
"Dimana Kinara?!." Tanya Kenzo memblalakan matanya melihat tidak ada Kinara.
Dengan nafas yang masih terengah-engah Sanjaya juga ikut menatap ke sekitar.
"Apa sudah dibawa Sean?."
"Itu Sean." Tunjuk Kenzo. Dia berlari bersama Sanjaya ke arah Sean.
"Kita menang om." Ucap antusias Sean.
Tapi sepertinya berbeda. Dia bisa melihat raut wajah kekhawatiran dari Sanjaya maupun Kenzo.
"Ada apa ini?" Tanya Sean heran.
"Dimana Kinara?."
"Kinara? Aku tidak tidak tau." Jawab Sean juga ikut bingung mencari keberadaan Kinara.
Bodoh sekali dia. Harusnya tadi dia menyelamatkan Kinara terlebih dahulu baru setelah itu ikut maju perang. Dan sekarang Kinara menghilang.
"Joe? Tadi dia bilang mau ke kamar mandi." Saut Sean.
Dia sekarang merasa bersalah karena membiarkan Joe bergerak sendiri.
"Sial! Pasti gadis itu sedang merencanakan sesuatu." Geram Kenzo tertahan. Habis sudah kesabarannya ternyata Joe masih berani untuk menyakiti Kinara.
"Apa yang harus kita lakukan?." Tanya Sean terpotong.
Ketiga pria itu mendongak menatap helikopter yang sedang terbang ke arahnya. Pintu disana terbuka dengan lebar.
Mereka kaget melihat gadis yang ada di atas sana. Ternyata Kinara dibawa kabur oleh Joe lagi. Dan sekarang sedang ada di helikopter.
"Kinara." Teriak mereka secara bersamaan.
Sedangkan di atas Joe sedang tersenyum bahagia. Dia menatap Kinara yang sudah pingsan tak berdaya karena sebelum terbang tadi Joe sudah memberikan obat bius.
Sanjaya semakin histeria saat melihat Kinara yang tak sadarkan diri. Helikopter semakin berjalan ke tengah laut.
"Kita tidak punya banyak waktu." Seru Kenzo.
Sanjaya menggangguk cepat "kita cari kapal buat nyusul Kinara."
"Baik. Kita naik kapal kecil ini aja." Usul Sean dia menunduk kapal kecil yang sering digunakan pelaut untuk mencari ikan.
__ADS_1
Kenzo dan Sanjaya naik ke kapal itu. Sean juga ikut masuk ke dalam beserta pemilik kapal itu.
"Ikuti helikopter itu pak " pinta Sanjaya tegas.
Bapak itu mengangguk lalu menyalakan mesin agar kapal segera melaju.
Hati mereka seperti dibuat dag Dig dug ser. Karena lagi dan lagi rasa khawatir semakin terasa. Suasana kembali menjadi tegang.
Ketiga pria itu terus berteriak agar Joe tidak melukai hal gila. Mereka terus mengawasi gerak-gerik yang Joe lakukan pada Kinara disana.
Di atas Joe tersenyum miring. Dia memasangkan di bajunya bom.
Joe sudah putuskan untuk mengakhiri hidupnya. Mau berjuang banyak untuk mendapatkan Sean juga tidak bisa. Karena tadi pria itu sudah bilang tidak akan pernah mencintai Joe. Karena Sean hanya menganggap sebagai teman kecil.
Joe juga dibuat kaget, ternyata Kinara adalah anak dari Sanjaya. Joe tau Sanjaya bukan orang yang suka main-main. Tak segan juga pastinya Sanjaya akan bunuh Joe.
Daripada harus merasakan sakit di bumi lebih baik Joe mati sekarang.
"Jika gue tidak bisa dapatkan Sean, maka Lo juga nggak bisa Kinara." Ucap Joe menatap Kinara dengan sendu.
"Beruntung Lo bisa dicintai Sean. Bahkan disaat tubuh Lo penuh luka seperti ini, Sean masih tetap mencintai Lo. Sean mencintai Lo dengan tulus Kinara." Ucap Joe. Dia menggenggam tangan Kinara. Air matanya menetes secara perlahan.
"Buk apa anda yakin?." Tanya sopir yang sedang mengemudi helikopter itu.
"Maafin Joe mah......Joe bekum bisa jadi anak yang baik selama ini." Ucap Joe.
