Mertua Yang Jahat

Mertua Yang Jahat
Andre kembali kerja.


__ADS_3

Keadaan Andre sudah membaik setelah peristiwa tabrak lari yang di alami Andre, Rika dan Erna.


Hari ini adalah hari pertama mereka masuk kerja kembali.


Di tempat Andre bekerja, seperti biasa sebelum aktivitas club di mulai, mereka mengadakan breefing terlebih dahulu.


Pak Narto atau pak Bambang yang memimpin. Dan kebetulan hari ini tugas pak Bambang yang memimpin. Ia memberikan arahan sebagaimana biasanya.


Mengenai ketertiban dalam bekerja, kerapian rambut, pakaian dan sepatu, juga tata tertib dalam bekerja.


Semua karyawan wajib mampu di segala bagian pekerjaan yang ada di club itu.


Karena besok adalah hari di mana club akan di booking seseorang untuk acara ulang tahun, maka saat itu breefing akan di isi dengan pembagian tugas untuk setiap karyawan dan karyawati.


Satu persatu pak Bambang menerangkan tugas masing-masing pada setiap karyawan dan karyawati, mereka pun menyimak apa yang di terangkan pak Bambang.


Akhirnya tibalah sesi tanya jawab antara karyawan dan pemimpin breefing saat itu.


“Pak, gimana kalo ada pertukaran tugas antara cooking dan waiter?”


Tanya Santi pada pemimpin breefing, yaitu pak Bambang.


Pak Bambang tersenyum mendengar ide konyol dari Santi, salah satu waiter di sana.


“Apa jadinya kalo ruang kichen yang ngendaliin kamu, Santi? Bisa habis semua menu yang ada, camat comot masuk ke mulutmu,”


jawab Pak Bambang sambil tertawa.


“Iiiih si Bapak, test food itu kan perlu Pak Ganteng,”


sahut Santi.


“Bilang aja lo mau numpang makan gratis San, strategi lo kebaca Santo,”


kilah Tomi, sambil tangannya menjotos kepala Santi.


“Iiih Santo, nama gue Santi, tau! Sakit tau Tom, tangan lo udah di cuci belom megang kepala gue, kan lo abis pipis,”


kata Santi dengan wajah cemberut.


“Nih, cium nih tangan gue, wangi kan?”


Kata Tomi, sambil menyodorkan telapak tangannya ke arah hidung Santi.


“Ih amit-amit dah Tom, rontok tuh bulu lo, masuk deh ke mulut gue,”


jawab Santi.


Para karyawan yang hadir pun tertawa melihat tingkah Santi dan Tomi, dan suasana ruang meeting pun seketika menjadi gaduh.


Sikap Andre hanya tersenyum kecut melihat tingkah kedua temannya itu.


Tomi memandang ke arah Andre. Tomi melihat perubahan sikap Andre, dan berkata,


“Lo kenapa Dre, kok senyum lo kecut amat?”


“Gak, gue gak papa,”


jawab Andre.


Andre berdiri dari tempat duduknya, kemudian dia bertanya pada pak Bambang yang saat ini memimpin breefing,


“Pak, udah selesai kan? Boleh saya keluar duluan Pak?”


“Ya Dre, silakan,”


jawab pak Bambang.


Melihat Andre izin keluar ruangan, Santi pun merasa kehilangan. Dengan kesal dia berkata pada Tomi,


“Tuh kan Tom, Andre marah deh sama gue, lo sih pake megang-megang gue, dia marah tuh sebenarnya.”


“Idiiiiih Nek, ge er banget sih lo! Andre tuh belum fit banget, paling dia mau ke musholla dulu, nyender bentaran, sapa lagi yang marah, lo pikir dia cemburu gitu?! Wah ge er lo kebangetan banget sih San, gue emek-emek lo juga buat Andre gak ngaruh kaleeee,”


sahut Tomi, sambil mengacak rambut Santi.


“Ya ampun Tom, rese' lo ya, gue mati-matian nih ngonde rambut gue, dasar jelek! Sonoan deh lo jangan deket-deket gue,”


jawab Santi, sambil mendorong tubuh Tomi dengan keras.


Hampir saja tubuh Tomi tersungkur ke arah kursi, tapi Laila segera menahan tubuh Tomi.


“iiiih Tomi, malah di lemesin badannya, berat tau!”


Kata Laila.


Tomi pun kembali berdiri, dan melangkah menuju ke luar ruangan mengejar Andre.


“Dre, tunggu!”


Teriak Tomi.


Walau Andre mendengar panggilan Tomi, Andre tidak menggubrisnya, ia tetap melangkah meninggalkan ruang meeting.


Langkah Andre menuju ruang musholla, kemudian dia duduk di teras depan musholla.


