My Future Husband

My Future Husband
BAB 56


__ADS_3

"Febri." Panggil Arkan pelan, Febri mengabaikannya. Arkan menghela napas, ia belum sanggup mengatakan semuanya.


"Maafkan mas, mas hanya takut jika kamu akan pergi dari hidup mas. Jika kamu tahu hal ini."


"Katakan mas apa lagi yang mas sembunyikan, selain hal ini!!!"


"Bayi kita keguguran." Jawab Arkan pelan. Sepertinya ia tidak bisa menyembunyikan hal-hal lebih lama lagi.


Tubuh Febri kaku secara meluruh. Ia tidak menyangka, tangannya bergerak mengelus perutnya.


"Mas bohongkan.. ini tidak mungkin..hiks..hikss bayiku.. hiks.."


Arkan terdiam seakan menjawab pertanyaan Febri. Hal itu membuat Febri tambah tersedu-sedu dalam tangisnya.


Arkan naik ke atas kasur, dengan cepat ia memeluk tubuh Febri yang terduduk di ranjang kasur. Febri berusaha memberontak, tapi Arkan menahannya. Arkan tidak ingin melepas Febri, tubuh tegap Arkan memeluk erat tubuh Rapuh Febri.


"hiks-hiks" Febri terisak, sekuat tenaga ia melawan tidak ada gunanya, tubuh Arkan menyelimutinya begitu erat.

__ADS_1


"Febri lumpuh... Febri cacat hiks..hikss lebih baik Febri mati saja."


"Kalau kamu mau mati, bagaimana dengan mas, Cessa dan Alwan. Mereka pasti akan terus menanyakanmu. Lagipula mas tidak peduli jika kamu lumpuh atau apapun itu. Kamu itu istri mas." Febri terdiam mendengar ucapan Arkan, yang dikatakan Arkan benar. Anak-anaknya pasti akan terus mencarinya dan kehilangannya. Namun ia belum bisa menerima semua ini. Ia kehilangan kakinya lalu bayinya. Kenapa tuhan begitu tidak adil kepadanya.


"Febri akan," Baru saja Febri ingin melanjutkan perkataannya Arkan membungkam bibir Febri dengan bibirnya hingga mereka terlentang di atas kasur, Arkan mencium Febri dengan lembut, ciumannya menuntut Arkan mencurahkan seluruh isi hatinya, tentang betapa ia mencintai Febri betapa ia tidak bisa hidup tanpa ada Febri di sampingnya. Ia tidak ingin istrinya itu bunuh diri.


Arkan meluapakan semua emosi yang dia rasakan. Febri yang awalnya menolak, egonya patah ia ikut membalas ciuman Arkan bahkan ia tidak sadar jika ia mengalungkan tangannya di leher Arkan.


Arkan menghentikan ciumannya, ia menjauhkan wajahnya dari Febri. Nafas mereka terengah-enggah, mata hitam Febri menatap Arkan begitu juga dengan Arkan. Ketika Arkan ingin mencium Febri lagi, wanita itu menahannya, wajahnya ia palingkan. Rakan kecewa, tapi ia mencoba memahami keadaaan Febri.


"Ini takdir Febri. Allah yang telah menggariskannya dan mas pastikan tidak akan membiarkan kamu sendiri menghadapi semua ini. Mas akan selalu bersama kamu."


"Febri juga salah merahasiakan semua ini. Febri ingin memberi mas kejutan. Namun hiks...hiks.. Febri tidak menyangka harus kehilangan bayi kita sebelum mengatakan apapun kepada mas. Febri egois..hiks.. seharusnya Febri mengatakannya kepada mas.. hiks.."


"Sudahlah Febri. Kita harus ikhlas. Anak itu titipan jika Allah menghendaki pasti dia akan memberikan kita lagi. Mungkin Allah terlalu sayang dengan anak di dalam kandungan mu sehingga Dia mengambilnya. Yang penting sekarang adalah kita harus tabah dan menjalani semua ini sama-sama."


"Mas," Febri kembali menatap Arkan, tangannya bergerak menangkup pipi Arkan.

__ADS_1


"Apakah mas sungguh-sungguh dengan ucapan mas untuk hidup bersama Febri yang cacat ini?"


"Kamu meragukan mas," ada sedikit nada tersinggung di ucapan Arkan..


"Bukan begitu mas, Febri hanya takut mas meninggalkan aku. Mas tau kan sekarang aku cacat, Febri tidak bisa berjalan lagi. Tanpa kaki Febri hanya akan merepotkan mas. Apalagi masih ada Cessa dan Alwan. Aku hanya akan jadi beban untuk mu mas. Aku hanya akan jadi benalu dalam ruang tangga kita."


Arkan menggeleng, " Kamu bukan beban Febri untukku lagi pula Dokter bilang kamu masih punya harapan sembuh."


"Mas cuma mau menghibur Febri kan." Ucap Febri dengan nada sedih.


"Febri harus percaya sama mas, kita masih punya Allah yang maha penyembuh jadi untuk apa kita lebih percaya terhadap analisa dokter dari pada Allah yang menciptakan segalanya."


"Lagipula mas tidak peduli, jikalau kau lumpuhpun mas akan tetap bertahan di samping kamu. Sama seperti kamu yang tetap bertahan menjadi istri mas, walau mas selalu menyakiti kamu tanpa henti."


"Dan sekarang disaat kamu menderita, mas tidak akan membiarkan kamu menanggung semua derita ini sendirian."


"Mas sudah berjanji untuk membahagiakan kamu, mas tidak ingin menjadi suami yang gagal untuk ke tiga kali nya. Izinkan mas untuk menebus semua luka yang pernah mas torehkan kepadamu Febriani Indriana." Febri menangis mendengar ucapan Arkan entahlah yang Febri tahu ia merasa beruntung memiliki sosok suami seperti Arkan. Mungkin inilah jawaban dari doa-doanya agar tuhan menghadirkan sosok suami yang selalu ia rindukan, Suami yang dengan sabar menghadapi nya.

__ADS_1


Arkan melihat Febri menangis, ia malah mencium bibir Febri. Bahkan Arkan mencium tetesan air mata yang membasahi pipi Febri. Ia tidak ingin kehilangan Istri nya, ia tidak ingin hidup tanpa ada Febri. Ia tidak ingin Febri merasa sendirian, karena yang Arkan inginkan Febri menyadari jika hanya dia satu-satu nya sosok yang Febri miliki.


"Jangan pernah mencoba untuk pergi dari hidupku Sayang. Karena kamu adalah satu-satunya orang yang aku cintai, bidadari kecilku." Arkan mendekatkan kening nya ke kening Febri. Lalu Febri memejamkan matanya, kemudian Arkan menciumnya kembali dengan penuh cinta.


__ADS_2