Dia bangkit berdiri lalu mendekati sopir itu. Dia mengambil sesuatu dari saku celananya. Sebuah kertas yang terlipat kecil itu diberikan pada sopirnya.
"Tolong berikan ini pada ketiga pria itu ya pak, setelah saya jatuh nanti tolong kasih surat ini." Pinta Joe.
Sopir itu menerima kertas itu lalu menyimpannya dengan benar. Setelah itu helikopter melesat ke tengah laut yang terlihat banyak ombak besar berdatangan.
Sedikit ngeri tapi sebisa mungkin Joe bersikap tenang.
"Biarkan kali ini gue egois. Gue mau kita mati secara bersama Kinara. Gue nggak rela!!." Ucap Joe.
"Sudah siap?."
"Siap!!."
Mata Joe menatap hamparan laut bewarna biru terang disana. Cuaca sangat tidak baik untuk saat ini. Awan sedikit mendung dan menghembuskan angin yang begitu kencang.
Helai rambut Joe dan Kinara bertebaran di sekitar wajah. Mata Joe melihat ke arah lain yaitu kapal yang tampak akan mendekati helikopternya.
__ADS_1
Huft!
Tarikan nafas gusar Joe semakin menjadi. Setelah ini tubuh Joe akan mati dan hanyut di lautan yang luas.
Joe akan mengubur semua cinta untuk Sean dan akan tetap mencintai Sean walau berbeda alam.
Sean, gue mencintai Lo dengan tulus. Tapi sepertinya kita bukan jodoh yang di takdirkan oleh Tuhan. Maafkan gue yang sudah membuat hati Lo semakin terluka. Gue bawa Kinara Sean, jaga diri Lo baik-baik disana. Bathin Joe meneteskan air matanya dengan sedih.
Rasa sesak yang mengguncang di hatinya. Rasanya Joe tidak sanggup melakukan ini semua mengingat dia juga masih mempunyai Mama.
Tapi cinta membuat Joe tidak bisa berpikir jernih. Hatinya terllau sakit jika harus melihat Sean bahagia. Maka dari itu Joe ingin mengakhiri hidupnya sekarang juga. Percuma saja jika ia hidup pasti akan masuk ke penjara. Lagi dan lagi merasakan kesepian.
Huft!
Joe melihat ke arah jam yang terus berjalan. Tombol menyala bomnya sudah di putar tadi. Sepuluh detik lagi Joe akan meledak dan mengakhiri hidupnya.
Langkah Joe semakin pasti untuk keluar dari pintu pesawat itu. Joe menggendong tubuh Kinara di depan.
Setelah itu Joe berjalan keluar dari pintu itu. Matanya terpejam dengan erat. Detak jantung Joe semakin terasa nyeri dan juga rasa takut yang berlebihan.
Hembusan nafas panjang beberapakali Joe lakukan. Gerakannya sangat cepat sekali, sampai pada akhirnya Joe tenggelam di laut yang sangat dalam itu.
Genggaman tangan Kinara terlepas. Joe tidak merasakan tubuh Kinara berada di dekatnya lagi. Beberapa air laut mulai masuk di hidung dan mulut Joe. Nafasnya semakin tersengal-sengal untuk menyelam di laut yang sangat dalam ini.
Samar-samar Joe bisa mendengar jeritan hebat memanggil namanya dan juga Kinara. Namun itu hanya sebentar, setelah itu telinganya seakan tuli.
Di sisa akhir nyawanya, Joe tidak mau membuka matanya. Suara detik bom kian terdengar dan Joe yakin sebentar lagi Joe akan meledak bersama dengan bom itu.
Selamat tinggal semuanya. Bathin Joe tersenyum di bawah air itu.
Bunyi bom terdengar panjang. Itu artinya hitungan bom segera berakhir.
Duar!!!!!
Byur!!!
Air meluap keatas dengan kencang. Dentuman keras suara bom itu menggoncang lautan yang sepi itu.
Detik itu juga nyawa Joe menghilang. Bahkan tidak ada jejak sama sekali yang terlihat dari jarak dekat.
Titik-titik hujan mulai turun setelah kepergian Joe dan Kinara. Angin besar menggoncang laut itu sangat brutal. Petir dan kilat semakin bersautan. Setelah ini akan terjadi badai besar.
Angin dan air yang akan mengantarkan nyawa Kinara dan Joe ke tangan Tuhan sang pencipta.
__ADS_1