My Future Husband

My Future Husband
BAB 35


__ADS_3

Febri pasrah, ia diam tidak memberontak lagi. Ia menikmati pelukan Arkan yang begitu menenangkan, Febri merindukan pelukan hangat ini. Pria yang ia cintai dari dulu hingga sekarang. Meski perasaan benci itu ada, tapi tetap saja tidak bisa membuat Febri berhenti mencintai Arkan.


"Aku kira dengan menikah lagi mampu membuatku melupakanmu. Gadis kecil yang selalu mengikutiku kemanapun aku pergi. Ternyata tidak, kau masih ada di hatiku walau aku tak pernah mengatkannya pada siapapun."


"Aku merasa bersalah. Semuanya malah terasa semakin berat, ketika aku tidak mampu memberikan hatiku pada wanita lain, aku juga tidak mampu mencukupi kebutuhan hidupnya. Tapi aku sudah berusaha keras untuk memberikan perhatianku pada istriku, namun Istriku memilih untuk selingkuh dan hamil dengan pria lain." Febri mendekap mulutnya tak percaya, jadi itu penyebab penceraian Arkan dan juga Al bukan anak kandung Arkan. Muncul sedikit rasa iba di hati Febri. Febri berbalik menghadap Arkan. Ia memeluk pria itu erat, ia menangis karena terlalu banyak berpikir buruk tentang Arkan bahkan disaat ia tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya.


"sst" Arkan menenangkan Febri, ia mengelus punggung wanita itu. Seharusnya ia yang menangis kenapa jadi Febri yang menangis.


"Maaf," ucap Febri penuh penyesalan. Seharusnya ia mendengarkan Arkan lebih dahulu. Seharusnya ia tidak kabur-kaburan seperti ini. Seharusnya ia tidak egois dan memikirkan dirinya sendiri.


"Sudahlah kita tak perlu saling meminta maaf, kita lupakan semua yang telah terjadi. Kita berdua sama-sama salah. Kita berdua bersikap egois merasa kitalah yang paling menderita dan terluka disini. Padahal kita saling membutuhkan satu sama lain. Tapi ego kita terlalu tinggi untuk mengakuinya." Ujar Arkan menenangkan Febri. Tidak ada yang salah disini. Ini hanya salah paham.


Febri mengangguk, tangannya menyentuh punggung Arkan semakin merapatkan pelukannya.


"Febri bolehkan aku minta satu hal?" tanya Arkan meminta satu hal pada Febri.


"Apa?" Tanya Febri bingung. Ia menatap Arkan sendu.


"Tolong cintai Al, seperti kamu mencintai anak kita nanti," Arkan mengelus perut Febri.


"Dikau memberi tahuku tentang kehamilanmu, aku bahagia karena aku memiliki 2 anak sekarang. Apalagi saat ini wanita yang aku cintai mengandung anak pertamaku." Arkan tidak bisa menyembunyikan senyumnya, ia bahagia sekali.

__ADS_1


Ia sudah tahu jika Febri hamil, sebenarnya Arkan sudah menduganya. Dikau tadi memberitahunya tentang kehamilan istrinya, pria itu takut jika Arkan melukai Febri. Padahal tidak pernah terpikir di pikirannya untuk melukai istrinya walau kenyataanya Febri sering terluka karenanya.


"Aku hanya tidak ingin Al terluka karena wanita itu. Aku sudah menganggapnya sebagai anakku sendiri. Aku hanya tidak ingin melihat Al terluka lagi, aku menemukan beberapa luka lebam di tubuhnya. Kasihan sekali anak itu." lanjut Arkan ia tidak ingin Febri salah paham lagi.


Febri mengangguk sekarang ia mengerti kenapa Arkan mencintai anak itu. Bukan karena Arkan masih mencintai mantan istrinya tapi Al tidak pernah mendapatkan kasih sayang yang layak dari ibunya, seharusnya ia memiliki hati nurani, seharusnya ia sudah menebak ketika mantan istri Arkan menitipkan Al pada mereka demi karirnya. Mana ada ibu yang tega memberikan anaknya untuk orang lain. Ia tidak menyangka jika Al adalah anak hasil dari perselingkuhan, anak itu tidak tahu apa-apa dan Febri menghakimi anak itu sebagai perusak rumah tangganya.


