My Future Husband

My Future Husband
Kehilangan


__ADS_3

Titik-titik hujan mulai turun setelah kepergian Joe dan Kinara. Angin besar menggoncang laut itu sangat brutal. Petir dan kilat semakin bersautan. Setelah ini akan terjadi badai besar.


Angin dan air yang akan mengantarkan nyawa Kinara dan Joe ke tangan Tuhan sang pencipta.


Hal mengerikan itu tertangkap jelas di mata ketiga pria itu.


Sengaja sopir dari kapal yang ditumpangi Sanjaya tidak mendekat karena ledakan bom tadi begitu dahsyat. Seperti tsunami yang terjadi secara mendadak.


Rasanya tak percaya mereka akan kehilangan Kinara dan Joe secara bersamaan. Padahal satu jam yang lalu mereka bisa melihat jelas wajah Kinara. Wajah anak kedua Sanjaya yang selalu ceria.


Sanjaya menangis tergugu, mencekram erat pinggiran kapal. Matanya merah menyala menandakan dirinya sedang dalam kesedihan mendalam.


Anak perempuan yang selalu ia berikan kasih sayang. Dia besarkan dengan sepenuh hati. Sekarang harus mati di tangan gadis yang sama sekali tidak dia kenal.


"Kinara......maafin papa sayang." Ucap Sanjaya lemah.


Ini kedua kalinya Sanjaya merasa tidak berguna sebagai ayah untuk Kinara. Sanjaya gagal untuk menyelamatkan Kinara. Dan sekarang, anaknya itu tinggal namanya saja.


"Pak, kita bisa kesana?." Tanya Kenzo kepada pak sopir. Semoga saja bisa mendekati ke tengah laut agar bisa menemukan jasad Kinara.


Namun pak sopir itu menggeleng. Dia memutar balikan kapalnya menjauh dari tempat itu.


"Lebih baik kita kembali, tuan. Cuaca sedang tidak baik. Bahaya Jia kita masih berada di laut." Jawab sopir itu.


Sean tak bisa berbuat apa-apa. Dia menatap kosong lautan dimana bom itu meletus di depan mata Sean sendiri. Pasti sekarang tubuh Kinara sudah hancur berkeping-keping.


Karena ledakan bom itu bisa menghancurkan Kinara dalam waktu sekejap. Ingin sekali Sean pergi mencari Kinara, atau menyelam ke dasar lautan itu. Tapi cuaca semakin buruk. Akhirnya Sean mengalah, dia memilih diam sambil menunggu cara selanjutnya.


Walau pada akhirnya itu akan percuma saja. Pasti jasad Kinara dan Joe sudah tenggelam jauh.


"Anaku." Ucap Sanjaya dengan bibir bergetar. Dia memperhatikan bayangan putih mirip sekali dengan Kinara. Gadis itu bisa berjalan diatas air mendekati Sanjaya dengan senyum manisnya.

__ADS_1


Entah ini hanya halusinasi belaka atau enggak, intinya Dinata Sanjaya benar-benar terlihat jelas.


"Kinara kamu kembali sayang?." Tanya Sanjaya lemah. Air matanya menetes begitu deras. Melihat Kinara sudah tidak di dunia ini lagi. Ingin sekali Sanjaya memeluk Kinara tapi tangannya selalu nembus begitu saja.


Perlahan bayangan putih itu semakin hilang. Berjalan mundur dan berbalik menjauhi tubuh Sanjaya.


Sanjaya memberontak ingin mengejar Kinara. Ingin sekali dia merengkuh tubuh Kinara dan membawanya pulang. Tapi Kenzo dan Sean sudah sigap menahan tubuh Sanjaya.


Air mata Kenzo tak bisa lagi dibendung. Ayahnya sangat terpukul dengan kejadian ini. Bisa dilihat Sanjaya sudah terganggu pikirannya. Padahal di matanya tidak ada sama sekali Kinara.


"Tenang pah! Kita cari Kinara nanti. Semoga cuacanya segera membaik." Ucap Kenzo menarik Sanjaya agar menjauh dari pinggir kapal. Dibantu dengan Sean akhirnya tubuh Sanjaya berhasil menjauh dari pinggiran kapal.


"Kinara! Kamu mau pergi nak?." Tanya Sanjaya lagi. Matanya menatap lurus ke arah dimana tadi dia melihat Kinara.


Sean menutup mulutnya. Menahan Isak tangis yang selama ini dia tahan. Matanya mengalir dengan deras. Perasaannya tidak sanggup menerima kenyataan ini.


