
Setelah merasa tenang, Rika mengangkat kepalanya dari dada Hilal.
Hilal pun melepaskan pelukannya, begitu pula dengan Erna.
Erna pun melepaskan pelukannya dari tubuh Rika.
Rika bangkit dari duduknya, dan melangkah menuju kamar mandi.
Di dalam kamar mandi, Rika membasuh wajahnya dengan air bersih yang keluar dari keran air.
Setelah mencuci wajahnya, Rika mengeringkannya dengan handuk yang di gantung di balik pintu kamar mandi.
Setelah itu, Rika kembali ke ruang depan, di mana ada Hilal, Erna dan Ricard.
Saat itu, waktu telah menunjukkan pukul sembilan malam. Semakin larut dan semakin dingin.
Suara jangkrik pun semakin terdengar.
Hilal merasa keberadaannya sudah terlalu lama, dan akhirnya Hilal memutuskan untuk berpamitan.
“Aku pulang dulu ya. Mungkin kita bakal gak ketemu dulu sementara, tapi kalo bisa, komunikasi kita jangan putus ya,”
jelas Hilal.
“Mau ke mana Bang?”
Tanya Erna.
“Aku harus bawa Ricard pergi, mungkin pulang kampung. Apartemennya udah gak aman. Mungkin juga apartemen ku gak aman juga,”
kata Hilal.
“Pulang kampungnya ke mana Bang?”
Tanya Erna.
“Kampungku di Lampung,”
jawab Hilal.
“Oh ya? Gue juga dari sana. Mami papi masih tinggal di sana,”
jawab Rika.
“Lebih baik, aku keluar lewat belakang lagi ya, kamu konci yang bener dong Rik, bagus aku yang masuk, kalo yang lain gimana?”
Perintah Hilal.
“Gue udah konci yang bener kok Bang, lo nya aja yang jago ngilik-ngilik,”
kata Rika.
“Kalian jaga diri baik-baik ya, Ayo Card kita pulang,”
kata Hilal.
Mereka pun keluar dari rumah Rika melalui pintu belakang, di mana pintu itu telah diketahui Hilal pada saat dia menyekap Rika atas perintah mama Lina, yang ketika itu saat penyekapan, ada Iyan datang.
Melalui pintu itulah Hilal dan mama Lina keluar dari rumah Rika.
Rika masih berdiri tepat di depan jendela. Di amatinya tukang sate yang masih berada di sana dari kejauhan.
Erna terdiam, dia tidak tahu harus berbuat apa.
Kesempitan gerak yang dia rasakan saat itu, seperti tak ada ruang untuk bernafas.
Rika melihat sahabatnya termenung, kemudian dia bertanya,
“Lo kenapa Er, kok bengong?”
“Gue jadi takut deh Rik, hati gue jadi ciut,”
kata Erna.
“Maapin gue ya Er, lo jadi terlibat. Tapi gue rasa sih, lo gak termasuk targetnya. Kan lo cuma karyawan club aja,”
kata Rika, berusaha untuk menenangkan hati sahabatnya.
“Kata siapa cuma????? Jangan bilang cuma kalo efeknya tuh luas. Ya, memang gue cuma karyawan club aja, di mana sahamnya nyonya Lina ada. Tapi gue tau siapa dia dan dia tau itu. Dan juga gue sahabat lo, Rika. Apa itu semua gak bisa di jadiin landasan kalo gue termasuk targetnya? Gue udah tau semua Rik, sahamnya dia di mana aja. Asal lo tau ya Rik, sepanjang jalan depan club kita, ada beberapa club, semua sahamnya bertebaran di sana, gila gak sih, bisa jadi kekhawatiran dia gue buka kedoknya ke keluarganya itu motifnya buat ngabisin gue,”
kata Erna, menjelaskan ketakutannya.
“Gue sih enggak berpikir sejauh itu ya. Karna soal saham, semua karyawan club juga tau siapa dia, kaya Vivi, dia juga tau,”
kata Rika.
“Permasalahannya bukan itu, Neeeeek. Masalahnya gue ini temen lo, dan gue kenal juga ama cowok lo, ngerti!”
Jelas Erna dengan jengkel.
“Iya iya, gue ngerti. Ya udah, sekarang kita waspada ya,”
kata Rika.
Rika melangkah ke dalam kamarnya, mengambil boneka kesayangannya. Boneka itu di peluknya erat-erat.
“Trus sekarang lo nginep apa pulang? Kalo lo mau pulang, gue telpon Ando biar dia tidur di sini,”
tanya Rika.
Erna balik bertanya,
“Enaknya gimana menurut lo? Gue nginep atau pulang?”
