
"Kamu yakin akan pergi?" Tanya Febri disaat Alwan merapikan barang-barangnya.
"Al yakin bunda. Lagipula disini Al bukan anak kandung kalian." jawab Alwan. Ia tidak ingin mengutarakan maksud sebenarnya kenapa ia pergi. Ia tidak ingin membuat keluarga ini semakin khawatir. Cukup sampai disini ia berada disini merepotkan mereka. Ia ingin hidup di tempat yang seharusnya di berada.
"Tapi bunda menganggap kamu lebih dari anak kandung bunda."
"Al ingin bersama ayah kandung Al. Al ingin mengenalnya." 'Dan Al tidak ingin membuat bunda dan papa menderita lagi.' lanjut Alwan dalam hati. Yang ia inginkan dari sekarang adalah menjauh dari keluarga ini. Walau rasanya berat sekali apalagi ia harus meninggalkan adik kecil kesayangannya.
"Kakak mau kemana?" Cessa menatap bingung kakak laki-laki nya.
__ADS_1
"Kak Al mau pergi. Princess harus janji sama kakak jangan cengeng lagi. Princessa harus kuat menghadapi apapun tanpa kakak. Princessa sekarang harus bisa menghadapi semuanya sendiri jangan jadi anak yang lemah mengerti. Kakak sayang Princessa." Ujar Alwan sedih. Febri yang melihat itu ikut menangis. Ia belum siap kehilangan putranya.
"Al dengar bunda jangan pergi. Bunda akan menyayangi kamu seperti anak bunda sendiri." Alwan menggelengkan kepala. Anak laki-laki itu tidak ingin menjadi beban lagi di keluarga ini. Cukup kemarin karena dirinya. Bundanya Febri harus menderita. Harus kehilangan anak dan kakinya. Dan Alwan tidak ingin ada hal lain yang lebih menyakitkan terjadi karenanya. Cukup kemarin...
"Tidak bunda. Al harus pergi. Bagaimana pun Alwan tidak bisa selalu ada disini. Al punya keluarga sendiri." jawab Alwan tanpa ingin terlihat sedih. Ia tidak ingin bundanya tambah menangis melihat kepergiannya yang cengeng.
"Maaf Princessa tapi kakak tidak bisa terus berada disini. Kakak harus pergi." Tekad Alwan sudah bulat. Ia ingin memulai hidup baru. Ia hanya ingin Keluarga yang telah membesarkan nya ini hidup bahagia. Tanpa ada gangguan apapun. Jika ia tetap berada di sini pasti akan ada kejadian-kejadian lain yang menimpa mereka.
"Al.. tolong jangan tinggalin bunda..." Febri memohon, dengan wajah sendu.
__ADS_1
"Kamu tidak sayang bunda lagi... jadi kamu mau pergi meninggalkan bunda.." Ucap Febri berusaha mempertahankan Alwan. Ia belum ingin kehilangan.
"Al sayang bunda ... Al sayang papa dan Al sayang Cessa... Al sayang kalian... tapi Alwan harus pergi." Balas Alwan sambil memilih beberapa barang yang dianggapnya penting. Termasuk album foto keluarga ini. Paling tidak ia bisa mengenang mereka. Jasa-jasa mereka yang telah merawatnya dari kecil walau dia terlahir bukan siapa-siapa di keluarga ini.
"Terima kasih bunda." Alwan kemudian memeluk Febri erat. Anak itu mencoba untuk tidak menangis. Ia tidak boleh terlihat sedih. Berbanding terbalik dengan Febri yang menangis kuat-kuat. Bahkan memeluk Alwan erat seakan tak ingin kehilangan. Alwan melepaskan pelukannya lalu memeluk Cessa yang menangis sesenggukan.
"Kakak sayang Cessa.. Cessa jangan nangis lagi. Janji sama kakak Cessa harus jadi anak yang kuat." Setelah melepaskan pelukannya Alwan mengecup pipi kanan Cessa. Febri terdiam melihat interaksi ke dua anaknya. Ia juga tidak mencegah.
"Bunda jangan nangis juga. Alwan akan baik-baik saja. Alwan sayang kalian."
__ADS_1