"Papa tidak ikhlas sayang! Kinara, bertahanlah."


Kenzo menatap ayahnya itu dengan iba. Apa sebenarnya yang dilihat Sanjaya. Apa benar jika hanya Sanjaya saja yang bisa melihat roh Kinara. Tapi kenapa hanya ayahnya?.


Kenapa cuaca malah seperti ini ketika Kinara sedang butuh bantuan kita? Apa Tuhan memang sudah takdirkan ini terjadi. Bathin Kenzo menatap dalam Sanjaya.


Bibirnya kembali ia bungkam. Tidak ada kata lagi yang di keluarkan oleh tiga pria itu. Mereka fokus pada pikiranya masing-masing.


Sean menggenggam tangan Sanjaya untuk memberikan ketenangan. Dia juga memberikan usapan kecil di punggung tangan. Dan Sanjaya merasakan semua itu tapi sama sekali tidak berkata.


Hingga akhirnya kapal sudah sampai di daratan. Semua sudah bersih tidak ada mayat. Tadi Sanjaya sudah menyuruh seseorang untuk membereskan itu semua.


Sanjaya turun dibantu oleh Sean dan Kenzo. Sebelum meninggal laut mereka membayar bapak sopir itu dengan lima uang merah. Setelah itu beranjak berteduh.


Cuaca semakin menjadi-jadi. Sebelum itu Sanjaya sempat melirik ke arah laut. Untuk memastikan jika sudah tidak ada Kinara lagi.

__ADS_1


"Ayo pah!." Ajak Kenzo untuk berlari cepat.


Semua orang disana juga segera melarikan diri ke tempat yang lebih aman. Karena angin semakin kencang menerpa daratan. Bahkan pohon-pohon sampai bergoyang ke bawah saking kencangnya angin. Suara angin begitu terdengar.


"Kita ke hotel yang mama Delima tempati." Pinta Sanjaya berteriak.


Ketiga pria itu segera pergi ke tempat tujuan. Tak lama kemudian mereka sudah sampai di depan hotel. Dengan langkah cepat mereka melangkah untuk masuk.


Tepat pada saat itu juga hujan turun sangat deras. Guyuran air dan hujan membuat orang ketakutan. Karena seketika cuaca berubah menjadi buruk. Apakah ini artinya Tuhan marah dengan tindakan Joe?.


"Kak Ken, bawa om Sanjaya masuk bertemu mama Delima." Pinta Sean.


"Lo nggak masuk?."


"Baiklah." Jawab Sean ikut melangkah masuk. Jujur saja hati Sean masih kacau. Dia ingin sekali pergi mencari Kinara.


Rasanya Sean bekum ikhlas jika Kinara sudah mati. Bagaimanapun Sean harus mencari Kinara dan menjaganya sampai mati.


Setelah mendapat kunci ruangan sendiri. Sean segera menatap ke arah jendela. Hujan deras masih mengguyur kota itu, seakan mencegah Sean untuk pergi mencari Kinara.


Dari jendela atas Sean bisa melihat ombak besar menggulung dataran untuk kesekian kalinya.


Hati Sean berdenyut, matanya memanas. Rasa tak percaya masih terus bergelantungan di pikirannya. Kinara gadis periang yang menemani hidup-hidup Sean sekarang sudah tidak ada di dunia.


Entah seperti apa sekarang nasib Sean selanjutnya. Apakah hidup tanpa Kinara akan membuat kehancuran untuk Sean. Yang jelas untuk saat ini Sean hanya ingin menangis.


"Tuhan, tolong selamatkan nyawa Kinara......." Ucap Sean lemah. Bibirnya bergetar dengan air mata yang sudah jatuh di pipinya.


Kenapa lo pergi Kinara? Lo mau pergi ninggalin gue bersama dengan Joe? Mana kata cintamu Kinara!


Cinta yang sudah kita rajut selama ini. Manis dan pahit yang sudah kita lalui bersama. Apa dengan cara ini Kinara? Lo mau menyelesaikan semua permasalahan hubungan. Tidak Kinara!

__ADS_1


Lo pergi ninggalin gue hiks! Lo buat gue gila! Hiks hiks. Gue hampa tanpa Lo...... Kinara. Ucap Sean dalam hati sembari mengamati ombak laut.


"Gue tidak nyangka Lo rela pergi dan melupakan gue disini begitu cepat, Kinara"


__ADS_2