Andre membuka sepatunya dan meletakkan di atas rak sepatu, lalu masuk ke dalam musholla.


Andre duduk di ruang itu sambil menyenderkan tubuhnya ke dinding, sedangkan Tomi mengikutinya.


“Dre, lo kenapa sih, kok dari tadi gue peratiin sikap lo gak enak banget. Badan lo belom enak apa ya?”


Tanya Tomi pada Andre, sambil beranjak duduk di sampingnya.


Andre menarik nafas dan menghembuskannya perlahan.


“Udah enak sih badan gue, tapi belom fit aja,”


jawab Andre.


“Kalo belom fit, kenapa lo udah masuk aja, niat kita-kita kan pengen jenguk lo, belom di jenguk udah masuk aja,”


sahut Tomi.


“Ada yang lo pikirin mang Dre?”


Tanya Tomi.


“Ada, sedikit,”


jawab Andre dengan singkat.

__ADS_1


“Cerita dong, kali aja hati lo sekidit lega,”


kata Tomi menganjurkan.


“Gue kepikiran soal kecelakaan gue malam itu, yang mendekati subuh, heran deh gue,”


kata Andre mulai bercerita.


Tomi segera menyimak, dan bertopang dagu.


Andre pun melanjuti kisahnya tentang malam itu, malam naas baginya bersama kekasih dan sahabatnya.


“Kadang gue mikir Tom, apa ada yang suka ama Rika selain gue? Eh, tapi gue bingung juga ya, mobil itu kan arahnya ke Rika, apa Rika yang tuh orang tuju? Atau mungkin hanya orang mabuk yang nyasar?”


########


Siang pun berlalu, dan kini sudah menjelang sore.


Rika dan Erna sudah tiba di tempat kerjanya.


Seperti biasa, para karyawan melewati lobi dan memasuki lorong yang menuju ke arah loker karyawan.


Para karyawan berganti pakaian seragam, merapikan penampilannya, bersolek dan memakai sepatu.


Bagi karyawati, mereka memakai sepatu hils, dan riasan yang sedikit tebal, serta tatanan rambut yang rapi tanpa ada uraian rambut sehelai pun.


Satu persatu karyawan dan karyawati memasuki area club, dengan melewati sepasang security yang memeriksa mereka sebelumnya.


Rika dan Erna berpisah di depan tangga. Erna akan menuju ke atas, sedangkan Rika menuju tempat kasir.


“Baaayyy Rika, gue naik dulu ya,”


kata Erna.


“Baaayyy Erna, entar lagi ya,”


balas Rika.


Rika pun melangkah menuju meja kasir. di sana Vivi sudah menunggunya.


“Hai kak Vivi, apa kabar, udah lama ya kita gak jumpa,”


sapa Rika.


“Hai Rik, kabar ku baik. Keadaan kamu gimana, udah sehat bugar?”


Sahut Vivi.


“Alhamdulillah udah kak, obatnya juga udah abis, he he he,”


jawab Rika.


Rika kembali bertanya,


“keadaan flour gimana kak selama aku sakit? Trus kak Vivi siapa yang bantuin kalo gak ada aku?”


Kemarin waktu kamu sakit, aku di bantuin kasir atas, itu tuh si Febby, kamu kenal gak?”


Jelas Vivi.


“He he he, aku gak kenal kak,”


jawab Rika.


sahut Vivi.


Sesaat kemudian club pun di buka untuk umum tepat pada pukul 4 sore.


Para karyawan pun mulai sibuk melayani pengunjung.


Semakin malam, pengunjung semakin ramai. Di setiap lantai, kegiatannya pun berbeda.


Begitu pun di ruang biliyard, banyak pengunjung bermain di sana.


Rika pun ikut membantu para waiters dengan membawa pesanan.


Ketika Rika melewati ruang biliyard, Rika menoleh ke arah sana. Tiba-tiba ia teringat dengan Ricard.


Rika pun tersenyum.


“Ya ampun, jadi inget sama Ricard, kasian dia sebenarnya,”


bisiknya dalam hati.


Rika pun kembali ke meja kasir bersama Vivi. Dan Vivi melihat perubahan wajah Rika yang menahan senyum.


Vivi mengernyitkan dahinya, dan bertanya,


“Kamu kenapa Ka, kok senyum sendiri? Jangan-jangan ingat sama doi ya?”


“He he he, enggak Kak, gak papa, cuman tiba-tiba terlintas aja ingatan ke seorang temen,”


jawab Rika.


“Temen apa temen? Kok wajahnya jadi semu gitu,”


kata Vivi menggoda.


“Ih kak Vivi, bisa aja. Ini loh Kak, aku tiba-tiba ingat temenku itu, si Ricard,”


kata Rika.


