
Semilir angin pegunungan mengiring gerak kencang mobil Arkan membelah jalan raya. Febri membuka jendela mobil menikmati udara dingin yang menerpa wajahnya. Arkan membawanya ke karanganyar untuk liburan. Arkan bilang itu perintah dari anaknya yang ingin Febri tidak setres karena memikirkan masalah di sekolahnya. Mereka akan tinggal di villa milik keluarga. Disini banyak sekali kebun teh dan bunga.
“Masih lama mas nyampenya?” Febri sudah tidak sabaran.
“Bentar lagi.”
“Dari tadi mas bilangnya bentar lagi tapi nggak nyampe-nyampe,” protes Febri sambil cemberut.
“Ini bener kok tuh lihat rumahnya udah kelihatan.” Arkan menunjuk sebuah rumah tingkat.
“Bagus banget sumpah.. Kok mas nggak bilang-bilang dari dulu kalau punya villa sebagus ini.”
“Kalau aku bilang, kamu mau gitu menikah denganku secara suka rela.”
“Maybe, apalagi kalau kamu punya pulau pribadi.” Ujar Febri asal.
“Wah seharusnya dulu memamerkan seberapa kaya mas kepada kamu. Biar mas nggak perlu repot-repot bersaing sama laki-laki itu.” ujar Arkan sambil menyeringai, Febri malu mengingat masa-masa ia dengan Dikau. Ia lebih memilih diam menatap pegunungan. Untungnya mobil Arkan sampai di villa dengan cepat.
“Kita makan siang sekalian berenang ya.”
Febri menatap Arkan tidak percaya. Mereka baru tiba tapi pria itu langsung mengungkit masalah renang. Febri juga malu harus berenang bersama Arkan. Pasti pria itu akan mentertawakannya yang tidak bisa melakukan apa-apa selain gaya batu. Febri jadi membanyangkan ia yang hanya berdiri di pinggir kolam sedangkan Arkan sudah melakukan banyak putaran.
“Celana renang mas ada di koperkan?”
“Iya.”
“Mas mau ganti baju dulu.” Kemudian Arkan menghilang ke kamar mandi untuk mengganti pakaian.
Begitu juga dengan Febri tapi dia berganti di kamar. Arkan hanya mengenakan celana panjang dan baju lengan pendek. Hanya ada mereka berdua disini. Jadi tidak masalah jika tidak memakai hijab. Setelah selesai mengganti baju, Arkan menata makanan yang telah mereka beli tadi di meja.
Saat itu juga Arkan keluar hanya mengenakan celana renang yang melekat di tubuhnya. Afiqah menelan ludah tanpa sadar melihat tubuh tegap Arkan beserta otot-otot yang membentuk disana. Padahal ia sering melihat Arkan bertelanjang dada tapi kenapa pria itu terlihat begitu seksi. Apalagi bagian depan celananya. Sepertinya dia salah mengambil celana, karena celana yang ia pilih begitu ketat hingga membuat sesuatu disana menonjol begitu besar. Benar-benar menguji adrenalin.
__ADS_1
“Jangan bengong sayang, nanti kemasukan laler mulutnya.” Ucapan Arkan menyadarkan Febri. Pipinya langsung merona karena ketahuan mengamati badan indah milik Arkan.
“Kalau mau pegang silahkan, lanjut kamar juga nggak papa. Mas ikhlas kok,” ledek Arkan sambil tersenyum jahil. Pria itu dengan santai duduk di sebelah Febri yang kaku dengan godaan Arkan. Febri takut khilaf, apalagi hormon hamil yang membuatnya ingin menyentuh perut kotak-kotak itu lalu menciuminya. Febri merasa gila membayangkan itu. Kenapa otaknya jadi kotor?
“Kok diem aja biasanya kamu cerewet.”
Febri tersadar karena tak ingin di ejek Arkan terus menerus. Febri mulai membalas ucapan Arkan, “Itu, aku cuma mikir gimana nanti renangnya. Akukan nggak bisa renang.” Febri tidak ingin Arkan tahu jika sebenarnya Febri ingin memangsa pria itu segera.
“Tenang mas akan mengajari kamu.” Ujar Arkan dengan bangga.
