Mertua Yang Jahat

Mertua Yang Jahat
Tidak adil.


__ADS_3

“HAH, APA?!”


Suara Rika membuat karyawan lain menoleh pada dirinya.


Karena hati Rika yang sangat galau saat itu, dia lepas kendali mengontrol suaranya.


Telapak tangannya pun segera menutup mulutnya, walau matanya masih terbelalak karena rincian di kertas yang di pegangnya.


“Ya Alloh, selama ini, sebulan ini gue Cuma kerja rodi, tega banget sih?!


Gumamnya dalam hati.


Dia kembali memandangi kertas itu, ketika tiba-tiba ingatannya jatuh pada sahabatnya, yaitu Erna.


“Ya ampun, Erna! Aduh, ke mana nih anak, kok belom nongolnya? Apa jangan-jangan....”


Segera ia tepis pikiran buruk yang merusak otaknya.


“Gue harus cari Erna,”


katanya dalam hati.


Rika pun segera memakai sepatunya, dan meneguk air minumnya. Kemudian dia berdiri di depan lokernya, dan menyimpan botol minumnya ke dalam loker.


Dengan sigap, dia melangkah keluar menuju lorong. Lalu terus melangkah ke lantai dua, di mana Erna bertugas.


Lantai itu di gunakan untuk area diskotik, di mana penerangannya tidak seterang lantai dasar.


Setiap sudut di lihatnya, sambil mengernyitkan dahinya.


Tiba-tiba seorang waiters di sana menyapanya,


“Mbak, ngapain ke sini?”


“Aku nyari temenku, Erna, kamu kenal gak?”


Tanya Rika.


“Ya, aku kenal, tapi jangan sekarang mbak, kan masih jam kerja. Nanti mbak kena SP kalo ke lantai ini,”


kata Waiters itu.


Karena suara musik yang menutupi pendengarannya, Rika pun meminta waiters itu untuk mengulangi ucapannya, sambil mendekatkan telinganya ke arah waiters itu.


“Apa mbak, aku gak denger,”


teriak Rika.


Waiters itu pun mengulangi ucapannya,


“Iya, aku kenal, tapi jangan sekarang mbak, kan masih jam kerja. Nanti mbak kena SP kalo ke lantai ini loh.”


Mendengar penjelasannya, Rika pun mengangguk, dan membalikkan tubuhnya ke arah yang berlawanan, dan kembali ke lantai dasar.


Untuk mengurangi rasa tegang, kesal dan kecewa, Rika menuju ruang toilet.


Sesampainya di dalam, ia membasuh wajahnya dengan air, agar terasa lebih segar.


Tapi tak bisa di pungkiri, bahwa hatinya sungguh sesak. Terbayang deretan tulisan yang baru saja ia lihat di kertas rincian gaji pertamanya, bahwa separuh biaya perawatan Andre di potong dari hasil kerjanya.


Kembali ia basahi wajahnya dengan air, kemudian Rika menatap cermin yang ada di depannya.


“Gila, bener gila ini sih, apa jangan-jangan Erna juga kena, waduh gak enak banget gue, kalo dia juga nanggung biaya perawatan Andre,”


gumamnya dalam hati.


Sambil memandang cermin, dia berpikir,


“Apa ini semua kerjaannya mama Lina? Mungkin gak sih, trus Erna, aduh, Erna gimana ya.”

__ADS_1


Rika memutuskan untuk kembali ke tempat kerjanya. Dan di sana masih ada Vivi yang sedang bertugas.


Vivi terlihat menikmati irama musik yang terdengar, sementara Rika datang dengan wajah masam.


Vivi memandangi wajah Rika, hatinya pun ingin bertanya, tapi niatnya di urungkan. Karena Vivi sebagai kasir senior berusaha untuk bersikap profesional.


Vivi pun terus bekerja melayani pembayaran pengunjung, di bantu oleh Rika.


Tak lama kemudian, kertas printnya habis. Vivi pun memerintahkan Rika untuk mengambil dan memasangkannya kembali.


Karena Rika memiliki pengalaman mengenai job di kasir, langkahnya pun tak diragukan lagi.


Segera Rika ke lantai atas tepatnya ke ruang manager untuk mengambil kertas print yang habis tadi.


Rika mengetuk pintu.


“Ya, masuk,”


sapa pak Manager.


“Maaf Pak, saya butuh kertas print,”


kata Rika.


Dengan sigap, pak manager pun mengambilkannya di dalam bupet yang berada di belakang kursinya.


Awalnya Rika sabar untuk menunggu. Tapi karena keadaan hatinya yang masih galau, Rika pun tidak dapat menahannya.


Ingin rasanya Rika menumpahkan kekesalan dan kekecewaannya pada pak manager, tapi niatnya segera di urungkan, karena Vivi telah menunggunya.


