
Herman dan Paijo telah sampai di hotel pinggir pantai. Lalu Herman memarkirkan mobilnya di parkiran basement.
Setelah memarkirkan mobil Herman dan Paijo berjalan melewati lobi menuju restoran yang berada tepat di pinggir pantai.
Karena baru kali ini mereka ke tempat itu Herman pun banyak bertanya pada para pelayan.
Lalu salah satu pelayan mengantarkan mereka menuju meja mama Lina.
Seperti orang yang baru turun dari gunung, sikap Paijo yang begitu lugu terlihat pada tingkahnya.
Iya begitu kagum melihat pemandangan di sekitar laut sampai-sampai ia melongo dan celingak-celinguk.
Melihat sikap Paijo, Herman pun tertawa terbahak-bahak.
“ Dasar wong Deso,”
kata Herman, sambil mendorong pelan tubuh Paijo.
Sampailah mereka di meja mama Lina. Kemudian pelayan pun meninggalkan Herman dan Paijo.
Mama Lina langsung menyerahkan kunci mobil pada Herman, sambil berkata,
“ Nih, tolong bawa pulang mobil yang di sana ya, setelah sampai, tolong kamu cuci bersih dan masukin ke dalam garasi.”
Mama Lina menunjuk keberadaan mobil yang tepat di pinggir pantai. Lalu mata Herman dan Paijo pun mengarah ke sana.
Sontak saja Herman dan Paijo terbelalak matanya, dan berkata berbarengan,
“RICARD?!!!”
“ Richardnya mana Bu?” tanya Herman keheranan.
“ Kalau masih ada orangnya, nggak mungkin mobil itu ditinggal di sini Man,” jawab mama Lina dengan kesal.
“ Sekarang Bu?” tanya Herman kembali.
“ Nggak! Nggak sekarang! Tahun depan aja!” jawab mama Lina membentak.
Mendengar jawaban mama Lina, Paijo pun tertawa terkekeh-kekeh, sambil menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
Herman pun wajahnya berubah menjadi pucat Pasi, karena jawaban mama Lina membuat Herman malu di depan Dian.
Dian pun tersenyum. Untuk mencairkan suasana, Dian pun ikut berkata-kata,
“ Alangkah baiknya mereka istirahat dulu Nyonya, kasihan mereka habis bermacat-macet Ria.”
“ Nah betul itu Bu, saya juga sudah haus dari tadi,” kata Paijo dengan polosnya.
Mau tidak mau akhirnya mama Lina mempersilakan mereka untuk duduk bersama.
Seorang pelayanan datang dan memberikan 2 lembar menu. Lalu Herman dan Paijo mengambilnya dan memilih menu yang ada.
Mereka pun hanya memesan dua minuman jus saja. Lalu Paijo berkata,
“ Kalau bisa cepat ya Mas, saya sudah haus banget.”
“ Baik,” sahut pelayan.
Mendengar perkataan Paijo, Dian pun tertawa, lalu bertanya, “ capek ya Mas?”
Paijo hanya mengangguk, ia takut berkata terlalu banyak, karena berhadapan langsung dengan mama Lina.
5 menit kemudian, pelayan pun datang membawakan dua gelas jus untuk Paijo dan Herman. Mereka pun segera menyeruput jus mereka.
Lalu Herman bertanya pada mama Lina,
“ Bu, Richardnya ke mana? Apa nggak ninggalin jejak yang lain Bu?”
“ Saya juga nggak tahu Man, kunci mobilnya pun masih menyantel di situ. karena dia hanya memegang kunci serep, jadi kepemilikan saya diakui di sini, saya yang memiliki kunci aslinya,”
jawab mama Lina.
Tiba-tiba saja mama Lina teringat atas perintahnya kepada Richard. Lalu mama Lina mengubah perintahnya kepada Herman.
“ Oh ya Man, Mobil itu kamu bawa ke lobi basement apartemen Richard aja ya, kamu parkir di sana dan kamu tinggal aja. Kamu pulang bersama Paijo,”
perintah mama Lina kepada Herman.