“Ricard mana?”


Tanya Vivi.


“Itu Kak, yang pengunjung member itu, yang pernah nabrak aku di lorong, trus nginjek kaki aku, masa kak Vivi lupa sih,”


jelas Rika.


“Oooh yang gondrong kurus itu, yang mancung?”


Tanya Vivi.


“Iya, yang itu kak, inget kan?”


Tanya Rika memastikan.


“Iya, iya inget. Trus kenapa kamu jadi senyum-senyum gitu? Pasti ada Sesuatu ya,”


ledek Vivi.

__ADS_1


“Ah kak Vivi, enggak lah, gak ada apa-apa kok. Dia kan cuman sahabat aja, pacarku tuh yang pagi buta itu kak yang barengan sama aku, yang di tabrak mobil itu, nah dia baru pacar aku,”


jawab Rika.


“Oh, itu pacar kamu, ganteng ya, bisa aja kamu ngegaet cowok ganteng,”


kata Vivi sambil tersenyum.


“He he he, ah biasa aja kak, gak ada yang istimewa kok,”


jawab Rika.


“Eh gimana keadaannya, udah baikan kah? Kayanya waktu subuh itu keadaannya dia parah juga ya, kepalanya kebentur jalan kan?”


Tanya Vivi.


“Iya kak, kepalanya kebentur aspal, ampe dua hari gak sadar. Eh kak, aku juga nyusruk tau kak, abis si Andre dorong aku kenceng banget, ampe aku gak bisa ngendaliin badan sendiri, luka deh jadinya,”


jawab Rika.


“Yaaa tapi mending kamu di cium aspal daripada kamu di cium mobil, bisa-bisa nyawa kamu melayang,”


Vivi menimpali.


Mendengar perkataan Vivi, Rika pun melongo. Melihat sikap Rika seperti itu, kemudian Vivi mengusap wajah Rika dengan cepat,


“Kamu kenapa?”


Tanya Vivi.


Rika pun menjawab dengan terheran-heran,


“Kok ngomongnya sama ama Andre, dia juga ngomong kaya gitu kak, apa jangan-jangan janjian ya.”


“Ah, kamu bisa aja,”


jawab Vivi sambil tersenyum.


“Tapi bener loh kak Vi, Andre ngomongnya juga begitu, sama persis,”


sahut Rika.


Rika berpindah duduk di sisi meja kasir, sedangkan Vivi duduk di pojok meja kasir.


Beberapa saat kemudian, telepon yang berada di atas meja kasir berbunyi.


Vivi pun mengangkat gagang telepon itu, dan menyapa,


“Halo,”


{............... }


“Oke Pak, siap.”


Vivi pun kembali meletakkan gagang telepon itu pada tempatnya.


“Ka, kamu di panggil Pak manager sekarang,”


perintah Vivi pada Rika.


“Ada apa kak?”


Tanya Tika.


“Biasa, gajian,”


kata Vivi.


“Owh, ya udah, aku ke atas dulu ya kak,”


kata Rika.


Rika pun meninggalkan Vivi yang tetap bertugas di kasir, sementara dirinya melangkah menuju ruang manager.


Ketika Rika sudah berada di lantai dua, dia berpapasan dengan Erna.


Rika pun menyapanya.


“Hei, mau ke mana lo,?”


Tanya Rika.


Erna pun balik bertanya,


“Mau ke ruang manager, lo sendiri mau ke mana Rik?”


“Loh, kok sama, gue juga mau ke sana. Eh, tar dulu deh, emang gajian tanggal segini?”


Tanya Rika.


“Iya sih, tanggal segini, temen-tamen yang lain udah gajian juga soalnya,”


jawab Erna.


“Vivi juga bilang begitu, katanya mau gajian, yesss gajian,”


kata Rika dengan senang.


Mereka pun masuk ke ruang manager bersama-sama.


“Malam Pak, boleh kami masuk?”


Sapa Erna.


“Ya, silakan masuk, duduklah,”


kata pak manager.


Rika dan Erna pun duduk berdampingan di depan meja pak manager.


Pak manager mengeluarkan dua amplop coklat dari laci meja kerjanya.


Dia memberikan kedua amplop itu pada Rika dan Erna.


“Ini gaji kalian bulan ini. Saya mohon maaf, jika gaji kalian telah di potong dari pusat untuk perawatan kalian selama kalian di rawat, dan potongan saat kalian istirahat di rumah, mereka memangkas sebagaimana kalian enggak masuk kerja, maksudnya absen saat kerja,”


kata pak manager.


“APA?!?!”


Sahut Rika dan Erna berbarengan.

__ADS_1


__ADS_2