
“ Halo Rika, Ini mami. Ika gimana kabarnya? “
“ Baik mi. Mami gimana kabarnya? Papi lagi ngapain?
“ Mami baik Ika, cuma sedikit kadang pegal-pegal kakinya, itu papi lagi nonton TV. Ika gimana rencana kamu ke depannya? Udah ada omongan lagi belum? “
“ Rencana sih ada mi. Andre juga udah ngomongin semua ke Rika, tapi buat omongan dari keluarganya sih belum mi.”
“ Oh, nanti kalau udah ada omongan dari keluarga besarnya, kabarin mami, terus emang apa yang udah kalian berdua rencanain ke depannya? “
“ Rencana nikah mi. Andre udah ngomongin rencananya dia, tapi kita berdua bingung dimulai dari mana. Terus apa aja yang disiapin, terus nikahnya mau di rumah atau di KUA, bingung mi. “
“ Ikutin aja apa mau mereka, kita kan pihak perempuan, harus ikutin pihak laki-laki, mereka bikin aturan, ya udah kita ikut aja. “
“Oh gitu ya mi. “
“ Ya udah kamu baik-baik ya di Jakarta, pokoknya kemajuannya tolong kabarin Mami ya. Kalau Mami sehat Mami ke sana, doakan ya. “
“ Iya Mi, Ika selalu doain Mami kok sama Papi, biar sehat. Iya mi ya nanti Ika kabarin Mami bye. “
Sambungan telepon pun terputus. Segera Rika mengambil sendalnya dan berlari keluar untuk mengejar Erna. Tapi sayang Erna sudah tidak ada di sana.
Rika pun terdiam sesaat di perempatan jalan, matanya mulai celingukan. Tapi sosok yang dicarinya sudah tidak nampak.
Rika pun kembali pulang dengan langkah lunglai. Hatinya bercampur baur antara kesal, marah dan sedih. Entah pada siapa ia marah. Tapi yang jelas ia sangat merasa sedih dan kehilangan.
Tanpa terasa air matanya pun jatuh. Segera ia usap pipinya agar tidak terlihat oleh orang yang lewat di jalan.
Rika pun terus melangkahkan kakinya dengan lunglai hingga sampai di depan teras rumahnya.
Sesampainya ia di depan teras, bertambah sesak dadanya, hingga dia tidak kuat menahannya, maka pecahlah tangisnya saat itu.
Rika turun ke lantai. Di tekuk tututnya sambil mengapit kedua kakinya, serta telapak tangannya menutupi wajahnya. Tangisnya pun sesegukan.
Hingga akhirnya ia menyadari ada seseorang berdiri di hadapannya, tangisnya pun terhenti.
Dibukanya telapak tangan yang menempel di wajahnya dengan perlahan. Matanya memandangi lantai. dilihatnya pijakan kaki seseorang.
Rika pun menatap ke atas. Ada senyuman manis terpancar di sana, hingga akhirnya Rika pun berteriak,
“ Erna!!! “
Karena aku tersenyum lebar memandang sahabatnya sedang menangis.
Dengan tawanya, Erna pun memaki,
“ Aji gile, temen gue cengeng banget ya, ngapain coba Lo nangis kayak gitu, kayak ditinggal mati aja ama gue.”
Rika pun melompat kegirangan. Karena dia pikir, sahabatnya marah dan akan meninggalkannya.
“ Kalau gue mikir pakai ego, nggak bakalan gue ke sini lagi Rik, tapi hati kecil gue berontak. Makanya tadi pas gue nengok, ternyata lo nggak ada. Lo malah masuk ke dalam. Nah gue balik lagi, gua liatin elu dari luar. Oh ternyata handphone lo bunyi, gue pikir lo bener-bener nggak bakalan ngejar gue, “
Kata Erna menerangkan.
Sambil mengusap air mata di pipinya, Rika pun berkata,
“ Najis banget sebenarnya nih gua nangisin lo, tapi air mata gue aja nih yang bocor, jangan ke gr-an loh! “
Mendengar jawaban Rika, Erna pun tertawa terbahak-bahak. Tetapi karena menahan rasa malu, Rika hanya tersenyum.
Karena terus-menerus Erna tertawa, Rika pun sudah tidak dapat menahan tawa, sampai tulang pipinya terasa kram. Akhirnya Rika pun ikut tertawa terbahak-bahak. Dan mereka pun saling berpelukan.