__ADS_1
Mendengar perintah mama Lina diubah, Herman pun mengerti apa maksudnya.
Lalu ia bertanya, “ Berarti nggak perlu saya cuci dulu ya Bu?”
“ Iya nggak usah, langsung aja kamu bawa ke sana,” kata mama Lina.
Herman melirik ke arah Dian, lalu ia tersenyum. Kemudian Herman berbasa-basi pada mama Lina,
“ Bu, kok nggak kenalin kami sama temen barunya?”
Mendengar pertanyaan Herman, Dian pun tersenyum. Tanpa menunggu perintah dari mama Lina, Dian pun menyodorkan tangannya.
“ Perkenalkan, saya Dian, partner bisnis Nyonya Lina.”
Herman segera menyambut uluran tangan Dian. Dan Herman memperkenalkan dirinya. “ Saya Herman, karyawannya Ibu Lina.”
Kemudian Paijo pun mengulurkan tangannya. Tetapi Dian tidak meresponnya.
Melihat sikap Dian yang tidak merespon, Paijo pun menarik kembali tangannya, lalu melanjutkan meminum jusnya.
Herman dan Dian bertukar saling senyum.
Lalu Dian berkata pada mama Lina,
“ Maaf Nyonya, saya jadi mendengar pembicaraan kalian berdua soal urusan dalam negeri.”
“ nggak papa. Ini hanya salah satu kerumitan yang terjadi di dalam negeri,”
sahut mama Lina.
Dan mereka berempat pun tertawa.
Tidak lama kemudian, Herman pun berpamitan untuk segera membawa pulang mobil yang Richard tinggal.
Sebelum Herman meninggalkan meja restoran, Dian meminta nomor ponsel Herman.
“ Boleh aku meminta nomormu? Mungkin suatu saat aku memerlukanmu,”
Dian pun menyodorkan ponselnya ke arah Herman. Dengan gugup Herman menerimanya. Kemudian ia memencet beberapa tombol yang ada, kemudian ia menyerahkan kembali ponsel itu kepada Dian.
Dian pun menerima ponselnya dari tangan Herman dengan tersenyum. Mama Lina pun melihat hal itu hanya tersenyum tipis.
Lalu mama Lina mengejek Dian,
“ Rendah juga ya seleramu.”
Dengan rasa percaya diri Dian pun berkata,
“ Ah, Nyonya bisa saja, berkawan bolehlah dengan siapa saja, selagi dia manfaat buat saya, why not?”
Dian pun bergaya sambil mengangkat kedua bahunya.
“Aku suka gayamu Dian, tapi aku kurang suka dengan seleramu,”
Kata mama Lina dengan wajah keheranan atas selera Dian.
“ lihat saja nanti, apakah Seleraku sangat rendah di matamu?”
lirih Dian dalam hati.
“ Kapan kerjasama kita akan dimulai, dan kapan Nyonya mengajak saya ke tempat-tempat ruko milik nyonya?”
tanya Dian.
“ Sepertinya kamu tidak masuk dalam bisnis ini, gimana kalau kamu membantu saya dalam saham klub aja?”
saran mama Lina pada Dian.
“ Klub???maksud nyonya klub malam?”
Tanya Dian penasaran.
“ Iya klub malam, kamu tahu jalan yang ada di Kota itu? ada beberapa klub malam milik saya, saya adalah salah satu pemilik saham di sana.”
jawab mama Lina.
“Wow amazing!” Keren sekali nyonya. Apa dibalik itu ada bisnis yang lain?”
__ADS_1
Tanya Dian dengan nada pelan, sambil membisikkan ke telinga mama Lina.
Mama Lina pun tertawa terbahak-bahak, lalu berkata,
“ Haruskah aku pamer kepadamu Dian? Nanti kita buat pertemuan lagi ya, akan aku ajak kamu ke tempat klub-klub milikku, dan kamu bebas berbuat apa saja di sana.”