__ADS_1
“Serah lo Er, nyamannya lo aja. Lo nginep juga gak apa-apa, bebas kok. Gue senang kok kalo lo nginep,”
kata Rika.
“Ya udah, gue nginep aja deh,”
sahut Erna.
“Kalo lo nginep, lo kabarin sono orang rumah, biar gak bingung, kasian nyokap lo Er,”
perintah Rika.
Erna pun menurut.
########
Setelah mengambil mobil dari area parkir sebuah mini market, Hilal melajukan kendaraannya menuju apartemen miliknya.
Sebelumnya Hilal sempat berbelanja di mini market tempat mobilnya terparkir di sana, membeli makanan, segala keperluannya dan Ricard.
Hilal terus menyetir mobilnya di tengah rintik hujan menuju apartemennya.
Ketika dia melewati jalan depan apartemen Ricard, Hilal melihat beberapa orang anak buah mama Lina. Ada dua orang yang berdiri di sana, entah berapa orang yang berada di dalam.
Dengan pikiran yang bercampur baur, Hilal terus melajukan kendaraannya. Maka sampailah mereka di pekarangan belakang apartemen Hilal.
Sengaja Hilal lewat pekarang belakang, agar kehadirannya tidak di ketahui oleh penjaga yang berada di depan.
Hilal sambil memegang tangan Ricard memasuki lorong, menuju apartemen miliknya.
Ketika ia mendekati pintu apartemennya, ternyata pintunya telah terbuka.
Hilal melangkah dengan perlahan. Tidak lupa dia tetap memegang erat tangan Ricard.
. Ketika sampai di dalam, ruangan miliknya sudah porak-poranda.
Ruang tamu, kamar tidur, semua sudah berantakan, sampai letak kasur pun bergeser.
“Gila! Bener-bener gila ini!
Gumamnya pelan.
Hilal mengambil telepon jarak dekat yang terletak di atas meja kecil. Dia menekan beberapa tombol.
“Pak, bisa ke ruangan ku? Berantakan sekali ini, tolong ya Pak segera,”
Kata Hilal di sambungan teleponnya.
Gagang telepon pun kembali di letakkan di tempatnya.
Hilal membuka kantong yang dia bawa dari mini market, kemudian dia mengambil sesuatu.
Hilal memberikannya pada Ricard sambil berkata,
“Makanlah, kamu pasti lapar.”
Hilal mengaduk kopinya perlahan, sambil memperhatikan gerak-gerik Ricard. Matanya terus mengamati.
Tidak lama kemudian, pintu di ketuk dari luar. Hilal beranjak melangkah mendekati pintu untuk membukanya.
Ricard mendengar suara ketukan pintu itu, lalu dia berlari mendekati Hilal, dan berdiri di belakangnya.
“Ssttt, gak usah takut, itu pekerja cleaning kok, udah, kamu duduk aja, makan rotinya abisin,”
kata Hilal pada Ricard.
Ricard pun terdiam. Dia duduk di kursi sambil menekukkan ke dua kakinya.
Hilal membuka pintu yang di ketuk dari luar. Benar saja, yang datang adalah petugas kebersihan apartemen.
Ada dua orang pekerjaan kebersihan, mereka bekerja sama untuk membersihkan dan merapikan kembali ruangan apartemen Hilal.
Kemudian Hilal bertanya pada salah satu dari mereka,
“Pak, apa ada yang datang tadi sebelum saya pulang?”
“Wah, maaf tuan, saya enggak tau, coba tuan tanya pada security, mungkin dia tau tuan,”
jawab petugas itu.
“Baiklah, nanti saya akan tanyakan,”
kata Hilal.
Hilal berdiri dari duduknya, dan melangkah ke arah balkon sambil membawa secangkir kopinya.
Dia bersandar pada dinding balkon dan kaki kirinya di tekuk ke dinding.
Matanya menghadap jalan yang padat merayap dengan segala aktivitasnya.
Setelah dua petugas cleaning telah menyelesaikan pekerjaannya, mereka pun berpamitan.
“Tuan, semua ruang sudah kami bersihkan dengan rapi, kami pamit ya Tuan,”
kata salah satu dari petugas kebersihan.
“Terima kasih ya Bapak-bapak. Oh ya, ini ada sedikit hadiah, lumayan buat beli kopi,”
kata Hilal, sambil menyerahkan beberapa lembar uang.
Salah satu dari mereka menerimanya dan berkata,
“Terima kasih banyak Tuan, semoga Tuhan membalas kebaikan Tuan.”
__ADS_1
“Aamiiin,”
jawab Hilal
Kedua petugas itu pun meninggalkan apartemen Hilal.
