My Future Husband

My Future Husband
BAB 89


__ADS_3

Arkan mengeluhkan pinggangnya sakit karena menggendong Febri tadi malam keliling kampung dua kali putaran bayangkan!! betapa gilanya Arkan semalam.


Ia berjalan pelan menuju tempat makan. Untunglah hari ini libur jadi dia tidak perlu ke kampus dengan keadaan seperti ini pasti nanti teman-teman dosennya dan para mahasiswanya akan mentertawakan-nya.


"Mas kenapa?" Tanya Febri bingung.


Arkan mendengus mendengar itu. Apa istrinya sudah lupa ingatan dan melupakan kegiatan absurd mereka tadi malam. Bahkan hansip yang biasa keliling memergoki mereka dan tak henti menggodanya. Bahkan menyanyikan lagu nya Mbah Surip tak gendong kemana-mana diganti liriknya dengan Pak Arkan gendong Febri kemana-mana. Arkan hanya bisa tersenyum pasrah. Pasti saat ini ia akan menjadi bahan gosip orang-orang.


"Gara-gara kamu ini dek.. coba semalem nggak main gendong-gendongan." keluh Arkan.


"Hahahaha.." Febri tertawa mendengar itu.


"Malah ketawa lihat suami menderita.." ujar Arkan malas. Ia menatap Febri sebal. Boleh tidak ia cium gadis itu sekarang juga.


"Iya maaf.. Febrikan lagi ngidam emang mas nggak kasihan sama si kecil. Nanti kalau si kecil ileran gimana?" Arkan mendesah kemudian duduk di meja makan.


Arkan diam mengambil piring dan mengisinya dengan makanan. Perutnya sudah lapar karena belum sarapan. Berhadapan dengan Febri itu butuh tenaga. Badannya sudah tidak sekuat dulu. Ya walaupun kata orang-orang masih bagus untuk pria di atas lima puluh tahun yang masih terlihat seperti pria empat puluh tahun.

__ADS_1


"Maaf ya mas.. Febri yang salah nanti Febri pijetin deh mas.." Rayu Febri pada Arkan yang ngambek. Suaminya itu malah sibuk makan.


"Mas marah ya.. gitu aja marah.. Kan mas sendiri yang bilang belum tua. Masa gendong Febri sama si kecil yang enteng ini aja nggak kuat. Alwan aja kuat loh gendong Cessa anak kita yang gemuk." Bolehkan Arkan tertawa mendengar itu. Padahal Cessa anak perempuan pertama mereka itu kurus. Sedangkan Febri berat badannya naik dua kali lipat.


"Mas masih marah ya.." Febri mendekatkan kursi ke arah Arkan mendempetkan diri. Lalu menaruh kepalanya di pundak Arkan.


"Sebentar mas mau makan dulu, lanjut nanti aja berantem nya..." ucapan Arkan membuat Febri manyun pergi ke dapur. Arkan diam-diam tertawa melihat sikap istrinya itu. Rasakan! Emang enak di diemin begitu!!! Gantian setiap hari kan yang ngambek Febri sekarang diri nya yang ngambek. Biar Febri tahu rasanya bagaimana menderitanya menghadapi orang ngambek.


****


"Mas udah selesaikan marahnya?" Tanya Febri menempel manja pada Arkan. Mereka sedang duduk berdua di depan televisi menonton Chanel berita kesukaan Arkan.


"Kok cuman Hem doang sih mas.."


"Jangan gitulah mas... Febri sedih nih dicuekin dari tadi pagi. Mas capek ya.. sini Febri pijetin.." Kemudian Febri memijati pundak Arkan kemudian turun ke punggung nya.


"Mas enakkan?" tanya Febri.

__ADS_1


"Enak.."


"Mas masih marah ya? maaf deh Febri yang keterlaluan.. Febri lupa kalau mas itu udah tua.. jadi pasti keberatan gendong Febri yang enteng ini. Tulang-tulang mas pasti pada rapuh gara-gara semalam." Mendengar itu kelakian Arkan terendah kan. Ia paling tidak suka di bilang lemah.


"Mas maafin.. kamu nggak berat kok beneran mas cuma capek aja gara-gara kamu tidur mas keganggu padahal kita baru tidur jam 12 malam dan kamu malah minta jalan-jalan jam 2 pagi..." Dan yang lebih parahnya lagi kamu minta gendong dua putaran keliling kampung itu hanya terucap dalam hati.


"Iya Febri minta maaf janji nggak akan gini lagi.. lagian ini juga keinginan si kecil kok mas.. Jadi mas udah maafin Febrikan?"


"Cium dulu.."


"Apa?" kemudian Arkan menunjuk bibirnya ke arah Febri.


"Iih.. mas mah mesum nggak jauh-jauh dari situ pikirannya!!"


"Nggak masalahkan sama istri sendiri.." Kemudian Arkan menarik tengkuk Febri mencium gadis itu dalam meluapkan rasa cintanya.


***

__ADS_1


jangan lupa follow Instagram author @wgulla_ ♥️♥️♥️


__ADS_2