My Future Husband

My Future Husband
BAB 85


__ADS_3

Febri duduk di hadapan Alwan yang sedang terbaring tidak berdaya. Ia tak berhenti menciumi tangan Anaknya itu. Alwan sudah bangun sejak tadi. Alwan mengalami Amnesia bahkan pria itu tidak bisa mengingat apapun dan sang kakek memulai drama mengenalkan mereka sebagai keluarganya dan yang lebih parah adalah Cessa anaknya langsung di kirim pulang ke Indonesia sebagai hukuman. Kejam sekali memang ayahnya itu.


"Bunda?" ujar Alwan dengan suara serak. Pria itu mencoba bangkit namun di tahan oleh Febri.


"Kamu jangan banyak gerak sayang. Kamu perlu apa? Bunda ambilkan..." Tawar Febri memanjakan Alwan anaknya.


"Mminunnn.." Febri mengerti lalu mengambilkan Alwan segelas air membantu pria itu minum dengan sabar. Tepat saat itu juga Arkan datang.


"Sudah besar masih saja di manja sama bundanya..." ledek Arkan.


"Mas.." delik Febri menatap Arkan kesal. Suaminya itu memang jadi berlebihan jika ia dekat dengan Alwan. Katanya ia terlalu berlebihan dengan Alwan dan lebih banyak meluangkan waktu untuk putra nya itu.


"Bercanda sayang.. mas cuma kangen aja di manja kamu.. masa Alwan terus..."


Febri mengabaikan ucapan itu.

__ADS_1


"Kamu mau makan?" tawar Febri.


"Bunda suapin bagaimana?"


"Papa juga mau disuapin dong!!" Bukannya Alwan yang menjawab malah Arkan. Hal itu membuat Febri menatap suaminya tajam seakan menyuruh suaminya itu diam. Arkan manyun kemudian duduk di sofa sambil cemberut karena di cuekin istrinya.


Sedangkan Febri sibuk menyuapi Alwan. Benar-benar indah momen ini. Akhirnya ia bisa berdekatan dengan anaknya lagi setelah sekian lama.


"Bun.." panggil Alwan.


"Iya.."


"Bukan itu Bun, kayaknya papa marah deh sama bunda.." Alwan menunjuk ke arah Arkan yang nampak memberengut menatap mereka seakan mencari perhatian.


"Biarin aja papamu emang suka begitu. Masa cemburu sama anak nya sendiri. Aneh kan!!"

__ADS_1


"Tapi Bun.. mending bunda temenin papa aja..." bujuk Alwan merasa tidak enak.


"Papa kamu itu masih sehat nanti bunda urus kok" paling pria tua itu minta jatah.. ucap Febri dalam hati. Suami nya itu sedang uring-uringan karena belum mendapat jatah selama tiga hari ini karena ia sibuk merawat Alwan di rumah sakit. Pasti nanti di layani semalaman suami nya itu sudah kembali seperti biasa nya.


"Yang penting itu kamu, lagian mana ada orang tua yang tega meninggalkan anaknya sendiri yang terbaring tidak berdaya disini. Bunda ingin merawat kamu hingga sembuh.." Alwan terharu mendengar ucapan bunda nya. Rasanya ia tidak pernah mendapatkan hal seperti ini. Andai saja ia bisa ingat. Pasti di dalam memorinya penuh kenangan indah bersama keluarga besarnya ini. Pasti selama ini ia hidup penuh dengan kebahagiaan. Memiliki ayah dan ibu yang baik seperti mereka.


"Bun.."


"Iya.."


"Alwan boleh peluk bunda.." ucap Alwan ragu.


"Tentu saja boleh sayang..." Lalu Febri menaruh piring di meja dan memeluk anak nya itu erat.


"Terimakasih bunda telah merawat Al.." ucap Alwan tulus. Ia bersyukur memiliki ibu seperti Febri.

__ADS_1


"hm..hmm.." suara deheman itu membuat pelukan mereka terlepas ternyata Arkan berdiri di sana.


"Kalian pelukan kok nggak ajak-ajak papa sih.." protes Arkan.. Kemudian Alwan memeluk papa nya dan bunda nya bersamaan mereka berpelukan satu sama lain.. Andai saja ada Cessa pasti lengkap sudah keluarga ini.


__ADS_2