########
Andre, berjalan sambil mengendap-endap di balik tembok tetangganya. Kepalanya tengok-tengok sambil memandang ke arah sekelilingnya.
Pagi itu suasana sangat sepi. Andre melihat tetangganya sedang berpamitan pada istrinya untuk berangkat kerja. Setelah Andre melihat kepergian tetangganya Andre pun kembali melihat sekelilingnya.
Terlihat aman Andre pun melompat melalui tembok ke arah rumah tetangganya itu.
“Mbak, Mbak Susi! Mbak Susi! “
Panggil Andre pada tetangganya.
Tetangganya itu menoleh ke belakang. dilihatnya sosok Andre, lalu ia berkata,
“ Eh kamu Ndre, kamu lewat mana? Kamu mau ngapain? Tahu nggak, kamu tuh bikin kaget Mbak, tahu! “
Kata Mbak Susi dengan wajah panik.
__ADS_1
Andre pun segera menarik tangan mbak Susi untuk menepi, agar tidak terlihat dari jalan raya.
Karena Mbak Susi kaget dengan sikap Andre, Mbak Susi pun menarik tangannya.
“ Ih kamu ini apa-apaan sih? “
Susi pun bertambah bingung.
“Sini dulu mbak, Andre mau ngomong, penting! “
Jawab Andre dengan berbisik.
Andre baru menyadari bahwa kelakuannya membuat Susi takut. Untuk meyakinkan Susi Andre pun mengeluarkan selembar kertas dan pulpen.
Seketika itu juga ketakutan Susi mereda. Susi pun berani mendekati Andre.
“Sebenarnya ada apa sih?apa sih mau kamu? “
Tanya Susi berbisik, sambil mengernyitkan dahinya.
Andre pun bersandar di dinding, lalu ia rentangkan secarik kertas dan hendak menulis di kertas itu.
“ Mbak, cepat jawab ya. Nih langsung Andre tulis jawaban Mbak Susi. Kemarin Mbak Susi nikah dibawain apa aja sama Mas Bram? Cepet Mbak Jawab, Andre mau nulis nih! “
Perintah Andre.
Akhirnya Susi tertawa mendengar pertanyaan Andre.
“ Ya ampun Ndre, Saya pikir kamu mau apa, “
kata Susi.
Susi pun kembali berkata,
“ Oh saya tahu sekarang. Kamu mau nikah ya? Makanya kamu nanya-nanya kayak gitu, mending nanti sore atau nanti malam kamu datang lagi deh, kamu tanya-tanya sama Mas Bram oke? “
“ Aduh mbak, Andre malu ah, mendingan nanya sama Mbak Susi aja. Ayo mbak cepetan, cape nih, “
Kata Andre sambil mengelap keringatnya.
Susi pun mengatakan apa saja yang dibawakan oleh Mas Bram kemudian Andre pun mencatatnya dengan teliti.
Setelah selesai, Andre pun kembali melompat tembok samping. Dan Susi pun terkejut melihat kelakuan Andre.
gumamnya pelan.
Setelah dari rumah Susi, Andre masuk ke dalam rumahnya sambil berkipas-kipas dengan sehelai kertas yang dipegang tadi.
Kemudian Andre melangkah ke ruang tengah lalu menyalakan tv. Om Faisal merasa aneh melihat tingkah Andre.
“ Kamu dari mana nak? Apa yang kamu pegang? Boleh Om lihat? “
Tanya om Faisal dengan sederet pertanyaannya.
Saat itu Mbak Yem sedang merapikan ruang tengah, tak sengaja Ia pun mendengar percakapan mereka berdua. Akhirnya Mbok Yem pun menampakan dirinya.
“ Ini kertas coret coretan doang kok Om,”
jawab Andre.
“ Oalah Den, ngaku aja kenapa sih? Wong kita semua itu dukung kamu, Kenapa nggak terbuka aja, kan lebih enak, hati kamu juga nggak was-was, “
kata mbok Yem.
“ apaan sih Mbok Yem nyamber aja kayak setrum, “
jawab Andre, sambil berlari meninggalkan ruangan itu.
Om Faisal melihat dan mendengar perkataan Andre hanya menggeleng-geleng kepala. Kemudian ia berkata,
“bBsa jadi yaa mbok, dia malu buat cerita ke kita. “
“Sepertinya iya Tuan, “
jawab mbok Yem.
