
Sementara di sisi Jakarta lainnya.
Sean sedang tertidur pulas dikamarnya sendiri. Merasakan kenikmatan di alam dunia bawah. Begitu juga tanpa ada gangguan dua sahabatnya.
Wajah polosnya sangat menawan. Jika ada wanita yang melihat ketampanan Sean pasti akan terpana.
Tak perlu memikirkan dia sudah punya kekasih apa belum. Jika cinta tetap akan menjadi cinta.
Kening Sean sedikit mengernyit ketika mendengar dering nada dering telfon. Bahkan beberapa kali si penelfon itu tidak berhenti-henti.
Dengan kesal Sean membuka matanya cepat. Mengambil ponselnya lalu mengangkat panggilan itu.
"Apa Lo nggak tau sopan santun?!!." Ketus Sean dengan suara tinggi. Matanya terpejam menahan rasa kesal di hatinya.
"Sean?."
Degh!
Betapa hafalnya Sean dengan suara itu. Dia langsung melihat ke arah layar ponsel.
Betapa kagetnya dirinya sekarang jika yang mengganggu waktu tidurnya itu Joe.
Sial!! Huft, sabar Sean tarik nafas turunkan. Ingat! Lo masih punya rencana. Bathin Sean merutuki kebodohannya.
Seharusnya tadi dia liat dulu siapa yang menelepon. Bukan sembarangan angkat seperti ini. Kalau sudah berkata ketus kan jadi nggak enak. Padahal Sean ingin meluluhkan hati Joe terlebih dahulu.
Dengan tenang Sean menetralkan nafasnya. Sebisa mungkin dia harus meredam rasa amarahnya itu.
"Maaf Joe. Gue kira tadi Raynald dan Damar, sahabat gue hehe." Cengir Sean dengan kaku.
Dia bingung juga harus berkata apa. Jika sudah ketangkap basah begini susah rasanya untum mengelak.
Joe : Tidak apa Sean. Gimana kabar Lo? Apa Lo sudah sembuh? Gue denger Lo masih sakit.
"Iya gue sakit. Tapi udah mendingan Joe. Ada apa kok telfon gue?." Tanya Sean.
Dia sudah berpikir kemana-mana. Apa Joe akan memberi tahu dimana Kinara sekarang. Atau malah sebaliknya.
Entahlah rasanya Sean ingin Joe berkata itu segera. Ia ingin lihat surprise apa yang Joe akan kirimkan buat Sean. Jika ditunggu terus menerus kenapa rasanya lama sekali.
Joe : apa salah kalau gue telfon Lo? Disini gue tidak punya siapa-siapa Sean.
Sean memutar bola matanya dengan malas. Joe hanya bersandiwara. Padahal Sean tau jika Joe itu tidak datang sendiri melainkan bersama mafia. Benar-benar licik.
"Terus?." Tanya Sean singkat. Dia sangat muak harus pura-pura baik dengan Joe.
__ADS_1
Joe: Sean bisakah kita ketemu?.
Sean sontak mengeryitkan dahinya, mendadak raut wajahnya jadi berbinar. Bukankah ini yang dia tunggu selama ini. Bertemu dengan Joe. Pasti sebentar lagi Sean akan mendapatkan Kinara kembali.
"Kapan?! Lo mau ketemu dimana Joe? Kapan aja gue siap." Saut Sean bersemangat. Entah kenapa rada bahagia saat Joe mengajak ketemu itu sangat luar biasa.
Mungkin karena Sean lama tak berjumpa Kinara. Hingga rasa rindu itu menggebu-gebu sampai sekarang.
Betapa bahagianya bukan? Jika rencana Sean akan berjalan dengan mulus. Ahh benar-benar menyenangkan.
Joe : Tiga hari lagi.
"Apa?!!!." Teriak Sean tak percaya. Tubuhnya merosot lagi. Pandangannya melemah padahal dia sudah berharap yang berlebih.
Joe : kenapa? Kenapa Lo teriak Sean, apa ada sesuatu?.
Sean tak bisa menjawab. Tubuhnya lemah sekarang. Bagaimana bisa Sean harus menahan tiga jari lagi? Padahal dia sudah berharap bertemu segera.
"Kenapa lama sekali? Apa Lo nggak rindu?." Tanya Sean pelan. Kepalanya menelungkup di bantal. Rasanya malas sekali untuk duduk.
Joe : Rindu? Tentu saja. Sean apa Lo sudah merindukan gue?
Sean menutup matanya cepat. Harus berapa lama lagi dia harus berpura-pura.
