den Andre lagi panas dalam Nya, mangkanya air putih rasanya ndak enak.”
“Sialan, dia udah ngejebak Andre! Tapi buat apa? Toh dia juga bakal aku jodohkan!” gumamnya dalam hati.
“Panggil Andre Mbok, saya tunggu di taman belakang,” perintah mama Lina.
“Baik Nyonya,” sahut mbok Yem sambil beranjak bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamar mama Lina hendak memanggil Andre.
Mama Lina bergegas menuju taman belakang, ia menunggu Andre di sana.
Andre pun keluar dari kamar setelah memakai baju dan berjalan menuju taman belakang untuk menemui mamanya.
Dengan keadaan yang masih pusing Andre menemui mama Lina dan duduk berhadapan.
Sambil memegang leher dan memijitnya, Andre duduk dan bertanya,
“Ada apa sih Ma, kepala Andre sakit banget, ini ada apaan sih sebenarnya? Trus kenapa tadi ada Dian di samping Andre?”
Mama Lina mengeluarkan susu kaleng dari dalam tasnya. Susu kaleng yang baru saja dia beli dari mini market dekat gudang. Awalnya dia beli untuk di berikan pada Satria, agar Satria lebih sehat.
__ADS_1
Berhubung kondisi Andre seperti ini, menurut mama Lina, Andre lebih membutuhkan susu kaleng itu.
“Nih, minum susu ini, habiskan!”
“Ih, mama, Andre kan gak suka susu ini, gak enak rasanya, tawar.”
“Enggak usah ngebantah Ndre, cepet minum dan habiskan!”
Andre pun meminumnya perlahan hingga habis.
Melihat Andre telah menghabiskan susu yang dia berikan, mama Lina bertanya,
“Sekarang apa yang kamu ingat?”
Andre berusaha mengingat apa yang telah di alaminya barusan. Tapi ingatannya tidak kembali, malah kepalanya bertambah pusing.
“Aduh Ma, Andre gak ingat apa-apa. Ini kepala Andre tambah sakit,” kata Andre sambil meringis.
“Ya udah, sekarang kamu istirahat sana, tidur!” perintah mama Lina.
Andre mengangguk dan berjalan meninggalkan mama Lina di taman menuju kamarnya.
Sementara mama Lina mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Dian.
Di seberang sana Dian menerima panggilan dari ponselnya.
“Halo Nyonya.”
“HEH, BRENGSEK! XULAS KAMU YA!!!”
“Santai Nyonya, agar wajah Nyonya tidak banyak kerutan,” sahut Dian dalam sambungan telepon.
“Apa maksud kamu dengan semua ini? Kenapa kamu menjebak Andre? Aku gak paham dengan pola pikirmu!”
“Tenang Nyonya, ikuti saja permainanku. Andre akan berlutut padaku.”
“Gimana mau berlutut, dia aja gak inget apa yang udah terjadi.”
“Udahlah Nyonya, lihat aja perkembangannya nanti,” kilah Dian.
Sambungan telepon pun terputus.
“Hebat kamu sayang, permainanmu sungguh cantik,”
celoteh Herman.
Ternyata keberadaan Herman sudah dari tadi berada di dekat Dian.
Setelah Dian di usir oleh mama Lina dari kamarnya sambil menjambaknya, Dian keluar dan pergi meninggalkan rumah mama Lina menuju rumah Herman. Dan di sana Herman telah menunggunya.
“Enak saja aku menjadi pionnya, dia pikir aku bisa di permainkan! Lihat saja, siapa yang menjadi ratu di sini,” kata Dian sambil memaki.
“Sebenarnya aku juga sudah muak padanya, cuman aku belum ada cara untuk melepaskan diri. Aku seperti anjing buldog baginya, dia sendiri yang bilang begitu pada kliennya di depanku, bolehkan aku sakit hati atas ucapannya?” kata Herman dengan wajah sedihnya.
“Sabar sayang, kita berjuang sama-sama. Yang penting kita harus bekerja sama, dan percaya sama aku. Ingat, benih yang aku kandung sekarang seolah-olah anak Andre, kamu paham kan?” Dian menerangkan dengan seksama.
__ADS_1
Herman pun tersenyum, dan mengangguk.