“Mau coba sekarang?”
“Em ituu-” belum sempat Febri berkata. Arkan lebih dahulu menuntunnya menuju kolam renang hati-hati. Mereka masuk ke dalam kolam. Air membasahi tubuh mereka.
“Pegang pundak mas,” Febru menuruti perintah Arkan. Mereka berada dipinggir kolam dengan Arkan yang memeganginya. Jarak mereka begitu dekat satu sama lain. Rasanya Febri mau pingsan karena ke-uwuan ini. Jantungnya berdebar lebih kencang dari biasanya. Ia hanya bisa diam takut jika bergerak akan membuatnya tenggelam.
“Sekarang kita belajar mengambang.”
“Gimana caranya nggak ada ban?” Febri mulai panik. Arkan tertawa kecil sambil menyelipkan rambut Febri ke telinga.
“Pegang bahu mas erat. Lalu dorong kaki kamu dari belakang ke air sejajar melayang di kolam.” Disaat Febri mencoba bukannya mengambang ia malah ikut menarik Arkan tenggelam ke dasar air, untungnya pria itu dengan sigap menahan tubuh Febri agar tidak jatuh terlalu dalam.
Arkan berhasil membawa Febri ke atas kembali menghirup udara segar. Nafas mereka terengah engah satu sama lain. Lalu mata mereka saling menatap satu sama lain. Entah siapa yang memulai kedua bibir itu saling menempel mencium satu sama lain. Lalu mereka saling berciuman. Tanpa mau memisahkan diri seakan dunia hanya milik mereka berdua. Keduanya di penuhi nafsu cinta.
****
"Udah mandinya?" tanya Arkan ketika Febri keluar dari kamar mandi. Feberi sudah mengenakan pakaian dari dalam. ia takut jika hanya keluar dengan handuk. Arkan pasti akan menerkam nya lagi dan ia tidak ingin itu terjadi lagi.
Tadinya Arkan ingin mandi bersama tapi Febri melarangnya. ia takut jika mereka akan keterusan lalu sesuatu yang tidak diinginkan akan terjadi. Bisa dikatakan Febri tidak ingin melakukan hal yang mereka lakukan tadi di kolam renang. Pipinya bersemu merah mengingat kejadian tadi.
"Laper mas. mau makan." Febri mencari alasan. Ia memandang Arkan lesu sambil mengelus perutnya. Matanya memelas menatap Arkan. Seperti anak kucing yang kelaparan.
__ADS_1
"Mau makan apa sayang." Untungnya Arkan tidak membicarakan hal yang aneh-aneh mengenai peristiwa kolam renang. Febri menghembuskan napas lega. Ia juga tidak ingin mengingat lagi.
huh bikin malu saja.
"Mau nasi goreng." Jawab Febri cepat.
"okey, kita pesen nasi goreng."
"Emang mas mau makan apa?" Febri bertanya.
"Aku sama aja kayak kamu."
"huh, ikut-ikut." Sungut Febri sambil memutar bola mata.
"Nggak papa dong ikutin istri tercinta dari pada ikutin cewek lain."
Febri mendelik tidak suka.
"Awas aja sampe berani aku sunat ***** kamu." Arkan tertawa lalu mengelus kepala Febri dengan senang.
"Galak sekali istri ku yang manis dan lucu ini. Kalau dipotong kasian nanti nggak bisa buat adik lagi." Rungut Arkan sambil tiduran di kasur. Pria itu membuka ponsel lalu memesan makanan untuk mereka berdua.
"Huh pak tua. udah tua bukannya sadar malah banyak kelakuan." Ujar Febri kesal.
"Tua tua gini juga suami kamu." kelah Arkan membuat Febri terdiam. yang Arkan katakan ada benarnya juga.
"Cepet mas pesen laper gara-gara kamu sih tadi bikin aku laper."
"kok gara-gara aku. kamu juga yang goda aku. kalau mas nggak digoda juga nggak bakal kelepasan."
"ih terserah deh pusing ngomong sama mas. nggak mau ngalah. padahal cowok kan harus ngalah tapi mas nyebelin!" Arkan hanya tertawa mendengar itu. baginya melihat Febri seperti ini begitu lucu.
__ADS_1