"Tentu saja." Jawab Sean singkat.
"Ya." Saut Sean singkat. Menaruh ponselnya di meja nakas.
"Arghhh!!!!!." Teriak Sean dengan kesal. Saat ini posisinya seperti anak kecil.
Kepalanya ada di bawah bantal. Sedangkan tangan dan kakinya dihentak-hentakan cukup kuat. Ia meluapkan rasa kesalnya dengan berteriak.
Walau begitu suaranya akan tertahan hingga tidak dapat terdengar dari luar.
"Kenapa lama sekali? Tiga hari sangat menyiksa gue Joe. Ko nggak tau rindu gue udah berat." Gumam Sean pelan.
"Arghhh!!!!!!." Teriak Sean lagi. "Arghhh!!!!."
Sean terus berteriak kencang di bawah bantal itu. Meluapkan semua rasa kesal dan amarahnya.
Menahan rindu itu sangat sakit. Tapi kenapa mereka tidak tau itu?. Bagi Sean tiga hari itu seperti satu tahun.
"Arghhh!!!! Gue kangen Lo Ra!!!." Teriak Kinara. Kakinya dihentak-hentakan kembali. Sudah seperti anak kecil yang ditinggal ibunya.
Damar dan Raynald yang sedang enak-enak tidur di sofa seketika bangun. Mereka kaget mendengar suara teriakan Sean.
__ADS_1
Tidak cukup kuat sih. Tapi jika satu apartemen pasti akan terdengar dengan jelas.
Saking takutnya terjadi sesuatu dengan tubuh Sean. Damar dan Raynald segera membuka pintu itu dengan keras. Kakinya sudah bersiap mendobrak kamar itu.
Brak!!
"SEAN!!." Teriak mereka bersama.
Mata mereka melotot melihat Sean tak berdaya di kasur. Kepalanya di tutul menggunakan bantal.
Kondisi kasur dan sprei yang acak-acakan sudah terbentuk. Membuat damar dan Raynald sangat panik.
Ada apa dengan Sean. Perasaan tadi dia baik-baik saja. Tidak terjadi sesuatu yang membuat curiga.
Damar mendekati tubuh Sean. Raynald naik ke atas kasur dan memeluk Sean.
Air mata mereka berjatuhan. Musibah apa yang menimpa mereka semua.
"Sean hiks. Kenapa Lo tinggalin gue sekarang? Hiks Sean Lo jahat!! Lo bilang mau ngejar cinta Kinara, tapi....... Kenapa Lo malah mati?!!." Isak tangis Raynald di balik punggung Sean. Air matanya dibiarkan jatuh begitu saja di kaos Sean. Bahkan beberapa ingusnya.
"Sean gue nggak nyangka Lo bertindak sebodoh ini." Gerutu Damar dengan isakan tangisnya juga.
Sean mendengus sebal. Mendengar ucapan para sahabatnya itu. Padahal niatnya untuk menenangkan pikirannya sebentar.
Jadi mereka menganggap gue mati?!!. Bathin Sean menggerutu.
"Sean hiks. Lo taruh dimana surat aparat ini biar gue jual. Gue bekum punya duit Sean hiks, mau mengurus pemakaman tidak punya sedikit pun." Ucap Raynald.
"Iya bener Sean." Saut Damar. Mereka seperti mendramatisir semua itu. Tapi rada sedih sedang memenuhi hatinya.
Dengan gerakan cepat Sean berbalik badan. Tubuh Sean itu kekar jadi lebih mudah untuk menggelengkan Raynald.
Gedubrak!!
Damar jatuh pada lantai karena kaget dengan pergerakan Sean. Sedangkan Raynald terbentuk dinding di sampingnya.
"Bedebah kalian pikir gue mati ha?!!!." Teriak Sean sembari melotot tajam pada dua sahabatnya itu.
"Se....an benarkah kau itu?." Tanya Damar gemetaran. Dia berjongkok di bawah lantai memandang Sean seperti iblis.
"Kenapa kalian disini ha?!!." Sentak Sean dengan perasaan masih syok. Baru saja meredam rasa kesalnya malah dibuat kesal oleh dua sahabatnya.
Raynald tubuhnya gemetaran. Melihat Sean yang langsung bangkit dan marah-marah seperti iblis.
Dengan lirikan mata ke arah Damar. Dengan cepat mereka berlari keluar dari kamar. Tanpa melihat arah yang benar. Menyebabkan bunyi gaduh.
__ADS_1
"TOLONG!!! ADA HANTU!!."