Sedangkan Andre di kamar sedang menghubungi Rika dari ponselnya.
Andre : “ Halo sweety Kamu sedang apa?”
__ADS_1
Rika : “ Hai, lagi ngobrol nih sama Erna, Kenapa Andre? “
Andre : “ Yah, aku pikir kamu lagi sendirian. “
Rika : “ Emang kenapa? Ada apaan sih emangnya? Ya udah ngomong aja kali. “
Andre : “ Aku mau ngomongin soal pernikahan kita, sweety. Tapi karena kamu lagi sama Erna, ya udahlah, nanti aja. “
Rika : “ Ya udah ngomong aja. Kita bisa saling sharing ke Erna. “
Andre : “ Ya udah, gini sweety, tadi aku udah nanya sama tetangga aku yang minggu kemarin tuh nikahan. Aku nanya-nanya terus aku catat deh. “
Rika : “ Oh ya? Tapi kok Ndre Kalau ngomongin pernikahan gini, kok aku jadi merinding ya. “
Andre : “ Merinding gimana maksudnya?”
Rika : “ Yah merinding aja, karena perasaan aku campur baur. “
Andre : “ yah wajarlah. Kan kita belum pernah nikah, jadi wajarlah ada rasa deg-degan. Oh ya sweety, kira-kira berapa ya budget yang harus aku siapin? “
Rika : “Kenapa kamu nggak nanya sama tetangga kamu? “
Andre : “ Aku malah disuruh nanya sama lakinya. ya aku malu lah, kan aku nggak begitu kenal sama lakinya. “
Rika“ Ya Kenalan lah. Ya udah besok deh siang kamu ke sini. Sekalian sorenya Aku berangkat kerja, gimana? “
Andre : “ Okelah kalau begitu, sampai ketemu besok siang ya, bye salam buat Erna. “
Telepon pun terputus.
Kembali Rika berbincang-bincang dengan Erna.
“ Tapi lo yakin dengan keputusan lo? “
Tanya Erna.
“ Yakin Er, gua harus yakin dan hati gua harus mantap, bismillah aja deh, “
jawab Rika.
“ Ya udahlah, kalau itu semua emang udah keputusan lo, gue cuma bisa doain aja, “
kata Erna sambil menggaruk-garukkan kepalanya.
“ Harus dong doain gue. Masa lo nggak mau doain gue sih, biar gue langgeng, biar hidup gue sama Andre bahagia, biar emaknya mau luluh lah hatinya, bisa terima gue apa Adanya, “
Tidak lama kemudian Rika dan Erna pun berkata berbarengan,
“ SO SWEEEEEET, ha ha ha. “
“Terus soal gaji kita yang terpotong banyak, menurut lo Ini semua perbuatan siapa? “
Tanya Erna.
“ Ya ampun Er, masa lu nggak paham juga sih? Coba deh lo raba-raba, siapa lagi kalau bukan emaknya, dia kan pengendali Pusat, sampai urusan Andre aja kita berdua yang nanggung. Maksudnya apa coba? Lo nggak paham juga? “
Jawab Rika, sambil melebarkan bola matanya ke arah wajah Erna.
“ Ih lo kok jadi mendelik begitu sih? mending kece! Tetap aja mata lo nggak bisa melotot! mata sipit nggak bakalan bisa belo! “
Kata Erna sambil mencibirkan bibirnya.
“ Sialan lo! “
Kata Rika, sambil menepak kepala Erna.
#########
Saatnya Mbok Yem membersihkan kamar Putri. Saat itu Putri sedang mandi di kamar mandi dalam. Jadi setiap kamar tidur di rumah Andre itu terdapat kamar mandi di dalamnya.
Karena pintu kamar mandi tertutup dan terdengar suara air mengucur, suara pintu kamar ketika dibuka mbok Yem Putri pun tidak mendengarnya.
“Berantakan sekali kamar Putri, “
gumam Mbok Yem pelan.
Mbok Ya mulai merapikan kamar Putri satu persatu dari lantai sampai atas kasurnya.
Tiba-tiba Mbok Yem dikejutkan dengan adanya sesuatu yang terjatuh dari dalam tas Putri. Biasanya Kalau les, Putri menggunakan tas itu.
__ADS_1
“ Ya ampun? Apa ini? “
Tanya Mbok Yem dalam hatinya.