My Future Husband

My Future Husband
BAB 63


__ADS_3

Setelah hampir lima bulan terapi. Febri berhasil berjalan walau hanya dengan tongkat. Walau ia sangat merindukan Alwan tapi ia masih semangat untuk hidup. Ia berjanji disaat ia berhasil nanti ia akan membawa Alwan kembali. Menurut informasi dari ayahnya mengenai Alwan. Thomas adalah salah satu rekan bisnis ayahnya yang kebetulan memilki saham di sana. Ayahnya juga berjanji jika Thomas menyakiti Alwan ia akan merebut Alwan dari tangan Thomas.


Saat ini mereka sedang jalan-jalan di taman bersama Cessa dan Arkan. Ia beruntung Cessa tak lagi menanyai Alwan. mungkin anaknya itu sudah mengerti posisi Alwan.


"Kita istirahat dulu ya." Arkan menyuruh Febri untuk duduk di kursi taman. Ia hanya takut istrinya itu kelelahan.


"Papa, Cessa mau es krim." Cessa menunjuk tukang es krim ke pada Arkan.


"Kamu mau es krim?" Tanya Arkan pada Febri.


"Rasa coklat mas." Arkan mengangguk lalu pamit pergi bersama Cessa untuk membeli es krim. Sedangkan Febri duduk menunggu mereka.

__ADS_1


Febri memandang taman. Udara sejuk sore hari menerpa wajahnya. Ia tersenyum melihat anak-anak kecil berlari-lari saling mengejar satu sama lain. Namun matanya menyipit melihat salah satu Anak laki-laki remaja. Dari belakang sangat mirip dengan Alwan. Febri menahan napas. Ia langsung mengambil tongkatnya untuk menyusul anak itu.


Sambil tertatih-tatih ia mengejar anak itu. Alwannya kembali ya Allah. Febri jalan dengan cepat untuk meraih anak itu. Namun ia tak mampu mengejar kakinya tersandung jatuh. Febri jatuh, ia meringis menahan rasa sakit. Ia juga berteriak memanggil Alwan.


"Al.. ini bunda.. Al... ini bunda.. hiks..hiks..." Arkan lari menghampiri Febri dengan khawatir disaat tidak menemukan keberadaan istrinya di kursi taman. Sedangkan Cessa ia minta untuk duduk di kursi. Ia terpukul melihat kondisi Febri yang jatuh sambil berteriak-teriak memanggil Alwan.


"Sayang, apa yang kamu lakukan disini. Apa yang terjadi?"


"Lihat aku sayang. Alwan tidak ada. Dia tidak ada disini. kamu salah lihat."


"Tapi mas.. itu Alwan.. dia disana..hiks..hikss..."

__ADS_1


"Kamu sudah janji sama mas untuk tidak mengungkit ini lagi sampai kamu sembuh. Kasihan Cessa jika dia melihat kamu seperti ini. Dan mas nggak mau kamu sakit lagi karena hal ini." ujar Arkan.


"Hiks..hiks..." Alwan menghapus air mata Febri. Lalu mengecup kening gadis itu sayang.


"Mas janji kita akan cari cara untuk bisa bertemu dengan Alwan. Mas janji kita akan bawa Alwan." Febri mengangguk lalu terdiam dengan bujuk rayu Arkan.


"Mas."


"Iya sayang."


"Gendong." Arkan tersenyum melihat itu. Ia Dengan gemas menggendong Febri di belakang Punggungnya. Lalu tangan kirinya memegang tongkat Febri. Febri mengalungkan tangannya di leher Arkan. Ia menaruh kepalanya di bahu Arkan. Ia menangis dalam diam. Ia begitu terharu dengan Arkan yang masih setia bersamanya yang cacat ini. Pria itu tidak pernah mengeluh sama sekali. Ia merasa malu dengan dirinya sendiri yang bahkan tidak bisa menghargai dirinya sendiri. Sedangkan Arkan begitu menghargainya bak permata.

__ADS_1


"Mas terima kasih sudah mencintai Febri." bisik Febri. Arkan tersenyum mendengar itu.


__ADS_2