Mata Dian pun terbelalak Sambil tertawa mendengar penjelasan mama Lina.
#######
Herman menyetir mobil Richard ke arah apartemen Richard, sedangkan Paijo membuntutinya dari belakang. Paijo mengendarai mobil yang mereka bawa di awal.
Sampailah Herman di tempat apartemen Richard. Kemudian Ia memarkirnya di basement sesuai dengan perintah mama Lina.
Lalu ia meninggalkan mobil itu, kemudian ia kembali keluar jalan menuju mobil yang dikendarai Paijo.
Paijo berpindah tempat duduk. Kemudian Herman masuk untuk mengambil alih setir pengendara, kemudian Herman pun melajukan mobilnya ke arah gudang.
Di dalam perjalanan pun mereka berdua berbincang-bincang membicarai tentang Richard.
“ Sialan Tuh anak. Ke mana perginya ya? bisa-bisanya ia pergi ninggalin mobil itu,”
Kata Herman memaki.
“ Iya Ya, kabur ke mana dia, habis nyelakain anak orang nggak tanggung jawab, disuruhnya apa dikerjainnya apa,”
Kata Paijo ikut memaki.
“ Malam itu Richard dalam keadaan mabuk nggak sih?” tanya Paijo pada Herman.
“ Kenapa kamu nanya begitu?” tanya Herman kembali lagi. Saat itu Herman Masih menyetir mobil.
“ Kalau dalam keadaan mabuk, bisa jadi penyakitnya kambuh,” jawab Paijo.
“ penyakit apa?” tanya Herman, sambil mengernyitkan dahinya.
“ penyakit panik,” jawab Paijo.
“ Emang ada penyakit panik?” tanya Herman, yang masih keheranan.
“ Ya itu ada, itu buktinya Richard ngalamin, kalau penyakitnya kambuh, apa yang udah dia kerjain dia pun nggak ingat,”
Jawab Paijo menerangkan.
Herman pun hanya mengangguk-nganggukan kepalanya. Tanpa sadar, ia telah mengurutkan Segala peristiwa yang telah berlalu, antara peristiwa yang satu dengan peristiwa yang lainnya.
Herman mengingat satu peristiwa, di mana ia diperintahkan mama Lina untuk datang ke apartemen Richard, untuk memberikan satu ancaman pada Richard.
Saat itu sikap Richard pada Herman terlihat aneh. Iya begitu ketakutan hingga sampai Herman pun dilempar botol kosong.
Dan akhirnya untuk membela diri Herman pun berkelahi dengan Richard. Ya Herman teringat kembali dengan peristiwa itu.
Tidak lama kemudian mereka pun sampai di gudang. Paijo turun dari mobil untuk membukakan pintu gerbang . Setelah itu Herman pun masuk ke dalam dan memarkir mobil di pekarangan gudang.
Mereka pun masuk ke dalam dan beristirahat di sana. Herman dan Paijo duduk di depan kursi panjang letaknya di depan ruang kerja mama Lina.
Herman menyandarkan tubuhnya ke dinding sementara Paijo mengangkat kakinya memanjang ke atas meja.
Lalu Paijo bertanya pada Herman,
“ Menurutmu, kenapa bos kita mengubah perintahnya?”
Mendengar pertanyaan Paijo membuat Herman termenung.
“ Aku pun tidak tahu apa maksud bos kita, tapi yang jelas ada sesuatu yang iya berusaha untuk tutupi,”
kata Herman sambil bertopang dagu.
“ Menurutmu, apa yang ia tutupi?”
tanya Paijo kembali.
“ Mungkin jejak,” jawab Herman dengan singkat.
“ Jejak? jejak apa? Aku nggak ngerti,”
jawab Paijo.
__ADS_1
“ Sudahlah Jangan dipikirkan. Ini semua bukan urusan kita,” sahut Herman.