My Future Husband

My Future Husband
BAB 8 part 2


__ADS_3

maap telat upload aku soalnya di kampung sulit sinyal, dan lagi ngak ada kuota


Arkan langsung duduk di kursi kebesarannya. Ia menghela napas beberapa kali, ia harus terlihat tenang di hadapan Febri. Ia tidak ingin Febri tahu jika ia cemburu. Bunyi pintu ruangan yang dibuka membuat Arkan sadar, ia langsung duduk pura-pura membaca Koran. Ia bersikap seolah-olah tak mengetahui apa yang sedang terjadi antara Febri dan pria tampan yang mengantar Febri tadi.


"Assalamualaikum." Ucap Febri sambil membuka pintu.


"Waalaikumsalam." Ujar Arkan dengan nada senormal mungkin, ia membalikkan korannya lalu membaca-bacanya kembali secara berulang.


"Pak Arkan ini makanannya, saya taruh sini yah. Permisi," Arkan mengeram, ia tidak suka dengan ucapan yang dibilang Febri. Pasti gadis itu ingin bertemu pria tadi. Ia tidak akan membiarkan itu terjadi. Tidak akan pernah.


"Siapa yang menyuruh kamu pergi?"


Suara Arkan menggelegar penuh intimidasi membuat langkah Febri tertahan disana. Arkan melipat korannya, ia menatap tajam Febri yang Nampak ngeri melihat sifat kaku milik Arkan. Arkan menghela napas, kemudian dia mengisyaratkan Febri untuk duduk di sofa.

__ADS_1


"Temani saya makan, lagi pula kamu juga beli 2 porsikan. Kita makan siang bersama." Arkan kemudian duduk, namun tatapan matanya mengikuti langkah Febri yang bergerak ragu ke arahnya. Sudut bibirnya mengembang,, ia harus membuktikan jika ialah yang pantas buat Febri bukan anak ingusan itu.


"Iya pak."


Mereka makan saling diam, tapi ada satu hal yang menganggu Arkan. Yaitu Febri dan ponsel yang digenggamnya, anak itu terus bermain ponsel, sesekali dia akan cekikikan. Arkan menatap itu geram. Ia tidaklah buta dalam mengartikan hal itu, pasti Febri sedang berbalas pesan dengan pria yang tadi ia lihat. Arkan menghela napas, ia tidak suka diabaikan apalagi dengan pria lain, ia berdehem kencang. Febri langsung mendongak mendengar itu. Mereka saling bertatapan.


"Jangan makan sambil main ponsel, atau kamu mau ponsel kamu saya sita lagi." Ujar Arkan.


Arkan berjalan mendekat ke arah Febri kemudian menangkup wajah Febri, di saat ia melihat Febri melamun sambil tersenyum-senyum sendiri bahkan Febri tidak menyadari hal itu. "Kamu kenapa?" mendengar suara Arkan membuat Febri tersadar akan kehadiran Arkan di hadapannya. Tubuhnya bergetar kaku, apalagi tangan Arkan yang menyentuh dagunya. Febri berusaha menahan napas


"Lepas pak."


"Saya mo-ho-on"

__ADS_1


Arkan mengabaikan ucapan itu, ia tidak melepaskan cengkaraman itu. Arkan tidak menyukai Fakta jika ia memiliki lawan, dan ia juga tidak menyukai jika Febri memikirkan pria lain selain dirinya.


"Kamu sedang membayangkan apa?" Febri menggeleng, ia tak nyaman dengan posisi ini. apalagi posisi mereka yang begitu dekat. Arkan menatap Febri tajam, sedang Febri hanya diam. Hingga Arkan melepaskan pengangannya. Lalu bangkit berdiri menjauh dari Febri. Ia tidak seharusnya bersikap seperti ini, disaat ia tidak memiliki hubungan apa-apa dengan gadis ini tapi Arkan tidak bisa kehilangan Febri. Bagaimanapun caranya akan ia tempuh untuk mendapatkan Febri.


"Jangan memikirkan pria lain, disaat bersama saya."


"Terimakasih atas makanannya."


"Saya mau mengajar."


Arkan pergi setelah mengucapkan itu meninggalkan Febri yang penuh keterpakuan. Ucapan Arkan tadi membuatnya merasa bersalah, entalah Febri tidak mengerti perasaan ini. melihat Arkan yang pergi dengan nada datar seperti itu membuatnya merasa sakit, apa ia melakukan kesalahan pada pria itu hingga membuatnya menjadi dingin seperti itu. Kenapa tingkah Pak Arkan seakan-akan seperti seorang kekasih yang cemburu, apa pak Arkan juga tahu jika ia tadi bertemu pria tampan yang sudah menarik hatinya.


Febri menggelengkan kepalanya, ia tidak boleh berpikiran macam-macam. Lagi pula tidak mungkinkan Pak Arkan cemburu, mereka juga tidak memiliki hubungan. Ini tidak boleh terjadi, ia tidak menyukai Arkan. Lebih baik ia berusaha PDKT dengan kakak tingkat yang baru ia temui tadi.

__ADS_1


__ADS_2