Hilal melihat keadaan Ricard, dan berkata,
“Mandilah, setelah itu tidur lah. Nanti malam kita pergi dari sini, keadaan sudah tidak aman buat kita.”
Ricard pun menganggukkan kepalanya.
Melihat respon yang di berikan Ricard Hilal yakin, keadaan mental Ricard cepat membaik.
Ricard pun beranjak ke kamar mandi, dan Hilal pun kembali berdiri di depan balkon dengan menghadap jalan raya.
Hilal merenungi nasibnya, merenungi perjalanan hidupnya yang penuh dengan baku hantam. Terutama semenjak bekerja pada nyonya Lina.
Hilal menghirup kopinya sedikit demi sedikit, ia sangat menikmatinya, terutama kala dia merasa suntuk.
Tangannya mengacak-acak rambutnya yang mulai sedikit gondrong. Kemudian mengusap ke dua pipinya yang mulai di tumbuhi jenggot.
Kemudian dia berjalan ke ruang tengah, dan meraih ponsel yang ada di atas meja.
Kemudian dia menekan beberapa tombol di sana.
“Halo, .............. “
Setelah itu di letakkan kembali ponselnya di atas meja dan berjalan menuju wastapel.
Di pandangi wajahnya melalui cermin yang ada. Di pandangi wajahnya dengan cermat. Sudah mulai tumbuh rambut-rambut di sana, sambil tersenyum.
Ya, dia tersenyum memandangi wajahnya yang sudah mulai menua.
Di gesernya cermin itu, dia mengambil pisau cukur. Dan mulailah ia membersihkan rambut-rambut yang tumbuh di wajahnya, bagian pipi dan dagunya.
Setelah selesai, dia kembali meletakkan pisah cukur itu di balik cermin.
Tiba-tiba Ricard menampakkan dirinya, setelah selesai mandi dan sudah rapi.
“Tidur lah dulu, nanti ku bangunkan jika mobil travelnya sudah ada.
“Tidak, aku tidak mau tidur. Maaf ya sudah membuatmu repot,”
kata Ricard tiba-tiba.
Hilal pun tersenyum, dia melihat keadaan Ricard sudah benar-benar baik, karena dia sudah mulai mau bicara.
Pandangannya juga sudah tidak kosong, tidak seperti sebelumnya.
“Lal, boleh aku buat secangkir kopi?”
Tanya Ricard.
“Silakan, buatlah,”
jawab Hilal, sambil tetap memperhatikan gerak-geriknya.
Hilal memantau segala gerak-gerik Ricard, sampai dia selesai membuat kopi.
“Muda-mudahan penilaian ku tidak salah, bahwa keadaannya sudah membaik,”
gumamnya dalam hati.
Setelah membuat kopi, Ricard duduk di ruang tengah, lalu ia bertanya,
“Tadi kamu menyuruh ku tidur, dan akan membangunkanku jika mobil travel sudah tiba, maksudnya apa? Apa kita akan pergi jauh?”
Hilal bergerak melangkah dan duduk di hadapan Ricard.
Hilal membungkukkan tubuhnya, agar wajahnya bisa lebih dekat dengan wajah Ricard, hingga mata mereka pun beradu pandang.
Sengaja Hilal melakukan itu agar mata Ricard bisa lebih fokus dengan segala ucapannya.
“Ya, kita akan pergi jauh, kita pulang ke kampung halamanku, dan kau ikut denganku. Keadaan di sini sudah tidak aman buat kita, buatku dan kamu. Kamu bisa melakukan aktivitas di sana, aku pun juga begitu,”
kata Hilal, sambil memandang pupil mata Ricard.
Wajah Ricard mulai berubah, dia terlihat bingung.
“Lalu bagaimana dengan pekerjaanku?”
Tanya Ricard.
“Lupakanlah pekerjaanmu di sini, kamu bisa mencarinya di sana, asal kita mau. Apa pun pekerjaan yang kita dapat nanti, jalani saja selagi itu halal,”
jawab Hilal.
Sedikit Hilal bertanya soal pekerjaan pada Ricard, untuk memastikan apakah dia sudah membaik atau belum.
“Oh ya, apa pekerjaanmu sebelumnya? Apa kamu ingat?”
Tanya Hilal.
Ricard pun mengernyitkan dahinya, seakan-akan dia mengingat sesuatu.
“Aku seorang sopir, ya aku seorang sopir. Sopir untuk seorang wanita,”
jawab Ricard, sambil menganggukkan kepalanya, sedangkan ia masih mengernyitkan dahinya.
“Siapa wanita itu?”
Kembali Hilal bertanya.
__ADS_1
“Ehmm, entah lah, aku lupa, ya aku benar-benar lupa, sedikit pun aku tidak mengingatnya,”
jawab Ricard.