Pak manager membalikkan tubuhnya, dan kembali menghadap Rika, lalu menyerahkan kertas print yang baru saja ia ambil.


“Nih Rik,”


kata pak manager.


Pak manager memandang wajah Rika yang terlihat masam.


“Rika, kamu udah liat hasil rincian gaji kamu?”


Tanya pak manajer.


Rika pun menjawab dengan singkat,


“Udah Pak.”


“Ooo, baguslah, kembalilah kerja,”


perintah pak manager.


“Tapi Pak, ini bener-bener gak adil, pak!”


Tegas Rika.


“Gak adil gimana?”


Tanya pak manager.


Otak Rika berpikir, inilah saatnya ia tumpahkan segala isi hatinya.


“Ya, gak adil Pak. Masa biaya perawatan Andre saya juga yang nanggung, gaji saya terkuras Pak, buat satu minggu aja rasanya gak cukup Pak,”


kata Rika dengan segala emosinya.


Tiba-tiba telepon di meja pak manager berbunyi, dan segera di terima oleh pak manager.


“Ya hallo,”


{............. }

__ADS_1


“Iya sebentar,”


gagang telepon pun kembali di letakkan.


“Vivi nunggu kamu di bawah, udah cepat sana, kasian pengunjung nungguin mau bayar,”


perintah pak Manager.


“Ih, bapak,”


kata Rika, sambil mengentakkan kakinya.


Tanpa basa basi Rika pun meninggalkan ruangan pak manager dan kembali ke lantai dasar di mana dia di tempatkan bekerja.


Langkah Rika pun melangkah dengan segan melewati kembali ruang biliyard.


Kini wajahnya bertambah masam ketika memandang ke arah sana.


“Dasar Ricard sialan,”


gumamnya dalam hati.


Waktu pun cepat berlalu. Jam telah menunjukkan pukul 3.30 pagi, saatnya club di tutup untuk umum.


Dan ketika waktu menunjukkan pukul 4.00 saatnya para karyawan pulang.


Rika pun dengan sengaja menunggu Erna di depan pelataran club, tapi yang di tunggu tak kunjung tiba.


Sengaja Erna menghindar dari Rika, karena kekecewaannya melihat rincian gaji yang dia terima.


“Enak banget si Andre, kenapa gue yang nanggung biaya perawatan dia?! Orang pusat main seenaknya aja potong-potong gaji gue, emang gaji gue gede apa!!!”


Gumamnya dalam hati.


Erna pun kembali bergumam,


“Males gue pulang bareng Rika, pacarnya yang celaka, kenapa jadi gue yang ikut nanggung?! Sial banget gue!”


Ternyata Rika sudah lama menunggunya, sampai keadaan sepi, Erna pun tidak menapakkan batang hidungnya.


Akhirnya Rika memutuskan untuk pulang sendirian. Sedangkan Erna memperhatikannya dari balik dinding yang berjarak tidak jauh dari tempat Rika menunggunya.


Rika terus berjalan menelusuri jalan raya yang biasa ia lewati bersama Erna.


Dalam hatinya bertanya-tanya ke mana Erna? Sampai ia menghentikan mobil umum yang mengarah ke jalan rumahnya, dan Rika pun menumpanginya.


Di dalam kendaraan umum pun matanya masih tertuju ke tempat di mana ia menunggu Erna, sampai tempat itu tak terlihat dari pandangan matanya.


Rika menghela nafas dan menyandarkan tubuhnya di kursi penumpang, dan tak lama kemudian sampailah ia di rumahnya.


Rika turun dari kendaraan umum yang di tumpanginya, kemudian berjalan menuju ke arah rumahnya.


Jalan yang ia lalui sangat sepi, hanya ada satu dua orang yang melintas yang hendak berangkat ke mesjid, untuk menunaikan Shalat subuh.


Dan Rika melihat ada gerobak sate yang masih mangkal di depan rumahnya, sedangkan pedagangnya tidak berada di sana.


Rika tetap berjalan dengan tenang walau hatinya merasa khawatir.


Tetap waspada, itulah yang selalu ia ingat dari perkataan Hilal. Kapan pun dan di mana pun, kewaspadaan harus ada.


Ketika Rika mulai memasuki teras rumahnya, pedagang sate menghampirinya. Entah dari mana asalnya, tiba-tiba sudah nampak tidak jauh dari tempat Rika berdiri.


Seketika itu juga Rika melihat ada dua orang pria memakai baju koko, sepertinya jendak pergi ke mesjid.


Saat itulah Rika berteriak,


“Mau apa kamu?”


Tukang sate itu pun terus melangkah mendekati Rika.

__ADS_1


Dan Rika pun berteriak,


“Pak, tolong saya Pak, ada orang jahat nih pak! Tolong Pak, tolong saya!”


__ADS_2