Febri merasa bersalah karena telah membenci anak itu. Anak itu pasti hidup dengan penuh tekanan dan air mata ditambah penolakkannya kemarin. Pasti anak itu berpikir jika ia membencinya. Febri menangis, ia memeluk Arkan kuat-kuat.


Ia tidak bisa membayangkan jika ia yang berada di posisi anak itu. Karena ia sedari kecil selalu mendapatkan limpahan kasih sayang dari orangtuanya.


"Dan satu lagi sayang, tolong rahasiakan ke Al. Jika aku bukan ayah kandungnya, aku tidak ingin dia terluka menerima kenyataan itu."


"Dia sehatkan?" tanya Arkan pada Febri sambil menciumi perut Febri. Ia sudah tidak sabar menantikan anak pertamanya.


"Iya," Febri menjawab pertanyaan Arkan.


"Love you," Ujar Arkan.


"Love you too." balas Febri dengan bahagia. Ia sadar jika ia hanya mencintai Arkan sedangkan Dikau hanyalah rasa kagum sementara. Ia merasa bersalah karena telah memanfaatkan Dikau selama ini.


"Terima kasih telah mencintaiku..." Ujar Arkan dengan tulus. Lalu mencium kening Febri lama. Ia ingin membuktikan pada Febri bahwa hanya dia yang pantas jadi suami untuk gadis itu. Hanya Arkan, bukan yang lain...

__ADS_1


"Mari kita pulang sebelum anak ingusan itu merebutmu lagi dariku." Arkan sengaja tidak menutup pintu agar Dikau melihat semuanya, ia hanya ingin memberitahu posisi anak kecil itu. Ia sudah tidak ingin bermain kucing-kucingan lagi.


Febri terdiam, ia lupa jika ia berada di Villa milik Dikau. Ia bangkit dan melihat seorang pria yang berdiri di ambang pintu menatap mereka dengan senyum yang dipaksakan. Berarti dari tadi Dikau melihat semua hal yang dia lakukan dengan Arkan. Ia jadi malu dan merasa bersalah dengan Dikau. Ia sungguh tidak ada niat untuk mempermainkan Dikau, walau ia sadar semua hal yang ia lakukan melukai perasaan Dikau. Febri mengumpat dalam hati akan membalas Arkan yang memang sengaja melakukan ini. Bisa dilihat dari seringainya yang semakin melebar di wajah tampannya itu.


"Maaf menggaggu," ucap Dikau dengan menyimpan kesedihannya. Ia bahagia sekaligus risau. Ia senang Febri mendapatkan kebahagiaan nya walau di hati kecilnya tidak rela. Ia masih mencintai gadis itu. Ternyata cinta itu sulit. Apalagi cinta yang tak harus memiliki rasanya begitu mencekik.


"Tidak apa-apa, berkat kamu saya bisa bertemu Febri lagi." Jawab Arkan membalas ucapan Dikau.


"Terima kasih," Ujar Febri dengan tersenyum minta maaf. Ia merasa bersalah pada pria di hadapannya ini. Dikau terlalu baik untuknya. Bahkan rela melakukan apapun untuknya. Padahal ia terus melukai pria itu dengan kebohongan dan keegoisan nya semata.


"Semoga kalian bahagia," ujar Dikau pamit meninggalkan kedua orang itu.


Ia sudah tak tahan lagi merasakan rasa sakit ini. Sepertinya ia harus benar-benar melupakan Febri dan menghapusnya dari ingatannya. Ia tidak boleh mencintai gadis itu lagi. Ia tidak memiliki kesempatan apapun. Baginya sudah cukup melihat Febri bahagia dan tersenyum kembali.


Dan disaat ia mendengar balasan Febri yang mengatakan jika ia mencintai pria itu sudah cukup menjadi alasan Dikau untuk pergi menjauh dari kehidupan mereka.


"Selamat tinggal," ucap Dikau dengan gumaman. Ia harus merelakan cinta pertama nya dan mencari cinta yang baru.


****


jangan lupa follow Instagram author @wgulla_ ♥️♥️♥️

__ADS_1


__ADS_2